Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Pertemuan Menegangkan
Lokasi yang Mahesa tentukan berjarak sekitar kurang dari setengah jam perjalanan saja dari kontrakan Addam. Tak begitu jauh memang. Meski beberapa kali terjebak lampu merah, Addam dan Naya tak membuang banyak waktu untuk tiba di tujuan mereka.
Kafe yang Mahesa pilih berada tepat di pinggir jalan raya dan berkonsep semi out-door. Udara sekitar yang saat itu memang sedang sejuk mungkin menjadi penyebab kebanyakan pengunjung terlihat memilih lokasi di bagian luar kafe.
Dari kejauhan, Addam bisa melihat Mahesa tengah menyesap sebatang rokok diantara sekian orang pengunjung kafe malam itu. Saat itu Mahesa duduk tepat di sebelah pohon palem yang pendek. Jaket kulitnya yang berwarna hitam terlihat menjadi yang paling keren dari sekian banyak orang di sana.
“Nay. Itu temenku yang duduk di sana,” Addam menunjuk Mahesa dengan tatapannya. “Ayo,” katanya seraya mulai melangkah membiarkan Naya mengikutinya di belakang.
“Oh?” Naya belum tahu siapa sebenarnya sosok yang Addam maksud. Gadis itu hanya terus berjalan mengekori Addam.
“Dam!” Pria berjaket hitam itu mengangkat tangannya ke udara.
“Oiy!” balas Addam singkat. Tak lupa pria itu juga ikut mengangkat tangannya ke udara seperti yang temannya lakukan.
Addam menggeser kursi besi untuknya duduk dan mempersilakan Naya duduk di kursi yang masih kosong, di sebelahnya.
Sekarang, dari keempat kursi yang mengelilingi meja, hanya kursi di sebelah Mahesa yang kosong.
“Lo udah lama di sini? Sorry, Bro. Di jalan macet,” Addam mencoba berbasa-basi sebisanya.
Mahesa merespon ucapan Addam dengan tawa ringan. “Enggak juga. Santai aja. Lagian aneh juga kalo Jakarta gak macet.”
“Oh iya. Ini Naya, temen Astrid. Nay, itu Mahesa, temenku,” Addam memperkenalkan Naya pada Mahesa, dan sebaliknya.
Kemudian Naya dan Mahesa saling berjabat tangan setelah mereka diperkenalkan oleh Addam.
“Eh, pesen dulu, pesen,” kata Mahesa menatap Addam dan Naya bergantian.
Naya yang masih merasa canggung hanya melirik Addam sekilas seperti sedang melakukan telepati. Ajaibnya, Addam seperti memahami perubahan sorot mata Naya dan ia segera menekan tombol bulat yang berada di sudut meja untuk memanggil pramusaji.
Sambil menunggu kedatangan pramusaji, Mahesa berinisiatif membuka percakapan diantara mereka.
“Lo beneran tinggal di daerah sini, Dam?” tanya Mahesa.
“Heem. Lagi pengen nyari suasana baru,” Addam tersenyum simpul.
“Enak banget! Pengen ganti suasana tinggal cabut… Perasaan kemaren lo di Tangerang, ya? Sekarang tahu-tahu di mari,” Mahesa menyesap sisa-sisa terakhir rokoknya lalu membenamkannya pada asbak bulat di tepi meja.
“Yaah, enak gak enak, Sa. Nyari-nyari tempat tinggal baru, pindahan barangnya… Gitu lah.”
Lalu tepat ketika Mahesa akan membalas ucapan Addam, seorang pria berpakaian hitam putih datang ke arah mereka kemudian menyodorkan sebuah buku menu.
“Nanti bisa tekan bel lagi ya kalau sudah pilih pesanannya,” kata pramusaji itu. Beberapa detik kemudian ia berbalik dan berjalan entah ke mana.
Addam menerima buku menu itu tapi kemudian ia mengatakan supaya Naya memilih terlebih dulu.
Naya hanya melihat halaman pertama buku menu dan langsung memilih tanpa banyak berpikir. “Aku es coklat aja, less sugar, Kak.” Naya segera menggeser buku menu itu pada Addam.
“Oke,” Addam menerima buku menu itu dan tak lama setelahnya ia menekan bel untuk memanggil pramusaji.
Tak butuh waktu lama, seorang wanita berpakaian hitam putih tampak menghampiri meja mereka dengan membawa sebuah catatan kecil. “Permisi. Ada yang bisa dibantu?”
“Mbak. Saya pesen Hot Latte sama Iced Chocolate. Dua-duanya less sugar,” kata Addam sambil menyerahkan buku menu pada pramusaji itu.
“Baik, Pak. Saya ulangi ya. Satu Hot Latte Less Sugar, satu Iced Chocolate Less sugar?”
“Yap,” Addam hanya menyahut secukupnya.
“Baik, ditunggu ya,” pramusaji itu pun berlalu dari hadapan mereka.
Mahesa berdeham. “Naya. Kamu, kerja di sini?”
“Mm... Enggak. Saya kerja di daerah Gambir-”
“Tapi tinggal di sini?” Mahesa mencoba menebak kalimat yang akan Naya ucapkan.
“Iya,” jawab Naya singkat.
“Ooo...” Mahesa menganggukkan kepalanya. “Kerja apa, Naya?”
“Aku? Editor, Kak. Di perusahaan penerbit,”
“Keren! Berarti kamu udah banyak baca buku, dong?!” Mahesa terdengar semangat.
Naya tampak melengkungkan garis senyum. “Kebanyakan malah,” katanya.
Mahesa mengulum senyum setelah mendengar jawaban Naya. “Gitu dong... Jangan cemberut terus, Naya. Jadi sekarang apa, Dam? Lo mau ngomongin apa?” Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Addam.
Addam menelan salivanya. Ia tengah menyusun kalimat pembuka terbaik untuk mengawali obrolan berat mereka malam itu.
“Jujur gue bingung banget gimana ngomongnya. Tapi sorry, Sa. Lo tahu kasus yang baru-baru ini kejadian lagi, yang orang-orang bilang ‘Kasus Gaun Putih’?” Addam menautkan jarinya dengan sikut yang bertumpu pada meja.
Garis wajah Mahesa terlihat menegang setelah Addam menanyakan hal itu. “Kenapa, Dam? Kenapa sama kasus itu?”
Addam sempat saling berbalas tatapan dengan Naya sebelum dirinya menjawab pertanyaan Mahesa.
Tetapi sebelum Addam sempat mengatakan lebih banyak hal lain, seorang pramusaji keburu datang dan mengalihkan sejenak fokus mereka.
Kini, meja di hadapan mereka menjadi lebih ramai dengan kehadiran segelas coklat dan kopi yang baru saja mendarat tanpa hambatan.
Setelahnya, Addam meraih tas belanja yang ia letakkan di dekat kakinya. Dari tas itu Addam kemudian membuka kotak itu dan meraih gulungan foto yang isinya adalah hal mengerikan yang ingin sekali Addam buang jauh-jauh.
Kedua alis Mahesa tertaut dengan banyak pertanyaan muncul dalam benaknya ketika Addam menyerahkan gulungan foto itu pada dirinya.
“INI APAAN, DAM?!” Mahesa terkejut bukan main melihat isi foto yang Addam berikan.
Pria itu sempat tertegun ketika melihat foto pertama. Lembar demi lembar foto itu ia balik dengan gerakan tergesa.
“Nay. Kamu kasih tahu Mahesa soal voice note dari dek Astrid,” Addam menatap Naya.
Naya mengangguk. Ia segera mencari pesan yang Addam maksud dan menyerahkannya pada Mahesa, sesuai ucapan Addam.
“DASAR PENIPU GAK TAHU MALU!! ANJ*ING LO ORANG GILA!!!”
Itu adalah suara terakhir Astrid yang mereka dengar sebelum Astrid menghilang.
“DAM?! Ini beneran Astrid?!” Mahesa menatap Addam lekat-lekat. Jelas sekali saat itu dirinya merasa sangat terkejut dengan apa yang Addam dan Naya beri tahukan padanya.
“Sa. Sejujurnya gue pengen minta tolong ke lo. Kita udah bikin laporan tentang menghilangnya Astrid. Tapi kita belum dapet kabar lagi soal laporan itu, sampai sekarang, Sa... Gue bingung, gak tahu mesti gimana ...” Addam tampak sedikit mengangkat tautan tangannya ke arah Mahesa, selayaknya orang meminta permohonan. “Gue takut, Sa. Gue takut banget Astrid kenapa-napa. Gue takut orang yang ganggu Astrid ada hubungannya sama ‘Kasus Gaun Putih’ itu, Sa.”
Meski sempat merasa ragu, Naya akhirnya mengusap puncak bahu Addam yang mulai terlihat bergetar ketika pria itu mengatakan permohonannya pada Mahesa.
“Dam? Bentar, bentar. Kita bahas satu-satu,” Mahesa menggulung kembali foto mengerikan yang ada di tangannya. “Antara foto sama voice note ini, mana yang duluan kalian terima?”
“Voice note,” ucap Addam dan Naya bersamaan kemudian mereka saling menatap satu sama lain.
“Hmm...” Mahesa mengusap ujung dagunya. “Terus foto ini kapan diterimanya?”
“Tadi siang,” jawab Naya segera. “Foto itu dikirim lewat paket ke kontrakan saya…” sambungnya.
Kedua alis Mahesa tertaut. “Serius? Dikirim ke tempat tinggal kamu?”
“Iya. Tapi siang tadi pintunya saya tutup terus, jadi tidak tahu siapa yang kirim. Biasanya kan kalau paket dari ekspedisi itu suka manggil si penerimanya. Ini enggak. Pintu kontrakanku cuma diketok, terus udah. Saya gak langsung samperin soalnya saya kira itu orang iseng,” tutur Naya dengan raut wajah sendu.
Mahesa mendadak terdiam dengan raut wajah yang tampak menegang. Perubahan ekspresinya itu disadari jelas oleh Addam dan Naya.
“Sa?” Addam keheranan.
“Bentar. Gue jadi deg-degan. Orang ini udah tahu rumah kamu, Nay. Itu artinya kemungkinan orang ini udah perhatiin kamu,” ungkap Mahesa.
Deg. Degup jantung Naya seperti berhenti berdetak. Bisa-bisanya hal sebesar dan sepenting itu baru ia sadari sekarang?