NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Dosen / Penyesalan Suami / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:49.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Motor ketua geng Kobra melaju lebih dulu, disambut teriakan kemenangan dari gengnya. Tawa, tepukan, dan ejekan bercampur jadi satu. Di sisi lain lintasan, wajah ketua geng Meteor mengeras. Matanya merah, rahangnya mengatup kuat.

“Nggak mungkin!” teriak geng lawan lantang, melangkah maju dengan emosi meledak. “Kalian curang ya!”

Beberapa anggota Meteor ikut ribut, memprovokasi. Suasana yang tadinya euforia berubah panas dalam hitungan detik.

Kaisar baru saja menurunkan helmnya, napasnya masih memburu, ketika sebuah pukulan menghantam pelipisnya tanpa peringatan.

Tubuh Kaisar terhuyung. Darah langsung mengalir dari sisi kepalanya. Serangan pertama itu terlalu cepat dan ia tak sempat menghindar. Geng Meteor menyerang lebih dulu, membabi buta.

“Kaisar!”

Bima dan Sakti langsung maju. Alex menyusul. Arena balapan berubah jadi medan perkelahian brutal. Teriakan bercampur dengan suara tulang beradu, tinju mendarat, dan makian kasar.

Kaisar sempat membalas, meski pandangannya mulai berkunang-kunang. Namun, pertarungan paling brutal terjadi di sisi lain dan ketua geng Meteor dihajar habis-habisan oleh Sakti dan Bima. Pukulan demi pukulan menghantam tanpa ampun, sampai akhirnya tubuh ketua Meteor jatuh menghantam aspal. Darah menggenang. Wajahnya tak bergerak.

Belum sempat siapa pun bernapas lega, suara sirene memecah udara. Semua kepala menoleh bersamaan.

“Sial, polisi!” teriak seseorang.

Kekacauan langsung terjadi. Motor dinyalakan, orang-orang berlarian. Bima menarik Sakti.

“Cabut sekarang!”

Alex sudah lebih dulu menghilang di balik kerumunan. Satu per satu mereka pergi.

Kaisar berusaha bangkit. Kepalanya terasa berat, berdenyut hebat. Pandangannya berputar. Saat akhirnya ia berdiri, tempat itu hampir kosong.

“Bi?” suaranya serak, tak ada siapa-siapa. Hanya Riko yang tersisa dan tergeletak beberapa meter darinya, wajahnya penuh luka, napasnya tersengal. Bukan Kaisar yang memukulnya dan Kaisar tahu itu. Dia melangkah tertatih ke arah Riko, berlutut, mencoba mengangkat bahunya.

“Rik … bangun, ayo kita pergi.”

Sirene makin dekat, lampu merah-biru menyapu jalanan.

“Berhenti ditempat!” suara petugas menggema.

Kaisar menoleh, mobil polisi sudah berhenti tak jauh dari mereka. Beberapa petugas turun dengan sigap. Ia menatap Riko lagi. Rahangnya mengeras, ada sesuatu di dadanya, bukan takut, tapi tak tega jika Riko terseret seketika naluri dalam hatinya berkata untuk menolong Riko yang terluka.

Namun, tubuhnya terlalu lemah. Kepalanya berdenyut hebat dan tangannya gemetar.

“Berhenti!” ulang petugas itu lebih tegas.

Langkah kaki mendekat, Kaisar perlahan mengangkat tangan, berdiri dengan susah payah. Pandangannya masih tertuju pada Riko saat borgol dingin melingkar di pergelangan tangannya.

Sementara itu di tempat lain, di perumahan Bumi Asri. Lampu ruang tengah masih menyala, televisi dibiarkan hidup tanpa suara. Shelina duduk di sofa dengan ponsel di genggamannya, layar sudah gelap dan tanda tak ada pesan masuk sejak tadi.

Kaisar belum pulang, bukan sekali ini saja. Sudah beberapa kali Kaisar menghilang tanpa kabar, tapi entah kenapa malam ini terasa berbeda. Perasaan tak tenang menekan dadanya sejak magrib berlalu.

Shelina melirik jam dinding. 20.30 malam.

Ia menghela napas pelan, lalu berdiri dan berjalan ke jendela. Tirai disibak sedikit, jalanan di depan rumah sepi, hanya lampu jalan yang memantulkan bayangan samar di aspal basah.

“Ke mana lagi kamu, Kai…” gumamnya lirih.

Tangannya refleks meraih ponsel, menekan nama Kaisar. Nada sambung berdering, sekali, dua kali, lalu terputus.

Shelina memejamkan mata sesaat. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan, sebagian terlalu buruk untuk dipikirkan. Ia mencoba menenangkan diri, meyakinkan bahwa Kaisar hanya pulang terlambat seperti biasanya.

Namun, kegelisahan itu tak juga reda. Ia kembali duduk, kali ini dengan lutut dipeluk. Tatapannya kosong, pikirannya berputar pada pertanyaan yang sama.

"Apa lagi yang jadi alasanmu malam ini, Kaisar?"

Sementara itu, di kantor polisi.

Lampu neon menyinari ruang tunggu dengan cahaya dingin. Kaisar duduk di bangku besi, tubuhnya condong ke depan, kedua tangan bertaut, wajahnya tertunduk. Luka di pelipisnya sudah dibersihkan seadanya, tapi lebam di rahang masih jelas terlihat.

Di depan meja petugas, Aksa berdiri dengan rahang mengeras. Nada suaranya ditekan, tapi amarahnya terasa nyata.

“Jadi adik saya boleh pulang sekarang?” tanya Aksa datar, namun tajam.

Petugas mengangguk. “Iya, Mas. Untuk sementara hanya dimintai keterangan. Tapi kami tetap akan memanggil lagi kalau dibutuhkan.”

Aksa menandatangani beberapa berkas tanpa banyak bicara. Di sampingnya, Kinara duduk gelisah, jemarinya saling meremas sejak tadi. Pandangannya bolak-balik antara Aksa dan Kaisar.

Begitu urusan selesai, Aksa berbalik, langkahnya tegas menuju Kaisar. Tanpa aba-aba, Aksa menarik kerah jaket Kaisar dan mengangkat tubuh adiknya itu setengah berdiri.

“Kamu pikir ini mainan, hah?!” bentaknya tertahan, napasnya berat.

Kaisar tak melawan, kepalanya masih tertunduk, suaranya nyaris tak terdengar.

“Lepasin, Kak…”

“Lepasin?” Aksa tertawa pendek, pahit. “Kamu tahu nggak jam berapa sekarang? Kamu tahu nggak siapa aja yang bisa kena imbas dari kebodohan kamu?!”

Kinara buru-buru berdiri, memegang lengan Aksa.

“Aksa, jangan di sini. Tolong…” suaranya bergetar.

“Bukan tempatnya.”

Aksa menoleh tajam, napasnya memburu. Tangannya mengepal, jelas menahan diri agar tidak melayangkan pukulan.

“Kamu tahu nggak, Mom,” katanya dingin, “kalau bukan karena kamu, mungkin malam ini dia sudah aku hajar.”

Kaisar akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya merah, entah karena sakit atau emosi yang ditelan mentah-mentah.

“Gue nggak minta dibelain,” ucapnya pelan.

Kalimat itu justru membuat Aksa makin murka.

“Oh, jadi kamu bangga sekarang? Ditahan polisi? Balapan liar? Berkelahi kayak preman?”

Aksa mendorong Kaisar ke arah pintu.

“Keluar, kita pulang! Dan setelah itu...” Aksa berhenti sejenak, menahan emosi, “kita bicara serius.”

Kinara mengikuti dari belakang, menatap Kaisar dengan cemas. Di kepalanya hanya satu hal yang terlintas,

'Kalau Shelina tahu … malam ini pasti bukan malam yang baik.'

Kinara segera berdiri tepat di depan Aksa, kedua tangannya menahan dada putranya itu dengan panik.

“Aksa, jangan!” suaranya meninggi, hampir pecah.

“Ini kantor polisi! Kamu mau bikin masalah baru lagi?!”

Namun, amarah Aksa sudah telanjur mendidih. Wajahnya merah, rahangnya mengeras, urat di lehernya menegang. Tangannya bergetar, bukan ragu, melainkan menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.

“Kamu selalu gitu, Mom,” desis Aksa dingin. “Selalu nutupin dia.”

“Aksa—”

Belum sempat Kinara menyelesaikan kalimatnya, Aksa menepis tangan ibunya. Tinju itu mendarat tepat di rahang Kaisar.

Tubuh Kaisar terhuyung ke samping, punggungnya membentur kursi besi hingga menimbulkan suara nyaring. Kepalanya menoleh, darah langsung terasa di sudut bibirnya. Ia tak membalas, bahkan tidak mengangkat tangan untuk melindungi diri.

Kinara menjerit kecil.

“Aksa! Astaghfirullah ... Aksa!”

"Mommy, tadi bilang kan udah. Mommy tahu cara didik anak. Kalau dia nakal, berarti selama ini Mommy yang tidak becus jadi ibu bukan?" tanya Kinara menatap kedua putranya, Kaisar langsung merasa bersalah, begitu juga Aksa.

Petugas yang berjaga refleks melangkah mendekat, namun Aksa sudah lebih dulu menarik napas kasar dan mundur setapak, dadanya naik turun hebat.

“Kamu puas sekarang?!” bentaknya ke arah Kaisar.

“Hah?! Kamu kira jadi jagoan di jalanan itu keren?! Kamu kira Shelina bakal bangga punya suami kayak kamu?!”

Nama itu membuat Kaisar akhirnya bereaksi. Matanya terangkat perlahan, menatap kakaknya dengan sorot kosong namun terluka.

“Jangan bawa-bawa dia,” ucapnya lirih, tapi tegas.

Aksa tertawa sinis.

“Oh, sekarang kamu peduli? Malam-malam nggak pulang, bikin istri nunggu, bikin keluarga kelabakan ... itu peduli versi kamu?!”

Kinara menangis, memegang lengan Aksa erat-erat dari belakang.

“Cukup, Aksa … cukup. Kamu sudah keterlaluan.”

Aksa memejamkan mata sejenak, seolah mencoba mengendalikan dirinya. Saat membuka mata kembali, tatapannya masih keras, tapi suaranya sedikit lebih rendah, lebih menyakitkan justru karena itu.

“Kaisar,” katanya pelan namun menghantam, “kalau kamu masih mau jadi bagian dari keluarga ini, berhenti hidup kayak orang nggak punya masa depan.”

Kaisar mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan. Darah menempel di kulitnya. Ia mengangguk kecil, bukan tanda setuju dan lebih seperti tanda menyerah.

“Gue ngerti, Kak,” katanya lirih. “Pukulan lo … pantas.”

Kalimat itu justru membuat Kinara menangis lebih keras di dalam dadanya. Yang satu anak dari suaminya yang satu anaknya dengan suaminya.

"Pulang sekarang! Biarkan motor mu di jemput besok. Motornya aku sita," tegas Aksa, lalu membawa Kinara masuk ke dalam mobil.

1
Rahmat Zakaria
jeng jeng siapa kah yang datang hayo kalau aku tebak itu momy kaisar
Nata Abas
bagus
Aidil Kenzie Zie
yang datang Momy Kirana atau abg Aksa
ngatun Lestari
siapa kah yg datang.....
Teh Euis Tea
amira ga nikah lg thor?
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
nuraeinieni
betul tuh yg di bilang bu amira,anggap saja shel lagi cuti sampai kai wisuda,,atau jadi ibu rumah tangga shell,tunggu suami pulang kerja.
nuraeinieni
apa mommy kinara yg datang
Naufal Affiq
apa aksa yang datang kak
Teh Euis Tea
ouhhh amira ibu kandungnya aska ternyata pemilik yayasan
nuraeinieni
wah ternyata amira mama nya aska.
Meila Azr
aduh pantesan kaisar telpon momy ternyata ha Riko salah cari lawan
Oma Gavin
harusnya sudah tidak ada lagi dendam amira sudah bisa menerima kirana yg merawat aska
Naufal Affiq
amira kan mama nya aska
Riska Nianingsih
Amira ibunya Aska bukan????
Aisyah Alfatih: iya, ibu kandung.
total 1 replies
nuraeinieni
memikirkan kemungkinan yg terjadi tdk apa2,,,tapi hadapi dulu,baru tau keputusan yg kepala yayasan berikan,biar kalian bisa ambil langkah.
nuraeinieni
mantap tuh kaisar,jawaban yg tepat,,,
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
rasakan riko,kau pikir kau menang dalam masalah,gak ada larangan mahasiswa nikah sama dosennya,ngerti kan Riko yang ku maksud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!