⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 (Part 1) The Trial of Hearts & The "Clearance" Sale
Malam itu, grup WhatsApp kelas XII IPS 3 udah bukan lagi grup sekolah, tapi udah kayak base Twitter yang lagi bahas skandal idol K-pop. Notifikasi di HP Gia nggak berhenti bunyi—zlap, zlap, zlap—kayak suara masa depannya yang lagi digunting-gunting sama netizen sekolah.
Gia meringkuk di bawah selimut, cuma matanya yang nongol buat liatin layar. Caca ngirim pesan setiap lima menit.
Caca: GI! LO VIRAL DI TIKTOK ANGKATAN! Foto lo di tribun udah dikasih sound 'Glimpse of Us'. Vibes-nya sedih banget anjir, tapi komentarnya jahat-jahat! Ada yang bilang lo sengaja goda Pak Radit biar dapet nilai A!
Gia nggak bales. Dia cuma pengen log out dari bumi. Dia kepikiran Pak Radit. Gimana kalau Pak Radit dipecat? Gimana kalau Pak Radit nyesel udah baik sama dia? Di atas meja belajar, cup es krim salted caramel yang tadi sore dikasih Pak Radit udah kosong, tapi rasanya masih nempel—manis, asin, dan sekarang... pait banget.
...
Rabu Pagi.
Gia jalan di koridor sekolah dengan kepala tertunduk. Biasanya dia bakal jalan sambil benerin rok dan tebar pesona, tapi hari ini dia ngerasa kayak peserta Squid Game yang lagi nunggu giliran dieksekusi.
"Tuh, itu kan Gia," bisik segerombolan anak kelas 10 di depan mading.
"Gila ya, kecil-kecil udah jago deketin guru ganteng."
"Pak Radit-nya aja yang khilaf kali, liat aja mukanya melas gitu."
Gia pengen banget nengok terus teriak, "Heh! Gue emang cantik, tapi gue nggak murahan ya!", tapi energinya udah habis. Dia cuma pengen tau Pak Radit ada di mana.
Baru aja mau masuk kelas, suara toa sekolah yang cempreng tapi otoriter itu bunyi.
"Panggilan untuk siswi bernama Gianna Aurora kelas dua belas IPS tiga dan Bapak Radit Dirgantara, ditunggu kehadirannya di ruang Kepala Sekolah sekarang juga. Terima kasih."
Deg.
Satu kelas langsung "Oooooooooh" serempak. Caca cuma bisa ngasih gestur semangat dari jauh yang lebih mirip gerakan orang lagi berdoa buat jenazah.
...
Ruang Kepala Sekolah, Aura Dingin yang Hakiki
Gia berdiri di depan pintu kayu jati yang gede banget. Tangannya dingin, keringet dingin, otaknya juga mendadak dingin alias blank. Begitu dia masuk, dia liat Pak Radit udah ada di sana.
Pak Radit duduk di kursi di depan meja Kepala Sekolah, Bu Nur. Dia pakai kemeja putih bersih yang disetrika rapi, kelihatannya sangat profesional dan kaku. Dia nggak noleh pas Gia masuk. Dia cuma natap lurus ke depan.
"Duduk, Gianna," suara Bu Nur berat, kayak suara guru yang udah makan asam garam dunia pendidikan selama 40 tahun.
Gia duduk di samping Pak Radit. Jarak mereka cuma sepuluh senti, tapi rasanya ada tembok Berlin di antara mereka. Wangi parfum Pak Radit masih sama, tapi kali ini terasa lebih... mencekam.
Bu Nur meletakkan sebuah tablet di meja. Di layarnya, terpampang jelas foto mereka di tribun sore kemarin. Foto yang diambil secara candid tapi punya angle yang sangat-sangat ambigu.
"Bisa jelaskan ini? Bapak Radit, saya tahu Anda guru baru yang sangat kompeten, tapi integritas sekolah ini nomor satu. Foto ini sudah sampai ke tangan yayasan," kata Bu Nur tajam.
Pak Radit narik napas panjang. "Saya minta maaf atas kegaduhan ini, Bu. Tapi kejadian di foto itu tidak seperti yang dibayangkan orang-orang. Gianna hampir pingsan karena kelelahan saat latihan fisik yang saya berikan. Saya hanya memberikan pertolongan pertama."
"Pertolongan pertama dengan wajah sedekat itu? Dan kenapa latihannya sampai sore sekali saat sekolah sudah sepi?" tanya Bu Nur lagi.
Gia nggak tahan. Dia nggak mau Pak Radit kena masalah sendirian.
"Bu, itu salah saya!" potong Gia nekat.
Bu Nur dan Pak Radit serempak noleh ke Gia. Pak Radit ngasih kode lewat matanya supaya Gia diem, tapi Gia udah kepalang all-in.
"Salah saya karena saya manja, Bu. Saya yang minta latihan tambahan karena saya pengen bisa basket. Terus kemarin pas kaki saya sakit, saya yang nahan-nahan Pak Radit biar nggak pulang dulu karena saya takut sendirian di sekolah. Pak Radit cuma profesional, Bu. Dia bahkan galak banget sama saya!"
Pak Radit memejamkan matanya, seolah bilang, 'Gia, lo malah bikin makin parah.'
"Gianna, diam," kata Pak Radit pelan tapi tegas. Dia menoleh ke Bu Nur. "Apapun pembelaan Gianna, saya yang bertanggung jawab. Saya yang membiarkan situasi ini terjadi. Saya siap menerima sanksi apapun, asal jangan libatkan murid saya. Dia sedang dalam masa ujian, prestasinya jangan sampai terganggu gara-gara kecerobohan saya menjaga jarak."
Gia tertegun. He's protecting me. Again.
Bu Nur ngetuk-ngetuk jarinya di meja. "Begini. Yayasan meminta ada tindakan tegas. Tapi saya tahu Anda guru yang jujur, Pak Radit. Untuk sementara, Bapak dibebastugaskan dari mengajar kelas dua belas selama dua minggu. Dan untuk Gianna, kamu akan mendapat poin pelanggaran disiplin dan wajib melakukan bimbingan konseling."
"Dua minggu nggak ngajar?!" seru Gia spontan. "Tapi Pak Radit kan satu-satunya yang bikin saya semangat olahraga, Bu!"
"Gianna!" Pak Radit membentak kecil. "Terima kasih, Bu Nur. Saya terima keputusannya."
...
Setelah keluar dari ruang Bu Nur, Gia lari ngejar Pak Radit yang jalannya cepet banget menuju ruang guru buat beresin barang-barangnya.
"Pak! Pak Radit! Tunggu!"
Pak Radit berhenti di depan lokernya. Dia berbalik, wajahnya kelihatan capek banget. Nggak ada lagi kilat jenaka atau tatapan menggoda kayak kemarin di UKS.
"Gia, sudah. Kamu denger kan tadi? Saya dibebastugaskan. Itu artinya kita nggak boleh berinteraksi di lingkungan sekolah selama dua minggu ini," kata Pak Radit sambil masukin beberapa buku ke tasnya.
"Tapi ini nggak adil, Pak! Bapak nggak salah! Yang salah itu yang moto!"
"Dunia nggak peduli siapa yang salah, Gia. Dunia cuma peduli sama apa yang mereka liat," sahut Pak Radit dingin. Dia menutup pintu lokernya dengan bunyi brak yang cukup keras. "Kamu harusnya seneng. Nggak ada lagi yang nyuruh kamu lari 15 putaran. Nggak ada lagi yang sita HP kamu."
"Saya nggak seneng, Pak! Saya lebih milih lari 100 putaran daripada nggak liat Bapak dua minggu!" suara Gia mulai bergetar.
Pak Radit berhenti melangkah. Dia menatap Gia, kali ini dengan tatapan yang sangat melankolis. Dia melangkah mendekat, sedikit lebih dekat dari batas "guru dan murid"
"Gia, dengerin saya baik-baik. Selama dua minggu ini, jangan cari saya. Jangan chat saya. Jangan post apapun soal saya di second account kamu. Kalau kamu beneran mau saya balik ngajar, kamu harus jadi murid yang 'nggak kelihatan'. Mengerti?"
"Kenapa? Bapak takut sama saya?"
Pak Radit tersenyum tipis, tapi senyumnya sedih. "Bukan takut sama kamu. Saya takut sama diri saya sendiri yang ternyata nggak bisa sedingin itu kalau liat kamu nangis."
Gia terpaku. Pak Radit langsung jalan pergi meninggalkan Gia yang masih memproses kalimat barusan. Apa tadi? Pak Radit bilang dia nggak bisa dingin kalau liat gue nangis?
...
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..