Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Hana
Bulan sabit menggantung di langit malam, menjadi saksi bisu pembicaraan serius di balkon belakang mansion. Angin malam berembus kencang, menerbangkan ujung hijab Hana yang ia biarkan sedikit longgar.
"Mas, aku butuh bantuanmu lebih dari sekadar menjaga El," ucap Hana lirih namun penuh penekanan. "Aku ingin kita... berpura-pura menjadi pasangan di depan Mas Cakra."
"Apa, Han?!" Tama tersentak hingga bangkit dari kursinya. "Ini gila! Kenapa kau sampai berpikiran sejauh itu?"
Hana menatap lurus ke arah kegelapan taman, matanya memancarkan ketegasan yang dingin. "Aku ingin pria itu merasakan sakit yang selama ini aku rasakan, Mas. Aku ingin memberikan pelajaran untuknya! Dia harus tahu bahwa aku bukan lagi Hana yang dulu bisa dia injak-injak dan dia tinggalkan begitu saja."
Tama menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. Ia kembali duduk, menyandarkan punggungnya dengan berat sambil menatap Hana lekat-lekat. "Kau yakin dengan keputusanmu ini, Han? Melibatkan perasaan, bahkan meski hanya pura-pura bisa menjadi bumerang."
"Sangat yakin, Mas," sahut Hana cepat, suaranya mulai bergetar. "Aku tidak mau Mas Cakra tahu bahwa aku masih sendiri, lalu dia berusaha merebut hak asuh El. Aku tidak bisa hidup tanpa putraku, Mas. Dia satu-satunya yang aku punya saat dunia membuangku!"
Seketika, pertahanan Hana runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras. Tama yang tidak tega melihat kerapuhan wanita di depannya, segera bergeser dan merangkul bahu Hana. Ia membawa Hana ke dalam dekapan pelindungnya.
Hana tidak menolak. Ia menyandarkan kepalanya di bahu tegap Tama, menghirup aroma maskulin yang menenangkan. Entah kenapa, di tengah badai emosi ini, ia merasa sangat nyaman dan terlindungi jika berada di dekat pria berseragam ini.
Namun, Tama bukanlah pria yang mudah dikelabui oleh sandiwara, bahkan oleh sandiwara yang ia terlibat di dalamnya. Ia mengelus lengan Hana pelan, lalu bertanya dengan suara rendah yang menggetarkan.
"Hana, tolong jujur dengan perasaanmu saat ini. Apakah kau melakukan hal seperti ini karena kau masih mencintainya? Kau ingin melakukan ini semua hanya untuk membuatnya cemburu agar dia kembali padamu?"
Deg!
Hana terdiam seribu bahasa. Pertanyaan Tama menghantam jantungnya tepat sasaran. Ia merasakan detak jantung Tama yang stabil, sangat kontras dengan jantungnya yang kini berpacu liar. Antara benci yang mendalam karena Cakra tidak pernah mempercayai nya, dan sisa-sisa cinta masa lalu yang ternyata belum sepenuhnya terkubur, Hana merasa tersesat.
"Aku..." Hana menggantung kalimatnya, jemarinya meremas ujung kemeja Tama. "Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku berharga, Mas."
Tama melepaskan rangkulannya perlahan, memaksa Hana untuk menatap matanya. "Jika tujuannya hanya untuk membalas dendam, aku akan membantumu. Tapi jika kau melakukannya karena masih mengharapkannya, aku khawatir kaulah yang akan hancur untuk kedua kalinya, Han."
Hana terpaku. Ia menatap mata cokelat tua milik Tama yang tampak begitu jujur. Di saat yang sama, ponsel Tama bergetar, panggilan dari Mabes.
"Aku harus pergi tugas sekarang," ucap Tama sambil berdiri. Ia mengusap sisa air mata di pipi Hana dengan ibu jarinya. "Pikirkan lagi matang-matang. Jika besok kau masih menginginkan sandiwara ini, aku akan menjadi 'pasanganmu'. Tapi ingat, Han... jangan sampai kau terjebak dalam permainanmu sendiri."
Tama melangkah pergi meninggalkan balkon, menyisakan Hana yang masih termenung dalam kebisuan malam, bergelut dengan hatinya yang masih mencari jawaban.
.
.
Lampu jalanan Jakarta yang temaram membayang di kaca mobil Tama. Jalanan cukup lengang malam itu, namun pikiran Tama justru terasa sesak. Permintaan Hana agar mereka berpura-pura menjadi pasangan terus berputar di otaknya seperti kaset rusak. Wajah Hana yang basah oleh air mata seolah terpatri di pelupuk matanya, menimbulkan rasa nyeri yang aneh di ulu hatinya.
Tiba-tiba, napas Tama terasa pendek. Jantungnya berdentum keras, bukan karena ketakutan, melainkan karena sebuah kesadaran yang mencoba menyeruak keluar. Ia segera memutar kemudi ke kiri dan meminggirkan mobilnya di bahu jalan yang sepi.
Tama menyandarkan kepalanya ke kursi, tangannya mencengkeram dadanya yang berdegup kencang. "Kenapa setiap kali aku ingat Hana, jantungku berdebar seperti ini?" gumamnya pada keheningan malam. Ia memejamkan mata, namun yang muncul justru bayangan Hana yang menyandarkan kepala di bahunya tadi.
"Atau jangan-jangan aku...? Aarrkkhhh... Tidak!" Tama memukul kemudi dengan frustrasi. "Hana adalah adikku. Aku harus selalu ada untuknya sebagai pelindung. Ayo Tama, buang perasaan aneh itu! Kau hanya dianggap sosok kakak olehnya. Jangan merusak kepercayaan Papah."
Ia mencoba mengatur napasnya yang memburu, memaksa logikanya untuk menang dari perasaannya. Setelah merasa cukup tenang, ia kembali memacu mobilnya menuju Mabes, meski ia tahu, bayangan Hana tidak akan semudah itu pergi dari kepalanya.
Sementara itu di mansion, Hana masih duduk di tepi tempat tidur. Matanya menatap kosong ke arah jendela balkon. Ucapan Tama tentang sisa perasaannya pada Cakra terus menghantuinya.
"Apakah rencanaku ini sudah benar?" bisiknya pada diri sendiri. Hana mengepalkan jemarinya. "Semoga Mas Tama benar-benar mau membantuku. Hanya ini satu-satunya cara agar Mas Cakra melihat bahwa aku sudah bahagia dan tidak lagi mengharapkannya. Aku tidak akan membiarkan dia atau keluarganya menyentuh El."
.
.
Keesokan harinya, di sebuah kantor mewah di sudut kota yang berbeda, Cakra Ardiwinata sedang menatap sebuah kotak perhiasan beludru merah yang kusam di sudut mejanya. Di sampingnya, terdapat buket mawar putih yang masih segar.
Kotak itu berisi kalung berlian yang seharusnya ia berikan enam tahun lalu, tepat di hari ulang tahun pernikahan kedua mereka. Namun, hari yang seharusnya indah itu berubah menjadi neraka. Fitnah kejam yang disusun rapi oleh ibunya, Nyonya Inggit, dan Jesika telah menghancurkan segalanya.
Cakra mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah membakar dadanya saat mengingat betapa bodohnya ia saat itu, karena percaya begitu saja pada rekayasa yang memperlihatkan Hana bersama Rico, sepupunya sendiri, di apartemen.
"Bodoh! Aku benar-benar pria paling bodoh di dunia," desis Cakra tajam. Penyesalan itu datang terlambat setelah ia mengetahui kebenaran pahit bahwa ibunya sengaja menjebak Hana karena tidak merestui hubungan mereka sejak awal. "Hana, aku tahu aku bersalah. Tapi aku bersumpah, kali ini aku akan membawamu kembali. Kau akan menjadi Nyonya Ardiwinata lagi, apa pun taruhannya."
.
.
Pagi itu, Hana tampil sangat memukau dengan blazer berwarna biru navy yang memberikan kesan tegas. Ia mengantar El ke sekolah bersama Pak Sutoyo dan Mbak Pur.
"Bunda, nanti yang jemput El siapa? Om Tama tidak ada?" tanya El sambil turun dari mobil di depan gerbang sekolah.
Hana tersenyum lembut, mencoba menutupi kegelisahannya. "Nanti Bunda atau Kakek yang jemput, ya. Om Tama masih kerja."
"Oke Bunda! Semangat kerjanya ya, Bunda CEO!" El memberikan pelukan hangat sebelum masuk ke sekolah.
Hana kembali ke mobil dengan wajah yang langsung berubah serius. Ia tahu, hari ini di kantor, Cakra pasti akan mencoba mendekatinya. Ia hanya berharap Tama akan muncul tepat waktu untuk menjalankan skenario mereka.
Sesampainya di lobi Global Energi, Sekretaris Indah langsung menyambutnya. "Ibu Hana, ada tamu yang sudah menunggu di lobi VIP sejak satu jam yang lalu. Beliau membawa bunga, Bu."
Hana menghentikan langkahnya sejenak. Ia melirik ke arah Pak Sutoyo yang hanya memberikan anggukan kecil, isyarat bahwa sang ayah akan selalu menjaganya dari kejauhan.
"Biarkan dia menunggu. Saya ada jadwal pengecekan divisi produksi sekarang," jawab Hana dingin, mulai menunjukkan otoritasnya sebagai pemimpin yang tak tersentuh.
Bersambung...