"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Tamu 31
"Jadi mereka berniat buat nemuin aku?Biarkan saja. Terimakasih ya Pak MIrza untuk informasinya."
Arundari menutup telepon dari Mirza. Rupanya setelah berbicara dengan Heri, Mirza langsung menelpon Arundari dan menceritakan semua yang Heri katakan. Arundari sendiri tidak terkejut mendapat laporan tersebut. Ia sudah menduga bahwa Heri akan memiliki pemikiran seperti itu.
"Siapa yang nelpon, Run?" tanya Lintang. Dia sedari tadi mendengar pembicaraan putrinya, namun tidak bertanya sampai Arundari selesai bebicara.
"Pengacara aku, Ummi. Dia bilang katanya Heri sama Jelita mau kesini,"jawab Arundari.
"APA? Waaah berani sekali mereka mau datang ke sini. Bagus, biar mereka datang. Ummi mau lihat wajah si curut itu kayak apa! Ummi pengen lihat gimana tuh orang saat lihat ummi dan abah di sini."
Seketika Lintang memekik dengan marah mendengar bahwa Heri dan Jelita akan datang. Bagi Lintang, pria itu benar-benar kurang ajar dan juga brengsek. Heri bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun kepada ia dan suaminya terkait apa yang sudah dilakukannya kepada Arundari.
"Dia mau datang?"
Suara dingin dan dalam terdengar sedikit menakutkan terlontar dari mulut Fikri. Dia yang baru saja keluar dari kamar mandi tentu saja mendengar apa yang dikatakan istrinya.
"Iya Bah, kata Pak Mirza mereka mau datang,"jawab Arundari tenang. Dia tahu saat ini kedua orang tuanya sangat marah sekali. Dan dia tidak boleh semakin memancing amarah mereka. Karena akan ada efek yang akan ditimbulkan.
Arundari tak ingin dirinya memiliki celah. Jika nanti Fikri dan Lintang melakukan sesuatu kepada Heri dan Jelita, itu bisa dijadikan senjata mereka untuk menyerang balik. Maka dari itu Arundari sudah memikirkan sebuah ide agar kedua orang tuanya tidak terlibat nanti.
"Aku ingin Abah dan Ummi nggak keluar pas mereka datang,"ucap Arundari.
"Kenapa?" tanya Lintang cepat.
"Aku nggak mau Abah sama Ummi lepas kontrol. Itu nanti malah jadi menguntungkan mereka. Jadi lebih baik Abah dan Ummi tetep berada di dalam rumah, dan jangan muncul di depan mereka. Aku tahu Abah dan Ummi jengkel, sama aku pun begitu. Tapi demi lancarnya proses hukum nanti, lebih baik Abah dan Ummi tidak ikut andil sekarang. Mohon tahan sampai semuanya selesai."
Fyuuuuh
Fikri menghela nafasnya panjang. Dia paham betul apa maksud ucapan putrinya, dan dia mengerti mengapa Arundari berkata demikian. Pun dengan Lintang. Meski hasrat ingin memukul mantan menantunya itu sangat besar, tapi Lintang merasa bahwa dirinya harus menahan semuanya itu demi putrinya.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Abah yakin kamu sudah punya rencanamu sendiri,"ucap Fikri.
Tok tok tok
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Arundari, Fikir dan Lintang menjawab secara bersamaan salam itu yang mana suara tersebut merupakan suara milik Anton.
"Ada apa Pak Anton?" tanya Arundari setelah membuka pintu.
"Ada tamu, Nyonya,"jawab Anton.
Arundari mengerutkan alisnya, jika itu Heri dan Jelita seharusnya Anton sudah tahu. Tapi kali ini Anton hanya berkata bahwa ada tamu. Itu berarti Anton tidak mengenal orang tersebut, dan bisa dipastikan itu bukanlah Heri dan Jelita.
"Siapa?"
"Tadi orang tersebut berkata namanya Adyaksa."
"Eh? Mas Adykasa? Suruh beliau masuk, Pak Anton."
Anton mengangguk paham. Sungguh sangat sempurna sekali akting Anton. Dia yang merupakan anak buah Adyaksa tiba-tiba pura-pura tidak mengenal sang tuan.
"Assalamualaikum, Arun."
Pria dengan wajah tampan dan ramah itu melemparkan senyum ke arah Arundari. Senyum yang sangat manis sehingga ketampanannya pun bertambah berkali-kali lipat.
Jujur saja sebagai wanita yang memiliki mata normal, Arundari mengakui bahwa Adyaksa adalah pria yang tampan dan sempurna. Namun Arundari menepis semua anggapannya itu. Dia membalikkan pemikirannya, dan menganggap itu memang karakter dari Adyaska yang baik dan ramah terhadap semua orang.
"Waalaikumsalam, ada perlu apa Mas kemari?" jawabnya tenang.
"Mampir aja, tadi habis ketemu klien. Dan karena kamu kayaknya seneng masak, aku beliin buah-buahan dan bahan makana,"ucap Adyaksa.
Arundari terbengong sejenak melihat dua kantong belanjaan yang terlhat sangat penuh itu. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Adyaksa akan datang membawa belanjaan seperti ini.
Arundari menjadi merasa sangat tidak enak. Karena baru sekali dirinya membuatkan makanan untuk pria tersebut, tapi bahan makanan yang diberikan sekarang mungkin bisa untuk makan enam sampai tujuh orang.
"Malah ngrepotin. Jadi nggak enak akunya,"ucap Arundari dengan wajah bersemu merah.
"Nggak masalah, aku beneran mampir dan mumpung inget,"jawab Adyaksa.
Bruuum
Suara mobil terdengar jelas. Arundari yakin itu adalah Jelita dan Heri. Spontan dia menarik tangan Adyaksa untuk masuk ke dalam rumah. Dan hal itu cukup membuat Adyaksa terkejut.
"A-ada apa?" tanya Adyakasa gugup. Baru kali ini dia tergagap sepeti itu di depan orang lain. Jika Beni dan anak buah yang lainnya melihat, pasti mereka akan menatap dengan penuh keheranan.
"Heri dan Jelita datang. Aku harus menghadapi mereka sendiri. Jadi Mas tunggu di dalam rumah ya. Ah iya, perkenalkan itu abah dan ummi ku. Ummi, Abah, titip temenku dulu ya."
Blak!
Krik krik krik
Suasana dalam rumah itu menjadi sangat sunyi setelah Arundari keluar dan menutup pintu dengan segera. Adyaksa bingung, Fikri dan Lintang pun juga sama.
"Assalamualaikum Pak, Bu. Saya Adyaksa Gumilar, saya adalah teman dari Arundari."
Akhinya dengan sangat canggung Adyaksa mengucapkan salam dan memperkenalkan dirinya. Dia juga dengan sopan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Fikri. Untuk Lintang, Adyaksa memilih menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Saya Fikri Ahmad Mustofa dan ini istri saya, Lintang Putri Darsuki. Kami adalah orangtua dari Arundari."
Fikir juga memperkenalkan dirinya beserta istrinya. Setelah itu suasana canggung kembali hadir. Lintang yang sadar bahwa mereka masih berdiri akhirnya mempersilahkan Adyaksa untuk duduk. Ia juga menyajikan minuman dan juga makanan ringan bagi tamu putrinya itu.
Adyaska benar-benar bingung. Ini adalah momen langka dimana seorang Adykasa tidak bisa berbicara apapun di depan orang.
"Buseeet kenapa jadi awkward gini,"batin Adyaksa. Dia bingung mau bicara apa.
"Maaf, apa benar tadi nama Mas ini adalah Adyaksa Gumilar? Apa mungkin Mas Adyaksa memiliki hubungan dengan Adi Gumilar?"
Degh!
Adyaska yang sedari tadi menunduk langsung menegakkan kepalanya. Nama kakeknya disebut oleh wanita yang merupakan ibu dari Arundari. Dia tentu terkejut bagaimana wanita paruh baya itu tahu tentang kakeknya.
"Benar, Bu. Adi Gumilar adalah kakek saya. Arya Gumilar adalah ayah saya dan ibu saya bernama Atikah Ningrum."
Degh!
"Ya Allah."
TBC
Aku tunggu rencanamu Ady untuk ngerjain Jelita
jangan ngimpi bisa deketin Adyaksa, dia gak seperti si sampah Heri itu. kau emang cocoknya sama Heri 🤣