"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Serangan Balik Nyonya Besar
Pagi itu, kantor pusat Arkananta Group yang biasanya tenang mendadak gempar. Bukan karena kabar saham yang anjlok, melainkan karena kemunculan seorang wanita yang melangkah masuk dengan gaya yang membuat satpam lupa cara berkedip.
Alana memakai setelan blazer merah menyala yang sangat pas di tubuhnya, dipadukan dengan kacamata hitam yang harganya bisa buat beli motor matic. Di sampingnya, Arkan berjalan dengan wajah dingin seperti biasa, namun tangannya tidak pernah lepas merangkul pinggang Alana.
"Mas, yakin ini kantor? Kok suasananya lebih tegang daripada pas Tante Lastri ngitung uang amplopan kondangan?" bisik Alana sambil terus menebar senyum manis—senyum yang sebenarnya mengandung racun bagi para musuhnya.
"Abaikan mereka, Lana. Fokus saja pada apa yang harus kamu katakan di depan dewan direksi nanti," jawab Arkan pelan.
Mereka naik ke lantai paling atas menggunakan lift eksekutif. Begitu pintu terbuka, Tante Sofia sudah berdiri di sana bersama pengacaranya dan beberapa pemegang saham yang tampak gelisah.
"Arkan! Berani sekali kamu membawa gadis ini ke sini setelah skandal semalam!" teriak Sofia. Ia menunjuk Alana dengan jarinya yang penuh cincin berlian. "Dewan direksi sudah sepakat. Pernikahanmu tidak sah karena didasari oleh manipulasi dan penipuan terhadap ahli waris!"
Alana melepaskan kacamata hitamnya dengan gerakan lambat yang sangat dramatis. Ia melangkah satu langkah ke depan, menatap Sofia langsung ke matanya.
"Selamat pagi juga, Tante Sofia yang terhormat. Aduh, pagi-pagi sudah teriak, apa nggak takut keriputnya nambah? Padahal bedaknya sudah tebal banget itu," celetuk Alana dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk.
Sofia ternganga. "Kamu—! Dasar rakyat jelata tidak tahu diri!"
"Rakyat jelata yang sekarang secara hukum adalah pemilik sah dari lima belas persen saham pribadi Tuan Arkananta karena status pernikahan kami semalam," potong Alana. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah dokumen resmi. "Dan soal 'penipuan', mungkin Tante mau menjelaskan pada dewan direksi kenapa ada rekaman suara anak Tante, Dion, yang sedang merencanakan pembakaran rumah kontrakan saya bersama mantan kekasih saya?"
Suasana di lorong itu mendadak hening. Alana menekan tombol play di ponselnya. Suara Dion yang sedang marah dan merencanakan hal keji itu terdengar sangat jelas.
Wajah Sofia mendadak pucat pasi. "Itu... itu pasti editan! Kamu menjebak anak saya!"
"Menjebak? Tante, saya ini cuma gadis yang mau makan rendang dengan tenang, tapi malah diganggu terus. Jadi ya terpaksa saya balas," Alana melirik ke arah para direktur yang mulai saling berbisik. "Bapak-bapak sekalian, apakah Anda ingin dipimpin oleh keluarga yang menggunakan cara kriminal untuk menyelesaikan masalah pribadi? Atau Anda lebih memilih stabilitas perusahaan di bawah Mas Arkan yang... yah, meski kaku, setidaknya dia tidak main api—secara harfiah?"
Arkan menatap Alana dengan binar kagum yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Gadis ini benar-benar "nyawa" yang ia butuhkan di tengah kebosanan dunia bisnisnya.
"Sofia," Arkan bicara dengan suara yang menggetarkan ruangan. "Polisi sedang menuju ke sini untuk menjemput Dion. Dan untukmu... saya sudah menyiapkan surat pengunduran dirimu dari dewan komisaris. Tanda tangani sekarang, atau kasus ini akan saya bawa ke media massa lengkap dengan rekaman pembakaran itu."
Sofia gemetar. Ia melihat ke sekeliling, namun tidak ada satu pun pemegang saham yang berani membelanya. Kekuasaannya runtuh dalam sekejap hanya karena keberanian seorang gadis "nyasar" dari kondangan.
Setelah drama di kantor selesai dan Sofia dipaksa pergi, Arkan mengajak Alana ke ruang kerjanya yang luas. Begitu pintu tertutup, Alana langsung melepas sepatunya dan duduk selonjoran di sofa mewah Arkan.
"Huft! Ternyata jadi Nyonya Besar itu capek ya, Mas. Akting sombong itu butuh energi ekstra," keluh Alana sambil memijat kakinya.
Arkan duduk di sampingnya, melepaskan dasinya. "Kamu melakukannya dengan sangat baik, Lana. Lebih baik dari yang saya bayangkan."
Alana menoleh, menatap Arkan dengan serius. "Mas, sekarang semuanya sudah beres. Tante Sofia sudah pergi, Dion di penjara, dan posisi Mas aman. Jadi... kapan kontrak kita selesai? Mas mau saya pergi sekarang?"
Arkan terdiam lama. Ia menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi Jakarta. "Kontrak itu... sudah saya bakar semalam, kan?"
"Iya, tapi secara hukum kan—"
Arkan memotong kalimat Alana dengan menarik tangan gadis itu ke dalam genggamannya. "Lana, saya memang memulai ini dengan rencana yang salah. Saya membayar Bayu, saya memanipulasimu... tapi melihatmu tadi bertarung demi saya, saya sadar satu hal."
"Sadar apa? Kalau saya emang jago berantem?"
Arkan tersenyum tulus, senyum yang membuat jantung Alana melakukan marathon. "Saya sadar kalau saya tidak ingin kamu pergi. Bukan sebagai alat, bukan sebagai pion... tapi sebagai istri saya yang sebenarnya."
Alana tertegun. "Mas... Mas beneran suka sama saya? Atau ini cuma efek stres gara-gara Tante Sofia?"
"Saya sangat serius, Alana. Kamu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa saya beli dengan uang, karena kamu memberikan diri kamu untuk membela saya secara cuma-cuma tadi," Arkan mendekatkan wajahnya. "Jadi, maukah kamu tetap di sini? Menjadi Nyonya Arkananta tanpa ada batasan kontrak?"
Alana menelan ludah. Ia teringat semua kegilaan yang mereka lalui dari meja katering sampai ruang sidang. "Hmm... gimana ya? Syaratnya berat lho, Mas."
"Sebutkan saja."
"Pertama, saya mau dapur apartemen Mas selalu sedia stok kerupuk jengkol. Kedua, Mas harus temenin saya ke pasar minggu depan pakai kaos oblong. Dan ketiga..." Alana menggantung kalimatnya sambil tersenyum jahil.
"Apa?" tanya Arkan penasaran.
"Mas harus janji nggak akan pernah lagi jadi 'kulkas berjalan'. Mas harus belajar jadi manusia yang seru kayak saya!"
Arkan tertawa rendah, lalu ia menarik Alana ke dalam pelukannya. "Kesepakatan diterima, Sayang."
Saat mereka sedang menikmati momen manis itu, pintu ruangan Arkan tiba-tiba diketuk dengan keras. Sekretaris Arkan masuk dengan wajah panik. "Tuan Arkan, ada tamu tak diundang di bawah. Seseorang yang mengaku sebagai... istri pertama Anda dari luar negeri!"
Alana langsung melepaskan pelukannya dan menatap Arkan dengan mata melotot. "Mas! Baru aja saya bilang jangan jadi iblis lagi! Istri pertama apa maksudnya?!"