NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 10: PEMULIHAN & PERPISAHAN

Tiga hari pasca operasi.

Rumah sakit perlahan-lahan berubah dari medan perang menjadi tempat pemulihan. Bau antiseptik masih menyengat, tapi sekarang bercampur dengan aroma makanan pasien dan bunga-bunga yang mulai berdatangan.

Arka masih di ICU, tapi kondisinya stabil. Ginjal baru ginjal Rafa bekerja lebih baik dari yang diharapkan. Dokter menyebutnya "a match made in genetic heaven". Tapi Aisha tahu, ini lebih dari sekadar kecocokan genetis. Ini cinta seorang ayah yang bekerja melalui sel-sel ginjalnya.

Rafa sudah dipindah ke kamar perawatan biasa. Luka operasi di pinggangnya masih nyeri, tapi dia bisa berjalan pelan-pelan dengan bantuan. Laras dan Nadia mengunjungi setiap sore, tapi hanya sebentar. Ada jarak yang masih terjaga jarak yang dibangun oleh rasa sakit dan ketidaknyamanan dengan keputusan yang sudah diambil.

 

Hari keempat, Arka akhirnya dipindahkan dari ICU ke kamar yang sama dengan Rafa. "Agar mereka bisa saling menguatkan," kata dr. Arman. Tapi Aisha tahu, ini juga ujian baginya dan Laras. Dua ibu. Dua anak. Satu kamar.

Pertemuan pertama Arka dan Rafa pasca operasi adalah momen yang membuat semua perawat di sana menangis.

Kereta dorong Arka masuk ke kamar. Rafa yang sedang duduk di tempat tidur, langsung menegakkan badan wajahnya pucat karena sakit, tapi matanya bersinar.

"Ayah," sapa Arka, suaranya masih lemah dari ventilator yang baru dilepas.

"Arka," Rafa merentangkan tangan.

Perawat mendorong tempat tidur Arka hingga dekat. Kedua tangan itu bertemu tangan ayah yang besar dan hangat, tangan anak yang kecil dan dingin. Mereka tidak berpelukan karena luka operasi, tapi genggaman mereka berbicara lebih dari ribuan kata.

"Ginjal Ayah... tidak sakit kan di dalam Arka?" tanya Arka polos.

Rafa tersenyum, air mata di pelupuk mata. "Tidak. Dia senang ada di tempat yang hangat seperti tubuh Arka."

"Arka janji jagain baik-baik."

"Dan Ayah janji jagain Arka baik-baik."

Aisha berdiri di dekat pintu, memperhatikan. Laras ada di sebelahnya, memegangi bahu Nadia yang malu-malu melihat kakak laki-laki yang baru dikenalnya.

"Nadia," bisik Laras. "Mau kenalan sama kakak?"

Nadia menggeleng, bersembunyi di balik rok ibunya.

"Itu tidak apa," kata Aisha cepat. "Dia butuh waktu."

Tapi Arka sudah melihat. "Halo, Nadia. Aku Arka. Kakakmu."

Nadia mengintip. "Kamu... sakit?"

"Sudah mulai sembuh. Ginjal Ayah bikin aku sehat."

"Ginjal Ayah ada di kamu?" Nadia mulai tertarik, melangkah pelan mendekat. "Apa rasanya?"

"Rasanya... kayak dapat hadiah terbesar."

Dialog polos antara dua saudara yang tidak pernah tahu keberadaan masing-masing sampai seminggu lalu. Rafa melihat mereka, lalu menatap Laras. Ini yang ia inginkan. Keluarga yang utuh dalam arti yang tidak konvensional.

 

Hari-hari berikutnya diisi oleh rutinitas pemulihan yang melelahkan namun penuh harapan.

Arka harus minum belasan pil setiap hari obat imunosupresan agar tubuhnya tidak menolak ginjal baru, antibiotik, vitamin. Dia belajar menelannya tanpa mengeluh, meski kadang mual dan muntah.

Rafa belajar berjalan lagi. Setiap langkah menyakitkan, tapi dia tersenyum setiap kali melihat Arka di seberang kamar. Rasa sakitnya terbayar.

Laras datang setiap hari, membawa makanan sehat untuk Rafa dan mainan kecil untuk Arka. Perlahan-lahan, es mulai mencair. Dia mulai bicara langsung pada Aisha tentang jadwal minum obat Arka, tentang laporan dokter, tentang cuaca.

Suatu sore, saat hanya mereka berdua di ruangan (Rafa dan Arka tertidur, Nadia ikut nenek), Laras tiba-tiba berkata:

"Aku tidak akan pernah menyukaimu."

Aisha mengangguk. "Aku tahu."

"Tapi aku tidak akan menghalangi Arka untuk punya hubungan dengan ayahnya. Atau dengan Nadia."

Itu konsesi besar. Aisha melihat wanita di depannya wanita yang kehilangan rasa aman dalam pernikahannya, yang harus berbagi suami dengan masa lalu yang tiba-tiba hidup kembali.

"Terima kasih," bisik Aisha. "Dan... aku benar-benar minta maaf."

"Maafmu tidak mengubah apa pun," kata Laras datar. "Tapi setidaknya kamu mengatakannya."

 

Hari keempat belas pasca operasi, dr. Arman mengumumkan berita gembira: "Arka bisa pulang minggu depan jika tidak ada komplikasi. Rafa juga, mungkin beberapa hari setelahnya."

Kabar itu seharusnya membuat senang. Tapi untuk Aisha, itu berarti kembali ke realita. Kembali ke rusunawa yang sempit. Kembali mencari kerja. Kembali hidup berdua dengan Arka tapi kali ini dengan ginjal baru yang butuh perawatan seumur hidup dan biaya yang tidak sedikit.

Rafa melihat kecemasannya. "Aku akan bantu. Dengan biaya obat. Dengan apa pun."

"Kamu sudah memberi ginjalmu. Itu lebih dari cukup."

"Itu untuk Arka. Bantuan ini untuk... untuk kalian berdua."

Malam itu, saat Arka tertidur, Rafa memanggil Aisha ke samping tempat tidurnya. "Aku sudah bicara dengan Laras. Kami... akan memberikan tunjangan bulanan untuk Arka. Untuk obat dan kebutuhan hidupnya."

Aisha membelalak. "Tidak, Rafa. Aku tidak bisa menerima itu."

"Ini bukan untukmu. Ini hak Arka. Sebagai anakku."

"Tapi Laras... dia pasti tidak setuju."

"Dia yang menyarankan."

Aisha terdiam. Laras. Wanita yang tidak menyukainya, tapi masih memiliki hati untuk memastikan anak tirinya terurus.

"Terima kasih," akhirnya Aisha berbisik. "Tapi biarkan aku bekerja juga. Aku ingin Arka melihat ibunya mandiri."

Rafa mengangguk, menghargai harga dirinya. "Baik. Tapi janji, kalau butuh bantuan, bilang."

 

Hari kepulangan Arka tiba.

Aisha sudah menyiapkan segala sesuatu di rusunawa membersihkan, menata ulang, memastikan ventilasi baik untuk Arka yang masih rentan infeksi.

Di rumah sakit, perpisahan terasa berat.

Arka memeluk Rafa erat-erat, hati-hati agar tidak menyakiti luka operasi mereka berdua. "Ayah, nanti jenguk Arka ya?"

"Setiap minggu," janji Rafa. "Dan kita video call setiap hari."

"Janji?"

"Janji."

Laras dan Nadia juga datang. Nadia akhirnya memberi kartu buatannya sendiri untuk Arka gambar keluarga dengan empat orang: Ayah, Mama, Nadia, dan Kakak Arka di pojok.

"Kamu akan jadi kakakku?" tanya Nadia polos.

Arka mengangguk, senyum lebar. "Iya. Aku janji jagain Nadia."

Laras melihat Aisha. "Jaga baik-baik dia."

"Aku akan."

Mereka tidak berpelukan. Tapi ada anggukan saling menghormati antara dua wanita yang terikat oleh cinta pada orang yang sama.

 

Perjalanan pulang ke rusunawa sunyi. Arka tertidur di taksi, lelah. Aisha memandanginya, lalu melihat ke luar jendela. Kota yang sama. Hidup yang sama. Tapi semuanya berbeda sekarang.

Di rusunawa, tetangga-tetangga sudah menunggu dengan bunga sederhana dan makanan. "Selamat pulang, Arka!" mereka berseru. Dukungan dari orang-orang sederhana yang selama ini diam-diam peduli.

Malam pertama di rumah, Arka terbangun karena mimpi buruk. "Bun... Arka takut ginjalnya berhenti kerja."

Aisha memeluknya. "Tidak akan. Ginjal Ayah kuat. Seperti Ayah."

"Tapi kalau... kalau suatu hari Arka harus ketemu Ayah lagi, boleh kan?"

"Suatu hari nanti, kita akan mengatur agar kamu bisa tinggal dengan Ayah sesekali."

"Bunda juga ikut?"

Pertanyaan itu sulit. Aisha tidak punya tempat di keluarga baru Rafa. Dan dia tidak ingin memaksakan diri.

"Kita lihat nanti, sayang."

 

Dua minggu kemudian, Rafa datang mengunjungi untuk pertama kalinya ke rusunawa. Penampilannya pria dengan mobil bagus dan pakaian necis membuat tetangga berbisik-bisik. Tapi Rafa tidak peduli. Dia hanya ingin melihat Arka.

Arka langsung bersemangat, menunjukkan kamarnya yang kecil, buku gambarnya, mainan sederhana. "Ini rumah Arka, Ayah. Kecil tapi bersih."

Rafa merasa dadanya sesak. Anaknya tumbuh di sini. Di ruangan 3x4 meter ini. Sedangkan Nadia punya kamar sendiri penuh mainan dan buku.

"Ayah bawa sesuatu," kata Rafa, mengeluarkan kotak. "Laptop. Supaya kita bisa video call jelas. Dan buat belajar nanti."

Aisha ingin menolak. Tapi melihat mata Arka yang berbin-bina, dia diam. Kebahagiaan anaknya lebih penting dari harga dirinya.

Mereka makan siang bersama makanan sederhana yang Aisha masak. Dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, mereka makan sebagai keluarga. Tidak sempurna. Tidak utuh. Tapi cukup.

Saat Rafa akan pergi, Arka bertanya: "Ayah, kapan Arka bisa tinggal di rumah Ayah? Lihat kamar Nadia?"

Rafa menatap Aisha, mencari izin. Aisha mengangguk pelan.

"Akhir pekan depan. Kamu menginap. Tapi harus bawa obat semua."

Arka melompat senang lompatan kecil karena masih lemah. "Iya! Arka janji!"

 

Kunjungan pertama Arka ke rumah Rafa adalah momen besar. Laras menyambut dengan sopan, tidak hangat tapi tidak dingin. Nadia sudah menanti dengan mainan yang ingin dia tunjukkan.

"Kamar Nadia besar ya," gumam Arka kagum.

"Kamu boleh tidur di sini kalau mau," tawar Nadia.

Laras mengatur kamar tamu untuk Arka. Ranjang yang nyaman, meja belajar, buku-buku. Dunia yang asing bagi Arka.

Malam itu, saat Arka tertidur di kamar yang bersih dan wangi, Aisha yang menunggu di rusunawa mendapat pesan dari Rafa:

"Dia baik-baik saja. Baru saja cerita pada Nadia tentang dialisis. Nadia bilang dia anak paling berani yang pernah dia temui."

Aisha menangis. Anaknya diterima. Itu yang penting.

 

Bulan-bulan berlalu.

Arka semakin kuat. Kembali sekolah, sekolah khusus anak dengan kondisi medis kronis dulu, lalu perlahan pindah ke sekolah reguler. Obat-obatan tetap banyak, tapi dia tidak mengeluh.

Rafa tetap mengunjungi setiap minggu. Kadang membawa Nadia. Hubungan mereka bertiga Arka, Rafa, Nadia perlahan tumbuh. Ikatan saudara yang terbangun terlambat, tapi tulus.

Aisha dapat kerja baru asisten administrasi di klinik kecil. Gajinya cukup untuk hidup sederhana. Dan dia menolak sebagian besar bantuan finansial Rafa, hanya menerima untuk biaya obat Arka.

Laras dan Aisha tidak pernah jadi teman. Tapi mereka bisa bekerja sama untuk kebaikan anak-anak. Kesepakatan damai yang rapuh, tapi dipegang teguh.

 

Satu tahun pasca transplantasi.

Arka ulang tahun yang ke-9. Pesta kecil di rumah Rafa yang pertama kalinya Aisha masuk ke rumah itu. Dia merasa canggung, tapi Arka menarik tangannya, memperkenalkannya pada teman-teman sekolahnya: "Ini bundaku. Yang paling kuat."

Rafa membuat pengumuman: "Mulai bulan depan, Arka akan tinggal di sini setiap akhir pekan. Dan... liburan sekolah penuh di sini."

Arka bersorak. Aisha tersenyum getir. Ini awal perpisahan perlahan. Anaknya mulai memiliki kehidupan di luar rusunawa.

Malam itu, saat pesta usai, Rafa menemui Aisha di teras. "Terima kasih. Untuk semuanya."

"Kamu sudah memberikan ginjalmu. Tidak ada yang lebih berharga dari itu."

"Tapi kamu memberikan delapan tahun hidupmu untuknya. Itu lebih berharga."

Mereka diam, memandangi bulan. Dua orang yang pernah saling mencintai, saling melukai, dan sekarang... saling menghormati karena cinta pada anak yang sama.

"Aku akan pindah," kata Aisha tiba-tiba.

Rafa menoleh, kaget. "Kemana?"

"Kota J. Teman Ibuku dulu menawarkan untuk menjaga toko kelontongnya yang kecil. Aku bisa mulai baru di sana. Dan Arka... dia butuh ruang untuk tumbuh dengan ayahnya tanpa aku selalu di antara."

"Tapi dia akan merindukanmu."

"Aku akan video call setiap hari. Dan dia bisa datang liburan panjang." Aisha menatap Rafa. "Ini yang terbaik. Untuknya. Untukmu dan Laras. Dan... untukku."

Rafa mengerti. Aisha melepaskan. Bukan karena tidak mencintai Arka, tapi karena mencintainya cukup untuk memberinya kehidupan yang lebih baik.

"Kapan?"

"Bulan depan. Setelah dia selesai ujian sekolah."

 

Hari keberangkatan Aisha adalah hari tersulit dalam hidupnya setelah hari dia melahirkan Arka sendirian delapan tahun lalu.

Arka menangis, menggantungkan diri di lehernya. "Bunda jangan pergi. Arka ikut."

"Sayang, Bunda harus pergi sementara. Tapi Bunda selalu di telepon. Dan kamu punya Ayah di sini. Punya adik. Punya keluarga."

"Tapi Bunda keluarga Arka yang utama!"

Aisha menangis, memeluknya erat. "Selamanya. Tapi terkadang, cinta terbesar adalah melepaskan."

Rafa dan Laras berdiri di belakang, memberi mereka ruang. Nadia memegangi tangan Arka, ikut menangis.

Saat bis kota bergerak, Aisha melihat dari jendela: Arka kecil melambai, di antara Rafa dan Laras, dengan Nadia di sampingnya. Anaknya aman. Anaknya dicintai. Anaknya hidup.

Dia menutup mata, air mata mengalir. Delapan tahun perjuangan sendirian berakhir. Dengan hati yang hancur tapi lega.

 

Enam bulan kemudian.

Aisha sudah terbiasa dengan hidup barunya di Kota J. Toko kelontong kecil itu memberinya penghasilan cukup. Dan setiap malam, video call dengan Arka adalah highlight hariannya.

Arka tumbuh sehat. Ginjalnya bekerja sempurna. Dia sekarang punya kamar sendiri di rumah Rafa untuk akhir pekan, dan hubungan yang semakin dekat dengan Nadia.

Suatu malam, Rafa menelepon sendiri bukan video call biasa.

"Aisha, ada sesuatu yang harus kuberitahu. Laras... dia hamil. Anak laki-laki."

Aisha terdiam sejenak. Lalu tersenyum tulus. "Selamat. Itu kabar bagus."

"Dan... kami ingin memberi nama Arkana. Untuk menghormati Arka."

Air mata Aisha menetes. Pengakuan. Penghormatan. Penerimaan.

"Arka akan senang punya adik laki-laki."

"Terima kasih, Aisha. Untuk semuanya."

Tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Masa lalu sudah berdamai dengan masa kini. Dan masa depan... terbuka dengan kemungkinan baru.

 

Di kamarnya di rumah Rafa, Arka menulis di buku hariannya:

"Hari ini Bunda bilang lewat video, dia bahagia di kota baru. Ayah bilang aku akan punya adik laki-laki. Aku senang. Ginjal Ayah di perutku berdetak kuat, seperti selalu ingatkan aku bahwa aku dicintai dua kali oleh Ayah yang memberikannya, dan Bunda yang menjaganya delapan tahun. Aku anak yang beruntung."

Dan di bawahnya, dengan tulisan cakar ayam: "Aku mau jadi dokter ginjal kalau besar. Mau tolong anak lain seperti aku."

 

(Di kota lain, Aisha menutup toko, melihat foto Arka di ponselnya. Dia tersenyum, lalu berbisik pada angin malam: "Kamu hidup, sayang. Itu cukup untuk kebahagiaan seumur hidupku.")

DUA TAHUN KEMUDIAN

Musim hujan lagi.

Tapi kali ini, hujan yang turun di Kota J tidak lagi terasa menyedihkan bagi Aisha. Bunyi rintikannya di atap seng toko kelontong kecilnya justru menenangkan seperti detak jantung yang stabil, teratur, penuh kepastian.

Toko "Sumber Rezeki" sudah berjalan dengan baik. Tidak besar, tapi cukup untuk menghidupinya dan sedikit tabungan. Para pelanggan kebanyakan ibu-ibu dan orang tua sudah seperti keluarga. Mereka tahu kisah Aisha, tidak banyak bertanya, tapi selalu mendoakan.

Pukul 8 malam, Aisha sedang membereskan rak-rak ketika bel pintu berbunyi. Dia berbalik, dan jantungnya berhenti sebentar.

Di ambang pintu, dengan payung masih meneteskan air hujan, berdiri Arka. Lebih tinggi. Lebih berisi. Pipinya tidak lagi pucat, tapi merona sehat. Dan di belakangnya, dengan senyum kecil, Rafa.

"Bunda," ucap Arka, suaranya lebih dalam dari dua tahun lalu.

Aisha tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa menatap. Anaknya. Di sini. Di tokonya.

Lalu Arka berlari pelan, karena tahu ibunya masih sering kaget dan memeluknya. Pelukan erat. Padat. Penuh dengan dua tahun pertumbuhan yang terlewat.

"Surprise," bisik Arka di telinganya. "Ayah bilang kita mau kasih kejutan."

Aisha menangis. Dia tidak menyadarinya sampai air mata membasahi rambut Arka. "Kamu... kenapa tidak bilang? Video call kemarin kamu tidak bilang apa-apa!"

"Karena pengen lihat ekspresi Bunda," kata Rafa yang mendekat. "Dan... ada sesuatu yang ingin kami berikan."

Arka melepaskan pelukan, mengambil tas kecil dari punggungnya. Dengan tangan agak gemetar bukan karena sakit, tapi karena gugup dia mengeluarkan sebuah bingkai foto.

"Buka, Bun."

Aisha membuka bingkai itu. Di dalamnya bukan foto, tapi selembar kertas ujian. Nilainya: 100. Mata pelajaran: IPA. Dan di bawah nilai, tulisan guru: "Arka menunjukkan pemahaman luar biasa tentang sistem ekskresi manusia. Suatu hari akan jadi dokter yang hebat!"

Air mata Aisha semakin deras. "Kamu... kamu dapat nilai sempurna."

"Tentang ginjal, Bun," kata Arka, matanya berbin-bangga. "Arka belajar keras. Karena Arka pengen paham, ginjal Ayah di dalam Arka kerja kayak gimana."

Rafa meletakkan tangan di bahu Arka. "Dia ranking 3 di kelasnya. Dan dokter bilang... ginjalnya bekerja dengan fungsi 95%. Hampir normal sempurna."

Aisha memeluk Arka lagi, tidak mau melepaskan. Ini yang ia impikan selama delapan tahun. Anaknya sehat. Anaknya berprestasi. Anaknya bahagia.

 

Mereka menutup toko lebih awal, duduk di ruang belakang yang sederhana. Aisha membuat teh hangat, memandangi Arka yang sedang bercerita antusias tentang sekolah, teman-teman, proyek sainsnya.

"Dan Nadia?" tanya Aisha.

"Nadia mau ikut, tapi dia lagi flu. Tapi dia kirim ini." Arka mengeluarkan gambar dari tas—gambar anak kecil memegang tangan anak besar, dengan tulisan: "Kakak Arka, aku kangen. Cepat datang ya."

"Laras baik-baik saja?" tanya Aisha pada Rafa.

Rafa mengangguk. "Dia... sekarang lebih terbuka. Arkana adik laki-laki Arka sudah umur setahun. Lucu. Dan Laras sering bilang, Nadia dan Arkana beruntung punya kakak seperti Arka."

Itu pengakuan besar. Aisha tersenyum. Perlahan-lahan, luka-luka sembuh.

"Bunda," tiba-tiba Arka serius. "Arka mau ngomong sesuatu."

"Ya sayang?"

"Ayah sudah tanya Arka... apakah Arka mau pindah tinggal sama Ayah. Sepenuhnya. Di rumah Ayah. Sekolah di sana."

Udara di ruangan kecil itu seketika berubah. Aisha menatap Rafa, lalu Arka. Ini yang ia tahu akan datang suatu hari. Tapi tidak sekarang. Tidak tiba-tiba seperti ini.

"Dan... apa jawabanmu?" tanya Aisha, berusaha suaranya tidak gemetar.

Arka mengambil tangan ibunya. "Arka bilang... Arka mau. TAPI." Dia berhenti, memastikan ibunya mendengarkan. "Tapi cuma kalau Bunda juga pindah dekat rumah Ayah. Arka tidak mau tinggal jauh dari Bunda lagi."

Rafa tersenyum. "Itu sebabnya kami ke sini. Untuk menawarkan... ada rumah kecil yang untuk disewakan, dua blok dari rumah kami. Deket dengan sekolah bagus. Dan ada lowongan kerja di perusahaan temanku untuk posisi administrasi gajinya lebih baik dari toko ini."

Aisha tertegun. Mereka merencanakan semuanya. Bukan hanya mengambil Arka, tapi juga memberinya tempat.

"Kamu tidak harus jawab sekarang," kata Rafa cepat. "Pikirkan. Tapi pikirkan juga untuk Arka. Dia butuh pendidikan yang lebih baik. Dan... dia butuh kedua orang tuanya dekat."

"Tapi Laras..."

"Laras yang menyarankan ini."

Kali ini Aisha benar-benar terkejut. Laras. Mengizinkannya tinggal dekat. Menerima kehadirannya dalam kehidupan mereka.

"Kenapa?" tanya Aisha, tidak percaya.

"Karena dia melihat bagaimana Arka berkembang ketika punya akses ke sekolah bagus, dokter spesialis yang rutin, dan... ayahnya setiap hari. Dan dia juga melihat, meskipun kamu jauh, Arka tetap anak yang sangat mencintai ibunya. Dia tidak ingin memutuskan itu."

Kedewasaan yang luar biasa. Pengorbanan dari seorang istri yang dulu begitu terluka.

 

Malam itu, setelah Arka tertidur di kamar kecil Aisha (dengan senyum puas di wajahnya), Aisha dan Rafa duduk di teras toko yang sudah gelap.

"Dua tahun," gumam Aisha. "Rasanya seperti kemarin dia masih di tempat tidur rumah sakit, sekarat."

"Sekarang dia atlet lari di sekolahnya," kata Rafa bangga. "Tim dokter bilang, ini keajaiban medis."

"Bukan keajaiban. Itu ginjalmu."

"Tapi pengasuhanmu delapan tahun yang membuatnya cukup kuat untuk bertahan."

Mereka diam, ditemani bunyi jangkrik dan gerimis yang sudah reda.

"Apakah kamu bahagia, Aisha?" tanya Rafa tiba-tiba.

Aisha memandangi bintang-bintang yang mulai muncul di langit. "Aku... tenang. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku tenang. Tidak takut setiap malam. Tidak hitung-hitung uang untuk obat. Tidak lihat Arka kesakitan."

"Itu jawaban yang bagus."

"Dan kamu? Bahagia?"

Rafa menghela napas. "Aku punya segalanya yang dulu kuinginkan: karir bagus, rumah, istri, anak-anak. Tapi baru sekarang, dengan Arka ada dalam hidupku... aku merasa lengkap. Seperti puzzle yang akhirnya menemukan kepingan terakhirnya."

"Meski kepingan itu datang dengan bekas luka?"

"Bekas luka itu mengingatkanku untuk tidak pernah mengambil sesuatu dengan mudah. Terutama keluarga."

 

Tiga bulan kemudian.

Aisha menutup toko "Sumber Rezeki" untuk terakhir kali. Tetangga-tetangga datang membantu membereskan, beberapa menangis. "Kami akan kangen, Bu Aisha."

"Kunjungi kami di Kota S," jawab Aisha, juga terharu.

Mobil sewaan sudah menunggu. Arka yang sekarang tingginya sudah sampai bahu Aisha, membantu membawa kotak terakhir.

"Bunda, kita benar-benar pindah ya?" tanya Arka, masih tidak percaya.

"Benar-benar. Ke rumah baru kita. Yang dekat dengan sekolah barumu. Dan... dekat dengan Ayah."

Arka tersenyum lebar senyum yang dulu langka, sekarang sering menghiasi wajahnya. Senyum anak yang sehat, dicintai, dan punya masa depan.

Perjalanan ke Kota S kali ini berbeda. Tidak ada ketegangan. Tidak ada rasa bersalah yang membara. Hanya harapan.

 

Rumah kecil itu persis seperti yang dijanjikan: sederhana tapi nyaman, dua kamar, taman kecil di depan. Dan yang paling penting—hanya lima menit jalan kaki dari rumah Rafa.

Laras datang membawa kue buatan sendiri, dengan Nadia menggandenginya dan Arkana digendong. "Selamat datang," katanya, pendek tapi tulus.

Nadia langsung menarik tangan Arka. "Ayo, Kakak! Tunjukkan kamarmu! Aku bantuin beresin!"

Anak-anak itu pergi, meninggalkan tiga orang dewasa di ruang tamu yang masih setengah kosong.

"Terima kasih," kata Aisha pada Laras. "Untuk semuanya."

"Jangan berlebihan," jawab Laras, tapi senyum kecil muncul. "Ini untuk anak-anak. Mereka pantas tumbuh dekat satu sama lain."

Rafa memandangi mereka dua wanita kuat dalam hidupnya. Bukan lagi musuh. Bukan juga sahabat. Tapi sekutu. Sekutu dalam membesarkan anak-anak mereka.

 

Enam bulan kemudian, di acara pertunjukan sekolah Arka.

Arka tampil dalam drama tentang sistem pencernaan dia memerankan "Ginjal yang Berani". Aisha duduk di barisan penonton, di sebelah Rafa dan Laras. Nadia di pangkuan Laras, Arkana di pangkuan Rafa.

Saat adegan di mana "ginjal" ditransplantasikan, Arka melihat ke arah mereka dan tersenyum. Senyum penuh makna. Senyum yang mengatakan: "Lihat, aku baik-baik saja. Ginjal Ayah baik-baik saja."

Aisha menggenggam tangan Rafa sebentar tidak lama, hanya sebentar. Tapi cukup. Terima kasih tanpa kata-kata.

Laras melihat, tapi kali ini tidak ada sakit di matanya. Hanya penerimaan. Dia menang. Dia tetap istri Rafa. Dan dia mendapatkan keluarga yang lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.

 

Setelah pertunjukan, di halaman sekolah yang dipenuhi orang tua dan anak-anak, Arka berlari menghampiri mereka dengan kostum ginjalnya yang lucu.

"Gimana? Bagus ga?" tanyanya bersemangat.

"Bagus sekali," kata Aisha, memeluknya. "Pahlawan ginjal kita."

Rafa mengusap kepala Arka. "Ayah bangga."

"Arka mau foto sama Ayah dan Bunda," pinta Arka tiba-tiba.

Aisha dan Rafa saling pandang. Laras mengangguk pelan. "Ayo, aku yang motoin."

Maka, di bawah pohon beringin sekolah, dengan anak-anak mereka berkumpul di sekeliling, Aisha dan Rafa berdiri berdampingan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai orang tua dari anak yang mereka selamatkan bersama.

Arka berada di antara mereka, memegangi tangan keduanya. "Senyum!" perintah Laras.

Mereka tersenyum. Bukan senyum bahagia sempurna seperti di film. Tapi senyum yang mengandung segala rasa: penyesalan, pengampunan, pengorbanan, dan akhirnya... kedamaian.

 

Malam itu, di rumah barunya, Aisha berdiri di jendela kamar tidur. Dari sana, dia bisa melihat lampu rumah Rafa di kejauhan. Keluarga yang tidak pernah ia miliki, tapi yang sekarang menerimanya sebagai bagian dari ekosistem mereka.

Ponselnya berdering. Pesan dari Arka yang sudah di rumah Rafa untuk menginap:

"Bunda, Arka sayang Bunda. Dan Arka senang sekarang kita semua dekat. Ginjal Ayah di sini berdetak kencang kayak lagi bilang 'terima kasih sudah dijagain'. Selamat malam, Bun."

Aisha membalas: "Selamat malam, sayang. Ginjal Ayah beruntung ada di tubuh pemberani sepertimu."

Dia mematikan lampu, berbaring di tempat tidur. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, tidak ada kecemasan yang menggerogoti. Tidak ada rasa bersalah yang membakar. Hanya rasa syukur.

Dan di kegelapan, dia berbisik pada dirinya sendiri—dan pada masa lalu yang sudah berdamai:

"Kita sembuh. Akhirnya, kita semua sembuh."

 

(Di rumah sebelah, Arka terbaring di tempat tidurnya yang baru di kamar khusus untuknya di rumah Rafa. Tangannya menempel di perutnya, merasakan detak ginjal yang menyelamatkan hidupnya. Dia tersenyum, lalu tertidur dengan mimpi bukan tentang rumah sakit atau rasa sakit, tapi tentang menjadi dokter, tentang menyelamatkan anak lain seperti dia, tentang keluarga besarnya yang unik dan sempurna dengan caranya sendiri.)

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!