NovelToon NovelToon
Bu CEO Korban Makcomblang

Bu CEO Korban Makcomblang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Berondong / Cinta Beda Dunia / Wanita Karir / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.

Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.

Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.

Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.

Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.

Cover Ilustrasi by ig pixysoul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

"Daf, emangnya kamu betul ada rencana nikahin Arcila? Bukan maksud Ibu nggak setuju, tapi kamu udah ada modalnya buat nafkahin anak orang?" Sri bertanya lima menit setelah Arcila pamitan.

Atas perkataan perempuan muda yang bawain banyak makanan enak ke rumahnya, Sri jadi nggak tenang. Selama ini dia tahu kalau Dafsa kerja keras bukan buat diri sendiri, tapi buat mastiin Sri sama Diva hidup nyaman. Waktu tadi Arcila bilang Dafsa mau nikahin dia, Sri ngeliat sendiri nggak ada reaksi apa-apa dari Dafsa. Anaknya cuma diem, lanjut makan sambil dengerin obrolan yang nggak ada abisnya.

"Betul, ya, Arcila itu anak orang kaya?" Sri mengganti pertanyaan karena Dafsa cuma diem aja, kelihatan banget capeknya.

"Aku udah bilang sama Ibu, kalau keluarga Arcila bukan orang sembarangan. Mereka kaya raya, lebih kaya dari Pak Lurah. Lebih kaya lagi dari Babeh Yahya yang punya banyak tanah. Bahkan lebih kaya lagi dari Koh Anton yang toko sembakonya ada di mana-mana."

Sri melongo waktu Dafsa ngasih tahu lagi soal Arcila. "Jadi itu bener?"

Dafsa cuma ngangguk, tadinya udah mau masuk kamar. Dia capek, mau istirahat. Tapi tiba-tiba Diva muncul lagi terus bilang, "Ibu nggak usah khawatir, sekarang Mas Dafsa udah kaya. Tabungannya udah ratus-ratus juta."

Dafsa langsung boleh. Bukannya nggak seneng Diva ngasih tahu semuanya sama Sri, tapi kalau ditanya dari mana sumber uang itu, gimana Dafsa bisa jawab? Nggak mungkin juga dia cerita kalau emang bener dia sama Arcila nggak ada hubungan apa-apa, soalnya Sri udah kelihatan sayang banget sama Arcila.

Dafsa kayak dipaksa makan buah simalakama.

"Bener itu, Daf?" tanya Sri pelan, takut nyinggung harga diri Dafsa. Di mana pun, uang selalu jadi soal sensitif.

"Iya, Bu," jawab Dafsa pelan, sarat akan kejujuran.

"Tuh 'kan, Bu, Mas Dafsa itu udah kaya. Selain itu Mas Dafsa juga terkenal. Siapa coba, yang nggak tahu ada makcomblang legendaris di rumah ini? Usaha sampingan Mas Dafsa berjalan mulus, bahkan Mas Dafsa pernah terima bayaran 200 dari salah satu kliennya."

Diva emang bocor. Gara-gara omongannya yang jujur itu, Sri sampai melongo nggak percaya.

"Serius itu, Div? Kok bisa bayarannya jadi setinggi itu?"

"Bisa dong, Bu, soalnya klien Mas Dafsa waktu itu orang kaya. Eh, bukan kaya lagi, tapi levelnya udah konglomerat. Gampang buat dia ngasih uang beratus-ratus juta kayak gitu," jawab Diva dengan semangat membara.

"Memangnya apa yang dilakuin sama Dafsa? Nyari kandidat, kan?"

"Iya, Bu, alhamdulilah dapet." Sekarang Dafsa yang jawab, takut banget Diva keceplosan.

"Alhamdulillah." Sri ngucap syukur berulang kali. "Kalau betul kamu serius sama Arcila, jangan ditunda-tunda ya, Daf, nggak baik dia datang ke sini sebagai orang lain. Ibu nggak enak sama tetangga. Segera dihalalkan. Nanti Ibu cari tambahan modal buat biaya nikah kalian berdua," tambahnya ikut semangat.

"Nggak usahlah, Bu, kalaupun aku nikah nanti, aku yang akan nanggung semua biayanya sendiri. Ibu cukup bantu doa supaya semua kerjaanku lancar jaya, klienku makin banyak, dan aku makin dipercaya sama kantor kecamatan," tutur Dafsa sungguh-sungguh. Dia nggak bakalan biarin Sri mikirin soal biaya pernikahan. Itu tanggung jawab Dafsa sebagai laki-laki.

"Doa Ibu selalu ada buat kamu, buat Diva juga. Anak-anak Ibu harus sukses, dunia akhirat."

Dafsa ngangguk pelan. Walaupun mukanya kelihatan datar karena sekali lagi dia beneran capek, tapi dalam hatinya, Dafsa ngaminin doa itu sungguh-sungguh. Doa ibu pasti diijabah, apalagi kalau ibunya kayak Sri yang rajin ibadah sama sedekah.

***

Tiap bangun tidur, Dafsa selalu ngitung mundur dari angka tujuh sampai angka nol. Ada alesannya. Dia pengen menghindar dari kunjungan ke rumah Suseno. Tapi Dafsa sendiri juga tahu dia udah janji sama Arcila buat dateng, dan janji itu nggak boleh dilanggar. Dafsa nggak mau jadi salah satu golongan tiga orang munafik.

Sekarang udah waktunya. Bagi Dafsa sendiri, dia nggak bakalan segan nobatin hari ini jadi hari Minggu terburuk, kalau Arcila makin ngaco. Kemarin-kemarin di depan keluarganya aja, Arcila asbun mau nikah sama Dafsa, apalagi di depan keluarganya sendiri.

"Oke, nggak apa-apa, Daf, paling cuma tiga jam. Semangat!" Dafsa ngangkat kepalan tangannya ke udara. Detik berikutnya, dia malah meringis, ngerasa kelakuannya barusan bikin dirinya sendiri kelihatan canggung. Kadang, Dafsa emang sekaku itu, padahal dia cair banget kalau lagi ngobrol sama banyak orang. Topik apa aja ditrabas, itu karena pengetahuannya luas. Pengalaman hidupnya juga banyak.

Dafsa udah siap-siap pamit sama Sri terus nyalain motor. Dia sengaja nggak mau Arcila jemput ke sini, takutnya perempuan itu aneh-aneh lagi. Sumpah deh, Dafsa kayak punya trauma tersendiri tiap kali mau ketemu sama Arcila.

"Kali ini dia bakal ngapain, ya? Jangan-jangan dia mau bikin rencana pernikahan bulan depan?"

Harusnya dugaan buruk Dafsa nggak mungkin terjadi. Tapi ... hey! Sekarang Dafsa lagi berhadapan sama perempuan paling gila se-Jaksel.

Otak Arcila itu unik, jalan pikirnya langka, nggak bisa disamain sama manusia biasa. Dafsa berharap perempuan kayak Arcila nggak cepet punah. Maksudnya, supaya dunia ini agak berwarna.

Oke. Dafsa buang napas waktu sampe di depan minimarket. Tempat ini udah jadi langganan tiap kali dia ada janji ketemu sama Arcila.

Kali ini Bugatti Arcila yang dateng setelah Dafsa nunggu lima menit. Entah, perempuan itu punya koleksi mobil berapa? Tiap kali mereka ketemu selalu aja mobilnya beda-beda.

Dafsa sempet beli dua minuman dingin kesukaanya. Satu buatnya, satu lagi buat Arcila. Kali aja Arcila mau terima minuman murah dari minimarket, yang harganya sering turun karena promo akhir bulan.

Waktu mobil super mahal itu berhenti tepat di depan minimarket, orang-orang yang nggak sengaja lewat langsung noleh. Dafsa udah mau langsung masuk, nggak mau ada basa-basi di pinggir jalan. Tapi ... Dafsa beneran nggak bisa nebak jalan pikir Arcila.

Sekarang, perempuan yang baru aja keluar dari mobil itu keliatan heboh banget sama bajunya. Arcila pake dress polkadot warna ungu. Satu tangannya sibuk buka payung supaya nggak kepanasan. Turun ke bawah, Arcila pake sepatu warna ungu juga.

‘Ini orang atau terong, ya? Gayanya mencolok bener.’ Dafsa cuma bisa ngomong dalam hati.

"Kenapa diem, Mas? Ayo masuk," ajak Arcila ramah. Suasana hatinya lagi baik.

Dafsa ngangguk, terus masuk ke mobil Arcila. Sekian minggu kenal sama perempuan itu, baru kali ini dia ngeliat Arcila tampil heboh. Biasanya Arcila cuma pake blazer formal, khas kantoran aja.

"Kenapa ngeliatin saya segitunya, Mas? Ada yang aneh?"

Dafsa buru-buru ngedip dua kali. "Maaf, Bu, acara di rumah Kakek Suseno santai atau formal, ya?"

"Santai, kok, kenapa?"

Sebelum jawab pertanyaan itu, Dafsa lihat dulu penampilannya. Dia cuma pake kaos polos warna abu-abu. Nggak mencolok, tapi tetep kelihatan bersahaja.

"Saya takut salah pake baju," jawab Dafsa jujur.

"Hah? Nggak, kok, nggak ada yang salah. Kenapa Mas Dafsa bisa mikir sampai sana?"

"Soalnya Bu Arcila kayak mau ke pesta. Pesta di tepi pantai."

Detik itu juga Arcila langsung noleh. Matanya sedikit sipit, kelihatan banget tersinggung sama omongannya Dafsa. "Aduh, Mas, tolong dibiasain, ya, ini penampilan paling sederhana saya kalau di rumah."

Dafsa melongo. Bener 'kan apa kata dia! Perempuan ini langka, unik, dan ternyata punya selera aneh. Pantes aja waktu pertama kali diundang ke rumahnya, Arcila minta dia pake seragam ASN. Pusing deh kepala Dafsa!

1
yuma
ngakak bangettt anjirr, lgian cuci motor cma pke kolorrr mna wrna kuning🤣🤣
yuma
udahlah daf, klau itu udh jd keputusan arcila. toh gak ada ruginya bagi km
Wulandaey
aihh cila walaupun kesel masi belain kang mas dafsa
Wulandaey
yeu andra suka ikut campur deh🤣 dah nyingkir lah cila sukanya ama mas dafsaa
Nurani Putri
mungkin ini alasan dy di cerai sma istri nya trdahulu kali ya rempong
Nurani Putri
ayoo daf tinggal blg maaf susah btul
ainnuriyati
hahahaa maluu nya sampe ke kolor kolor tu🤣
ainnuriyati
cila bgitu jg krn kepepet daf aslinya ma bener itu
brilliani
ah, tipe cowo rempongg ama sok ngatur ya
brilliani
🤣🤣 dafsa mulai jilat ludah sendiri
Hardy Greez
dicariin cilaa 🤭 papa mertua jg nanyanya ke dafsa yaa
yuma
kasian udah pedeee bgtt🤣🤣
yuma
akhirnya ada hilal cemburu wkwkw
yuma
awass nyesel dafsa🤭
yuma
njrr trnyta udh di jodohin dri orokkkk, cma bda nasib aja
yuma
njrrr smpe di kirain teronggg, aduhhh pusing jga dgn arcilaaa
Caramel
tapii dafsa udh mulai pedulii Ihkk, kecarian jga dia gaada arcila
Caramel
gak espekk bgtt dudanya msh muda, tapi gacor bgtt udh pnya anak 5
Caramel
hmmm yukkk dafsa buka hati, Terima aja cegil itu
Caramel
gak bisa berkata-kata lgi dengan kelakuan gila arcila😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!