Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Lan Xue
Aku ingat salju pertama yang jatuh di halaman Sekte Es Hitam. Umurku baru tujuh tahun, tapi kakak sudah sepuluh tahun lebih tua. Xue Han berdiri di tengah lapangan latihan, jubah hitamnya berkibar meski angin tak terlalu kencang. Dia sedang mempraktikkan ilmu Es Gelap Tingkat Satu—tangan kirinya terangkat, es hitam muncul seperti asap pekat, membentuk pisau kecil yang berputar di udara.
Aku duduk di pinggir lapangan, kaki kecilku menggantung di batu dingin, memandang kakak dengan mata penuh kagum. Dia selalu seperti itu—dingin, kuat, tak pernah tersenyum, tapi aku tahu dia sayang padaku. Setiap malam dia datang ke kamar kecilku di belakang aula, membawa selimut hangat yang dia curi dari gudang, lalu duduk di tepi tempat tidur sampai aku tertidur. Dia tak pernah bicara banyak, cuma bilang, “Tidurlah, Lan Xue. Besok kau harus kuat.”
Hari itu salju semakin tebal. Aku berlari ke tengah lapangan, ingin ikut latihan seperti kakak. “Kakak, ajari aku juga! Aku mau bisa buat pisau es seperti kakak!”
Xue Han menoleh. Matanya dingin seperti biasa, tapi ada sesuatu yang lembut di sudutnya—hanya aku yang bisa lihat. “Kau masih kecil. Ilmu es hitam bukan mainan. Kalau kau salah, kau akan membeku dari dalam.”
Aku menggeleng keras. “Aku nggak takut! Aku mau jadi kuat seperti kakak. Biar bisa lindungi kakak kalau ada yang jahat!”
Dia diam lama. Lalu dia berlutut di depanku, menyentuh pipiku dengan tangan yang selalu dingin. “Kau nggak perlu lindungi aku. Aku yang lindungi kau. Selamanya.”
Aku tersenyum lebar. “Janji ya?”
Dia mengangguk.
Tapi janji itu tak pernah bertahan lama di sekte ini.
Tahun berikutnya, kakak mulai berubah. Dia semakin sering latihan sendirian di gua es belakang sekte, semakin jarang bicara, semakin sering pulang dengan luka yang tak pernah dia ceritakan. Aku tahu ada sesuatu yang salah. Pemimpin sekte, Guru Besar Huo Yan, mulai sering panggil kakak ke aula utama. Mereka bicara tentang “ritual keabadian”, tentang “inti teratai yang hilang”, tentang “darah teratai murni yang bisa jadi kunci”.
Aku tak paham apa itu. Aku cuma tahu kakak pulang semakin lelah, matanya semakin gelap, dan tangannya semakin dingin—dingin yang tak lagi hangat meski dia pegang tanganku.
Suatu malam, aku menyelinap ke gua latihan kakak. Aku lihat dia duduk di tengah lingkaran es hitam raksasa yang dia buat sendiri. Di tengah lingkaran ada mangkuk kecil berisi darah merah gelap—darah manusia. Kakak memasukkan tangannya ke mangkuk itu, lalu darahnya berubah jadi es hitam yang naik ke tubuhnya.
Aku tak sengaja menginjak batu kecil. Kakak menoleh cepat. Matanya merah sejenak, lalu kembali normal.
“Lan Xue, pulang. Jangan lihat ini.”
Aku berlari mendekat, memeluk kakinya. “Kakak apa yang kau lakukan? Kenapa darah itu? Kenapa kau jadi semakin dingin?”
Dia berlutut, memelukku erat. pelukan pertama setelah berbulan-bulan. “Ini untuk kita, Lan Xue. Untuk masa depan kita. Sekte ini mereka akan buang kita kalau kita tak berguna. Aku harus jadi kuat. Aku harus jadi abadi. Biar kau tak pernah sendirian lagi.”
Aku menangis. “Aku nggak mau kakak jadi monster. Aku mau kakak yang dulu yang bawa selimut hangat, yang berjanji lindungi aku.”
Kakak diam lama. Lalu dia bilang, “Aku tak akan jadi monster. Aku cuma mau lindungi kau. Percaya padaku.”
Aku percaya. Aku selalu percaya.
Tapi kepercayaan itu retak saat malam ritual besar.
Guru Besar Huo Yan mengumpulkan seluruh sekte di aula utama. Kakak dipanggil ke tengah. Mereka bilang kakak akan jadi “wadah teratai abadi”—dia akan serap inti teratai yang dicuri dari Pulau Teratai Mistis. Tapi aku tahu itu bohong. Aku dengar Guru Besar bicara dengan elder lain: “Kalau Xue Han berhasil, kita ambil intinya. Kalau gagal, dia jadi korban. Tak ada kerugian.”
Aku berlari ke tengah aula, memeluk kakak. “Jangan! Jangan lakukan! Mereka mau bunuh kakak!”
Kakak mendorongku pelan. “Lan Xue, Ini untuk kita.”
Tapi aku tak mau. Aku menangis, memohon. Guru Besar marah. Dia mengangkat tangan, energi es hitam menyambar ke arahku.
Kakak bergerak lebih cepat. Dia menarikku ke belakang, menerima serangan itu dengan tubuhnya sendiri. Es hitam menembus dadanya. Darahnya membeku jadi kristal hitam sebelum jatuh.
Kakak jatuh berlutut. Matanya memandangku. “Lan Xue lari.”
Aku menangis memanggil namanya. Tapi Guru Besar mengangkat tangan lagi. Kali ini untuk akhiri kakak.
Aku tak ingat apa yang terjadi selanjutnya dengan jelas. Aku cuma ingat es hitam meledak dari tubuh kakak—bukan untuk serang, tapi untuk lindungi aku. Es itu membungkusku seperti selimut, membawa aku keluar dari aula, ke gua rahasia di belakang sekte.
Aku bangun berhari-hari kemudian. Tubuhku dingin sekali. Rambutku berubah putih. Mataku merah. Di dadaku ada simbol teratai hitam kecil yang berdenyut pelan—seperti inti es hitam kakak yang pindah ke tubuhku untuk selamatkan aku.
Kakak… sudah hilang. Tubuhnya jadi patung es di aula, dipecah jadi serpihan oleh Guru Besar. Mereka bilang kakak gagal jadi wadah teratai. Tapi aku tahu—kakak sengaja gagal. Dia pilih selamatkan aku daripada jadi abadi.
Aku bersembunyi bertahun-tahun. Aku latihan sendiri di gua es. Aku ambil sisa energi kakak yang tertinggal di tubuhku. Aku jadi lebih kuat. Lebih dingin. Lebih mirip kakak.
Aku kembali ke sekte sepuluh tahun kemudian—bukan sebagai murid, tapi sebagai hantu. Aku bunuh Guru Besar Huo Yan di malam tanpa bulan. Aku ambil alih sisa pasukan yang masih setia pada kakak. Aku janji pada diri sendiri: aku akan ambil kembali apa yang seharusnya jadi milik kakak.
Dan sekarang, kakak ada di dalam tubuh tabib miskin itu. Shen Yi. Reinkarnasi teratai yang membunuh kakakku di danau.
Aku berdiri di haluan kapal hitamku, memandang kabut yang menyelimuti Gerbang Tersembunyi. Kapal mereka sudah masuk. Shen Yi sudah di dalam pulau.
Aku tersenyum dingin.
“Kakak, tunggu aku. Aku akan bawa kau pulang. Dan aku akan bunuh siapa pun yang coba halangi.”
Es hitam di sekitar kapalku bergetar, seperti menjawab janji itu.
Aku melompat ke kabut. Tubuhku ditopang angin es hitam. Aku menuju pulau. menuju kakakku, menuju Shen Yi, menuju akhir dari segalanya.