NovelToon NovelToon
Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Fantasi Wanita / Balas dendam pengganti
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MellaMar

Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.

Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.

Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.


Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?

Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?

Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?


Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️


Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuil kuno

Kuil kuno itu berdiri megah di atas bukit yang tersembunyi, dikelilingi oleh hutan lebat dan kabut tebal. Bangunannya yang tua dan rusak, dengan ukiran-ukiran misterius yang menghiasi dindingnya, membuatnya terlihat seperti sebuah tempat yang telah ditinggalkan selama berabad-abad.

Namun, di dalam kuil itu, terdapat sebuah kekuatan yang sangat besar. Kristal yang tersembunyi di dalam kuil itu dikatakan memiliki kemampuan untuk memberikan kekuatan yang tak terbatas kepada siapa saja yang memilikinya.

Banyak orang telah mencoba untuk mencari kristal itu, tapi tidak ada yang berhasil. Beberapa mengatakan bahwa kuil itu dijaga oleh kuasa gelap yang kuat, sementara yang lain mengatakan bahwa kuil itu sendiri memiliki kesadaran dan hanya akan membiarkan orang yang pantas untuk masuk.

Valerius dan wanita misterius itu memiliki rencana untuk mengambil kristal itu, dan mereka tidak akan berhenti sampai mereka berhasil. Tapi, apa yang mereka tidak tahu adalah bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang bangkit di dalam kuil itu, sesuatu yang akan mengubah nasib mereka selamanya.

Di dalam kuil, udara terasa berat dan pengap, seperti ada sesuatu yang menekan dada. Suara-suara aneh terdengar dari dalam bayang-bayang, membuat bulu kuduk berdiri. Wanita misterius itu melangkah maju, matanya terpaku pada pintu yang tertutup di depan mereka.

"Ini dia," katanya, suaranya hampir tidak terdengar. "Pintu ke ruang kristal."

Valerius mengangguk, tangan kanannya menggenggam pedangnya. "Aku siap," katanya, ia menaikkan satu alisnya, memberi isyarat untuk wanita itu maju lebih dahulu.

Mereka berdua melangkah maju, menuju pintu yang tertutup. Tiba-tiba, pintu itu terbuka dengan sendirinya, memperlihatkan ruang yang gelap dan misterius di dalamnya.

"Kamu dulu," kata Valerius, menunjuk wanita misterius itu.

Wanita itu mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam ruang. Valerius mengikuti di belakangnya, pedangnya siap untuk digunakan.

Di dalam ruang, mereka menemukan sebuah altar batu yang di atasnya terdapat kristal yang berkilau. Wanita misterius itu melangkah maju, tangan kanannya terulur untuk mengambil kristal itu.

Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari dalam bayang-bayang. "TUNGGU!" sebuah suara yang keras dan berwibawa.

Wanita misterius itu berhenti, tangan kanannya masih terulur. Ia terkejut di buatnya. Valerius menoleh, matanya mencari sumber suara itu.

Suara itu semakin keras, membuat tanah bergetar dan udara menghembuskan angin ketegangan. Wanita misterius itu tetap berdiri, tangan kanannya masih terulur, tapi matanya mulai menunjukkan ketakutan.

"Siapa kamu?" tanya Valerius, suaranya keras dan berani. Tatapannya mengitari seisi ruangan

Tidak ada jawaban. Suara itu berhenti, dan ruangan menjadi sunyi. Wanita misterius itu melangkah maju lagi, tapi tiba-tiba, sebuah sosok muncul dari bayang-bayang. Tepat di hadapan wanita itu. Dengan kemunculannya yang tiba-tiba membuat wanita itu melangkah mundur.

Sosok itu adalah seorang pria dengan mata yang berkilau seperti bintang. Dia memiliki rambut putih panjang dan pakaian yang terbuat dari kain emas. Dia berdiri di depan altar, menghalangi jalan ke kristal.

"Aku adalah penjaga kuil ini," katanya, suaranya seperti guntur. "Dan aku tidak akan membiarkan kalian mengambil kristal itu."

Valerius dan wanita misterius itu saling menatap, lalu kembali menatap penjaga kuil itu. Mereka tahu bahwa mereka harus berhadapan dengan musuh yang sangat kuat.

"Zarith!". Gumam Valerius.

Ya, sosok itu adalah Zarith. Penunggu kuil kuno, sekaligus penjaga berbagai macam kristal penguasa energi kegelapan seperti Umbra yang menjadi salah satunya.

Mata Valerius melebar dengan keterkejutan dan kemarahan. "Zarith!" ulangnya, suaranya penuh dengan kebencian. "Aku tidak menyangka kalau kau yang menjadi penjaga kuil ini."

Valerius menatap tajam wanita itu, setelah tahu siapa yang akan dia hadapi. "Sial! Dia menolongku atau mau menjebakku". Pikirnya ada setitik kebencian disana.

Zarith menatap Valerius dengan mata yang dingin dan tidak bersimpati. "Aku telah menunggu kamu, Valerius. Aku tahu kamu akan datang untuk mengambil kristal itu."

Wanita misterius itu melangkah maju, seolah menantang keberadaan Zarith. Valerius merutuki kebodohan wanita itu dalam hatinya. "Tidak ada yang bisa menghentikan kita, Zarith. Kami akan mengambil kristal itu, dengan atau tanpa izinmu." Ucap Valerius tanggung malu.

Zarith tersenyum, tapi senyum itu tidak mencapai matanya. "Kamu tidak akan siap untuk menghadapi aku, wanita penyihir. Aku telah menjaga kuil ini selama ribuan tahun, dan aku tidak akan membiarkan kamu mengambil kristal itu dengan mudah."

Valerius dan wanita misterius itu siap untuk bertarung, tapi Zarith tidak bergerak. Dia hanya berdiri di depan altar, menatap mereka dengan mata yang dingin dan penuh dengan kepercaya dirian yang tinggi.

Tiba-tiba, Zarith mengangkat tangannya, dan ruangan mulai bergetar. Kristal-kristal di sekitar mereka mulai berkilau, dan energi kegelapan mulai memenuhi udara.

"Kalian ingin mengambil kristal itu?" katanya, suaranya seperti guntur. "Maka kalian harus melewati aku terlebih dahulu!"

Valerius dan wanita misterius itu siap untuk bertarung, tapi mereka tidak siap untuk menghadapi kekuatan Zarith. Zarith menggerakan tangannya, dan sebuah gelombang energi kegelapan meluncur ke arah mereka.

Wanita misterius itu mengangkat tangannya, dan sebuah perisai energi muncul di depannya. Gelombang energi kegelapan itu menghantam perisai itu, tapi wanita misterius itu tidak goyah.

Valerius mengambil kesempatan itu untuk menyerang. Dia meluncur ke arah Zarith, pedangnya berkilau di udara. Tapi Zarith tidak bergerak. Dia hanya menatap Valerius, dan tiba-tiba, Valerius terhenti di udara.

"Aku tidak ingin melukaimu, Valerius," kata Zarith, suaranya dingin. "Tapi aku tidak akan ragu untuk menghentikanmu jika kau berani menyentuhku"

Valerius mencoba untuk bergerak, tapi dia tidak bisa. Zarith memiliki kekuatan yang terlalu besar. Wanita misterius itu melihat kesempatan untuk menyerang Zarith, tapi dia tidak melakukannya. Dia tahu bahwa Zarith terlalu kuat, dan dia tidak ingin menghabiskan energinya.

"Valerius, kita harus mundur," katanya, suaranya rendah.

Valerius mencoba untuk melawan, tapi Zarith masih memiliki kontrol atas dirinya. "Tidak, kita tidak bisa mundur," katanya, suaranya penuh dengan kebencian. "Aku harus memiliki kristal itu."

Zarith menatap Valerius dengan mata yang penuh dengan kesedihan. "Valerius, kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan," katanya. "Kristal itu tidak akan membawa kamu ke mana-mana, kecuali pada kehancuran."

Tiba-tiba, wanita misterius itu mengangkat tangannya, dan sebuah ledakan energi meluncur ke arah Zarith. Zarith tidak bergerak, tapi energi itu memutar balik lalu menghantam sebuah perisai yang muncul di depan wanita itu.

"Kalian tidak bisa mengalahkan aku," katanya, suaranya dingin. "Kalian harus pergi sekarang, sebelum aku kehilangan kesabaran." Titah Zarith

Valerius dan wanita misterius itu tahu bahwa mereka tidak bisa mengalahkan Zarith. Mereka mundur, meninggalkan kuil kuno itu dengan tangan kosong.

Valerius menatap wanita misterius itu dengan mata yang penuh dengan kemarahan dan kebencian. "Kau telah menjebakku," katanya, suaranya rendah dan penuh dengan ancaman. "Kamu tahu bahwa Zarith bukanlah tandinganku, tapi kau mendorongku untuk membuatnya marah!."

Wanita misterius itu menatap Valerius dengan mata yang tenang. "Aku tidak menjebakmu, Valerius," katanya. "Aku hanya menggunakan kesempatan yang ada. Aku tahu bahwa kamu terlalu ambisius untuk mundur."

Valerius mengangkat tangannya, siap untuk menyerang wanita itu. "Kamu akan membayar untuk ini," katanya, suaranya penuh dengan kemarahan.

Tiba-tiba, wanita misterius itu tersenyum. "Aku tidak berpikir begitu, Valerius," katanya. "Aku tahu bahwa kamu tidak akan melukaiku. Kamu terlalu membutuhkan aku."

Valerius menatap wanita misterius itu dengan mata yang penuh dengan kemarahan, suaranya bergetar karena emosi. "Cih!..membutuhkanmu? Asal kau tahu, aku tidak menerima seorang pengkhianat dua kali dalam hidupku!" Dia mengangkat tangannya lagi, kali ini dengan niat yang lebih jelas untuk menyerang.

Valerius menyerang dengan pedangnya, dan wanita misterius itu tidak bisa menghindar. Pedang Valerius menembus dada wanita itu, dan dia jatuh ke tanah dengan mata yang terbuka lebar.

"Aku tidak bisa dipermainkan," kata Valerius, suaranya dingin dan tanpa emosi.

Wanita misterius itu tersenyum lemah, darah mengalir dari mulutnya. "Kamu... tidak akan pernah... mendapatkan... apa yang kamu... inginkan..." katanya, suaranya lemah.

Dan dengan itu, wanita misterius itu mati, meninggalkan jejak kemarahan pada Valerius.

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!