NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya di lorong sempit

Kamar kos nomor 12 itu tidak lebih luas dari bilik kerjaku di kantor redaksi. Dindingnya yang bercat putih kusam dihiasi oleh tempelan kliping foto dan catatan teknis yang ditulis tangan. Di sudut ruangan, sebuah meja kayu kecil yang reyot menjadi saksi bisu perjuangan Biru. Tidak ada lagi laptop canggih dengan layar retina; yang ada hanyalah sebuah komputer tua pinjaman dari Seno dan tumpukan kertas curah.

"Selamat datang di istanaku yang baru, Na," ujar Biru dengan nada jenaka yang dipaksakan. Ia menggeser tumpukan buku agar aku bisa duduk di satu-satunya kursi plastik di sana.

"Ini lebih dari cukup, Biru," jawabku sambil meletakkan koperku. Aku membuka bungkusan kain beludru itu dan mengeluarkan naskah serta foto-foto yang kubawa dari desa. "Siska bilang Abhinara sudah memblokir semua akses kita ke percetakan besar. Dia ingin membunuh buku ini sebelum ia sempat bernapas."

Biru mengangguk, ia menyalakan lampu meja yang cahayanya agak kekuningan. "Aku sudah menduganya. Abhi memegang kendali atas jalur distribusi legal. Tapi dia lupa satu hal: dia hanya menguasai industri, dia tidak menguasai komunitas. Di pelabuhan ini, banyak percetakan 'bawah tanah' yang biasa mencetak zine dan buku-buku perlawanan. Mereka tidak peduli pada nama Laksmana."

Kami mulai bekerja. Malam-malam kami habiskan dengan berbagi satu cangkir mi instan dan literan kopi murah. Biru sibuk memindai ulang foto-fotonya dengan alat seadanya, sementara aku menulis ulang bab-bab terakhir dengan sudut pandang yang lebih tajam.

Bekerja dalam kesempitan ternyata membuat kami jauh lebih dekat daripada saat kami berada di kafe mewah. Di sini, di bawah suara bising tetangga dan aroma garam pelabuhan, aku melihat sisi Biru Laksmana Langit yang sebenarnya. Dia bukan lagi pria misterius yang penuh teka-teki; dia adalah pejuang yang rela jemarinya kasar karena membantu nelayan memindahkan balok es hanya demi mendapatkan uang makan untuk kami berdua.

"Kenapa kamu tidak menyerah saja, Biru?" tanyaku suatu malam, saat kami sedang menyusun urutan halaman di lantai semen. "Kamu bisa kembali ke rumah besarmu hanya dengan satu kata maaf pada ayahmu."

Biru berhenti menyusun foto. Ia menatapku, matanya merefleksikan cahaya lampu meja yang remang. "Karena fajar yang kulihat di dermaga hari itu jauh lebih berharga daripada seluruh saham Laksmana Group, Aruna. Kalau aku kembali sekarang, aku akan kehilangan diriku sendiri. Dan aku tidak mau bertemu denganmu sebagai orang asing yang jiwanya sudah mati."

Aku terdiam, merasakan kehangatan yang menjalar di dadaku. Bukan lagi hangat yang membakar, tapi hangat yang melindungi.

Namun, pekerjaan rahasia kami tidak luput dari bahaya. Suatu sore, Seno datang dengan wajah pucat.

"Mas Biru, Mbak Na, kalian harus hati-hati," bisik Seno sambil menyerahkan kantong plastik berisi roti. "Abhinara mulai mengirim orang untuk mengawasi percetakan-percetakan kecil di pinggiran kota. Dia tahu kalian sedang merencanakan sesuatu. Dia bahkan mulai menyebarkan rumor di kalangan redaksi bahwa Mbak Na membawa kabur aset perusahaan dan akan dituntut secara hukum."

Aku mengepalkan tangan. "Dia benar-benar ingin menghancurkan karierku."

"Dia ingin memaksamu pulang ke kakinya, Na," sahut Biru dingin. "Dia pikir dengan memutus oksigenmu, kamu akan merangkak kembali padanya."

"Lalu apa rencana kita?" tanyaku.

Biru berdiri, mengambil kamera tuanya. "Kita tidak akan lewat jalur darat. Distribusi buku ini akan dilakukan lewat jalur laut. Teman-teman nelayan di pesisir sudah setuju untuk membawa 'kargo' kita ke toko-toko buku independen di luar kota saat mereka melaut. Abhi bisa mengawasi jalan raya, tapi dia tidak bisa menjaga seluruh garis pantai."

Kami menamakan proyek rahasia ini: "Underground Dawn". Sebuah gerakan sunyi untuk melawan tirani keluarga Laksmana.

Namun, saat kami sedang mempersiapkan draf final untuk dibawa ke percetakan malam itu, sebuah ketukan keras terdengar di pintu kos. Bukan ketukan Seno yang berpola. Ini adalah gedoran yang kasar.

"Buka! Polisi!"

Aku dan Biru saling berpandangan. Jantungku serasa jatuh ke lantai. Apakah Abhinara benar-benar melaporkanku atas tuduhan pencurian aset?

Biru dengan cepat menyambar flashdisk dan draf naskahku, lalu menyelipkannya ke balik jaketnya. Ia menatapku tajam. "Aruna, lewat jendela belakang. Sekarang! Lari ke arah dermaga tiga. Cari kapal bernama 'Rembulan'. Jangan menoleh ke belakang!"

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!