Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Dinding Kaca yang Tak Kasatmata
Kehancuran tidak selalu datang seperti badai yang merobohkan segalanya dalam semalam. Bagi Dimas, pembalasan dendam yang paling manis adalah yang terasa seperti pasir di dalam sepatu kecil, mengganggu, namun lama-kelamaan membuat langkah kaki tak lagi bisa berjalan.
Satu per satu, suplier bahan baku cafe Reina mulai memutus kontrak dengan alasan stok yang menipis. Tagihan listrik dan air di rumah mereka membengkak secara misterius karena adanya kebocoran teknis yang tak kunjung selesai. Reina mulai panik, namun ia masih memiliki simpanan perhiasan dan tas bermerek yang bisa ia jual. Ia belum jatuh miskin, namun rasa cemas mulai menggerogoti jiwanya yang angkuh.
Namun, di balik strateginya yang berjalan sempurna, ada lubang besar di hati Dimas. Lubang itu bernama Kathryn.
Sudah satu minggu ini, setiap kali Dimas berkunjung ke rumah keluarga Danola dengan alasan mengecek kesehatan Sean pasca rawat, Kathryn selalu menemukan alasan untuk menghilang. Jika Dimas datang, Kathryn tiba-tiba teringat ada tugas kuliah yang harus diselesaikan di kamar. Jika mereka berpapasan di ruang tamu, gadis itu hanya akan menunduk, mengucap salam dengan nada paling formal yang pernah Dimas dengar, lalu bergegas pergi.
Dimas tahu apa yang terjadi. Kathryn sedang membangun dinding.
Sore itu, langit Dharmawangsa berwarna jingga kemerahan. Dimas baru saja selesai memeriksa suhu tubuh Sean di ruang tengah. Paul sedang keluar untuk urusan bisnis, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara Dimas dan Kathryn yang berdiri di dekat meja makan, sibuk merapikan mainan Sean.
"Suhu tubuhnya sudah stabil, Kathryn. Dia tidak perlu obat lagi," ujar Dimas, mencoba mencairkan suasana.
Kathryn hanya mengangguk tanpa menatap Dimas. "Terima kasih, Dokter Dimas. Saya rasa Sean sudah bisa beraktivitas normal kembali. Maaf jika kunjungan ini menyita waktu praktik Anda."
Panggilan 'Dokter Dimas' dan nada bicara yang begitu berjarak itu terasa seperti sembilu bagi Dimas. Ia meletakkan tas medisnya dengan sedikit kasar di atas meja, membuat Kathryn tersentak kecil.
"Kenapa, Kathryn?" tanya Dimas rendah.
"Apanya yang kenapa, Dokter?" Kathryn masih berusaha sibuk dengan kotak mainan di tangannya.
"Kenapa kamu menghindar? Kenapa kamu seolah-olah menganggapku sebagai orang asing yang berbahaya? Padahal minggu lalu kita masih bisa tertawa bersama di taman ini."
Kathryn terdiam. Bahunya sedikit bergetar. Ia meletakkan kotak mainan itu, lalu menoleh perlahan. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, memancarkan kesedihan yang mendalam. "Karena saya sadar diri, Dokter. Saya bukan siapa-siapa. Dan saya tidak ingin menjadi alasan hancurnya rumah tangga orang lain."
"Rumah tanggaku sudah hancur jauh sebelum aku mengenalmu, Kathryn!"
"Tapi orang lain tidak tahu itu!" balas Kathryn dengan suara tertahan. "Di mata dunia, Anda adalah suami orang. Dan jika saya terus membiarkan Anda datang ke sini, jika saya terus merasa nyaman dengan kehadiran Anda, maka saya tidak ada bedanya dengan perempuan perusak hubungan orang lain yang sering dihina orang. Saya tidak ingin merusak nama baik keluarga Danola, dan saya tidak ingin melukai harga diri saya sendiri."
Kathryn berbalik, hendak lari menuju dapur, namun tangan Dimas yang besar dan hangat dengan cepat menangkap pergelangan tangannya. Dengan satu gerakan lembut namun tak terbantahkan, Dimas menarik Kathryn menuju pintu belakang yang terhubung langsung dengan taman kecil di belakang rumah.
Taman belakang itu sunyi. Hanya ada suara gesekan daun pohon mangga dan gemericik air dari kolam ikan kecil. Dimas melepaskan tangan Kathryn, namun ia berdiri tepat di depan gadis itu, menutup jalan keluarnya.
"Bicaralah padaku, Kathryn. Jangan hanya diam dan menghindar," pinta Dimas. Suaranya terdengar begitu rapuh, sangat kontras dengan sosok dokter berwibawa yang selama ini dikenal orang.
Kathryn menyandarkan punggungnya pada pilar kayu teras. Ia menunduk, menatap ujung kakinya. "Apa yang harus saya bicarakan, Dokter? Kenyataannya tidak akan berubah. Anda punya istri, dan saya... saya hanyalah mahasiswi yang kebetulan Anda tolong. Kita tidak seharusnya sedekat ini."
Dimas melangkah satu langkah lebih dekat. Ia bisa mencium aroma lembut sabun bayi dan vanila dari tubuh Kathryn. Ia menunduk, memaksa Kathryn untuk menatap matanya.
"Tatapanmu kemarin tidak mengatakan hal yang sama, Kathryn. Saat kita duduk di bangku taman itu, aku melihat ada kedamaian yang sama di matamu dengan apa yang aku rasakan. Apa itu salah?"
Kathryn mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Dimas yang begitu lembut dan memohon. "Itu salah karena Anda tidak bebas, Dokter Dimas. Setiap kali saya melihat wajah Anda, saya teringat wanita di lobi rumah sakit itu. Saya teringat bahwa saya sedang bermain dengan api. Saya takut... saya takut jika saya terlalu jauh melangkah, saya tidak akan bisa kembali lagi."
Dimas menghela napas panjang. Ia mengangkat tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk mengusap air mata yang mulai jatuh di pipi Kathryn. Sentuhannya sangat ringan, seolah takut Kathryn akan hancur jika ia menekannya terlalu keras.
"Dengarkan aku baik-baik," bisik Dimas. "Pernikahanku dengan Reina hanyalah sebuah status di atas kertas yang sedang aku proses untuk diakhiri. Aku tidak mencintainya, dan dia tidak pernah menghargaiku. Bertahun-tahun aku hidup dalam kegelapan, Kathryn. Dan kamu... kamu adalah satu-satunya cahaya yang membuatku ingin tetap menjadi manusia."
Kathryn terisak pelan. "Tapi kenapa harus saya, Dokter? Ada banyak wanita lain yang lebih pantas, yang tidak memiliki beban keluarga seperti saya."
"Karena hanya kamu yang melihat Dimas yang biasa. Bukan Dimas sang dokter, bukan Dimas sang menantu, tapi hanya Dimas," sahut Dimas tulus. "Aku memohon padamu, jangan tutup pintunya. Jangan biarkan aku kembali ke kegelapan itu sendirian."
Kathryn terdiam seribu bahasa. Ia merasakan ketulusan yang luar biasa dari getaran suara Dimas. Ia ingin sekali memeluk pria itu, memberikan kekuatan, namun dinding moral di hatinya masih berdiri kokoh.
"Saya butuh waktu, Dokter Dimas," ujar Kathryn akhirnya dengan suara serak. "Saya tidak bisa memberikan janji apa pun selama status Anda belum jelas. Saya menghormati Anda, tapi saya lebih menghormati diri saya sendiri."
Dimas menatap Kathryn dengan tatapan yang sulit diartikan ada rasa sakit, namun juga ada rasa kagum yang besar terhadap prinsip gadis itu. Ia mengangguk pelan, memberikan jarak kembali bagi Kathryn untuk bernapas.
"Aku mengerti. Aku akan menunggu. Aku akan membereskan segalanya, Kathryn. Dan saat saat itu tiba, aku harap kamu masih ada di sini, menungguku di balik pintu ini."
Tanpa menunggu jawaban, Dimas berbalik dan berjalan keluar melalui gerbang samping, meninggalkan Kathryn yang terduduk lemas di bangku taman. Di dalam rumah, Sean memanggil-manggil nama 'Onty Kath', namun Kathryn masih terpaku di sana, menyentuh pipinya yang tadi diusap oleh Dimas.
Sementara itu, di rumah besarnya yang mulai terasa sepi, Reina sedang menatap tumpukan surat tagihan yang mulai menumpuk. Ia merasa ada yang aneh. Kenapa semua masalah ini datang secara bersamaan? Ia mencoba menelpon temannya, namun mereka semua mendadak sibuk.
Reina melemparkan ponselnya ke sofa. "Dimas... ini pasti gara-gara dia membawa sial! Sejak dia pergi, semuanya jadi berantakan!"
Ia tidak tahu bahwa di sebuah gedung pencakar langit di pusat kota, tim pengacara Dimas sedang menyusun dokumen gugatan cerai sekaligus bukti-bukti penyelewengan dana yang dilakukan Reina selama mengelola aset keluarga. Dimas tidak hanya ingin pergi, ia ingin memastikan bahwa saat ia pergi, Reina tidak akan memiliki satu pun duri yang bisa ia gunakan untuk melukai orang lain lagi.
Pembalasan itu akan segera mencapai puncaknya. Dan saat mahkota Reina jatuh ke lantai, Dimas sudah bersiap untuk membangun kerajaan baru bersama satu-satunya orang yang mencintainya saat ia bukan siapa-siapa.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰