NovelToon NovelToon
Pewaris Terahir Murim

Pewaris Terahir Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Cintapertama / Balas Dendam
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:

**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**

Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.

Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.

Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: SUARA DARI KEGELAPAN

Ha-neul jatuh terduduk di lantai kayu gudang yang berderit. Punggungnya membentur tumpukan karung goni, tapi ia tidak merasakan sakit. Semua perasaannya kini terfokus pada satu titik: sosok bayangan transparan yang melayang di depannya, memancarkan cahaya merah redup.

Mulutnya terbuka lebar, tapi suara tak kunjung keluar. Lidahnya bagai kelu.

Sosok itu—yang menyebut dirinya Hyeol-geon—mencondongkan tubuh. Wajahnya samar, seperti lukisan cat air yang kena air, tapi dua mata merahnya bersinar tajam menembus bayang-bayang. Ia menatap Ha-neul dengan rasa ingin tahu.

"Heh, jangan pingsan dulu, bocah. Aku sudah menunggu seratus tahun untuk berbicara dengan seseorang. Kalau kau pingsan sekarang, aku akan kesepian lagi."

Ha-neul menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Bukan mimpi. Ini nyata.

"Ka-kau... apa kau... iblis?" Suaranya bergetar.

Hyeol-geon terkekeh. "Iblis? Bisa dibilang begitu. Dulu banyak orang memanggilku iblis. Tapi sekarang, aku hanya arwah tua yang terperangkap dalam cincin." Ia melayang berputar, mengamati gudang reyot itu. "Dan kau... kau tinggal di tempat seperti ini? Dengan baju compang-camping? Keturunan siapa sebenarnya kau?"

Ha-neul masih belum bisa tenang. Dadanya naik turun cepat. Tapi naluri bertahan hidupnya mulai bekerja. Perlahan, ia merangkak mundur, tangannya meraba-raba mencari sesuatu—apa saja—yang bisa dijadikan senjata.

Gerakan itu tidak luput dari penglihatan Hyeol-geon.

"Oh, mau ambil senjata? Di belakangmu ada cangkul tua berkarat. Tapi percuma, bocah. Aku sudah mati. Kau tidak bisa membunuh orang mati."

Ha-neul berhenti. Napasnya mulai sedikit terkendali. "...Apa maumu?"

"Pertanyaan bagus." Hyeol-geon melayang lebih dekat, lalu duduk bersila di udara, persis di depan Ha-neul. "Seratus tahun aku terperangkap dalam cincin sialan ini. Tidak bisa bicara, tidak bisa bergerak, hanya bisa diam dan mengamati dunia luar lewat celah kecil. Dan kau tahu apa yang paling menyebalkan?"

Ha-neul menggeleng pelan.

"Melihat keturunan bodoh yang mewarisi cincin ini tapi tidak pernah tahu cara mengaktifkannya! Enam generasi, Ha-neul. Enam generasi keluargamu memakai cincin ini hanya sebagai perhiasan. Tidak ada satu pun yang cukup berbakat atau cukup putus asa untuk menggenggamnya erat hingga berdarah."

Ha-neul menatap cincin di tangannya. Darah masih membasahi permukaannya, perlahan meresap masuk.

"Kau... kau tahu keluargaku?"

"Tentu saja. Aku yang memberi cincin ini pada leluhur pertamamu, Kang Dae-gun, seratus lima puluh tahun lalu. Saat itu ia menyelamatkanku dari kejaran musuh. Sebagai balas budi, aku tinggal di cincin ini dan membantunya membangun Klan Pedang Kang."

Ha-neul terbelalak. Klan Pedang Kang dibangun dengan bantuan arwah ini?

"Tapi setelah Dae-gun mati, aku tertidur. Bangun sebentar untuk melihat generasi selanjutnya, lalu tertidur lagi. Bangun, tidur. Bangun, tidur. Hingga akhirnya... tak ada satu pun yang bisa membangunkanku. Mereka semua terlalu... biasa saja."

Hyeol-geon menatap Ha-neul dengan sorot baru. Ada kilat penasaran di mata merahnya.

"Tapi kau... kau berbeda. Saat kau menggenggam cincin itu tadi, aku merasakan sesuatu. Keputusasaan yang dalam. Kemarahan yang membara. Dan... rasa sakit. Banyak rasa sakit. Cukup kuat untuk menarikku keluar dari tidur panjang."

Ha-neul diam. Semua yang dikatakan arwah itu benar. Keputusasaan. Kemarahan. Rasa sakit. Itulah dirinya saat ini.

"Jadi, bocah. Ceritakan padaku. Siapa namamu? Dan mengapa pewaris Klan Pedang Kang hidup seperti gelandangan di gudang reyot?"

 

Ha-neul butuh waktu sepuluh menit untuk menceritakan semuanya. Tentang kejeniusannya di masa kecil. Tentang kematian ayahnya yang misterius. Tentang luka meridian yang tiba-tiba menghancurkannya. Tentang tiga tahun pengucilan dan hinaan. Tentang adiknya, Soo-ah, satu-satunya alasan ia masih bertahan. Dan tentang hari ini, ketika statusnya sebagai pewaris resmi dicabut di depan para leluhur.

Hyeol-geon mendengarkan tanpa menyela. Wajah transparannya tidak menunjukkan ekspresi, tapi mata merahnya berkedip-kedip setiap kali Ha-neul menyebut detail penting.

Saat Ha-neul selesai, sunyi menguasai gudang untuk beberapa saat.

Lalu Hyeol-geon tertawa.

"HAHAHAHAHA!"

Tawanya menggema di ruangan sempit, membuat Ha-neul terkejut. Arwah tua itu tertawa terbahak-bahak, memegangi perut, berguling-guling di udara.

"Kenapa kau tertawa?!" Ha-neul kesal. Ia baru saja menceritakan penderitaannya, dan makhluk ini malah tertawa?

"Maaf, maaf..." Hyeol-geon menyeka air mata imajinernya. "Ini cuma... lucu. Sungguh lucu. Kau bilang luka meridianmu adalah kutukan? Kau bilang itu karena serangan pembunuh bayaran?"

Ha-neul mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Hyeol-geon berhenti tertawa. Ekspresinya berubah serius. Ia melayang mendekat, menatap Ha-neul lekat-lekat.

"Bocah, apa yang mereka bilang tentang lukamu? Detail."

"Dokter klan bilang... meridian utamaku hancur. Seperti bendungan yang jebol. Energi tidak bisa mengalir. Setiap kali aku mencoba mengumpulkan Qi, semuanya bocor keluar. Tidak ada yang bisa diperbaiki."

"Hm. Dan kau percaya itu?"

"Mereka tabib terbaik di wilayah ini."

"Tabib sampah lebih tepatnya." Hyeol-geon mendengus. "Dengar, bocah. Aku sudah hidup lebih dari dua ratus tahun. Aku pernah melukai ribuan orang dan menyembuhkan ribuan lainnya. Aku tahu setiap jenis luka meridian yang ada di dunia persilatan ini."

Ia mengangkat tangan transparannya, menunjuk ke arah dada Ha-neul.

"Lukamu bukan karena hancur. Lukamu adalah segel. Teknik Segel Meridian Naga Tidur. Jurus kuno yang hanya dikuasai oleh segelintir ahli tingkat atas."

Ha-neul membeku. "Se...gel?"

"Betul. Seseorang dengan sengaja memasang segel di meridianmu. Itu sebabnya energimu bocor. Bukan karena rusak, tapi karena diblokir. Dan teknik ini... hanya bisa dipasang oleh seseorang yang levelnya jauh di atasmu. Bahkan mungkin di atas level ayahmu dulu."

Dunia Ha-neul seolah berhenti berputar.

Segel. Bukan kutukan. Bukan luka. Tapi SEGEL. Seseorang dengan sengaja melakukan ini padanya.

"Tapi... siapa? Dan kenapa?"

"Itu pertanyaan yang harus kau cari jawabannya sendiri." Hyeol-geon menyeringai. "Tapi satu hal yang pasti: orang yang memasang segel ini tahu persis apa yang ia lakukan. Ia ingin kau menderita. Ia ingin kau jatuh. Dan sepertinya... ia berhasil."

Ha-neul menggenggam tangannya erat-erat. Rasa sakit, amarah, dan kebingungan bercampur jadi satu di dadanya.

Selama tiga tahun ia mengira dirinya cacat. Selama tiga tahun ia menerima hinaan sebagai takdir. Selama tiga tahun ia menyerah pada nasib.

Tapi ternyata... ini semua ulah seseorang.

"Bisa... bisa kau membukanya?" Suara Ha-neul bergetar. Bukan karena takut, tapi karena harapan yang baru lahir.

Hyeol-geon mengangkat alis. "Kau serius?"

"Aku tidak punya apa-apa lagi. Tapi jika benar ini segel... jika benar kekuatanku bisa kembali..." Ha-neul menatap arwah itu dengan mata membara. "Aku akan melakukan apa saja."

"Apa saja?"

"Apa saja."

Hyeol-geon diam sejenak. Lalu senyum lebar mengembang di wajah transparannya. Senyum yang sama seperti seratus lima puluh tahun lalu, saat ia pertama kali melihat Kang Dae-gun, leluhur Ha-neul, berdiri di hadapannya dengan tekad yang sama.

"Baik. Aku akan membantumu, Kang Ha-neul. Tapi ini bukan transaksi gratis. Aku membuka segelmu, kau mengembalikan kekuatanmu, dan suatu hari nanti... kau akan membantuku juga."

"Membantu apa?"

"Membalaskan dendamku." Mata Hyeol-geon menyala lebih terang. "Ada seseorang yang harus kubunuh. Tapi karena aku sudah mati, kau yang akan melakukannya untukku."

Ha-neul tidak bertanya siapa. Tidak bertanya bagaimana. Ia hanya mengangguk.

"Setuju."

Hyeol-geon terkekeh. "Kau bahkan tidak bertanya detailnya. Bocah nekat."

"Karena apa pun detailnya, tidak mungkin lebih buruk dari hidupku sekarang."

Arwah itu tertawa lagi. Kali ini tawanya lebih hangat.

"Aku suka gaya bicaramu, Kang Ha-neul. Aku suka sekali."

Ia melayang mundur, mengamati Ha-neul dari atas ke bawah.

"Tapi sebelum kita mulai, kau harus tahu. Proses pembukaan segel ini tidak mudah. Bisa memakan waktu bertahun-tahun. Kau harus berlatih lebih keras dari siapa pun. Dan kau harus merahasiakan keberadaanku dari siapa pun, termasuk adikmu. Jika musuh-musuhku tahu aku masih hidup dalam bentuk arwah... kau akan mati sebelum segelmu terbuka setengah."

Ha-neul mengangguk mantap. "Aku mengerti."

"Bagus." Hyeol-geon menggosok-gosok tangan. "Sekarang, mulai besok pagi, kita mulai pelatihan. Tapi malam ini... kau harus istirahat. Wajahmu pucat seperti mayat. Masa muridku lebih pucat dari gurunya?"

Ha-neul tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia merasakan sesuatu yang hangat di dadanya.

Bukan harapan. Tapi setidaknya... alasan untuk terus hidup.

Ia menengok ke pojok ruangan. Soo-ah masih tidur pulas, tak terganggu oleh kejadian malam ini. Mungkin itu baik. Untuk sekarang, lebih baik adiknya tidak tahu.

Ha-neul menatap cincin di jarinya. Cahaya merahnya sudah meredup, tapi ia bisa merasakan kehangatan aneh dari benda itu.

"Ayah... kau bilang cincin ini akan membantuku saat waktunya tiba." bisiknya. "Sekarang aku tahu maksudmu."

Hyeol-geon mendengus. "Sudah, jangan baper. Tidur! Besak kau harus bangun dua jam sebelum subuh. Pemanasan lari keliling gunung tiga putaran."

"Tiga putaran? Gunung ini luasnya—"

"Empat putaran kalau protes."

Ha-neul memilih diam dan merebahkan diri di tumpukan karung.

Di luar, angin malam bertiup pelan. Ranting-ranting pohon menari-nari ditiup angin. Dan di langit, awan hitam perlahan bergeser, menampakkan secercah sinar bintang.

Esok adalah hari pertama perjalanan panjang.

Esok, Kang Ha-neul akan mulai bangkit dari kuburnya.

 

1
Riska Purwati
👍👍👍👍👍👍
maklie_
aku mampir 💪
Asepsolih Sutarman
ceritanya seru, suka banget.....top markotop
Asepsolih Sutarman
makin seru ceritanya...👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!