NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Moral.

Gedung Stellar Komik Studio tampak megah dengan desain interior yang modern dan penuh dengan poster karakter-karakter populer. Nana berdiri di lobi, meremas tali tasnya yang berisi tablet grafis dan portofolio yang ia susun semalam suntuk bersama Ria. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena memikirkan Tris, melainkan karena rasa takut akan penolakan terhadap karyanya.

Di saat yang sama, Ria duduk di sebuah kafe tidak jauh dari gedung tersebut, memantau dari jauh sambil mengeluarkan ponselnya. Ia menekan nomor Aska.

"Halo, As," sapa Ria begitu sambungan diangkat. Suaranya terdengar riang, kontras dengan nada berat Aska di seberang sana.

"Ya. Ada apa? Nana baik-baik saja?" tanya Aska tanpa basa-basi. Suara bising dokumen yang dibalik terdengar di latar belakang, menandakan pria itu sedang sibuk dengan berkas kasusnya.

"Dia sedang di dalam, sedang wawancara. Kau tahu, Kak? Dia menggambar sepanjang malam. Matanya memang masih ada kantung hitamnya, tapi ada api di sana. Dia tidak lagi terlihat seperti mayat yang kau temukan di pojok ruangan itu."

Aska terdiam sejenak. "Baguslah. Setidaknya investasiku untuk menyewa petugas kebersihan tidak sia-sia."

Ria tertawa kecil, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kafe. "Kau ini dingin sekali. Tapi serius, As. Aku sebagai psikolog melihat Nana ini punya potensi untuk bangkit total. Tapi kau tahu kan, ini semua salah keluargamu?"

"Apa maksudmu?" nada suara Aska meninggi sedikit, waspada.

"Yah, Tris itu adikmu. Dia mengikat anak orang dengan status tunangan, memberikan harapan palsu selama setahun lebih, lalu mengabaikannya seolah Nana itu cuma perabot tambahan di rumah. Secara moral, sebagai abang tertua yang membiarkan adiknya jadi bajingan, kau punya tanggung jawab besar, As."

Ria menjeda, lalu memberikan nada bercanda yang tajam. "Anggap saja ini kompensasi. Karena adikmu sudah merusak mentalnya, kau harus memastikan masa depannya terjamin. Kalau Nana sukses jadi komikus, setidaknya reputasi keluargamu tidak hancur-hancur amat karena punya anggota keluarga yang menelantarkan wanita."

"Aku tidak butuh ceramah moral darimu, Ria," sahut Aska datar, meski ada nada jengkel yang tertahan. "Aku membantunya karena aku benci melihat orang membuang-buang waktu dengan hal tidak berguna. Jika dia punya bakat, maka bakat itu harus menghasilkan uang. Itu logika bisnis, bukan tanggung jawab moral."

"Terserah apa katamu, Aska yang kaku. Tapi ingat, kalau sampai Tris datang lagi dan merusak mood Nana yang mulai membaik ini, aku akan langsung melaporkannya padamu. Aku tidak mau pasienku relapse hanya karena wajah bodoh adikmu itu."

Aska hanya mendengus sebagai jawaban sebelum mematikan telepon.

Di ruang wawancara.

"Garis Anda sangat ekspresif," ujar seorang pria berkacamata yang menjabat sebagai Art Director di Stellar Komik. Nama tag di mejanya tertulis 'Hadi'.

Nana menahan napas. Ia melihat Hadi membalik-balik halaman portofolionya yang berisi sketsa wanita bermata terluka yang ia gambar semalam.

"Biasanya, pelamar pemula akan membawa gambar-gambar yang 'cantik' dan 'sempurna'. Tapi gambar Anda ada rasa sakit di sini. Ada kemarahan yang tertahan," Hadi menatap Nana dengan serius. "Ini sangat cocok untuk proyek baru kami yang bertema Psychological Thriller. Kami butuh Line Artist yang bisa memberikan 'nyawa' pada adegan-adegan kelam."

Nana mengerjapkan mata. "Jadi ... saya diterima?"

Hadi tersenyum tipis. "Kita mulai dengan masa percobaan tiga bulan. Jika kerja Anda konsisten, kita akan bicarakan kontrak jangka panjang. Anda bisa mulai Senin depan?"

"Bisa! Saya sangat bisa!" seru Nana, sedikit terlalu bersemangat hingga ia merasa wajahnya memerah.

Nana keluar dari gedung dengan perasaan seperti terbang. Ia segera menghampiri Ria di kafe. Namun, kebahagiaan itu sedikit terusik saat ia melihat notifikasi di ponselnya yang baru saja ia nyalakan.

Ada satu pesan dari Tris. Pesan pertama setelah satu bulan menghilang.

Tris: [Na, Ibu nanyain kau. Dia mau buat acara makan malam keluarga besok Sabtu. Datanglah, jangan kekanak-kanakan dengan terus menghilang. Dan bawa jaketku yang tertinggal di apartemenmu, aku mau pakai itu untuk pergi dengan Elli setelah makan malam.]

Nana membaca pesan itu sambil berdiri di trotoar. Jika sebulan lalu pesan ini akan membuatnya menangis atau terburu-buru mencari jaket Tris, sekarang Nana hanya merasa jijik. Tris benar-benar menganggapnya seperti binatu pribadi.

"Kenapa, Nana?" tanya Ria yang sudah berdiri di sampingnya.

Nana memberikan ponselnya pada Ria. Ria membacanya dan langsung mendesis kesal. "Bajingan kecil ini benar-benar minta dihajar."

Nana menarik ponselnya kembali. Ia tidak membalas pesan itu. Ia justru memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Biarkan saja, Ria. Aku punya berita lebih penting untuk dirayakan. Aku dapat pekerjaannya."

Ria membelalak, lalu memeluk Nana dengan erat. "Ya ampun! Selamat, Nana! Kita harus beri tahu si Aska Kaku itu. Dia pasti akan pura-pura tidak peduli padahal hatinya lega."

Nana tersenyum, kali ini senyumnya sampai ke mata. Ia menyadari satu hal: dunia tidak kiamat tanpa Tris. Justru dunianya baru saja dimulai saat ia berhenti peduli pada pria itu.

Nana menarik napas panjang, menghirup udara segar yang seolah baru pertama kali ia rasakan sejak kalung rubinya hancur. Ia tidak membalas pesan Tris. Jemarinya justru bergerak lincah di atas layar, menghapus notifikasi itu tanpa sisa.

"Ria, ayo kita makan enak. Aku yang traktir," ujar Nana dengan nada yang jauh lebih stabil.

Ria tertawa sambil merangkul bahu Nana. "Tunggu, kau belum punya gaji, Nona Artis. Biar aku yang traktir sebagai perayaan hari pertama kembalinya jiwa Nana."

Sambil berjalan menuju tempat parkir, Nana kembali teringat percakapannya dengan Hadi di dalam tadi. Pria itu menyebut karyanya memiliki 'rasa sakit'. Lucu, batin Nana, ternyata penderitaan yang ia alami selama setahun bersama Tris dan sebulan dalam kegelapan apartemennya justru menjadi bahan bakar untuk kariernya.

Tris menghancurkan hatinya, tapi secara tidak langsung, kehancuran itu memberinya identitas baru di atas kertas.

"Ria," panggil Nana saat mereka sudah berada di dalam mobil. "Apa menurutmu aku jahat kalau aku merasa senang melihat Tris tidak lagi punya kuasa atas perasaanku?"

Ria menyalakan mesin mobil, melirik Nana melalui spion tengah. "Itu namanya survival, Nana. Itu bukan jahat. Itu tanda kau sudah mulai sembuh. Orang yang benar-benar jahat adalah dia yang menelantarkan tunangannya dan masih berani meminta dibawakan jaket untuk kencan dengan wanita lain."

Nana menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Ia membayangkan hari Sabtu esok. Makan malam keluarga di rumah Ibu Tusi. Biasanya, Nana akan datang dua jam lebih awal, mengenakan celemek, dan membantu di dapur hingga keringat membasahi keningnya, hanya demi mendapatkan satu pujian singkat dari Tris yang kemudian kembali menyanjung kecantikan Elli.

Tapi besok? Nana sudah memutuskan. Ia tidak akan datang untuk memasak.

***

Sore harinya, Aska mengunjungi apartemen Nana karena Ria ada janji temu dengan pasiennya. Pikirannya masih terngiang ucapan Ria tentang 'tanggung jawab moral'. Begitu ia membuka pintu, ia mencium aroma masakan yang menggoda, bukan aroma sup ayam hambar yang biasa Ria buat, melainkan sesuatu yang lebih berbumbu.

Di meja makan, Nana sedang menata piring. Penampilannya jauh berbeda; rambutnya sudah disisir rapi, dan meski tubuhnya masih tampak kurus, cahaya di matanya sudah kembali.

"Aku dengar kau dapat pekerjaannya," suara berat Aska memecah keheningan.

Nana menoleh, memberikan senyum tipis, bukan senyum lebar tanpa martabat seperti biasanya, tapi senyum yang lebih tenang. "Iya, Bang. Senin aku mulai kerja. Terima kasih sudah menyewa petugas kebersihan dan memaksaku mandi waktu itu."

Aska meletakkan tasnya di sofa, melonggarkan dasinya. Ia berjalan mendekat ke meja makan, memperhatikan Nana sejenak. "Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada tanganmu sendiri yang masih bisa menggambar setelah kau biarkan kaku selama sebulan."

Aska duduk, lalu melihat dua buah kotak kecil di samping piring Nana. "Apa itu?"

"Kartu nama sementara dari studio. Dan ini pesanan bunga," jawab Nana pelan.

"Bunga?" Aska menaikkan sebelah alisnya.

"Ibu Tusi mengundangku makan malam besok. Tris memintaku datang dan membawakan jaketnya," Nana mengambil sepotong daging, menyuapnya dengan tenang. "Aku akan datang. Tapi aku tidak akan membawa jaketnya."

Aska terdiam, menunggu kelanjutan kalimat Nana.

"Aku akan membawa karangan bunga untuk Ibu Tusi sebagai tamu, bukan sebagai calon menantu yang merangkap asisten rumah tangga. Dan untuk Tris ... aku akan membawa sesuatu yang lebih penting dari sekadar jaket."

Aska menyeringai tipis, hampir tidak terlihat. "Kau tahu, Nana? Dalam hukum, pengakuan yang paling kuat adalah ketika pihak lawan menyadari bahwa mereka tidak lagi memiliki kendali atas bukti-bukti yang ada. Dan besok, kau adalah bukti bahwa dia sudah kehilangan segalanya."

Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Tidak ada tangisan, tidak ada keluhan tentang Tris, tidak ada rengekan tentang masa depan. Hanya ada suara denting sendok dan rencana-rencana besar yang mulai tersusun di kepala Nana.

Nana menyadari, Aska mungkin kasar, tapi kejujurannya adalah obat yang jauh lebih efektif daripada janji-janji manis Tris. Aska tidak memberinya simpati, dia memberinya realitas. Dan di atas realitas itulah, Nana mulai membangun pondasi dirinya yang baru.

Pesan Tris di ponselnya kembali bergetar, menanyakan kenapa pesannya tidak dibalas. Nana hanya meliriknya sekilas sebelum mematikan layar ponsel sepenuhnya.

Bersambung....

1
jekey
lama" emosi sm aska 😡
Desi Santiani
lanjut thor seruu bgttt
jekey
akhirnyaa 😌😌
jekey
sinting tusi
jekey
thank you thor
Ayu
/Coffee/
Ayu
hahaa sukurin semoga kapok 🤭
Ayu
aku ga bisa kasih banyak ulasan tapi yang pasti bagus bangetttt
Ayu
kayak ginilah nyeseknya kalo baca novel yg baru up ,, mana bagus lagi ceritanya 😍
Ayu
/Coffee/ yuk
Ayu
kalo aku jadi kamu Na ... pasti aku bakalan cepet move on dari Tris🤭
Nilasartika Yusuf
😍
Ayu
hai Thor aku mampir ya
Rinnaya: Silahkan
total 1 replies
jekey
nunggu up thor
Rinnaya: Aman, up tiap hari.
total 1 replies
jekey
mampus eli
Nilasartika Yusuf
suka ceritanya😍
jekey
smngt update thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!