Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Kucing-Kucingan di Kamar Pengantin
"Mas Azkar katanya ustadz yang paling sabar di pondok, kok sekarang nggak sabaran?" canda Rina dari balik kasur, nafasnya sedikit memburu namun wajahnya menunjukkan keceriaan.
Gus Azkar melepaskan sorban yang masih melingkar di lehernya, lalu membukanya perlahan. Ia tidak marah, justru ia menikmati permainan ini. Baginya, melihat sisi Rina yang nakal seperti ini jauh lebih menyenangkan daripada melihat istrinya terus-menerus menangis ketakutan.
"Sabar itu ada batasnya, Rina. Dan batas saya sudah habis tepat saat kamu bergoyang sambil menyanyi lagu Bang Toyib tadi," ujar Gus Azkar sambil melangkah perlahan namun pasti mengitari kasur.
Rina terus bergerak menjauh, mereka berputar-putar di dalam kamar yang luasnya tidak seberapa itu. Debur ombak di luar sana seolah menjadi musik pengiring drama kucing-kucingan antara sang Gus dan santri "nakal"-nya.
"Satu... dua... tiga..." Gus Azkar menghitung pelan.
Begitu sampai pada hitungan ketiga, Gus Azkar melakukan gerakan tiba-tiba yang membuat Rina terjepit di antara kasur dan lemari. Rina terpekik kaget saat tangan kekar suaminya kembali mengunci pergerakannya.
"Tertangkap," bisik Gus Azkar. Kali ini, ia tidak akan membiarkan Rina mendorongnya lagi. "Sekarang, jelaskan... apa hukuman yang pantas untuk santriwati yang sudah berani menggoda ustadznya sendiri sampai hilang akal seperti ini?"
Rina menelan ludah, punggungnya menempel pada lemari dingin, sementara di depannya ada tubuh Gus Azkar yang memancarkan hawa panas yang membara. Ia tahu, pelariannya benar-benar berakhir di sini.
Rina, yang sudah terpojok dan kehabisan akal, mencoba melakukan serangan balik yang menurutnya bisa mengakhiri situasi mendebarkan ini. Dengan gerakan yang sangat cepat dan sedikit berjinjit, ia mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Gus Azkar.
Cup!
Hanya sekilas, namun cukup untuk membuat Gus Azkar tertegun selama satu detik. Rina segera melepaskan tautannya dan memberikan senyum kemenangan, meskipun wajahnya masih merah padam.
"Udah kan?" tanya Rina dengan nada polos, seolah-olah kecupan singkat itu sudah cukup sebagai "hukuman" bagi ustadz galaknya. Ia bersiap untuk menyelinap pergi lagi dari hadapan suaminya.
Namun, Rina salah besar. Ia lupa bahwa laki-laki di depannya ini bukan lagi Ustadz Azkar yang bisa ia tawar nilainya di kelas. Gus Azkar tidak melepaskan kuncian tangannya, justru ia semakin mempererat dekapan di pinggang Rina.
Sorot mata Gus Azkar yang tadinya terkejut, kini berubah menjadi lebih gelap dan dalam. Ada kilatan gairah yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Hanya itu?" tanya Gus Azkar dengan suara yang sangat rendah, nyaris seperti geraman. "Kamu pikir satu kecupan singkat bisa melunasi rasa hausku setelah melihat semua rahasiamu malam ini, Rina?"
Rina menelan ludah, ia bisa merasakan panas tubuh Gus Azkar yang semakin membara. "Tapi Mas... katanya tadi mau kasih hukuman... itu kan udah..."
"Itu bukan hukuman, Sayang. Itu namanya memancing harimau yang sedang lapar," ujar Gus Azkar sambil menyeringai tipis.
Gus Azkar perlahan menundukkan wajahnya, memangkas jarak yang tersisa hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Rina bisa merasakan napas Gus Azkar yang memburu di permukaan kulitnya.
"Saya mau lebih dari itu, Rina. Jauh lebih banyak dari sekadar kecupan singkat yang kamu berikan tadi," bisik Gus Azkar.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Rina untuk membantah atau melarikan diri lagi, Gus Azkar kembali melumat bibir istrinya. Namun kali ini, ciumannya tidak lagi lembut seperti sebelumnya. Ciuman kali ini penuh dengan tuntutan, rasa lapar, dan keinginan untuk memiliki seutuhnya.
Tangan Gus Azkar yang tadinya hanya di pinggang, kini mulai menjelajahi punggung Rina yang hanya terbalut kain tipis, membuat Rina mengerang pelan di sela-sela tautan bibir mereka.
Rina yang awalnya hendak melawan, perlahan mulai luluh. Pengaruh video-video yang pernah ia tonton seolah bangkit kembali, membuatnya tanpa sadar mulai membalas sentuhan suaminya dengan canggung namun penuh perasaan.
Di kamar yang hanya diterangi lampu temaram itu, Gus Azkar benar-benar menunjukkan bahwa ia adalah penguasa malam ini. Ia tidak akan membiarkan istrinya yang nakal itu lepas begitu saja sebelum ia mendapatkan haknya sebagai suami seutuhnya.