Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOLONG JAGA DIA
Malam itu hujan turun sangat deras. Arsen menatap jendela; langit di luar sana tampak gelap, segelap suasana rumah dan hatinya. Pandangannya beralih menyapu kamar dan ruang tamu yang kotor serta berantakan. Baginya, untuk apa membersihkan segalanya jika ia hanya sendirian?
Dulu, rumah ini begitu bersih, indah, dan wangi—sebelum gadis yang ia cintai pergi dan memilih menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Dua tahun adalah waktu yang sangat lama untuk sembuh, namun Arsen bahkan tidak pernah mencoba. Pikirnya, untuk apa sembuh jika pada akhirnya ia tetap kesepian?
"Kamu pasti sudah bahagia, beda dengan aku di sini. Mungkin mengingatku saja tidak," bisiknya dengan suara bergetar.
Tiba-tiba, suara tangis bayi memecah keheningan. Arsen terperanjat dan menoleh ke arah laptopnya yang masih menyala—namun tidak ada panggilan atau video yang aktif di sana. Ia memeriksa ponselnya, tapi benda itu pun membisu.
Suara itu terdengar lagi, lebih nyata dan dekat. Arsen mulai melangkah, berkeliling mencari sumber suara ke setiap sudut ruangan yang remang, hingga akhirnya ia terpaku. Suara tangis itu berasal dari balik pintu utama rumahnya.
Langkahnya terasa berat dan ragu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arsen mulai berjalan ke arah pintu utama. Suara tangis itu semakin nyata, mendesak detak jantungnya untuk berpacu lebih cepat. Perlahan, ia memutar gerendel dan membuka pintu.
Di sana, di atas lantai teras yang dingin, tergeletak seorang bayi mungil yang terbungkus selimut tipis. Arsen mematung, matanya dengan liar menyapu kegelapan di sekitar rumah, mencari sosok yang mungkin baru saja berlari pergi. Namun, tidak ada siapapun. Jalanan di depan rumahnya kosong, hanya menyisakan suara sisa hujan yang menetes dari talang air.
Lantas, siapa yang tega menyimpannya di sini? Pandangan Arsen kemudian tertuju pada secarik kertas yang terselip di atas tas bayi. Dengan jemari kaku, ia mengambil surat itu dan membacanya. Hanya ada satu kalimat pendek yang tertulis di sana: "Tolong jaga dia."
Arsen terdiam seribu bahasa. Ia menunduk menatap bayi itu, lalu berbisik lirih pada kesunyian malam, "Kenapa harus aku? Aku sendiri bahkan belum bisa menjaga diriku sendiri."
Tangisan bayi itu mereda sejenak saat Arsen berlutut di depannya. Matanya yang jernih seolah menatap langsung ke dalam luka hati Arsen yang paling dalam. "Siapa kamu sebenarnya? Kenapa ibumu memintaku menjagamu?" gumam Arsen, mencoba mencari jawaban di antara hembusan angin malam yang masuk ke dalam rumah.
Suara tangis bayi itu perlahan mereda, menyisakan isak kecil yang halus saat Arsen memberanikan diri untuk mengangkat tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Ada rasa canggung yang luar biasa; lengan Arsen yang biasanya hanya mendekap sepi, kini harus menopang kehidupan yang begitu rapuh. Anehnya, kehangatan dari tubuh bayi itu seolah menembus kulitnya, merambat perlahan menuju relung hatinya yang sudah lama membeku.
"Sstt... diam ya," bisik Arsen lirih, suaranya yang serak terdengar asing di telinganya sendiri.
Ia menatap lekat wajah bayi yang kini mulai tenang dalam gendongannya. Jemari kecil bayi itu bergerak acak, tanpa sengaja menyentuh ujung jari Arsen. Detik itu juga, sebuah perasaan yang sulit dijelaskan menyeruak di dada Arsen. Selama tiga tahun ia merasa mati, namun getaran kecil ini seolah memaksanya untuk kembali bernapas.
"Kenapa kamu harus datang saat aku sudah menyerah pada hidup?" tanyanya pada sang bayi yang kini terlelap. Arsen menghela napas panjang, matanya beralih menatap rumahnya yang berantakan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa memiliki alasan untuk setidaknya menyalakan lampu lebih terang.
Arsen melangkah masuk, mendekap bayi itu lebih erat seolah takut udara kotor di dalam rumahnya akan menyakiti paru-paru mungil tersebut. Begitu pintu tertutup, tatapannya menyusuri setiap inci ruangan yang selama tiga tahun ini ia biarkan membusuk. Cahaya lampu yang temaram memperlihatkan tumpukan baju kotor di sofa, bungkus makanan instan yang berserakan, dan debu tebal yang menyelimuti meja kayu yang dulu mengilap. Aroma sisa makanan dan sampah yang mulai membusuk kini terasa begitu menusuk hidung, membuatnya mendadak mual.
"Bagaimana bisa aku merawatmu di tempat seperti ini?" pikirnya, hatinya mencelos melihat kontras antara kesucian wajah bayi di pelukannya dengan kekacauan di sekelilingnya.
Ia berdiri terpaku di tengah ruang tamu, merasa sangat kerdil. Bayi itu menggeliat kecil, mencari posisi nyaman di dada Arsen yang masih kaku. Rasa bersalah tiba-tiba menghantamnya lebih keras daripada hujan di luar sana. Bagaimana mungkin ia membiarkan dirinya hidup dalam "kuburan" ini begitu lama?
"Maafkan aku," bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada bayi itu. Tangannya yang gemetar mulai memindahkan beberapa tumpukan koran lama dari atas kursi agar ia bisa duduk sejenak. "Aku harus membersihkan ini semua. Sekarang juga."
Namun, begitu Arsen mencoba membaringkan bayi itu di atas sofa yang baru saja ia bersihkan permukaannya, suara tangis kencang kembali pecah. Bayi itu seolah menolak untuk dilepaskan dari kehangatan pelukan manusia. Arsen panik, ia mengangkat kembali tubuh kecil itu, menimangnya dengan gerakan kaku yang tidak beraturan.
"Aduh, bagaimana ini?" pikirnya kalut. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia merasa benar-benar buta tentang apa yang harus dilakukan pada makhluk sekecil ini.
Di tengah kebingungannya, satu nama muncul di benaknya: Rosa. Sahabatnya itu adalah satu-satunya orang yang masih peduli padanya selama masa-masa kelam ini. Dengan tangan gemetar dan satu lengan masih menyangga bayi, Arsen meraba saku celananya, mencari ponsel yang sudah lama ia abaikan. Ia segera mendial nomor Rosa dengan napas memburu.
Begitu sambungan telepon terangkat, suara Arsen terdengar hampir putus asa. "Halo, Rosa? Aku minta tolong... kamu bisa ke sini sekarang? Tolong, ini darurat," ucapnya, suaranya bersaing dengan lengkingan tangis bayi di latar belakang.
Tanpa bertanya atau membuang waktu untuk kebingungan, gadis di seberang telepon itu langsung menyahut dengan nada tegas namun penuh perhatian. "Oke, otw! Tunggu aku sepuluh menit!" ucapnya singkat sebelum sambungan terputus.
Sepuluh menit yang dijanjikan Rosa terasa seperti berjam-jam bagi Arsen. Ia berdiri mematung di tengah ruang tamu, menggendong bayi itu dengan kedua tangan yang mulai pegal karena kaku. Suara tangis bayi itu kini mereda menjadi isakan-isakan kecil yang sesekali memecah kesunyian rumah yang pengap. Arsen mencoba berjalan mondar-mandir, meniru gerakan menimang yang pernah ia lihat di televisi, meski langkahnya sering kali tersandung botol minuman kosong atau tumpukan majalah lama di lantai.
Suara deru mesin mobil yang berhenti di depan pagar rumahnya membuat Arsen bernapas lega. Tak lama kemudian, ketukan keras di pintu terdengar, disusul suara kunci yang diputar paksa—Rosa memang memiliki kunci cadangan rumah itu sejak Arsen mulai mengurung diri dua tahun lalu.
"Arsen! Ada apa? Aku dengar suara—" Kalimat Rosa terhenti di ambang pintu. Matanya membelalak, beralih dari wajah Arsen yang pucat ke arah bungkusan selimut di pelukan sahabatnya, lalu ke sekeliling ruangan yang lebih mirip gudang pecah belah daripada tempat tinggal manusia.
"Demi Tuhan, Arsen... itu bayi siapa?" tanya Rosa, suaranya naik satu oktavi. Ia segera menutup pintu di belakangnya, menghalau angin malam yang dingin masuk ke dalam.
"Aku tidak tahu, Ros. Sumpah," jawab Arsen dengan suara serak. "Seseorang meninggalkannya di depan pintu tadi. Ada surat... isinya cuma minta aku jaga dia. Aku bingung, dia nangis terus kalau ditaruh. Aku harus bagaimana?"
Rosa mendekat, meletakkan tasnya di atas meja yang berdebu tanpa peduli lagi. Ia mengambil alih bayi itu dari gendongan Arsen yang kaku. Dengan gerakan yang jauh lebih luwes, Rosa mendekap bayi itu ke bahunya, menepuk-nepuk punggungnya perlahan. Ajaibnya, bayi itu langsung tenang, hanya menyisakan deru napas halus yang mulai teratur.
"Dia kedinginan, Sen. Dan rumahmu... Ya ampun, bau apa ini?" Rosa meringis, hidungnya mengernyit saat menghirup aroma pengap yang memenuhi ruangan. "Kamu mau bayi ini sakit paru-paru karena menghirup debu dan bau sampah ini? Ini bukan tempat yang layak untuk makhluk hidup, apalagi bayi!"
Arsen menunduk, rasa malu yang luar biasa menghujamnya. "Aku tahu. Aku... aku baru sadar betapa buruknya tempat ini saat aku membawanya masuk tadi. Selama ini aku tidak peduli, tapi sekarang ada dia."
"Kalau kamu memang mau menjaga dia, meski cuma semalam, kamu harus berubah, Arsen," ujar Rosa tegas sambil menatap mata sahabatnya yang kuyu. "Sekarang, ambil tas bayi itu. Cari apakah ada susu atau popok di dalamnya. Aku akan menidurkannya sebentar, lalu kita harus bicara serius soal kekacauan ini."
Arsen mengangguk patuh, seperti anak kecil yang baru saja ditegur gurunya. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ada sebuah perintah yang ingin ia laksanakan dengan sungguh-sungguh. Bukan karena ia ingin sembuh, tapi karena ada sepasang mata kecil yang kini menggantungkan hidup padanya di tengah rumah yang gelap itu.