NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19~Taman terakhir, janji abadi

Langit sore itu berwarna oranye keemasan.

Matahari perlahan turun di balik gedung-gedung tinggi, dan sinarnya menembus pepohonan flamboyan di Taman Langit, taman yang pernah kami bangun dengan tangan kami sendiri.

Angin berembus lembut, membawa aroma bunga yang sedang mekar — aroma yang dulu selalu jadi latar setiap kenangan kami.

Aku datang ke taman itu karena Raka bilang ingin menemuiku.

“Cuma mau lihat taman,” katanya lewat pesan singkat.

Tapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda sore ini — terlalu tenang, terlalu indah untuk sekadar “lihat taman.”

Ketika aku tiba, taman itu kosong. Hanya ada jejak langkah di jalan setapak menuju kolam kecil di tengah taman.

Aku melangkah pelan ke sana. Setiap langkah terasa seperti menapaki waktu — dari hari pertama kami bertemu di sekolah, hari hujan pertama, hingga malam-malam jarak yang panjang.

Dan di sana, di bawah pohon flamboyan yang kini tumbuh tinggi, aku melihat Raka.

Ia berdiri membelakangi matahari, dengan kemeja putih sederhana, senyum hangat di wajahnya, dan di sekelilingnya ada ratusan bunga kecil berwarna hijau muda — warna yang sama dengan gelang yang selalu kupakai sejak dulu.

“Raka…” aku memanggil pelan.

Dia menoleh, senyumnya melebar. “Kamu datang tepat waktu, kayak biasa.”

Aku menatap sekeliling, takjub. “Kamu… nyiapin semua ini?”

Dia mengangguk. “Taman ini tumbuh karena kita. Jadi aku pikir, kalau aku mau mulai langkah baru, tempat terbaik ya di sini.”

Hatiku berdebar cepat. “Langkah baru?”

Dia berjalan mendekat, jaraknya kini hanya beberapa langkah dariku. “Ly, kamu tahu kenapa aku selalu balik ke taman ini, bahkan setelah semua proyek yang aku kerjain?”

Aku menggeleng pelan. “Kenapa?”

“Karena di taman ini, semua dimulai.

Dari sini aku belajar sabar, dari sini aku belajar percaya, dan dari sini juga aku tahu, cinta nggak perlu tergesa-gesa buat tumbuh.”

Aku hanya bisa diam. Udara sore terasa hangat tapi jantungku berdegup lebih cepat.

Dia melanjutkan, suaranya tenang tapi dalam, “Dulu aku janji bakal datang ke kamu bukan karena dijodohin, tapi karena aku memilih kamu. Hari ini aku datang buat nepatin janji itu.”

Raka lalu menarik napas panjang, dan entah kapan, dia sudah berlutut di depanku.

Tangannya bergetar sedikit saat membuka kotak kecil berwarna hijau muda.

Di dalamnya ada cincin perak sederhana, dengan ukiran daun kecil di sisinya — seperti simbol taman yang kami bangun bersama.

“Ly,” katanya, “aku nggak janji hidup kita bakal selalu mudah. Tapi aku janji, setiap kali badai datang, aku bakal jadi orang pertama yang berdiri di sebelah kamu.”

Mataku panas, tapi aku tersenyum. “Raka…”

Dia menatap mataku dengan lembut. “Aku nggak pengen cuma jadi bagian dari masa lalu kamu. Aku pengen jadi rumah yang kamu pulangin, bahkan kalau dunia berubah.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. “Kamu tahu,” suaraku nyaris berbisik, “aku nunggu kalimat itu sejak pertama kamu pergi ke Surabaya.”

Dia tersenyum kecil. “Dan aku nulisnya di hati waktu pertama kamu bilang, ‘aku ngerti, Rak.’”

Aku menutup mulutku, menahan isak, lalu mengangguk. “Iya, Raka. Aku mau. Aku mau tumbuh bareng kamu — di taman ini, di rumah nanti, di mana pun hidup bawa kita.”

Dia berdiri perlahan, menyematkan cincin di jariku.

Begitu dingin logam itu menyentuh kulitku, tapi begitu hangat rasanya di dada.

“Taman terakhir kita, Ly,” katanya pelan. “Bukan karena habis, tapi karena setelah ini, kita nggak butuh taman lain lagi. Cukup satu — yang tumbuh dari cinta yang kita tanam.”

Aku tersenyum di antara air mata. “Dan janji abadi kita?”

Dia memegang tanganku erat. “Janji abadi kita adalah terus menyiram, bahkan kalau hujan berhenti.”

Senja berganti malam.

Lampu taman menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke kolam kecil di tengah.

Kami duduk di bangku kayu yang dulu kami buat bersama, dan untuk pertama kalinya, dunia terasa benar-benar tenang.

“Raka,” kataku, “aku takut.”

Dia menoleh. “Takut apa?”

“Takut nggak bisa jadi istri yang baik. Takut kecewain kamu.”

Dia menatapku lama, lalu tersenyum. “Ly, cinta bukan tentang jadi sempurna. Tapi tentang tetap milih satu sama lain bahkan waktu salah satu dari kita nggak sempurna.”

Aku menatap ke bawah, menatap cincin di jariku. “Aku masih nggak nyangka… kita sejauh ini, ya.”

“Dulu aku pikir kamu cuma cewek yang terlalu banyak senyum,” katanya. “Tapi ternyata senyum itu yang selalu nyembuhin aku.”

Aku tertawa kecil, menatap langit malam yang kini penuh bintang. “Dan kamu, cowok yang dulu suka telat ngumpulin tugas, ternyata paling tepat waktu buat datang di hidupku.”

Dia tertawa juga, dan kami terdiam lagi.

Taman itu sunyi, tapi di hati kami, ada lagu lembut yang hanya kami berdua tahu.

Beberapa minggu setelah lamaran itu, kami mulai menyiapkan pernikahan.

Bukan pesta besar, bukan resepsi mewah — hanya sebuah perayaan kecil di taman yang sama.

Mama tersenyum waktu aku cerita rencana kami. “Dari awal, aku tahu kalian bukan dijodohkan karena paksaan. Tuhan cuma mempercepat pertemuan yang memang sudah ditulis.”

Aku menangis pelan saat mendengarnya. “Aku juga baru sadar, Ma. Cinta bisa datang lewat cara yang paling nggak diduga, tapi tinggal karena pilihan.”

Hari-hari menjelang pernikahan terasa seperti mimpi yang berjalan pelan.

Raka sibuk menyiapkan dekorasi taman, sementara aku menulis janji pernikahan di buku kecil — buku yang dulu kugunakan menulis surat untuknya.

Di halaman terakhir aku menulis:

Taman terakhir ini bukan akhir dari perjalanan kita, tapi awal dari rumah yang akan kita tanam bersama.

Dan aku janji, Raka — setiap kali langit berubah warna, aku tetap milih kamu.

Malam sebelum hari pernikahan, aku kembali ke taman sendirian.

Angin malam berembus pelan, bunga flamboyan berguguran di jalan setapak.

Aku menatap bintang-bintang, lalu berbisik pelan,

“Terima kasih, langit. Karena dari sekian banyak cara cinta bisa datang, aku dikasih yang tumbuh pelan tapi pasti.”

Dan di bawah langit yang sama, entah dari rumahnya, aku yakin Raka juga sedang menatap bintang yang sama — menunggu pagi yang akan jadi awal dari kehidupan baru kami.

Bukan lagi kisah tentang hujan pertama, atau jarak, atau waktu.

Tapi kisah tentang dua hati yang akhirnya tahu: cinta sejati bukan tentang menemukan orang yang sempurna, tapi tentang memilih orang yang sama setiap hari, di bawah langit yang selalu berubah.

✨ Bersambung ke Bab 20

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!