NovelToon NovelToon
Suicidal Project

Suicidal Project

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kencan Online / Tamat
Popularitas:268
Nilai: 5
Nama Author: lilbonpcs

Buku ini gua tulis sebagai perwujudan eksistensional gua di dunia ini. Karena gua pikir, sebelum gua mati, gua harus ninggalin sesuatu. Untuk bilang ke orang² yang baca buku gua ini: "Ini gua pernah hidup di dunia, dan gua juga punya cerita." Pada dasarnya, buku ini berisi rangkuman hal² penting yang terjadi dalam hidup gua, yang coba gua ingat² kembali, gua gali kembali, di tengah kondisi gua yang sulit mengingat segala hal yang rumit. Juga, kalau² kelak nanti gua lupa dengan semua hal yang tertulis di buku ini, dan gua baca ulang, terus gua bisa bilang: "Oh... ternyata gua pernah begini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyap

Dari hubungan gua sama Azizah, gua belajar sesuatu: "Hubungan yang enggak setara dari awal, pada akhirnya selalu berujung kegagalan."

Mulai dari perbedaan iman, ekonomi, gaya hidup, mainset, dan banyak lagi, ada banyak dari kita yang berbeda, namun enggak bisa saling melengkapi. Ini alasan kenapa pada akhirnya hubungan kita kandas gitu aja. Sejak awal Azizah mencari kesenangan dalam sebuah hubungan. Sementara gua mencari ketenangan. Jadi dari awal emang udah enggak bisa sejalan, atau bisa dibilang udah enggak setara sejak di titik star.

Gua bisa aja pilih opsi kedua waktu itu, memaafkan Azizah, dan lalu melanjutkan hubungan. Lagi pula, dari mulut mereka gua denger, mereka bahkan enggak ada hubungan pacaran. But, enggak ada jaminan Azizah enggak akan mengulanginya lagi. Karena yang dikejar Azizah itu kesenangan, dan gua enggak bisa ngasih itu ke dia.

Bukan salah Azizah, sepenuhnya itu salah gua. Kalau saja dari awal gua mau diajak HS, mungkin ceritanya bakal lain. Lagi pula gua bukan cowok polos yang belum pernah HS sama sekali. Mungkin dimata Azizah gua ini cowok yang terlalu naif.

Gua pikir lagi... nasi sudah menjadi bubur, yaudah...

Hubungan gua sama Azizah beneran jadi pukulan terberat buat hidup gua. Di titik ini, gua merasa jadi badut. Badut yang hanya dipakai kalau dia berguna, setelahnya dibuang karena enggak berguna.

Gua mencoba ngelupain hubungan gua dengan Azizah yang lumayan dark itu, dengan tenggelam dalam doa. Gua mulai rajin mendaraskan doa rosario, tiap detik, menit dan jam, dengan harapan pikiran gua teralihkan dari segala hal yang berkaitan dengan Azizah.

Dan agaknya cara gua berhasil, karena sampai gua mulai menulis buku ini, gua beneran lupa sama sekali sama Azizah.

Hari² gua kemudian tenggelam dalam kesibukan gua menjadi seorang ojol. Gua sengaja menyibukan diri dengan bekerja mati²an tanpa henti, hanya untuk melupakan semua kenangan buruk gua.

Sampai akhirnya gua mulai sadar, usia gua udah enggak muda lagi. Di usia 25 tahun, gua baru sadar, kalau gua enggak bisa hidup gini² aja. Suatu saat, gua harus benar² menemukan tambatan hati, yang bisa gua ajak jalan bareng ke jalan Tuhan.

Gua inget betul, waktu itu tahun 2019 awal, tepat sebelum covid 19 menyerang di akhir tahunnya. Gua mulai berpikir: "Kalau gua mau cari cewek yang bener, ya gua harus carinya di tempat yang bener."

Dan satu hal terpikirkan: "Komunitas gerejawi."

Gua sengaja cari² organisasi² Katolik, dan gua akhirnya masuk di salah satu group chat whatsapp "Orang Muda Katolik Indonesia" ini bukan group resmi Gereja, tapi isinya adalah kaum muda Katolik lintas daerah. Gua masuk ke sana, mulai aktif ngoceh di group, dengan maksud untuk mencari pasangan.

Ada beberapa cewek yang gua incer, but responnya agak rada² bikin sakit hati. Perkara pertama, karena gua jelek, usia gua baru 25 tahun waktu itu, tapi wajah gua berusia 45 tahun.  Perkara kedua, pekerjaan gua yang dianggap terlalu jongos, yup... karena gua cuman ojol.

Jujur aja, gua hampir patah semangat... gua ampe bilang gini ke Tuhan: "Tuhan Yesus, satu aja lah kirim kan anak Lu yang menurut Lu baik untuk gua, gua enggak akan nuntut masalah fisik deh, kek apa juga itu orangnya, kalau itu dari Lu, gua bakal terima."

Saking gua udah hopeless banget...

Dan Tuhan beneran kirimin... haha.

Tiba² aja di group itu, nongol lah satu akun cewek yang setelah ngoceh² sok asik gitu, gua tahu ternyata dia satu kota sama gua. Mulai lah kita saling chat personal, udah enggak lagi lewat group. Dari beberapa obrolan, ternyata kita nyambung.

Namanya adalah Ana, sebutlah begitu. Dia mahasiswi jurusan biologi, di salah satu kampus swasta Katolik di kota gua. Keliatan baik, dan asyik diajak ngobrol. Gua udah berpikir, kayaknya enggak akan ada kebosanan dalam hidup gua, kalau gua bisa jalan bareng sama ini anak.

Obrolan kita awalnya cuman biasa aja, sekedar "haha-hihi" untuk memecah kebosanan di tengah aktifitas kita masing². Pokoknya, awalnya beneran enggak ada yang istimewa. Semua berasa mengalir gitu aja. Tapi, itensitas chatan kita beneran makin sering. Segala macam hal kita obrolin. Dan yang bikin gua makin rispek sama si Ana, karena dia enggak ngerendahin profesi gua.

But soal cinta, awalnya enggak ada rasa sama sekali. Mungkin karena pengalaman buruk gua dari yang udah², gua jadi sulit mengalami "cinta pada pandangan pertama" itu beneran mustahil buat gua. Cinta gua tumbuh seiring berjalannya waktu, dari momen² gua sama dia ngobrol.

Setelah beberapa saat kita chatan biasa, kita akhirnya mutusin buat ketemu. Pada masa ini, waktu itu gua beneran enggak mikirin yang namanya first impresion, gua udah enggak peduli lagi sama yang begituan. Kalau lah dari awal udah setara, gua yakin mau kek apa juga bentuknya gua, kesan pertama dia ke gua pasti baik. Enggak ada yang perlu di-buat², gua cukup jadi diri gua sendiri aja.

Kita ketemuan di salah satu cafe, deket rumah gua, jujur gua enggak paham kenapa kita enggak pilih cafe yang posisinya ada di-tengah², jadi di dia enggak terlalu jauh, di gua enggak ke deketan.

Munculah satu cewek gemoy... wkwkwk. Serius... kesan pertama yang gua dapet dari dia itu: "Gemes." Karena dia emang gemoy. Wajahnya sih cakep sebenernya, terutama senyumannya. Gua enggak tahu kesan pertama dia ke gua dulu kek apa, dia enggak pernah cerita ke gua soalnya.

Di cafe itu, dia cerita latar belakang dia. Yang pas gua pikirin lagi sekarang, keknya idup dia pas sebelum ketemu sama gua, beneran lumayan gelap. Padahal waktu itu gua enggak kepikiran sama sekali, kalau apa yang dia alami, cukup mengerikan buat cewek².

Gua juga cerita latar belakang gua, but enggak semua, selalu ada yang gua sembunyiin, karena gua waktu itu belum bisa percaya sepenuhnya sama dia.

Intinya, bertemu sama Ana adalah suatu berkat tersendiri buat hidup gua, terlepas dari segala pengalaman buruk yang nantinya, dia berikan ke gua.

Hari² kemudian setelah kita ketemuan untuk pertama kali. Gua sempat mikir, pasti dia bakal ngejauh, tapi ternyata enggak, kita malah makin dekat. Waktu itu emang belum ada statemen pacaran, tapi rasanya udah kek orang pacaran.

Sampai suatu saat, dia tiba² ngomong gini: "Masak kita cuman gini aja terus sih Mas."

Waktu itu gua enggak peka sama sekali: "Terus maunya gimana?"

Dia tiba² ngomong: "Kenapa enggak pacaran aja?"

Gua jawab dengan santainya: "Yaudah, kita sekarang pacaran."

Malam itu, kita resmi jadian... haha.

1
lilbonpcs
ehek
DavidTri
ini beneran kisah nyata atau cuma cerita di buat² bang? Walaupun gitu tetap semangat bang, bahkan Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia. Sisyphus tahu hidupnya absurd mendorong batu ke puncak gunung, jatuh lagi, diulang selamanya.

Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.

Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥
lilbonpcs: cerita nyata 😄 makasih loh dah komen,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!