Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Akhir pekan, waktunya Arion menghabiskan hari bersama Lydia. Pekan ini, mereka berencana pergi jalan-jalan ke mal atau tempat-tempat lain, yang biasa orang datangi saat berkencan. Namun, Arion tiba-tiba saja ditelepon dan diminta pulang oleh ibunya, sehingga rencana mereka untuk berkencan terpaksa tertunda.
“Aku akan kembali secepatnya,” ucap Arion sambil mengecup kening Lydia.
Perempuan itu memejamkan mata sejenak saat bibir Arion menyentuh permukaan kulitnya.
“Hati-hati. Jangan ngebut bawa motornya,” ujarnya.
Arion mengangguk pelan sebelum melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Lydia.
Setelah Arion pergi, Lydia berniat membereskan bekas sarapan mereka. Namun, ia dikejutkan oleh Rina yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya, seolah siap menginterogasi.
“Jadi, kenapa sebenarnya leher lo? Apa itu ulah Arion?” tanya Rina penasaran.
Ia tidak yakin laki-laki polos seperti Arion bisa meninggalkan bekas kecupan di leher perempuan. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Apalagi Arion sempat mengaku sudah menggigit bibir Lydia tadi malam.
“Bukan. Leher gue cuma iritasi,” jawab Lydia seadanya.
Sayangnya, Rina tidak semudah itu mempercayai perkataan Lydia, ia memperhatikan merah-merah di leher Lydia dengan seksama.
"Tapi kenapa-"
"Lo sudah lama gak pacaran, jadi lupa gimana bekas kecupan," ujar Lydia menyela.
Ia tidak berbohong. Kulit lehernya merah-merah karena iritasi memakai kalung pemberian Arion. Bukan karena hal lain yang Rina pikirkan.
"Sialan. Tapi benar juga sih," ucap Rina. Ia memang sudah lama tidak menjalin hubungan dengan laki-laki.
Terakhir kali Rina pacaran, ia sangat mencintai mantannya sampai rela menyerahkan segalanya, termasuk tubuhnya. Kulit lehernya dulu sering dipenuhi bekas kecupan sang mantan.
Saat ini, Rina sudah menjadi jomblo akut. Ia tidak pernah lagi memiliki bekas kecupan di lehernya. Mungkin karena itu ia lupa bagaimana rupa bekas kecupan.
"Iya, memang benar. Lagipula, Arion itu anak baik dan lahir di keluarga baik-baik. Dia gak mungkin sampai sejauh itu," jelas Lydia.
"Iya, iya, gue tahu. Gue cuma penasaran saja tadi," sahut Rina.
***
"Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Lydia dan sudah sejauh mana kalian?" tanya Namira begitu Arion tiba di rumah orang tuanya.
Arion ingin tenang menanggapi pertanyaan ibunya itu. Ia juga tidak berniat menyembunyikan hubungannya dengan Lydia dari keluarganya. Namun, tatapan sang ibu membuatnya takut.
Bukan takut karena ada kilatan amarah dari tatapan ibunya. Arion takut jika ia jujur tentang Lydia, ia akan kehilangan perempuan itu.
"Mamah dengar kamu bekerja di Adhivara Grup karena Lydia. Kamu ingin membiayai hidup Lydia dengan uang kamu sendiri," ujar Namira tidak menyangka putranya sampai melakukan hal itu demi perempuan.
Tidak ada yang salah dengan laki-laki yang ingin membiayai hidup perempuan yang dicintainya. Tapi posisi Arion di sini adalah seorang mahasiswa, yang seharusnya masih fokus dengan kuliahnya.
"Mamah sudah meminta kamu untuk fokus dengan pendidikan. Tapi apa ini? Kamu tidak mendengarkan Mamah?!" Namira menaikan nada bicaranya karena mulai emosi melihat putranya diam.
Arion tidak membenarkan, tapi juga tidak menyangkalnya. Hal itulah yang kini membuat emosi Namira semakin tersulut.
"Aku minta maaf, Mah. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk tidak mendengarkan Mamah," ucap Arion yang akhirnya bersuara setelah sekian lama terdiam.
"Aku dekat dengan Kak Lydia belum lama ini dan kami saling mencintai," jelasnya.
"Iya, Mamah tahu kalian saling mencintai. Jika tidak, tidak mungkin kalian berciuman," ujar Namira dengan sindiran halus.
Airin dan Xavier saling berdeham. Mereka juga berada di ruangan yang sama dan menyaksikan Arion dimarahi oleh Namira. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani ikut bicara.
Keduanya percaya Arion mampu mengatasi masalahnya sendiri tanpa campur tangan siapa pun. Lagipula, mereka juga sudah berusaha membela Arion sebelum Arion tiba, tapi berujung dimarahi.
"Mamah tahu dari mana?" tanya Arion dengan tampang polos. Ia tidak mengerti kenapa ibunya bisa menyinggungnya tentang ciumannya dengan Lydia.
"Tahu dari mana?" ulang Namira dongkol. Jika bukan karena Arion putra kesayangannya, mungkin Namira sudah memukulnya sekarang.
"Siapa pun akan tahu jika kalian berciuman di tempat umum dan memiliki akses ke CCTV," jelasnya.
Mata Arion sedikit melebar. Ia tidak menyangka ibunya ternyata mengawasinya dan mengetahui ciuman itu dari CCTV.
"Jadi, selama ini Mamah mengawasiku dari CCTV?" tanyanya mengungkap isi pikirannya.
"Kamu pikir Mamah tidak ada kerjaan mengawasi kamu sampai segitunya?" ucap Namira membalas pertanyaan Arion terhadapnya.
Arion menatap Namira bingung. Jika tidak mengawasi dari CCTV, lalu bagaimana ibunya tahu?
"Lebih baik sekarang kamu duduk dan jelaskan semuanya ke Mamah!" ucap Namira membuat Arion yang sedang melamun tersadar seketika.
***
Rumah yang biasanya diselimuti kehangatan kini terasa menegangkan karena sang nyonya rumah belum melepaskan putra sulungnya dari sidang keluarga.
"Jadi?" ujar Namira, menunggu penjelasan Arion.
Putranya itu tampak duduk dengan tenang di depannya, namun belum memberikan penjelasan apa pun yang memuaskan hatinya.
“Aku harus menjelaskan dari mana? Soal hubungan aku, pekerjaanku di Adhivara, atau yang mana yang harus aku jelaskan lebih dulu ke Mamah?” tanya Arion, karena ia benar-benar bingung harus memulai dari mana. Terlalu banyak hal yang perlu ia jelaskan kepada sang ibu.
Airin dan Xavier masih berada di antara mereka, tanpa berani mengeluarkan suara. Bahkan untuk sekadar menghembuskan napas saja, mereka takut mengganggu.
Namira menarik napas sejenak sebelum bicara.
"Selain ciuman, apa saja yang sudah kamu dan Lydia lakukan?" tanyanya.
“Tidak banyak, kami hanya sering menghabiskan waktu bersama di apartemen Kak Lydia,” jawab Arion seadanya.
“Apa yang kalian lakukan? Itu yang Mamah tanyakan,” desak Namira.
Ia perlu tahu apa yang sudah Arion dan Lydia lakukan selama bersama, bukan sekadar tempat di mana mereka menghabiskan waktu.
“Makan, menonton drama, dan mengobrol,” jawab Arion tanpa berpikir sedikit pun karena memang itulah yang sering ia lakukan bersama Lydia di apartemen.
"Ciuman?" tanya Namira terlihat belum puas dengan jawaban Arion.
"Kami baru berciuman tadi malam, itupun karena aku terbawa suasana setelah menonton drama," jawab Arion cepat.
Xavier mengusap wajahnya. Ia tidak menyangka akan mendengar istri dan putra sulungnya membahas hal itu di depannya. Ia dan Namira saja dulu sudah memiliki dua anak di usia Arion, dan menurutnya apa yang dilakukan Arion masih wajar.
Namun, ia tidak bisa mengatakannya, karena Namira pasti akan berbalik memarahinya. Ia memilih tetap diam daripada keadaan semakin runyam.
"Kami tidak melakukan hal yang lebih dari ciuman, Mah," jelas Arion, mulai mengerti maksud dari pertanyaan sang ibu.
***
Menjadi pengangguran memang membosankan, tapi menunggu kabar dari laki-laki yang sedang pulang sebentar ke rumah orang tuanya ternyata jauh lebih membosankan.
Lydia berulang kali mengecek ponselnya, berharap ada notifikasi dari Arion. Namun, belum ada satu pun pesan ataupun panggilan dari laki-laki itu.
Sudah lewat dari jam makan siang, dan Lydia masih menunggu di apartemennya tanpa sempat mengisi perutnya. Selama mereka dekat, baru kali ini Arion membuatnya kesal.
"Arion seharusnya memberi kabar kalau memang dia tidak jadi mengajak jalan," gerutunya pelan.
Ia tidak berharap Arion lebih mengutamakan dirinya dibandingkan orang tuanya, tapi setidaknya ia ingin diberi kabar agar tidak perlu menunggu seperti ini.