Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Restoran
"Tingkat dua!"
Sekitar pukul sebelas, Leon menerobos ke tahap pemurnian qi level kedua. Matahari sudah hampir tegak lurus di atas langit. Karena masih ada waktu sebelum dia berangkat menuju restoran, Leon berniat menstabilkan energi qi atau yang sering disebut mana yang tengah bergejolak di dalam tubuh akibat peningkatan level.
Alarm gelang EP berbunyi tepat pada pukul setengah dua belas. Energi di dalam tubuhnya sudah cukup stabil.
"Sejak kemarin siang, aku sudah menghabiskan sekitar 120 gram kristal merah untuk naik level. Dan ini masih pada tahap pemurnian qi."
Dia harus menambah lebih banyak karyawan supaya tidak khawatir akan kekurangan sumber daya seiring peningkatan kultivasi!
Sama seperti kemarin, Leon mulai berkultivasi setelah makan bersama dengan Viona dan para pekerja renovasi. Ketika jadwal pulang tiba, Viona memberitahu Leon bahwa dia sudah berkomunikasi dengan 32 pelamar, dan memilih 14 orang yang akan dipekerjakan sebagai karyawan tetap.
"Bagaimana dengan surat perjanjian kontrak kerja mereka?"
"Saya sudah membuatnya sesuai perkataan pak Leon."
Viona menyerahkan sejumlah halaman kepada Leon yang segera dia baca. Semua koki adalah pria. Tiga diantaranya berusia dua puluhan, sedangkan satu berusia lebih dari tiga puluh.
Kemudian ada dua petugas kasir yang merupakan perempuan berusia 22 dan 24 tahun. Dilanjutkan dengan empat waiters yang melayani para pengunjung, dua pria dan dua wanita. Seorang gadis berusia 18 tahun, sedangkan tiga lainnya berusia dua puluhan.
Terakhir adalah empat pria yang bekerja sebagai security. Keempatnya memiliki badan yang cukup berisi, satu dengan usia dua puluhan, sisanya berusia kepala tiga. Nantinya, mereka berempat akan dibagikan shift kerja yang sesuai agar pos jaga di depan restoran dapat diisi selama 24 jam. Tentu saja security yang bertugas akan tidur pada malam hari, namun setidaknya akan ada seseorang di pos tersebut.
"Dan tanda tangan kontraknya?"
"Mereka akan datang besok pak."
"Bagus."
Leon mengangguk menyetujui kinerja cepat Viona.
Keesokan harinya, Leon membuat lima adonan bakwan sayur baru karena di dalam inventory hanya tersisa sedikit. Sementara itu, stok mie goreng belum berkurang bahkan setengahnya.
Leon tiba di restoran pada siang hari seperti biasa. Sementara para pekerja baru menyelesaikan pekerjaan, Viona, supervisor, dan mandor sedang melakukan pengecekan akhir.
"Dimana orang-orang kita?"
Leon bertanya kepada Viona yang berjalan mendekat.
"Mereka ada di dalam pak, sedang melakukan pengukuran badan dengan petugas toko pakaian yang sudah kita hubungi."
"Beritahu petugas toko pakaian untuk menundanya sementara. Ajak semua orang untuk makan siang bersama tim renovasi."
"Baik pak Leon."
Pekerja renovasi yang datang hari ini hanya berjumlah 4 orang. Mengingat ini merupakan hari terakhir, dan tidak banyak pekerjaan yang tersisa. Namun jumlah piring lebih banyak dibandingkan hari pertama dan kedua. Hal ini dikarenakan ada 14 orang pegawai baru, serta tambahan 2 orang petugas dari toko pakaian.
"Waaaah, kita diberikan makan siang mie oleh bos!"
"Aku belum pernah makan mie sebelumnya."
"Ini merupakan hari keberuntunganku."
Pegawai baru merasa bersukacita melihat makanan yang diberikan oleh Leon, termasuk kedua petugas dari toko pakaian. Sementara orang-orang dari tim renovasi sudah merasakannya sejak dua hari lalu, wajah mereka juga menunjukkan ekspresi lega seolah sudah menantikan makan siang ini.
"Selamat makan!"
"""Selamat makan!!!"""
Dengan aba-aba Leon, semua orang mulai menikmati piring masing-masing.
"Sangat lezat!"
"Apakah mie memang seenak ini?"
"Tidak! Aku sudah pernah makan mie sebelumnya. Tapi rasanya sangat jauh dibandingkan mie ini."
"Itu benar. Ini adalah mie terenak yang pernah aku makan."
"Kue ini juga sangat enak."
"Jika ini menu yang akan dijual restoran, aku yakin banyak orang yang akan datang."
Para pegawai baru saling berbisik. Sepertinya mereka sudah saling berkenalan satu sama lain.
*****
Lima hari kemudian, tepatnya pada hari Rabu, restoran permata ungu akhirnya memulai hari pertama.
Restoran buka dari jam 11 siang hingga jam 9 malam. Dengan pembagian shift makan siang dan shift makan malam masing-masing 2 orang koki, 1 kasir, dan 2 waiters. Viona juga akan mulai merekrut pekerja paruh waktu jika bisnis berjalan lancar dan restoran menjadi semakin ramai.
Hal tersebut juga membuat Leon penasaran. Apakah menambah pekerja paruh waktu juga akan menambah koin bintang ungunya?
"Lihat pak, itu Erick dan orang-orang dari serikat bebas."
"Itu bagus."
Beberapa hari sebelumnya, Leon menghubungi Zahed, pria paruh baya dari serikat bebas yang membantu Leon menemukan restoran ini, untuk mengajak orang-orang dari serikat bebas menikmati makan siang pada hari pembukaan restoran secara gratis.
Sementara orang-orang yang dibawa oleh Zahed terlihat cukup tua, yang mungkin memiliki jabatan yang cukup penting dalam serikat, Zahed juga membawa bawahannya, Erick, pria berkacamata yang merupakan kakak dari Viona.
"Terimakasih sudah menerima undangan saya pak Zahed. Selamat datang di restoran permata ungu."
"Hohohoho, tentu saya tidak akan menolak kebaikan pak Leon. Mari perkenalkan, ini adalah pak Sintong, manager cabang kami."
Zahed menunjukkan pria di sampingnya, seorang pria paruh baya yang mengenakan kacamata. Seperti campuran antara Zahed dan Erick.
"Terimakasih sudah mau datang ke pembukaan restoran kami, pak Sintong. Saya harap anda menikmati hidangan yang ditawarkan."
"Terimakasih juga sudah mengundang kami dari serikat bebas pak Leon. Saya harap restoran anda berjalan lancar dan membuka cabang-cabang baru."
Setelah duduk, Leon memperlihatkan menu yang ada.
"Restoran kami cukup sederhana. Untuk saat ini, hanya ada dua menu yang tersedia. Menu rekomendasi kami adalah menu nomor 1, indahmie mie goreng."
Ketika yang lain melihat foto makanan pada menu, Zahed bertanya pada Leon.
"Bukankah selama tiga hari ini kalian memberi diskon 50%?"
"Itu benar."
"Lalu harga 100 dollar ini?"
"Tentu saja itu harga sebelum diskon. Selama tiga hari ini, hanya dengan 50 dollar, semua orang dapat menikmati makanan enak dengan puas. Tentu tamu yang saya undang, seperti kalian yang berasal dari serikat bebas, tidak perlu membayar."
Sebenarnya Leon hanya menghubungi Zahed untuk membawa rombongannya dari serikat bebas. Tapi jika mereka tahu bahwa hanya rombongan mereka yang diberikan makan secara gratis, mungkin mereka akan merasa sungkan.
"Kalau begitu saya akan mencoba menu rekomendasi restoran ini. Bagaimana dengan kalian?"
"Sama disini."
"Aku juga."
Dengan permulaan manager Sintong, sembilan orang lainnya ikut memilih indahmie mie goreng. Leon menyerahkan pesanan kepada waiters yang menunggu di sampingnya. Sambil menunggu hidangan datang, Leon menikmati percakapan ringan dengan orang-orang dari serikat bebas.
"Apakah anda bisa memperoleh keuntungan dengan harga ini?" Salah seorang wanita paruh baya bertanya kepada Leon dengan niat baik.
"Meski sedikit, perhitungan yang saya lakukan masih menghasilkan laba."
Kemudian pria lain di sebelah wanita tersebut bertanya.
"Bahan makanan yang restoran ini gunakan darimana saja pak Leon?"
Dengan senyum bisnis, Leon menepis pertanyaan tersebut. Kalaupun mereka nanti mencari tahu secara mendalam, dan menemukan bahwa sumber tidak berasal dari perusahaan manapun, Leon dengan mudah dapat mengatakan bahwa semua bahan berasal dari luar kota. Tidak ada hukum di kota Erulean yang melarang hal tersebut.
Selain itu, tidak ada produk makanan daging. Jadi tidak ada resiko sedikitpun, seperti mantan hotel tempat Viona bekerja yang memperoleh daging dari pedagang gelap negara Innosia.
Hanya dalam waktu singkat, sepuluh porsi hidangan tersedia di hadapan semua orang.
"Kalau begitu selamat makan."
"""Selamat makan!"""
Dimulai dari manager Sintong, yang lain ikut menikmati mie goreng. Raut wajah mereka menunjukkan keterkejutan dengan rasa indahmie yang nikmat. Ketika mencoba bakwan sayur, masing-masing dari mereka juga menunjukkan wajah yang puas.
"Sangat enak."
"Mmm..."
"Bahkan harganya cukup terjangkau sehingga kita dapat sering berkunjung."
Leon mengangguk puas dengan hasil yang ditunjukkan. Leon berharap mereka akan memberitahu koneksi mereka dari kalangan menengah ke atas untuk mencoba berkunjung di restoran ini.
"Para pelanggan terlihat puas."
"Tapi kita butuh lebih banyak lagi pak."
"Hahahaha, mari kita lakukan secara perlahan-lahan."
Viona mungkin berpikir bahwa restoran mereka hanya memperoleh sedikit keuntungan, mengingat harga menu adalah 100 dollar. Namun dari sudut pandang Leon, satu porsi hidangan setara dengan 1 gram emas di kota Erulean.
Jika dia menukar emas dengan rupiah di bumi, kemudian membeli kebutuhan restoran seperti indahmie, sayur, tepung, dll, seberapa menguntungkankah itu? Setidaknya Leon akan memperoleh keuntungan ratusan kali lipat!