Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: POIN MASA KINI & TIRAI MASALALU
Apartemen itu terasa berbeda malam ini. Jika semalam Valerie merasa seperti orang asing yang menumpang, kini ia merasa seperti tawanan yang baru saja memasuki penjara emasnya. Bau kayu manis yang maskulin menyambut mereka begitu pintu unit terbuka.
Valerie masih berdiri kaku di tengah ruang tamu, meremas ujung kebayanya yang mulai terasa sesak. Revan meletakkan kunci mobil dan tas kecil Valerie di atas meja marmer, lalu berbalik dengan wajah yang jauh lebih santai daripada saat mereka berada di rumah Kakek tadi.
"Kenapa masih berdiri di sana? Masuklah, Erie," ucap Revan.
Valerie mendengus sinis. "Aku masih tidak terbiasa tidak memanggilmu Paman. Rasanya aneh menyebut namamu begitu saja."
Revan berjalan mendekat, menyampirkan jasnya ke sandaran sofa. Ia menatap Valerie dengan binar jenaka yang jarang pria itu perlihatkan, seolah beban berat yang ia pikul di depan keluarga Adiwijaya telah luruh begitu pintu apartemen tertutup.
"Memang tidak sopan jika kau hanya memanggil nama, mengingat aku sepuluh tahun lebih tua darimu," Revan mengulas senyum tipis yang tampak seperti ejekan ringan. "Bagaimana kalau kau panggil aku 'Mas'? Atau mungkin... 'Sayang'? Bukankah itu yang biasanya diucapkan pasangan pengantin baru?"
Wajah Valerie memanas. Antara malu dan kesal. "Jangan bercanda! Itu menjijikkan."
Revan terkekeh rendah, suara baritonnya bergema di ruangan yang sunyi itu. "Baiklah, panggil aku 'Mas' saja jika kau belum sanggup memanggil yang lain. Setidaknya itu lebih pantas daripada 'Paman' di telinga tetangga."
Suasana mendadak kembali serius saat Revan mengambil sebuah map dari laci mejanya. Ia duduk di sofa dan menepuk ruang kosong di sampingnya, mengisyaratkan Valerie untuk mendekat. Dengan ragu, Valerie duduk, namun ia menjaga jarak yang cukup lebar.
"Karena kita sudah resmi menikah, ada beberapa aturan baru yang harus kau patuhi selama tinggal di bawah atapku," Revan membuka map itu, mengeluarkan selembar kertas yang sudah diketik rapi.
Valerie memutar bola matanya. "Aturan? Kau benar-benar bersikap seperti dosen sekarang."
"Ini untuk kebaikanmu, Erie," Revan mulai membacakan poin-poin tersebut dengan nada otoriter.
Aturan Kehidupan Apartemen Malik:
1.Jam Malam: Kau harus sudah berada di rumah sebelum pukul delapan malam. Tidak ada lagi kelab malam atau nongkrong tidak jelas dengan teman-temanmu.
2.Pendidikan: Aku akan mendaftarkanmu di universitas tempatku mengajar. Kau harus kuliah dengan serius. Aku tidak akan mentoleransi nilai yang buruk.
3.Komunikasi: Ponselmu harus selalu aktif. Jika aku menelepon, kau wajib mengangkatnya.
4.Hobi: Kau bebas melukis di ruangan mana pun di apartemen ini, dan aku akan membiayai semua peralatan lukismu asalkan jadwal kuliahmu tidak terganggu.
5.Kamar: Kau akan tidur di kamar utama... bersamaku.
Valerie tersentak saat mendengar poin terakhir. "Tunggu! Tidur bersamamu? Paman, eeh.. maksudku, Mas... itu gila! Kita kan menikah karena terpaksa!"
Revan meletakkan kertas itu dan menatap Valerie dengan pandangan yang dalam, seolah sedang menelanjangi semua ketakutan gadis itu. "Di mata hukum dan agama, kau adalah istriku, Erie. Aku tidak ingin ada rahasia atau sekat di antara kita di rumah ini. Lagi pula, ini demi keamananmu. Aku tidak ingin kau kabur lewat jendela lagi seperti yang kau lakukan di rumah orang tuamu."
"Aku bukan anak kecil!" protes Valerie.
"Kalau begitu berhentilah bersikap seperti anak kecil yang lari dari masalah," balas Revan telak. Ia bangkit, melangkah menuju Valerie hingga gadis itu terdesak ke sandaran sofa. Revan membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Valerie, mengurungnya dalam aroma maskulin yang memabukkan.
"Aku memegang janjiku untuk memberimu kebebasan dari mereka," bisik Revan tepat di depan bibir Valerie. "Tapi sebagai gantinya, kau adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Mengerti?"
Valerie menahan napas. Jarak mereka terlalu dekat. Ia bisa melihat setiap inci wajah Revan, pria yang dulu ia anggap sebagai pelindung yang jauh, kini menjadi sosok yang begitu dominan dan nyata di hadapannya.
"Sekarang, ganti bajumu dan istirahatlah," Revan menjauh, memberikan ruang bagi Valerie untuk bernapas kembali. "Malam ini mungkin melelahkan, tapi besok adalah awal dari hidup barumu sebagai Nyonya Revanza Malik."
Valerie menatap punggung Revan yang berjalan menuju dapur. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia tidak tahu apakah ia harus merasa beruntung atau justru merasa telah masuk ke dalam sarang serigala yang selama ini bersembunyi di balik jubah paman yang baik hati.
Malam semakin larut, namun kantuk tak kunjung menyapa Revan. Setelah memastikan Valerie atau Erie, sebagaimana ia selalu memanggilnya dalam hati, sudah terlelap di sisi ranjang yang berseberangan, Revan melangkah keluar menuju balkon. Ia menyulut sebatang rokok, membiarkan asapnya menari-nari di udara malam yang dingin, sementara pikirannya berkelana ke kejadian beberapa malam lalu.
Ada rasa lega yang luar biasa menyesaki dadanya saat menatap cincin emas di jari manisnya sendiri. Erie sudah di sini. Di bawah atapnya. Di bawah pengawasannya. Secara hukum dan agama, tak ada lagi yang bisa merenggut gadis itu darinya.
Namun, setiap kali ia memejamkan mata, memori di kelab malam itu kembali memutar kaset traumatis yang membuat rahangnya mengatup rapat.
Malam itu, Revan datang seperti badai. Ia telah melacak keberadaan Erie selama berbulan-bulan, dan saat informannya memberikan lokasi 'The Void', ia tidak membuang waktu satu detik pun. Saat ia merangsek masuk ke dalam kelab yang pengap itu, pemandangan yang menyambutnya nyaris membuat napasnya berhenti.
Di sebuah sofa pojok yang remang-remang, ia melihat Erie. Gadis itu tampak lunglai, kepalanya terkulai dengan tatapan mata yang kosong, jelas di bawah pengaruh sesuatu. Di sekelilingnya, teman-temannya sudah tepar, terkapar seperti sampah yang tak berdaya akibat alkohol, dan obat-obatan terlarang.
Namun, yang membuat darah Revan mendidih adalah sosok Bara.
Pria itu duduk tepat di samping Erie, tangannya yang kasar mulai merayap di bahu Erie yang terbuka, sementara tangan lainnya memegang sebuah gelas yang baunya menyengat. Bara sedang membisikkan sesuatu di telinga Erie, sementara gadis itu hanya bisa mengerang lemah, mencoba menepis namun tak punya tenaga.
"Ayo, Valerie... minum sedikit lagi. Ini akan membuatmu merasa sangat terbang," desis Bara malam itu. Revan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Bara mencoba memaksa Valerie meneguk cairan yang sudah ia campur sedemikian rupa agar Valerie benar-benar kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Jika saja Revan terlambat lima menit... tidak, satu menit saja, ia yakin Bara akan membawa Valerie ke tempat yang lebih gelap dan merenggut segalanya dari gadis itu.
Kemarahan Revan saat itu nyaris tak terkendali. Saat ia melangkah maju dan mencengkeram kerah baju Bara, ia melihat seringai menjijikkan di wajah pria itu. Bara menghalanginya, merasa memiliki hak atas 'mangsa' yang sudah ia incar berbulan-bulan.
"Jangan ikut campur, Pak Tua. Dia sudah memilih bersamaku," tantang Bara waktu itu.
Revan mengingat betapa sulitnya ia menahan diri untuk tidak menghancurkan wajah Bara di tempat. Hanya demi menjaga keselamatan Valerie, ia memilih untuk tidak memicu keributan fisik yang lebih besar, namun tatapan matanya sudah cukup untuk membuat Bara tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan maut.
Revan mengembuskan asap rokoknya ke langit malam. Tangannya sedikit gemetar mengingat kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Ia tahu Erie membencinya saat ini. Erie menganggapnya sebagai oportunis yang memanfaatkan skandal untuk menikahinya.
Biarlah, batin Revan. Biarlah dia membenciku, asalkan dia aman di sampingku.