Kisah putri Prince Richard Carrington dan Princess Alisha Léopold
Zayn selalu percaya cerita Putri dan Kacang Polong untuk mencari putri yang tulus tapi tidak percaya gadis-gadis jaman sekarang. Akhirnya dia memakai sayembara mencari pasangannya. Naasnya saat dia sudah mengadakan sayembara, Zayn kecelakaan. Di hari H nya, semua princess yang diundang langsung menatap sinis ke Zayn. Kecuali Anette Carrington. Princess Inggris dan Belgia itu pun menerima lamaran Zayn.
Dari merasa iba, Anette dan Zayn jatuh cinta. Namun hubungan mereka terancam saat rahasia besar Zayn mulai terungkap. Bagaimana sikap Anette ke suaminya?
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yagami
Flashback, ruang kerja Anette Siang Tadi
Anette sedang duduk di taman gedung pemerintahan sambil termenung saat seseorang mendekati dirinya. Anette terkejut saat melihat pria asing memakai baju gamis lengkap dengan kuffiyah dan thobe, duduk di depannya.
"Kamu kenapa Net?" tanya orang itu.
Mata biru Anette terbelalak. "Mas Gami?"
Yagami tersenyum smirk. "Apa kabar Net?"
"Ya Allah Mas ... Rasanya ingin memeluk kamu tapi nanti malah gegeran," kekeh Anette. "Kabar gitu deh. Mas Gami ngapain di Abu Dhabi? Apakah ada misi?"
Yagami yang menyamar lengkap dengan brewok, hanya tersenyum. "Aku memang ada misi disini. Lusa sudah ke Dubai. Kamu kenapa?"
Anette menghela nafas panjang.
"Anette, wajahmu menceritakan semuanya. Ada apa? Mas Gami bisa bantu apa?" tanya Yagami lagi.
"Mas ... Aku tidak tahu harus bagaimana ...." Anette menceritakan semuanya dengan bahasa Perancis. Yagami mendengarkan semua cerita adiknya.
"Zayn tidak keluar dari istana?" tanya Yagami usai Anette bercerita.
"Tidak ... Masih proses penyembuhan dan Umi tidak mau Zayn pergi."
"Kedua mertua kamu baik? Benar-benar baik atau baik karena kamu Princess dua kerajaan?" tanya Yagami sambil memandang wajah Anette.
"Abi dan Umi baik. Bisa dibilang aku beruntung punya mertua seperti mereka. Hanya saja ... Aku kan menikah dengan Zayn. Aku tidak bisa mengesampingkan pemikiran bahwa suamiku satu atap dengan mantannya. Mungkin benar, Zayn sudah tidak ada rasa dengan Aisyah. Sisi Aisyah? Bagaimana?" Anette berusaha menahan tangisnya.
"Anette, kamu cinta Zayn?"
Anette mengangguk. "Dia pria yang baik dan memang cinta aku."
"Cinta boleh, logika tetap jalan Net. Begini saja ... Kalau kamu memang merasa sudah tidak bisa tinggal disana, hubungi aku." Yagami lalu berdiri. "Mas Gami menginap dekat istana kamu. Jika kamu mau pergi ... Kita bisa langsung ke Dubai ke istana Al Jordan."
"Jangan mas. Jangan ke Dubai," pinta Anette. "Opa Sendra bisa kaget ... Mas Gami kan tahu, Opa Sendra habis operasi jantung."
"Lalu kemana? Al Azzam Bianchi? Soalnya mas Gami harus ke Dubai."
Anette menggigit bibir bawahnya.
"Anette, mas rasa Opa Sendra bisa menerima. Biar nanti mas bilang pelan-pelan. Siapa yang bersama kamu? Masih Melanie?"
Anette mengangguk. "Iya, masih bersama Melanie."
"Baik. Kabari aku." Yagami menepuk kepala Anette lembut. "Kalau Zayn tidak bisa memperjuangkan kamu, lepaskan saja."
"Mas Gami ... Bawa serum kejujuran?" tanya Anette sambil menatap kakaknya.
"Bawa." Yagami memberikan satu ampul. "Ingat Anette, kejujuran dan kebenaran itu terkadang menyakitkan tapi setidaknya, membuat kamu lega hingga bisa memutuskan langkah apa yang bisa diambil."
Anette menerima ampul dari Yagami. "Terima kasih mas."
***
Anette masuk ke dalam gedung pemerintahan itu dengan disambut Melanie dan Hawa yang mengawasi Lady mereka dari jauh.
"Apakah itu saudara anda, My Lady?" tanya Hawa yang tahu saudara Anette banyak.
"Iya ... Mari kita masuk," ajak Anette. "Mel, aku minta tolong padamu."
"Anda minta tolong apa?" tanya Melanie.
Anette memberikan ampul yang diberikan Yagami ke Melanie sekalian memberikan instruksi dengan bahasa Jepang.
***
Present
Zayn bergegas keluar meninggalkan keributan di ruang kerja ayahnya guna menyusul istrinya. Zayn mempercepat kursi rodanya dan melihat Anette menuju kamar mereka.
"Anette!" panggil Zayn. Jantungnya berdetak kencang karena istrinya serius minta berpisah.
Anette mengambil kopernya dan mulai memasukkan semua baju dan perhiasannya, serta semua perlengkapan dan peralatan make up-nya. Zayn melongo istrinya sudah siap pergi.
"Anette ... Jangan pergi! Kamu masih istri aku!"
Anette menoleh ke arah Zayn. "Lalu? Kamu sendiri bagaimana? Kenapa tidak bersikap seperti suami?"
"Aku membela kamu disana tadi Net!"
"Zayn, selama masih ada sumber toxic ... Aku tidak bisa serumah. Apakah kamu pernah mendengar pepatah 'ipar adalah maut'?" jawab Anette sambil mengunci kopernya.
"Abi mengusir Aisyah!"
Anette menoleh. "Aku rasa kak Zafar tidak akan membiarkan Aisyah pergi!"
"Anette ... Kak Zafar lebih memilih tugasnya sebagai Sheikh dan tidak mau ada friksi disana."
"Terlambat, Zayn. Kamu sudah membuat friksi dari awal!" jawab Anette sambil menggeret dua kopernya. Tak lupa tas Hermés nya, dia sampirkan di bahunya.
Zayn mencengkram pergelangan tangan Anette. "Anette! Jangan pergi!"
"Aku ... Memilih mundur, Zayn. Kita butuh jarak dan instrospeksi diri."
"Anette! Tidak! Aku tidak akan pernah menalak kamu!" ucap Zayn.
"Kita lihat saja nanti ... Sekarang aku mau pergi dari sini. Sudah cukup muak aku dengan drama tidak lucu ini!" Anette menyentakkan tangannya dan Zayn melepaskan genggamannya.
Anette pun keluar dimana Melanie sudah siap. Keduanya pun berjalan keluar dan Zayn mengikuti mereka. Dirinya merutuki tidak bisa berjalan untuk bisa menahan Anette.
Anette dan Melanie hampir tiba di pintu utama ketika Sheikha Maryam berdiri di depannya.
"Anette ...."
Anette tidak bisa menahan air matanya dan memeluk ibu mertuanya.
"Maafkan Anette, Umi. Anette butuh waktu untuk sendiri ...." isaknya.
Sheikha Maryam membalas pelukan Anette. "Maafkan Umi, ya Anette. Abi dan Umi tidak jujur padamu ... Maafkan Zayn ya Anette."
"Maaf Umi, Anette tidak bisa memenuhi janji," ucap Anette.
Sheikha Maryam melerai pelukannya dan memegang wajah menantunya.
"Tidak apa-apa, Anette. Biar nanti Abi dan Zayn berbicara dengan kedua orang tua kamu. Jika kamu membutuhkan space dan waktu ... Umi tidak bisa melarang kamu." Sheikha Maryam mencium pipi dan kening Anette. "Jika sudah tenang, bicarakan baik-baik ya?"
Anette tersenyum lembut. "Iya Umi."
Sheikha Maryam memeluk erat Anette lagi. "Sekali lagi ... Maafkan kami ya."
Anette mengangguk. Sheikha Maryam melepaskan pelukannya dan Anette menoleh ke arah Zayn.
"I'm sorry, I can't keep my promise," ucap Anette lembut. "I have to go."
"Anette ... Kamu mau kemana? Aku akan ikut denganmu."
Anette menggeleng. "Tidak. Kita akan lebih bertengkar hebat nanti. Kita butuh jarak untuk berpikir dan menenangkan diri."
Tiba-tiba pengawal gerbang datang ke dalam istana.
"Sheikha Maryam, Sheikh Zayn. Ada seorang pria Asia datang untuk menjemput Lady Anette," lapor penjaga itu.
Kedua ibu dan anak itu menatap Anette.
"Kakak aku, Yagami Azuma Pratomo, datang menjemput aku. Dia kebetulan ada di Abu Dhabi." Anette menjelaskan ke semua orang. "Aku akan keluar sebentar lagi."
"Kakak kamu disini? Apakah kamu sudah merencanakan?" tanya Zayn curiga.
"Tidak aku rencanakan tapi memang sudah diatur Allah." Anette menghampiri Zayn dan dia memegang wajah suaminya. "Kalau kamu memang seperti apa yang kamu bilang, buktikan. Aku tidak butuh pembuktian materi tapi aku butuh pembuktian dari sikap dan aksi kamu! Jika tidak mampu, kamu tahu kan apa yang aku minta."
Anette mencium kening Zayn lalu berjalan keluar bersama Melanie.
***
Yuhuuuu up pagi yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Aq sotoy
moga kamu bisa introspeksi diri dan masih bisa bertemu anakmu kelak
Betapa sakitnya hati Zafar
makanya jadi orang jangan seralah😅😅😅