NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 — Tajam

Makan malam keluarga Aldrich yang serius berbeda dari makan siang di Menteng bulan lalu.

Bukan dari segi lokasi — masih di rumah Menteng yang sama, meja yang sama, susunan kursi yang sudah punya polanya sendiri. Tapi dari segi gravitasi ruangannya. Makan siang bulan lalu terasa seperti pertemuan yang sudah nyaman dengan dirinya sendiri — orang-orang yang sudah saling tahu, percakapan yang sudah punya jalurnya. Malam ini berbeda.

Malam ini ada dua wajah yang belum pernah kulihat di meja itu.

Kenzo sudah memberitahuku di kalender — tamu: kolega kakek, konteks: sensitif — tapi sensitif adalah kata yang bisa berarti banyak hal sampai kamu duduk di mejanya dan merasakan sendiri bagaimana kata itu berwujud.

Pak Wiranata: tujuh puluhan, rambut putih, duduk dua kursi dari kakek Aldrich dengan cara yang mengisyaratkan posisi tanpa perlu plakat nama. Istrinya di sebelahnya dengan perhiasan yang dikenakan bukan untuk pamer tapi karena sudah jadi bagian dari cara dia berpakaian selama mungkin empat puluh tahun terakhir.

Dan di ujung meja yang lain — Draka, dengan senyumnya yang sudah kukenal terlalu baik, duduk di posisi yang dari sana bisa melihat seluruh meja sekaligus.

Kakek Aldrich belum pernah kutemui secara langsung sampai malam ini.

Foto-fotonya ada di beberapa artikel yang kubaca — pria yang usianya sekarang mendekati delapan puluh tapi yang fotonya dari sepuluh tahun lalu masih menyimpan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya disebut muda tapi juga tidak bisa disebut lemah.

Aslinya lebih kecil dari yang kubayangkan dari foto-foto itu. Tapi matanya sama — tajam dengan cara yang tidak perlu dibuktikan karena sudah cukup terbukti dari cara orang-orang di sekitar meja ini bergerak ketika dia berbicara.

Dia menyambutku dengan jabat tangan yang singkat dan tatapan yang berlangsung tepat tiga detik — cukup lama untuk membaca sesuatu, tidak cukup lama untuk terlihat seperti sedang membaca.

"Ariana," katanya. Namaku di mulutnya terdengar seperti sesuatu yang sudah dia pertimbangkan sebelum diucapkan.

"Selamat malam, Kakek." Kata itu keluar dengan natural — entah karena sudah dipraktikkan di kepala sejak Kenzo memberitahu cara menyapa yang diharapkan, atau karena ada sesuatu tentang cara dia berdiri yang memang mengundang kata itu.

Sudut bibirnya bergerak sedikit. Bukan senyum penuh — lebih seperti pengakuan.

Revano, di sebelahku, tidak bergerak. Tapi aku merasakan sesuatu berubah di cara dia berdiri.

Makanan pertama datang pukul tujuh lebih dua puluh.

Percakapan di meja mengalir dengan cara yang sudah punya strukturnya sendiri — topik yang berganti dengan mulus, orang-orang yang tahu kapan giliran mereka bicara dan kapan cukup mendengarkan. Aku mengikutinya dengan porsi bicara yang sudah kukalibrasi: cukup untuk hadir, tidak terlalu banyak untuk mengambil ruang yang bukan milikku.

Sampai hidangan kedua, semuanya berjalan dalam parameter yang bisa kukelola.

Hidangan ketiga — Draka meletakkan garpu ke piring dengan cara yang terdengar casual tapi timing-nya tidak.

"Ariana," katanya, dengan nada yang sudah kukenal sebagai pembuka untuk sesuatu yang bukan sekadar pertanyaan, "aku dengar kamu desainer. Freelance ya?"

"Iya." Jawaban singkat. Menunggu.

"Menarik." Dia mengambil gelasnya. "Klien-klienmu biasanya dari kalangan mana? Maksudku, selevel apa biasanya proyek yang kamu tangani?"

Pertanyaan yang di permukaan terdengar seperti ketertarikan genuine. Yang di bawah permukaannya — aku bisa merasakannya dari cara Pak Wiranata melirik ke Draka setelah pertanyaan itu keluar, dari cara istrinya yang mengalihkan pandangan ke piring dengan timing yang terlalu tepat untuk tidak disengaja — adalah pengukuran.

Seberapa besar? Seberapa signifikan? Apakah orang ini layak duduk di meja ini?

Aku tersenyum.

Senyum yang sudah punya namanya sendiri di dalam kepalaku — bukan senyum gala dinner yang dikalibrasi untuk terlihat meyakinkan, bukan senyum klien sulit yang manis di permukaan dan tidak memberikan apapun di bawahnya. Senyum yang lebih tenang dari keduanya, karena pertanyaan seperti ini sudah tidak asing.

"Beragam," jawabku. "Terakhir dari firma arsitektur di Singapura — proyek identitas visual sistem penuh. Sebelumnya ada beberapa klien di sektor hospitality dan tech startup. Tapi yang paling menarik biasanya bukan dari skala proyeknya."

"Oh?" Draka menaikkan alis satu senti. "Dari apa?"

"Dari seberapa jelas kliennya tahu apa yang mereka inginkan versus seberapa jelas mereka tahu apa yang mereka butuhkan." Aku meletakkan garpu sebentar. "Keduanya hampir tidak pernah sama. Dan gap di antaranya adalah tempat paling menarik untuk bekerja."

Hening kecil.

Pak Wiranata, yang dari tadi makan dengan konsentrasi yang tampak sepenuhnya pada piringnya, mengangkat mukanya. "Gap antara keinginan dan kebutuhan."

"Iya, Pak."

"Itu berlaku di hampir semua bidang." Nada Pak Wiranata berbeda dari yang kutebak dari penampilannya — lebih hangat, lebih curious. "Termasuk di bisnis yang jauh lebih besar dari desain."

"Saya yakin iya." Aku menatapnya langsung. "Bedanya di desain, kalau klien tidak tahu bedanya, hasilnya hanya estetika yang tidak bekerja. Di bisnis yang lebih besar, konsekuensinya lebih jauh."

Pak Wiranata mengangguk pelan — satu kali, dengan cara orang yang mengangguk karena setuju bukan karena sopan.

Di ujung meja, aku menangkap gerakan kecil — Draka mengambil gelasnya dan minum, dengan ekspresi yang tidak berubah tapi matanya bergerak ke arah Revano sebentar.

Revano tidak berkata apapun selama pertukaran itu.

Bukan karena tidak memperhatikan — aku tahu dia memperhatikan dari cara bahunya tidak bergerak sama sekali, cara yang sudah kukenal sebagai kondisi ketika dia sedang mencatat sesuatu dengan seluruh perhatiannya tanpa menunjukkan sedang melakukan itu.

Dia tidak mengintervensi. Tidak mengarahkan percakapan ke arah yang berbeda. Tidak memasukkan dirinya sebagai buffer antara pertanyaan Draka dan aku.

Membiarkan aku menjawab sendiri.

Dan aku mengerti — bukan setelahnya, tapi di tengah-tengahnya, ketika menyadari bahwa tidak adanya intervensi itu bukan karena dia tidak bisa atau tidak mau, tapi karena memilih untuk tidak. Karena ada perbedaan antara melindungi seseorang dan memberi mereka ruang untuk membuktikan bahwa mereka tidak perlu dilindungi.

Revano memilih yang kedua.

Hidangan keempat datang dengan percakapan yang bergerak ke topik yang lebih luas — kondisi ekonomi, rencana pembangunan infrastruktur yang jadi perbincangan bulan ini, dan beberapa hal yang aku ikuti di permukaan sambil setengah pikiranku masih memproses dinamika meja yang sudah sedikit bergeser dari ketika duduk pertama kali.

Draka tidak melempar pertanyaan lain yang langsung ke arahku.

Tapi di satu titik, ketika percakapan ada di sisinya meja, dia bercerita tentang proyek yang sedang ditanganinya dengan cara yang memancing beberapa respons positif dari Pak Wiranata. Dan dari cara berceritanya — terstruktur, dengan data yang sudah disiapkan, dengan cara memasukkan nama-nama yang tepat di waktu yang tepat — aku melihat bahwa Draka bukan orang yang bodoh.

Justru karena tidak bodoh itulah dia berbahaya.

Orang yang tidak cerdas membuat gerakan yang mudah dibaca. Orang yang cerdas membuat gerakan yang baru terlihat bentuknya setelah semua bidaknya sudah di posisi.

Aku makan hidangan keempatku dan menyimpan observasi itu di tempat yang akan kuakses lagi nanti.

Setelah makan, ada waktu di ruang duduk dengan kopi dan teh dan percakapan yang lebih longgar dari di meja makan.

Kakek Aldrich duduk di kursi utama dengan cara yang mengisyaratkan bahwa posisi itu bukan tentang ukuran kursinya. Di sebelahnya ada Pak Wiranata. Mereka bicara dengan suara yang cukup rendah untuk tidak terdengar jelas dari tempatku berdiri, tapi cukup nyaman untuk tidak terlihat seperti sedang menyembunyikan percakapan.

Aku berdiri di dekat jendela dengan secangkir teh yang hangatnya sudah turun setengah, menatap halaman rumah Menteng yang dari dalam terlihat seperti taman yang tidak pernah berhenti dirawat.

"Kamu tidak minum kopi?"

Suara di sebelah kiriku. Aku menoleh.

Kakek Aldrich berdiri di sana — kapan dia bergerak dari kursinya, aku tidak sepenuhnya menyadari. Pak Wiranata masih di kursi, sekarang bicara dengan Revano.

"Saya lebih suka teh malam hari," jawabku.

Dia mengangguk. Menatap halaman yang sama yang kutuju sebelumnya. "Kamu tidak keberatan pertanyaannya tadi?"

"Pertanyaan Draka?"

"Cara bertanyanya."

Aku mempertimbangkan jawaban yang jujur versus jawaban yang aman dan memutuskan bahwa untuk seseorang yang matanya seperti itu, jarak antara keduanya lebih berbahaya dari jujur sendiri.

"Saya sudah cukup sering bertemu pertanyaan seperti itu," kataku. "Dari klien, dari kolega, dari orang-orang yang belum memutuskan apakah saya layak dianggap serius. Cara paling efektif yang pernah saya temukan adalah menjawab dengan hal yang paling jelas kebenarannya."

Kakek Aldrich menatapku. Matanya yang tajam itu ada di wajah yang sudah menyimpan delapan puluh tahun dari memutuskan siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak.

"Dan kalau yang paling jelas kebenarannya tidak cukup untuk mereka?"

"Maka itu informasi yang berguna tentang mereka," jawabku. "Bukan tentang saya."

Hening yang tidak pendek.

Lalu kakek Aldrich mengangguk — satu kali, lambat, dengan cara yang berbeda dari cara Pak Wiranata mengangguk tadi. Lebih dalam. Lebih seperti keputusan yang baru saja dibuat tentang sesuatu.

Dia kembali ke kursinya tanpa menambahkan apapun.

Revano sudah ada di sebelahku dua menit kemudian.

Berdiri di posisi yang sama, menatap halaman yang sama, dengan kopi yang masih penuh di tangannya — aku curiga kopinya sudah dingin dan dia tidak meminumnya tapi juga tidak meletakkannya.

"Kakek bicara apa?" tanyanya. Pelan, untuk telinga aku saja.

"Bertanya apakah saya keberatan dengan cara Draka bertanya tadi."

"Dan kamu jawab?"

"Jujur."

Jeda singkat. "Apa yang kamu bilang?"

Aku menceritakannya dengan singkat — tentang menjawab dengan yang paling jelas kebenarannya, tentang kalau itu tidak cukup maka itu informasi tentang mereka.

Revano diam sebentar setelah aku selesai.

"Kakek mengangguk," kataku. "Satu kali. Cara yang berbeda dari anggukan biasa."

"Aku tahu anggukan yang mana." Revano akhirnya minum kopinya — satu teguk, meski sudah dingin. "Itu cara dia mengkonfirmasi sesuatu yang sudah dia pertimbangkan."

"Mengkonfirmasi apa?"

Revano menatap halaman. Di pantulan kaca jendela, aku bisa melihat sebagian profilnya — garis rahang yang sudah kukenal, ekspresi yang tidak mudah dibaca tapi malam ini sedikit lebih terbuka dari biasanya.

"Bahwa kamu bisa berdiri di sini," katanya akhirnya. "Tanpa perlu bantuan untuk melakukannya."

Aku menatap pantulannya di kaca.

"Kamu tidak mengintervensi tadi," kataku.

"Tidak."

"Sengaja."

"Iya."

Satu kata yang diletakkan dengan cara yang mengkonfirmasi apa yang sudah kutahu tapi belum diucapkan — bahwa pilihan untuk diam tadi adalah pilihan aktif, bukan kelalaian. Bahwa ada kepercayaan di balik diam itu yang bentuknya tidak selalu mudah dikenali tapi bisa dirasakan kalau kamu tahu harus merasakan apa.

"Terima kasih," kataku.

Revano menatapku dari samping. Sesuatu di matanya — sesuatu kecil yang tidak punya nama yang tepat tapi ada.

"Kamu tidak memerlukan terima kasih untuk itu," katanya.

"Aku tahu. Tapi aku tetap mau mengatakannya."

Dan kami berdiri di depan jendela itu selama beberapa menit lagi — menatap halaman yang sama, dengan kopi dingin dan teh yang sudah tidak hangat, di antara percakapan yang ada dan percakapan yang tidak perlu ada.

Cukup untuk malam ini.

Lebih dari cukup.

— Selesai Bab 22 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!