Kehilangan anak saat melahirkan adalah penderitaan terbesar bagi Azelva Raquel Shawn. Bak jatuh tertimpa tangga, Azelva diceraikan, diusir dari rumahnya, dan semua hartanya dicuri oleh suami dan selingkuhannya.
Namun di tengah-tengah penderitanya, Kellano Gavintara, hadir menawarkan pekerjaan untuk wanita malang itu.
"Jadilah Ibu susu putraku. Sebagai imbalannya, aku akan membantumu mengambil kembali semua milikmu." Kellano Gavintara.
Tekadnya untuk balas dendam semakin kuat, tapi di sisi lain, Azelva tidak ingin berhubungan lagi dengan Kellano, yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Apalagi jika Kellano tahu rahasia yang Azelva sembunyikan selama ini.
Namun setelah menatap baby Arlend, perasaan Azelva mulai goyah.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘭𝘦𝘯𝘥?"
Seiring berjalannya waktu, tabir rahasia mulai terkuak. Identitas Arlend mulai dipertanyakan.
Apa yang akan Kellano lakukan saat mengetahui fakta mengejutkan tentang putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Tidak ada agenda mediasi dalam persidangan antara Kellano dan Regita. keduanya sudah sah bercerai secara agama. Adanya persidangan ini semata-mata hanya untuk mengesahkan perceraian mereka di mata hukum dan negara.
Regita cukup puas dengan jalannya persidangan. Selama hampir 30 menit, pihaknya berhasil membuat pihak Kellano tidak berkutik.
Regita benar-benar mempersiapkan semuanya dengan baik. Bahkan wanita itu berdalih, kepergiannya 3 bulan yang lalu itu bukan sengaja untuk meninggalkan Arlend seperti yang Kellano tuduhkan, tapi justru Kellano lah yang sengaja mengusirnya.
Regita bahkan menunjukkan surat perjanjiannya dengan Kellano untuk menguatkan ucapannya.
"Ini adalah surat perjanjian saya dengan Kellano. Di sini tertera dengan jelas, Kellano akan menerima saya sepenuhnya jika Arlend terbukti anak biologis nya. Namun, setelah Arlend terbukti putra kandungnya, Kellano justru diam-diam mengusir ku dari keluarga Gavintara."
Regita tersenyum sinis, ia tahu Kellano akan mencecarnya dengan pertanyaan ini. Karena itu, sebelum masuk ke dalam perangkap Kellano, wanita itu lebih dulu menutup jalan.
"Setelah mengusir ku, Kellano meminta wanita itu untuk menjadi pengasuh putraku. Kellano sengaja melakukan itu supaya bisa kembali dengan wanita pelakor itu." Tunjuknya pada Azelva.
Regita membeberkan hubungan Azelva dan Kellano di masa lalu di depan semua orang. Ia sengaja melakukan ini untuk menggiring opini publik supaya menyalahkan Kellano dan juga Azelva.
Apalagi persidangan ini disaksikan oleh jutaan pasang mata, membuat Regita semakin gencar melakukan pembenaran. Tujuannya hanya satu membuat nama Azelva buruk di mata publik, dan membuat semua orang membenci Azelva.
"Yang mulia, saya ingin hak asuh putra Saya jatuh ke tangan saya. Saya tidak rela putraku diasuh oleh Papanya dan wanita pelakor itu."
Regita menatap hakim pengadilan dengan penuh permohonan, ia berharap aktingnya sebagai seorang ibu yang tersakiti bisa membuat semua orang tersentuh, bukan hanya hakim dan juga jajarannya, tapi juga publik yang saat ini menyaksikan secara live di layar kaca.
Regita sengaja meminta salah satu wartawan untuk meliput persidangannya, ia tidak ingin publik memihak pada Kellano mengingat seberapa besarnya kekuasaan yang dimiliki pria itu. Regita ingin publik menilai sendiri siapa yang benar dan siapa yang salah.
Dengan ijin dari dari pengadilan, rencana Regita perlahan berhasil dan berjalan sesuai keinginannya.
"Saya tidak setuju dengan pernyataan Saudari Regita," ucap Kellano.
Pria tampan itu mulai angkat bicara setelah hakim pengadilan mengijinkannya untuk melakukan pembelaan. Dengan pembawaannya yang tenang namun tegas pria itu mulai memaparkan sudut pandangnya.
"Saudari Regita berdalih, saya mengusirnya 3 bulan yang lalu, bukan? Lalu apa maksud surat ini?" Kellano menunjukkan surat yang Regita tulis 3 bulan yang lalu sebelum pergi.
"Ini adalah surat yang Saudari Regita tulis dengan tangannya sendiri."
Sial, aku lupa dengan surat itu, batin Regita.
"Itu bohong Yang Mulia, surat itu---"
"Tolong Anda diam, Saudari Regita. Ini bukan giliran Anda berbicara. Hormati persidangan!"
Regita terpaksa diam walaupun rasa kesal menguasai hatinya.
"Jika Saudari Regita menganggap surat ini palsu, saya punya buktinya."
Pengacara Kellano memberikan sebuah rekaman CCTV rumah sakit saat hari di mana Regita menulis surat itu. Semua orang bisa melihat dengan jelas, Regita menulis surat itu dengan tangannya sendiri.
Kellano cukup puas melihat kepanikan di wajah Regita. Pria itu diam-diam menyunggingkan senyumnya. Ini baru permulaan, gumam Kellano dalam hati.
"Dengan adanya bukti ini, berarti sudah sangat jelas, Saudari Regita memang sengaja meninggalkan bayinya. Apakah seorang ibu yang sengaja meninggalkan bayinya yang baru lahir, pantas mendapatkan hak asuh anak?"
Keadaan mulai berbalik, bisik-bisik mulai terdengar membuat telinga Regita panas. Bagaimana ini? Batin Regita. Rasa panik dan khawatir perlahan mulai menghantui wanita itu.
"Saya khilaf Yang Mulia, saat itu ada sesuatu yang harus saya lakukan. Saya terpaksa meninggalkan bayi saya." Regita terisak pilu. "Saya mohon, berikan hak asuk Arlend pada saya. Saya ibunya, saya pasti akan memberikan yang terbaik untuk putra saya."
Regita menangis, memohon dan mengiba. Namun semakin wanita itu meraung, Kellano justru semakin tidak berbelas kasih. Perlahan tapi pasti, Kellano mulai menunjukkan kebusukan wanita itu.
"Memangnya hal apa yang membuat seorang ibu meninggalkan bayinya yang baru lahir? Memangnya ada hal yang lebih penting dari itu?" Kellano kembali mencecar Regita, semakin memojokkan wanita itu.
"Aku bilang aku khilaf, Kellano! Jangan memojokkan ku terus," ucap wanita itu sambil terisak. "Kenapa Kamu tega sekali sama aku, Kell? Dulu, Kamu memperkosa ku. Tidak puas kah setelah Kamu membuangku, sekarang Kamu juga ingin mengambil bayiku. Di mana hati Kamu, Kell?"
Air mata Regita semakin menganak sungai. Wanita itu memanfaatkan simpati semua orang yang perlahan mulai kembali memihaknya.
Apalagi mendengar kata pemerkosaan membuat siapapun geram mendengarnya. Tak ayal hal itu mendatangkan hujatan dan kebencian pada Kellano.
"Saya punya bukti saat Tuan Kellano yang terhormat ini memperkosa saya."
Regita memberikan bukti rekaman video yang ia miliki itu pada hakim pengadilan. Video penggerebekan satu tahun lalu yang membuat Kellano terpaksa menikahi Regita.
Di tengah-tengah isak tangisnya, wanita itu diam-diam menyeringai, Regita yakin kali ini Kellano tidak akan bisa melawannya.
Ini salahmu sendiri karena berani melawan ku, Kellano. Sekarang rasakan, Kamu akan menanggung malu seumur hidupmu, batin Regita.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Saya---"
"Apa Kamu ingin bilang video itu palsu, Tuan Kellano?" Tanya Regita. Wanita itu memotong ucapan Kellano.
"Tidak, aku hanya ingin bilang, aku punya video lengkapnya," ucap Kellano dengan seringai di wajahnya.
"Ma-maksud Kamu?"
"Kamu akan segera mengetahuinya."
Kellano menyerahkan video yang ia miliki pada hakim pengadilan. Video yang sama persis dengan milik Regita. Bedanya, tidak ada adegan panas yang mendeskripsikan sebuah pemerkosaan di sana. Tidak seperti video milik Regita yang memperlihatkan seorang pria tengah menggagahi Regita.
"Yang Mulia dan semua yang ada di sini bisa melihat dengan jelas perbandingan kedua video itu tanpa harus saya jelaskan."
Deg deg deg
"Ke-kenapa jadi begini?"
...----------------...
Sementara itu, Zidan terpaku saat melihat siaran berita yang tengah menjadi trending topik saat ini. Perceraian Kellano dan Regita yang menyeret nama Azelva berhasil membuat napas Zidan nyaris tercekat.
"Jadi, Tuan Kellano adalah mantan kekasih Azelva, jangan-jangan--- tidak mungkin, tidak mungkin bayi yang Azelva kandung waktu itu putra Tuan Kellano," gumam Zidan.
Zidan mulai takut, andai dugaannya itu benar, itu artinya ia sudah menjadi penyebab bayi Kellano meninggal. Tidak hanya itu saja, andai Azelva mengadukan semua perkataannya pada Kellano, ia yang selalu mengutuk bayi dalam kandungan Azelva saat itu, mungkinkah Kellano akan mengampuninya?
"Aku harus memastikannya sendiri."
Zidan tidak tenang sebelum mengetahui yang sebenarnya. Ia tidak ingin hanya menduga-duga saja, Zidan harus bertindak sebelum terlambat.
"Mas, Kamu mau ke mana?" Tanya Venya.
"Ke pengadilan," jawab Zidan tanpa sedikitpun menoleh pada Venya. Pria itu tetap melangkahkan kakinya keluar dari kantor.
Akhirnya, Mas Zidan dan Azelva bercerai juga, sorak Venya dalam hati.
Wanita itu pikir Zidan ke pengadilan untuk mengurus perceraiannya dengan Azelva.
"Tidak lama lagi aku akan menjadi istri Mas Zidan."
To be continued