Adam Al-Fatih (40) adalah potret kesempurnaan: CEO miliarder yang gagah, karismatik, dan taat beribadah. Di Jakarta, ia memiliki Khadijah, istri saleha yang menjadi pilar kekuatannya sejak masa sulit. Namun, takdir membawa langkah Adam melintasi benua, dari romantisme Paris, kemegahan Istanbul, hingga hiruk-pikuk New York. Di setiap kota tersebut, Adam bertemu dengan wanita-wanita luar biasa yang tengah terhimpit badai kehidupan.
Demi sebuah wasiat rahasia sang kakek dan misi kemanusiaan yang mendalam, Adam akhirnya menikahi Isabelle, Aisha, dan Sarah. Publik mencibirnya sebagai lelaki yang mabuk poligami di puncak dunia. Namun, sebuah rahasia medis yang pedih tersimpan rapat di balik pintu kamarnya: Adam menderita impotensi akibat kecelakaan masa lalu.
Ketiga pernikahan di luar negeri itu hanyalah "sajadah perlindungan". Adam mengorbankan reputasi dan perasaannya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja di Bawah Menara Eiffel
Gerimis tipis yang mengguyur Paris sejak pagi meninggalkan jejak embun di kaca jendela suite Hôtel Plaza Athénée. Adam Al-Fatih berdiri mematung, menatap pantulan dirinya di cermin besar yang berbingkai emas. Ia baru saja mengenakan setelan jas navy blue potongan Savile Row yang membungkus sempurna tubuh tegapnya. Di balik penampilan yang nampak begitu mapan dan tak bercela itu, Adam merasakan denyut kecemasan yang halus di pelipisnya.
Pertemuannya dengan Isabelle kemarin di tepi Sungai Seine bukan sekadar pertemuan bisnis biasa. Ada sesuatu dalam tatapan wanita itu—sebuah luka yang dalam dan kesepian yang berkerak—yang membuat Adam tidak bisa tidur dengan tenang. Ia teringat kembali pada baris-baris wasiat kakeknya yang ia simpan dalam brankas digital pribadinya. “Jika kau menemukan jiwa yang tersesat di tanah tempat kakekmu dulu berjuang, jangan kau biarkan ia jatuh. Karena harta Al-Fatih bukan untuk memperkaya diri, tapi untuk memuliakan manusia.”
Adam menghela napas, jemarinya merapikan dasi sutra berwarna gelap. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja marmer. Ada tiga panggilan tak terjawab dari Khadijah di Jakarta. Ia segera melakukan panggilan balik, hatinya sedikit bergetar. Baginya, Khadijah adalah kompas. Sejauh apa pun ia melangkah ke penjuru dunia, suara Khadijah adalah titik nol tempatnya kembali.
“Assalamualaikum, Mas Adam. Kenapa baru menelepon? Suaramu terdengar lelah sekali,” suara Khadijah di seberang sana langsung menyapu kegelisahan Adam. Wanita itu selalu punya indra keenam jika menyangkut suasana hati suaminya.
“Waalaikumussalam, Dijah. Maaf, semalam ada urusan mendadak dengan mitra di sini. Paris sedang dingin, dan sepertinya jadwal di sini akan sedikit lebih panjang dari rencana awal,” jawab Adam, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. Ada sedikit rasa sesak saat ia harus menyembunyikan detail pertemuannya dengan Isabelle. Bukan karena ia berniat jahat, tapi karena ia sendiri belum paham ke mana takdir ini akan membawanya.
“Jangan terlalu memaksakan diri, Mas. Ingat kata dokter, jantungmu butuh istirahat. Jangan lupa zikir paginya, ya,” pesan Khadijah dengan nada yang begitu tulus.
“Iya, Sayang. Aku selalu ingat. Jaga anak-anak, ya. Aku tutup dulu, Reza sudah menunggu.”
Setelah menutup telepon, Adam terdiam cukup lama. Ia merasa seperti seorang aktor yang sedang memerankan peran sempurna, padahal di balik layar, ia sedang meraba-raba skenario Tuhan yang semakin rumit. Ia melangkah keluar kamar, di mana Reza sudah berdiri dengan tablet di tangan dan wajah yang serius.
“Pak Adam, Mademoiselle Isabelle sudah menunggu di lobi. Namun, ada laporan dari tim pemantau. Sejak kejadian di tepi Seine kemarin, ada dua mobil hitam yang terus mengikuti pergerakan kita. Saya sarankan kita menambah pengawalan dari agen lokal,” lapor Reza dengan suara rendah.
Adam hanya mengangguk kecil. Wajahnya yang tampan nampak mengeras. “Lakukan apa yang menurutmu terbaik, Rez. Tapi jangan sampai mencolok. Saya tidak ingin Isabelle merasa ketakutan. Dia sudah cukup menderita dengan tekanan dari keluarganya.”
Mereka turun ke lobi. Di sana, Isabelle berdiri di dekat air mancur kecil, mengenakan gaun formal berwarna emerald dengan mantel hitam yang elegan. Karismanya sebagai pengacara kelas atas Paris nampak jelas, namun saat matanya bertemu dengan mata Adam, ada kilatan kerapuhan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Selamat pagi, Monsieur Adam. Saya harap kejadian kemarin tidak membuat Anda kapok mengunjungi Paris,” sapa Isabelle dengan senyum tipis yang nampak dipaksakan.
“Kejadian kemarin justru membuat saya menyadari bahwa Paris butuh lebih dari sekadar investasi baja, Isabelle. Paris butuh keadilan,” balas Adam dengan suara yang menenangkan.
Mereka bergerak menuju mobil yang sudah menunggu. Di dalam kendaraan yang melaju membelah jalanan Avenue Montaigne, suasana terasa cukup sunyi. Adam sengaja tidak membuka pembicaraan bisnis. Ia membiarkan Isabelle menenangkan diri.
“Kenapa Anda menyelamatkan saya semalam? Padahal Anda bisa saja lari dan membiarkan saya berurusan dengan mereka,” Isabelle akhirnya memecah keheningan. Matanya menatap lurus ke arah jalanan yang basah.
Adam menoleh, menatap Isabelle dengan tatapan teduh namun dalam. “Dalam keyakinan saya, Isabelle, menyelamatkan satu nyawa sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Lagipula, saya merasa ada amanah yang belum selesai antara keluarga saya dan keluarga Anda. Kakek saya bukan tipe pria yang meninggalkan jejak tanpa alasan.”
Isabelle terdiam. Kalimat Adam selalu terasa seperti air yang menyiram api di dalam dadanya. Selama ini, hidupnya di Paris hanya dipenuhi dengan transaksi, pengkhianatan di ruang sidang, dan persaingan yang tak ada habisnya. Ia tidak pernah bertemu dengan pria yang bicara tentang amanah dan nyawa dengan ketulusan seperti Adam.
“Dokumen yang mereka cari itu... itu adalah akta kepemilikan lahan panti asuhan tempat ibu saya tumbuh besar. Keluarga paman saya ingin menjualnya untuk membangun kasino mewah. Saya satu-satunya yang memegang bukti bahwa lahan itu tidak boleh dialihfungsikan sesuai wasiat donatur misterius dari Timur, yang sekarang saya tahu itu adalah kakek Anda,” Isabelle menjelaskan dengan suara yang mulai bergetar.
Adam mendengarkan dengan saksama. Ia mulai menyambungkan potongan-potongan puzzle tersebut. Kakeknya dulu adalah donatur utama panti asuhan tersebut sebagai bentuk syukur atas keberhasilan bisnis pertamanya di Eropa. Dan kini, musuh-musuh bisnis kakeknya bekerja sama dengan keluarga Isabelle yang serakah untuk menghapus jejak kebaikan itu.
“Anda tidak sendiri, Isabelle. Saya akan memastikan panti asuhan itu tetap berdiri. Bukan hanya karena bisnis, tapi karena itu adalah bagian dari sajadah kakek saya di tanah ini,” tegas Adam.
Sore itu, mereka sampai di sebuah taman kecil di belakang Sacré-Cœur. Dari sana, Paris nampak begitu luas dan megah. Adam mengajak Isabelle berjalan di antara pohon-pohon yang daunnya mulai menguning. Angin musim gugur menerpa wajah mereka.
“Apa yang akan Anda lakukan sekarang, Monsieur?” tanya Isabelle, menatap langit yang mulai berubah jingga.
Adam mengeluarkan tasbih kayunya, memutar butirannya satu per satu. “Saya harus berangkat ke Istanbul lusa. Ada urusan yang sama mendesaknya di sana. Tapi saya tidak bisa meninggalkan Anda di sini tanpa perlindungan. Musuh-musuh itu tidak akan berhenti.”
Isabelle menatap Adam dengan tatapan tidak percaya. “Istanbul? Kenapa Anda begitu peduli pada saya? Kita baru bertemu beberapa hari.”
Adam berhenti melangkah, berbalik menghadap Isabelle. Jarak mereka cukup dekat hingga Isabelle bisa mencium aroma kayu cendana yang khas dari tubuh Adam. “Tuhan memiliki cara yang unik untuk mempertemukan manusia, Isabelle. Kadang bukan karena keinginan kita, tapi karena kebutuhan jiwa kita untuk saling membantu.”
Adam merogoh saku jasnya, mengambil sebuah kartu kecil berisi nomor kontak darurat tim keamanannya. “Ikutlah dengan saya ke Istanbul. Di sana ada yayasan yang jauh lebih aman untuk Anda sementara waktu, sampai pengacara saya di Jakarta menyelesaikan masalah hukum lahan di Paris ini. Saya tidak menjanjikan kemewahan, tapi saya menjanjikan keamanan.”
Isabelle terpaku. Tawaran itu terdengar gila sekaligus menyelamatkan. Di hadapannya berdiri seorang pria miliarder yang baru dikenalnya, yang menawarkan perlindungan melintasi benua. Ada sesuatu dalam diri Adam yang membuat Isabelle ingin percaya, sebuah kepercayaan yang sudah lama hilang dari hidupnya.
Sementara itu, di balik kerumunan turis yang sedang mengambil foto, seorang pria bermata tajam memperhatikan mereka dengan teropong kecil. Ia kemudian menekan tombol di radio panggilnya. “Target berencana membawa wanita itu keluar dari Prancis. Siapkan pencegatan di bandara Charles de Gaulle.”
Adam tidak tahu bahwa keputusannya menyelamatkan Isabelle akan menjadi awal dari badai yang akan menguji kesetiaannya pada Khadijah. Di bawah bayang-bayang Menara Eiffel yang mulai berpijar, sebuah komitmen baru baru saja diucapkan, dan takdir mulai menenun benang-benang poligami yang tak pernah Adam bayangkan sebelumnya.
Malam itu, sebelum kembali ke hotel, Adam kembali bersujud di atas sajadahnya. Ia menangis dalam diam, meminta penguatan agar niat tulusnya tidak tergelincir menjadi nafsu, dan agar Khadijah di Jakarta diberikan ketabahan atas rahasia yang mulai ia simpan rapat-rapat.