Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Di Atas Awan yang Sama
Langit sore itu cerah.
Pesawat komersial internasional yang dikemudikan Alexander Alejandro Castillo melaju stabil menembus lapisan awan. Kota Manhattan perlahan mengecil dari pandangan, berganti hamparan putih tak berujung.
Sudah dua bulan sejak kecelakaan dan insiden penembakan yang mengubah hidupnya.
Dan hari ini… ia kembali duduk di kursi kapten.
Di sebelahnya, sahabat sekaligus co-pilotnya, Brian Callahan, melirik sekilas.
“Feels good to be back, Captain?” tanyanya santai sambil mengecek panel instrumen.
Alexander mengangguk pelan.
“Yeah. Feels normal.”
Tapi suaranya tidak benar-benar terdengar normal.
Brian mengenal Alexander hampir sepuluh tahun. Mereka melewati pelatihan berat bersama, turbulensi ekstrem, pendaratan darurat, bahkan badai salju.
Alexander selalu sama.
Tenang.
Presisi.
Dingin.
Di mata banyak orang, ia dikenal sebagai pilot muda berbakat dengan reputasi hampir sempurna. Tampan, cerdas, pewaris bisnis besar, dan… mustahil disentuh secara emosional.
Setahun terakhir sebelum kejadian itu, ia bahkan semakin tertutup.
Pramugari yang terang-terangan menggoda? Diabaikan.
Rekan bisnis yang mencoba mendekat? Tak pernah diberi celah.
Alexander seperti tembok baja.
Brian sering bercanda,
“Lo ini manusia apa robot, sih?”
Alexander biasanya hanya tersenyum tipis.
Namun hari ini berbeda.
Sejak lepas landas tadi, ada sesuatu di wajahnya.
Rapuh.
Tatapannya sering kosong beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Brian akhirnya, kali ini lebih serius.
Alexander tetap menatap lurus ke depan.
“Aku baik.”
“Kita sahabatan terlalu lama buat jawaban klise.”
Hening sejenak.
Suara mesin pesawat menjadi latar percakapan mereka.
Brian memecah lagi.
“Dua bulan lo hilang dari kokpit. Kecelakaan itu hampir bikin gue kehilangan partner terbaik gue. Dan sekarang lo balik… tapi kayak bukan lo yang dulu.”
Alexander menarik napas panjang.
“Apa gue kelihatan seburuk itu?”
“Bukan buruk,” jawab Brian jujur. “Cuma… kayak ada sesuatu yang lo tinggalin di darat.”
Kalimat itu tepat sasaran.
Alexander tersenyum tipis tanpa humor.
“Mungkin memang ada.”
Brian menaikkan alis.
“Cewek?”
Alexander terdiam.
Itu sudah cukup jadi jawaban.
Brian hampir tersedak tawa kecil.
“Gue tunggu momen ini setahun, Alex. Setahun lo anti banget sama perempuan. Semua orang pikir lo arogan, dingin, terlalu tinggi buat disentuh.”
“Dan?”
“Dan sekarang lo kelihatan kayak pria yang hatinya baru dihajar.”
Alexander menelan ludah.
Ia menatap awan putih di depan.
“Dia belum sadar.”
Brian tak lagi bercanda.
“Sakit?”
“Ditembak.”
Brian membeku.
“Damn…”
Alexander mengangguk pelan.
“Dua bulan di ICU. Masih koma.”
Ruangan kokpit terasa lebih sunyi.
Brian menatap sahabatnya dengan cara berbeda sekarang.
“Dan lo jatuh cinta sama dia?”
Alexander tersenyum lemah.
“Kayaknya udah dari lama. Cuma gue yang terlalu bodoh buat ngaku.”
Brian mengangguk pelan.
“Akhirnya manusia juga lo.”
Alexander terkekeh kecil.
“Gue takut.”
“Kehilangan dia?”
“Takut dia bangun… dan pilih orang lain.”
Kejujuran itu keluar begitu saja.
Brian menatapnya beberapa detik.
“Lo tau apa yang paling gue takutkan waktu kecelakaan lo kemarin?”
Alexander meliriknya.
“Gue takut lo pergi tanpa pernah hidup. Lo selalu sukses. Selalu hebat. Tapi jarang banget gue lihat lo benar-benar merasa sedikit mau mati.” terkikik sebentar.
Ia menepuk ringan bahu Alexander.
“Kalau cewek itu bikin lo rapuh… berarti dia bikin lo hidup.”
Alexander kembali menatap langit.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menyembunyikan apa pun.
Di bawah sana, ribuan meter di bawah awan, seorang gadis masih terbaring dalam tidur panjangnya.
Dan di atas sini, seorang pria yang dikenal dingin dan angkuh—
Akhirnya belajar mengakui bahwa ia bisa patah.
“Gue bakal balik secepat mungkin,” gumam Alexander pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Brian tersenyum tipis.
“Pastikan saat lo mendarat nanti… dia juga sudah siap bangun.”
Pesawat terus melaju stabil.
Di atas awan yang sama—
Hati Alexander tidak lagi sekeras baja.
Ia kini hanya seorang pria yang sedang menunggu keajaiban.