Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Sesak di dada Luna sudah mencapai puncaknya. Bayangan Zayn bersama wanita lain di London bertindak seperti racun yang membakar kewarasannya. Dengan tangan gemetar, ia mengetuk pintu kamar Hera. Berbeda dengan Luna, Hera adalah badai yang tak terduga; ia punya seribu cara untuk menipu sistem keamanan ayah mereka.
"Antar aku ke markas The Pit, Hera. Tolong," bisik Luna dengan mata sembab.
Hera hanya butuh satu lirikan untuk memahami kehancuran kakaknya. "Pakai jaketku, tutup kepalamu. Aku akan bilang pada pengawal kalau kita mau ke butik ibu untuk fiting baju darurat. Mereka tidak akan berani masuk ke ruang ganti."
Rencana itu berhasil. Lewat pintu belakang butik yang terhubung dengan gang sempit, Hera memacu mobilnya membelah malam menuju pinggiran kota yang kumuh.
Saat sampai di markas yang beraroma oli dan kebebasan itu, Luna melangkah masuk dengan kaki gemetar. Di sudut ruangan yang remang, Zayn sedang duduk sendirian, memutar-mutar bola basket di jarinya, kebiasaan lamanya saat sedang kalut.
"Zayn... aku ingin bicara," suara Luna pecah di tengah keheningan.
Zayn mendongak. Matanya yang kelabu tampak lebih gelap dari malam di luar. "Bicara soal apa, Tuan Putri? Bukankah duniamu terlalu bersih untuk tempat ini?"
"Aku ingin bicara, Zayn!" Luna mendekat, air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah membasahi pipinya.
Zayn bangkit dari duduknya, namun bukannya mendekat, ia malah berjalan menuju area belakang yang lebih gelap, mencoba menghindari konfrontasi. Tapi Luna mengejarnya. Ia memukuli dada bidang Zayn dengan kepalan tangan kecilnya, meluapkan seluruh rasa sakit yang dipendamnya selama dua tahun.
"Kamu jahat, Zayn! Kamu jahat!" teriak Luna terisak. "Apa kamu benar-benar tidak bisa memaafkan aku? Apa sesingkat itu kamu melupakanku? Hanya aku di sini yang masih gila mengenang masa lalu kita!"
Zayn menangkap kedua pergelangan tangan Luna, menahannya dengan kuat. Napasnya memburu. "Pulanglah, Luna. Jangan lagi ke sini. Ayahmu bisa menghancurkan mu jika tahu kau ada di tempat sampah ini."
"Zayn... aku dengar kau sudah punya kekasih di London," lirih Luna, suaranya melemah.
"Bolehkah aku... karena kau sudah memiliki orang lain... bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali? Setelah ini aku akan pergi."
Zayn terdiam lama, sebelum akhirnya lengannya melingkar di tubuh Luna, menarik gadis itu ke dalam dekapan yang sangat ia rindukan. Namun, dalam pelukan itu, Luna mendongak. Dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan, ia menarik leher Zayn dan mencium pria itu dengan penuh tuntutan, sebuah ciuman yang meledakkan seluruh dinding pertahanan yang Zayn bangun selama dua tahun.
Zayn terkejut, namun tubuhnya mengkhianati logikanya. Ia membalas ciuman itu dengan rasa lapar yang sama.
"Zayn... kuminta malam ini saja. Jadilah milikku untuk terakhir kalinya," bisik Luna di sela napas mereka yang memburu.
Zayn menatap mata Luna yang basah, hatinya hancur melihat sorot putus asa itu. "Aku tidak ingin mengkhianati kekasihku," ucap Zayn, sebuah kebohongan pahit yang ia gunakan untuk menguji Luna.
Mendengar itu, Luna semakin terisak. "Untuk yang terakhir, Zayn. Tolong. Setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi. Biarkan aku memiliki kenangan ini sebelum kau benar-benar menjadi milik orang lain."
Malam itu, di kamar khusus tempat istrahat Zayn, di bagian belakang markas, mereka kembali menyatu. Dua tahun perpisahan membuat setiap sentuhan terasa seperti sengatan listrik. Erangan Zayn yang berat dan maskulin masih terdengar sama di telinga Luna, membawa kembali memori Mansion Zayn, ruang basket dan kolam renang yang dulu mereka huni.
Zayn menggempur Luna dengan ritme yang penuh emosi, campuran antara rindu, benci, dan cinta yang tak kunjung padam. Saat puncaknya hampir tiba, Zayn mencoba menarik dirinya keluar, ingin melepaskannya di luar untuk melindungi Luna.
Namun, tangan Luna mencengkeram pinggang Zayn dengan kuat, menarik pria itu kembali masuk sedalam mungkin.
"Jangan dikeluarkan di luar, Zayn... tetap di dalam," bisik Luna dengan suara serak. "Aku sedang tidak dalam masa subur. Aku ingin merasakan mu sepenuhnya... untuk yang terakhir kali."
Zayn tidak bisa menolak. Ia mengerang keras, melepaskan seluruh beban dan kerinduannya di dalam rahim Luna, membiarkan benihnya menetap di sana.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰