NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pak Suseno menyerahkan sebuah surat kepadaku.

Aku menatapnya dengan bingung.

"Surat apa ini pak?" tanyaku heran.

"Baca dulu mba, nanti mba Rania juga mengerti," jawab Pak Suseno pelan.

Aku mengangguk lalu membuka surat itu. Perlahan aku membaca setiap kalimat yang tertulis di dalamnya.

Namun baru beberapa baris saja kubaca, jantungku langsung berdegup kencang.

Isinya membuatku sangat kaget.

Dalam surat itu tertulis bahwa aku harus membayar uang sebesar tiga puluh juta rupiah kepada Bram. Uang itu diminta sebagai ganti dari jam tangan yang pernah kujual.

Tanganku langsung gemetar memegang surat itu.

"Pak, ini maksudnya apa? Itu jam aku dan itu hak aku," protesku tidak terima.

Pak Suseno terlihat sedikit canggung mendengar ucapanku.

"Kata pak Bram… anda mencuri jamnya," jawabnya pelan.

Aku langsung terdiam.

Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

Mencuri?

Bagaimana mungkin aku dituduh mencuri sesuatu yang dulu justru diberikan kepadaku?

Dadaku terasa sesak.

Aku menatap surat itu sekali lagi dengan perasaan campur aduk.

Mas Bram benar-benar ingin menghancurkanku.

"Pak, itu jam aku. Mas Bram sendiri yang memberikannya kepadaku," bantahku dengan nada tidak percaya.

Pak Suseno menghela napas pelan.

"Saya tidak tahu tentang hal itu, mba. Saya hanya menyampaikan saja karena saya pengacaranya. Kalau dalam tiga minggu mba Rania tidak bisa mengembalikan uangnya, masalah ini akan dibawa ke jalur hukum," jelasnya.

Aku langsung terdiam.

Dadaku terasa panas mendengar ucapan itu.

"Astaghfirullah… mas Bram," ucapku kesal sambil menggelengkan kepala.

Aku benar-benar tidak menyangka.

Setelah semua yang terjadi, setelah dia meninggalkanku begitu saja… sekarang dia bahkan menuduhku mencuri.

Tanganku mengepal kuat menahan emosi.

Tiga puluh juta bukanlah uang yang sedikit untukku sekarang.

Aku bahkan masih berjuang untuk menghidupi Alea dan mempertahankan usaha kecilku.

Kenapa mas Bram masih saja mempersulit hidupku?

"Saya permisi dulu ya mba," seru Pak Suseno sambil berdiri dari kursinya.

"Baik pak," jawabku singkat.

Pak Suseno pun pergi meninggalkan rumahku.

Begitu pintu tertutup, emosiku langsung memuncak. Dadaku terasa sesak menahan marah dan kesal.

Bagaimana mungkin Mas Bram menuduhku mencuri?

Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menggendong Alea dan membawanya ke rumah tetangga sebelah.

"Bu, boleh saya titip Alea sebentar?" pintaku

Tetanggaku mengangguk.

"Iya, tidak apa-apa. Sini biar saya jaga."

"Terima kasih, bu," ucapku cepat.

Setelah memastikan Alea aman, aku langsung pergi.

Langkahku cepat menuju kantor Bram.

Hari ini aku harus menemuinya.

Aku ingin mendengar langsung dari mulutnya sendiri, kenapa dia tega menuduhku seperti itu.

Jika memang dia ingin perang denganku…

Aku tidak akan diam saja.

Aku langsung menuju kantor Bram tanpa membuang waktu. Begitu sampai, aku segera masuk dan menemuinya.

Tanpa basa-basi, aku menatap wajahnya. Wajah yang dulu begitu kupercaya… namun sekarang terlihat begitu asing. Yang membuatku semakin kesal, dia sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.

"Sudah aku duga! Kamu pasti ke sini, Rania!" serunya dengan wajah penuh kesombongan.

Aku menatapnya tajam.

"Apa maksud kamu, Bram?!" teriakku. Kali ini aku sengaja tidak memanggilnya Mas Bram. Cukup Bram saja.

Dia tersenyum tipis, seolah menikmati kemarahanku.

"Kau bisa baca, bukan?" katanya santai.

Tanpa ragu aku mengeluarkan surat yang tadi diberikan Pak Suseno, lalu kusobek tepat di depan wajahnya.

"Iya, aku memang sudah baca!" ucapku penuh emosi.

Bram bersandar santai di kursinya.

"Bagus. Berarti kamu pasti tahu apa maksudku."

Dadaku naik turun menahan amarah.

Aku tidak menyangka pria yang dulu begitu kucintai kini memperlakukanku seperti ini.

Menuduhku mencuri.

Seolah-olah aku ini orang asing baginya.

"Bram, kamu benar-benar keterlaluan," ucapku dengan suara bergetar menahan emosi.

Namun Bram hanya menatapku datar, seakan semua ini bukan masalah besar baginya.

Dan itu justru membuat amarahku semakin membuncah.

"Aku tidak keterlaluan," ucap Bram santai. "Aku hanya merasa jam itu milikku dan kamu menjualnya."

Aku menatapnya tajam, tidak percaya dengan kata-katanya.

"Kamu yang memberikan jam itu kepadaku, Bram. Aku bukan mengambilnya," bantahku tegas.

Bram terkekeh kecil, seolah ucapanku hanyalah lelucon baginya.

"Tapi apa pun yang berasal dariku, saat kamu pergi dari rumah… itu bukan lagi jadi milikmu."

Dadaku terasa panas mendengar ucapannya.

"Keterlaluan!" bentakku. "Sebenarnya kamu mau apa, hah?!"

Bram bangkit dari kursinya lalu berjalan perlahan mendekat ke arahku. Tatapannya tajam seolah sedang menantangku.

"Mau aku?" katanya pelan.

Ia berhenti tepat di depanku.

"Kau kembali lagi padaku, Rania. Sudah itu saja."

Aku langsung terdiam.

Kata-katanya membuatku seperti disambar petir.

Jadi ini semua hanya akal-akalan Bram?

Semua ancaman, semua tuduhan… hanya agar aku kembali kepadanya.

Tanganku mengepal kuat menahan emosi.

"Bram… kamu benar-benar gila," bisikku dengan napas berat.

"Karena tanpa Alea, aku tidak bisa mendapatkan perusahaan ini sepenuhnya," ucap Bram dengan santai, seolah hal itu adalah sesuatu yang biasa saja.

"Apa?!" Aku menatapnya dengan kaget. Aku semakin tidak mengerti maksudnya.

"Alea itu masih bayi, Bram!" seruku tidak percaya.

Namun Bram hanya mengangkat bahunya dengan wajah datar.

"Besok kita tes DNA," katanya dingin. "Kalau dia benar anakku, aku akan membawanya."

Aku terdiam beberapa detik, mencoba mencerna kata-katanya.

Lalu aku tersenyum sinis.

"Enak saja!" balasku tajam.

Bagaimana mungkin dia berbicara semudah itu tentang Alea?

Seolah Alea hanyalah benda yang bisa dia ambil kapan saja.

"Alea bukan barang yang bisa kamu ambil seenaknya, Bram," kataku dengan suara bergetar menahan emosi.

Tatapanku menantang ke arahnya.

"Kamu bahkan tidak ada saat aku mengandungnya. Tidak ada saat aku melahirkannya. Dan sekarang kamu tiba-tiba ingin mengakuinya?"

"Tenang saja, Rania. Alea akan tetap bersamamu… aku akan membayarmu!" ucap Bram dengan nada sinis.

Ucapan itu seperti menyulut api di dalam dadaku.

Tanpa bisa menahan diri lagi—

Plak!

Tamparanku mendarat keras di pipinya.

Ruangan itu seketika hening.

Bram menoleh sedikit ke samping, pipinya memerah akibat tamparanku.

Dadaku naik turun menahan amarah yang sudah memuncak.

"Jadi selama ini kamu menikahi aku karena menginginkan sesuatu, Bram?" suaraku bergetar penuh emosi. "Tanpa cinta?"

Bram kembali menatapku. Namun bukannya merasa bersalah, wajahnya justru terlihat kesal.

"Gak usah lebay!" balasnya dingin.

Hatiku terasa seperti diremas.

Semua yang pernah kami jalani… semua kenangan yang dulu terasa begitu indah…

Ternyata mungkin hanya berarti bagiku saja.

Sementara bagi Bram—

"Intinya," ucap Bram dengan nada dingin, "aku menikah denganmu karena ingin mendapatkan keturunan. Mamah tidak akan memberikan perusahaan ini sepenuhnya kalau aku belum punya anak."

Aku terpaku di tempatku berdiri.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau yang perlahan menusuk hatiku.

"Sementara Monika…" lanjutnya santai, seolah ini bukan sesuatu yang kejam, "dia tidak hamil-hamil. Dan dia juga tidak mau dimadu."

Bram menatapku lurus.

"Jadi aku memilih menikah diam-diam denganmu, Rania."

Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Selama ini…

Selama pernikahan kami…

Ternyata aku hanya dijadikan alat.

Alat untuk memberinya keturunan.

Dadaku terasa sesak. Air mataku hampir jatuh, tetapi aku menahannya sekuat mungkin. Aku tidak ingin terlihat lemah di depannya.

"Bram…" suaraku bergetar pelan.

"Ternyata selama ini aku hanya permainanmu."

Aku tertawa kecil, namun terasa pahit.

"Dan aku… bodohnya benar-benar mencintaimu."

****

1
Kirana Sakira
semakin seru ceritanya....mantaaaappppp...👍👍👍👍👍
icha aghbath
udah bisa ngambil keputusan itu rania jgn banyak nga enakan lagi.. kan malah jadi emosi liat rania lelet bgt mikir kedepannya
Nur Janah
tuuhhh kaannn🤭🤭
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!