Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 15: Balas dendam tidak bermoral[5]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...
...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Benang-benang itu tidak lagi diam.
Malam merayap turun pelan, dan rumah Liorlikoza kembali memasuki fase “tidak pernah benar-benar tidur”, tapi kali ini bukan karena ancaman dari luar. Saka duduk bersila di lantai kamarnya, punggung bersandar ke dinding, kotak lencana emas di hadapannya seperti hewan liar yang berpura-pura jinak. Ia tidak menyentuhnya. Ia tidak perlu. Pola-pola itu sudah cukup dekat, bahkan terlalu dekat seperti dunia sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah Saka, berbisik, lihat lebih dalam.
Dan tanpa peringatan, bisikan itu berubah jadi tarikan.
Saka terengah, tangannya mencengkeram lantai. Benang-benang yang tadinya hanya tampak sebagai garis kini bergerak. Bukan secara fisik, tapi secara makna. Ia melihat rumah itu sebagai struktur keputusan: pilar yang dipilih karena kompromi, sambungan yang bertahan karena kebohongan kecil, fondasi yang retak namun disembunyikan karpet. Pandangannya menembus tembok, menembus tanah, menembus kota. Jogja tidak lagi kota, ia jadi kain raksasa, penuh tambalan seni, luka sejarah, dan simpul-simpul yang sengaja dikencangkan agar jeritan masa lalu tidak bocor.
Saka tersedak napas.
Di suatu tempat jauh tapi sinkron ada simpul yang baru saja ditarik balik.
Di luar kamar, Kale berhenti bergerak. Layar laptopnya yang penuh peta jaringan tiba-tiba berkedip, lalu satu node menyala merah tanpa sebab teknis yang masuk akal. Bukan alarm. Bukan serangan. Lebih seperti… respon.
“…oh,” gumam Kale, nyaris kagum. “Mereka ngerasa.”
Zack langsung menoleh. “Siapa.”
“Bukan ‘siapa’,” Kale menggeleng pelan. “Tapi apa.”
Rakes berdiri, cokelatnya akhirnya tergeletak tak tersentuh. “Jangan bilang Yayasan.”
“Lebih tua,” jawab Kale lirih. “Lebih dalam. Yayasan itu cuma operator. Ini… sistem.”
Di kamar, Saka akhirnya menyentuh kotak kayu itu.
Bukan dengan tangan, tapi dengan niat.
Dan dunia menjawab.
Seketika, aliran benang berputar cepat. Bukan menyerang, mengkalibrasi. Seperti jarum kompas yang akhirnya menemukan utara sejatinya. Saka melihat kilasan: ruang bawah tanah dengan dinding putih bersih dan bau antiseptik; anak-anak yang diuji tanpa tahu mereka sedang dinilai; orang-orang dewasa yang diganti tanpa ada yang sadar. Lalu, retakan. Kesalahan kecil. Individu-individu yang tidak mau patuh.
Dan di antara semua itu, satu peran kosong.
Observer.
Peran yang seharusnya tidak pernah diwariskan.
Saka tersentak mundur, napasnya tersengal. “Gue… bukan pengganti,” katanya keras pada ruangan kosong. “Gue bukan alat lo.”
Benang-benang itu bergetar. Tidak menolak. Tidak setuju.
Menunggu.
Pintu kamar diketuk pelan, lalu terbuka. Zack masuk lebih dulu, tatapannya langsung mengunci Saka, cek napas, cek pupil, cek dunia. Rakes mengintip dari belakang dengan ekspresi setengah cemas setengah siap bercanda tapi gagal. Kale menyusul terakhir, matanya bersinar seperti baru saja melihat hukum fisika minta revisi.
“Sak,” kata Zack hati-hati, “lo masih di sini?”
Saka mengangguk. “Masih. Tapi… dunia kayak nambah layer.”
Kale menarik napas dalam. “Oke. Dengerin gue baik-baik.”
Ia duduk berhadapan dengan Saka. “Kalau dugaan gue bener, Yayasan Mutiara panik bukan cuma karena lo target. Tapi karena lo anomali. Lo bisa lihat pola tanpa jadi bagian dari mesin mereka.”
Rakes mengangkat tangan setengah. “Versi singkatnya?”
“Versi singkatnya,” Kale menoleh, senyum tipis muncul. “Mereka bikin sistem buat ngontrol dunia. Terus dunia milih Saka buat ngeliat cacatnya.”
Sunyi.
Zack mengepalkan tangan. “Berarti kita nggak cuma ngelawan organisasi.”
“Enggak,” jawab Saka pelan, tapi kali ini suaranya stabil. Matanya mengarah ke jendela, ke kota yang berdenyut lembut dalam penglihatannya.
“Kita lagi berhadapan sama pola lama yang ngerasa terganggu.”
Rakes menarik napas panjang, lalu nyengir miring, senyum orang yang tahu hidupnya baru saja belok tajam dan muter setirnya copot.
“Yaudah,” katanya. “Kalau dunia ngajak ribut, minimal kita dateng rame-rame.”
Di luar, angin malam menggerakkan daun bambu lagi.
Bukan lagi seperti hitungan mundur.
Melainkan seperti tepuk tangan pertama, pelan, terisolasi, untuk sesuatu yang baru saja dimulai.
................
Rakes lagi duduk selonjoran di lantai lorong, punggungnya nyender ke lemari kayu tua, sibuk adu tatap sama bungkus cokelat yang dari tadi gagal dimakan. Pikirannya masih muter di satu kesimpulan besar dan menyebalkan:
hidupnya udah kebablasan terlalu jauh buat pura-pura normal.
Ponselnya bergetar.
Sekali.
Pendek.
Pola getaran jadul yang jarang dipakai orang di bawah umur enam puluh.
Rakes melirik layar.
Tuan Besar Liorlikoza
“…wah,” gumamnya. “Ini pasti bukan nanyain gue udah makan apa belum.”
Ia berdiri refleks, meluruskan kaus kusutnya, entah kenapa naluri sopannya aktif sendiri tiap nama itu muncul. Rakes menjauh sedikit dari kamar Saka, menekan tombol angkat.
“Selamat malam, Kek.”
“Rakes.”
Suara di seberang tenang, dalam, dan seperti biasa, tidak menyisakan ruang untuk basa-basi.
“Kau sendirian?”
Rakes melirik ujung lorong. Zack lagi berdiri jaga, Kale duduk di lantai sambil ngetik tanpa lihat keyboard.
“Sendirian secara emosional. Secara fisik, rame.”
“Hm. Cukup,” kata sang Hakim Agung. “Aku tidak ingin percakapan ini terdengar oleh Saka.”
Dada Rakes mengencang.
“Kenapa, Kek?”
Ada jeda.
Pendek, tapi sarat kehati-hatian.
“Karena yang akan kuberitahukan padamu,” ujar kakek Saka pelan, “Adalah alasan kenapa aku menahanmu tetap di sisi cucuku.”
Rakes berdiri lebih tegak. Senyum bercandanya luntur.
“…saya kira karena saya orang paling nganggur.”
“Karena kau bukan manusia seperti kebanyakan manusia,” jawabnya datar.
Rakes mengernyit.
“…itu kedengeran nya nggak menenangkan.”
Terdengar bunyi pintu ditutup di seberang. Ruang kerja pribadi. Tempat keputusan dibuat tanpa saksi.
“Rakes,” kata Tuan Besar Liorlikoza lagi, lebih rendah,
“Kau tahu apa yang membedakan keturunan tunggal Polarios dari manusia lain?”
Rakes mengangkat bahu.
“Umur panjang? Drama keluarga? Trauma turun-temurun?”
“Insting perlindungan,” jawabnya cepat.
“Bukan keberanian. Bukan kekuatan fisik. Tapi naluri untuk berdiri di antara bahaya dan orang yang dianggap ‘miliknya’, bahkan sebelum sadar kenapa.”
Tangan Rakes mengepal pelan.
“Saka,” lanjut sang kakek, “akan menjadi sasaran. Bukan karena ia lemah, justru karena ia berharga. Dunia selalu melukai hal-hal yang ia butuhkan tapi tak bisa ia kendalikan.”
Rakes menelan ludah.
“…dan saya di sini buat ngapain?”
“Karena aku takut,” ujar Tuan Besar Liorlikoza, jujur untuk pertama kalinya, “Aku tidak akan selalu cukup cepat melindunginya.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari teriakan mana pun.
“Kau,” lanjutnya, “Bereaksi sebelum berpikir. Kau bergerak sebelum aturan terbentuk. Dan ketika seseorang yang kau anggap ‘orangmu’ terancam, kau tidak menimbang akibat.”
Rakes terkekeh kecil, getir.
“Biasanya itu yang bikin saya kena masalah.”
“Itu yang membuatmu berguna,” jawabnya. “Dan berbahaya.”
Angin malam menyelinap dari jendela lorong, bikin bulu kuduk Rakes berdiri.
“Aku tidak menaruhmu di sisi Saka untuk melatihnya,” kata sang kakek.
“Aku menaruhmu di sana sebagai perisai.”
Hening.
“…Kek,” suara Rakes lebih pelan sekarang, “perisai biasanya pecah duluan.”
“Karena itu hanya keturunan Polarios yang cocok,” balasnya tanpa ragu.
“Kau bisa retak. Tapi kau tidak akan mundur.”
Napas Rakes terasa berat.
“Dan kalau suatu hari Saka yang melukai dirinya sendiri?”
Nada di seberang mengeras tipis.
“Jika cucuku mulai memilih dunia yang menyakitinya, ”
Kakek tua itu menjeda ucapannya, terdengar helaan napas panjang yang begitu berat.
“...kau harus jadi orang yang berdiri di depannya.”
“Walaupun dia benci gue?”
“Terutama kalau ia membencimu,” jawabnya.
“Rakes,” kata Tuan Besar Liorlikoza, lebih rendah,
“Keturunan tunggal Polarios bukanlah manusia biasa.”
Rakes mendengus pelan. “Udah sering denger bagian itu.”
“Kalian tahu terlalu banyak,” lanjutnya.
“Melihat hubungan sebab sebelum akibatnya terjadi. Menyadari bahaya bahkan saat belum ada bentuknya.”
Tangan Rakes mengepal, lalu rileks lagi.
“Itu alasan kenapa kalian tidak pernah benar-benar aman sendirian,” ujar sang kakek.
“Bukan karena kalian lemah, tapi karena kesadaran seperti itu menarik hal-hal yang ingin memanfaatkannya.”
Rakes terdiam.
“Saka,” katanya kemudian, “Masih manusia. Ia masih percaya dunia akan jujur padanya.”
“…dan saya?”
“Kau,” jawabnya tanpa ragu, “Sudah tahu dunia tidak begitu.”
Nada suaranya tidak manipulatif. Lelah. Takut.
“Aku menempatkan mu di sisinya,” lanjut Tuan Besar Liorlikoza, “Karena aku butuh seseorang yang tahu terlalu banyak, tapi memilih diam, yang bisa melihat bahaya lebih dulu, dan berdiri di depannya tanpa membuat Saka harus mengerti kenapa.”
Rakes mendadak tertawa kecil. “Jadi saya hanya tameng.”
“Penjaga,” koreksi sang kakek.
“Tameng menerima pukulan. Penjaga memilih arah datangnya.”
Hening.
"Jangan pernah bermain-main dengan keluarga Polarios, Kek.. kalian cuman sekedar penagih janji kepada keluarga kami. " ucap Rakes dengan sedikit tawa geli.
“Selama Polarios masih berdiri di tanahnya,” lanjutnya serius.
“Saka boleh tetap polos. Tetap percaya. Tetap menjadi dirinya sendiri.” balas tuan besar.
“…dan kalau saya menolak?”
Nada di seberang melembut setipis mungkin. “Kau tidak akan seperti itu terhadap teman mu sendiri, Rakes...”
Panggilan ditutup tanpa basa-basi.
Rakes menurunkan ponselnya perlahan. Lorong terasa lebih panjang dari sebelumnya. Dari kamar Saka, cahaya lampu masih menyala, hangat, manusia, dan terlalu rapuh untuk dunia yang suka mencengkeram.
Zack menoleh.
“Siapa?”
Rakes mengangkat bahu, senyum tipis muncul, bukan bercanda, bukan juga pasrah.
“Kakek Saka.”
“Dan?”
Rakes melirik pintu kamar sahabatnya, lalu menghela napas panjang.
“Adalah pokoknya. "
Kain lap di sisi meja melayang kearah wajah Rakes, cepat sekali lemparan Zack soalnya udah terlatih. Di luar, angin menggesek bambu.
Bukan tepuk tangan. Kali ini seperti janji yang ngga bisa ditarik balik.
Pagi datang dengan baik sekali karena tidak ada lonceng darurat, tidak ada kabar buruk, tidak ada dunia yang runtuh. Hanya cahaya matahari yang menyelinap melalui kisi-kisi jendela asrama, jatuh miring di lantai batu yang dingin, seolah pagi ini berniat bersikap normal.
Rakes sudah bangun, soalnya ia juga tidak tidur.
Ia duduk di tepi ranjang, kausnya masih yang sama seperti semalam terlihat kusut, sedikit lembap oleh keringat yang tak sempat mengering sempurna. Tidurnya dangkal. Mimpinya penuh potongan yang tidak mau menyatu. Potongan suara, bayangan lorong, dan satu perasaan yang menetap bahkan setelah sadar sepenuhnya: hari ini berbeda.
Ia tidak tahu kenapa. Ia hanya tahu ia tidak boleh menunda.
Di ranjang seberang, Saka masih tidur. Wajahnya menghadap jendela, rambutnya berantakan dengan cara yang menyebalkan karena terlihat terlalu damai untuk seseorang yang hidupnya berada tepat di atas garis patah.
Rakes memperhatikannya lama.
Bukan dengan kekhawatiran berlebihan. Bukan dengan rasa memiliki yang menyesakkan. Lebih seperti seseorang yang sedang menghitung jarak antara dirinya dan api, cukup dekat untuk menghangatkan, cukup jauh agar tidak membakar.
Penjaga, pikirnya.
Bukan karena ia lebih kuat.
Bukan karena ia paling siap.
Tapi karena ia yang tidak akan berpura-pura kalau bahaya datang pelan-pelan.
Saka bergerak, mengerjap, lalu membuka mata.
“Lo… nggak tidur ya?” gumamnya, suara masih berat.
“Tidur,” jawab Rakes ringan. “Cuma nggak niat.”
Saka mendengus, lalu bangun sambil mengucek wajah. “Kalau Kale denger, dia bakal ceramah soal pentingnya jam biologis.”
“Kale ceramah walau nggak ada pendengar.”
Itu berhasil bikin Saka tersenyum kecil. Dan entah kenapa, senyum itu terasa seperti izin yang tak diucapkan.
Mereka bersiap seperti biasa. Tidak terburu-buru. Tidak juga santai sepenuhnya. Rakes membiarkan ritme pagi berjalan normal, sarapan cepat di aula, obrolan setengah sadar, suara langkah orang-orang yang masih setengah hidup. Ia tidak mengatakan apa-apa selama itu.
Menunggu waktu yang tepat bukan soal jam.
Itu soal rasa.
Baru ketika mereka kembali ke gang menuju Asrama, jalan dan bagian asrama sudah mereka tinggalkan selama seminggu ini, Rakes memperlambat langkahnya.
“Sak,” katanya akhirnya.
Saka menoleh. “Kenapa?”
“Kita nggak langsung ke ruang latihan.”
Alis Saka naik. “Itu pernyataan atau ajakan kabur?”
“Ajakan jalan.”
“Ke mana?”
Rakes berhenti di depan dinding batu yang terlihat… biasa. Terlalu biasa. Tidak ada tanda, tidak ada pintu, tidak ada ukiran. Hanya sambungan batu yang rapi dan lampu temaram di langit-langit.
“Ke gudang lama,” katanya.
Saka menatap dinding itu, lalu menatap Rakes lagi. “Lo bercanda.”
“Enggak.”
“Rakes, asrama ini dibangun di atas tiga generasi peraturan. Nggak ada gudang rahasia.”
Rakes tersenyum tipis. “Ada. Cuma nggak semua orang bisa lihat pintunya.”
Kalimat itu jatuh tanpa dramatisasi. Tanpa tekanan. Tapi sesuatu di udara berubah, seperti lorong itu menarik napas pendek.
Saka tertawa kecil, refleks. “Oke. Gue ngerti. Ini bagian lo ngajak gue ‘percaya proses’?”
“Ini bagian gue ngajak lo percaya gue.”
Hening.
Saka menatapnya lama sekarang. Bukan menilai. Lebih seperti menimbang apakah ia sedang berdiri di ambang sesuatu yang tidak bisa ia pura-pura tidak lihat lagi.
“Apa isinya?” tanya Saka pelan.
“Jawaban,” jawab Rakes. “Dan beberapa pertanyaan yang seharusnya belum lo tanyain.”
Saka menghela napas, lalu mengangguk. “Kalau gue bilang enggak?”
“Gue bakal tetep berdiri di sini,” kata Rakes. “Dan pintu itu bakal tetap ada.”
Itu yang akhirnya membuat Saka melangkah maju.
Rakes mendekat ke dinding. Ia meletakkan telapak tangannya di batu, bukan di tengah, tapi sedikit ke kiri, tepat di sambungan yang nyaris tak terlihat. Ia tidak menekan. Tidak mengetuk. Ia hanya diam.
Detik berlalu.
Udara di sekitarnya terasa lebih berat, seolah lorong itu sedang mempertimbangkan sesuatu.
Lalu, bunyi halus, dalam. Bukan gesekan, bukan mekanisme. Lebih seperti batu yang menyerah.
Sambungan itu bercahaya samar, dan garis vertikal muncul, memisahkan dinding menjadi dua bagian yang perlahan membuka ke dalam.
Saka ternganga.
“Rakes…” suaranya nyaris berbisik. “Sejak kapan, ”
“Sejak sebelum lo pindah ke asrama ini,” jawab Rakes. “Dan sebelum gue ditugasin jaga siapa pun.”
Di balik pintu, udara berbeda. Lebih dingin. Lebih tua. Bau logam, kayu lapuk, dan sesuatu yang tidak punya nama.
Mereka melangkah masuk.
Pintu menutup di belakang mereka tanpa suara.
Gudang itu luas, tapi bukan dengan cara megah. Rak-rak kayu tinggi memenuhi dinding, dipenuhi peti, gulungan kain, dan benda-benda yang tidak langsung dikenali. Beberapa ditandai simbol lama, bukan tulisan, tapi bentuk yang terasa mengawasi.
Saka berjalan perlahan, seolah takut mengganggu sesuatu.
“Ini… disimpan di sini?” tanyanya.
“Disembunyikan,” koreksi Rakes. “Karena terlalu banyak orang yang ingin tahu, dan terlalu sedikit yang siap.”
Saka berhenti di satu rak, menatap sebuah peti kecil yang terbuat dari logam gelap. “Kenapa lo bawa gue ke sini?”
Rakes berdiri di sampingnya, cukup dekat untuk menarik jika perlu, cukup jauh untuk memberi ruang.
“Karena ada hal-hal yang bakal lo rasain,” katanya. “Bukan sekarang. Tapi segera. Dan gue nggak mau lo mikir lo sendirian atau gila.”
Saka menoleh cepat. “Lo bilang apa barusan?”
Rakes bertemu tatapannya. Tidak menghindar. Tidak juga mendesak.
“Gue bilang,” ulangnya pelan, “Ada hal-hal yang dunia nggak siap jelasin ke lo. Dan tugas gue bukan menyembunyikannya selamanya.”
Ia menunjuk sekeliling. “Tapi juga bukan ngelempar lo ke sini tanpa pegangan.”
Saka menelan ludah. “Ini tentang gue, ya.”
“Iya.”
“Dan tentang lo.”
Rakes mengangguk. “Lebih lama dari yang lo kira.”
Saka menghembuskan napas panjang, lalu duduk di lantai dingin gudang itu. “Gue benci perasaan ini.”
“Perasaan apa?”
“Kayak hidup gue baru mulai sekarang,” katanya lirih. “Dan gue telat nyiapin diri.”
Rakes berjongkok di depannya.
“Lo nggak telat,” katanya. “Lo dijagain.”
Saka mendongak. “Sama lo?”
“Dari banyak hal,” jawab Rakes jujur. “Termasuk sama gue sendiri.”
Hening kembali. Tapi kali ini bukan hening yang menekan. Lebih seperti ruangan yang akhirnya mengakui keberadaan mereka.
Di luar gudang, asrama tetap berjalan. Kelas dimulai. Lonceng berbunyi. Dunia pura-pura stabil.
Di dalam gudang rahasia itu, dua orang berdiri di ambang sesuatu yang tidak akan bisa ditutup rapat lagi.
Dan Rakes, untuk pertama kalinya sejak menerima panggilan malam itu, tahu satu hal dengan pasti:
Menjadi penjaga bukan soal berdiri paling depan.
Tapi soal tahu kapan membuka pintu,
dan tetap tinggal di samping orang yang melangkah masuk.
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...