Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai hidup baru
"Jadi sekarang kamu mau tinggal di mana?" tanya Hasya, setelah Yuna menceritakan seluruhnya.
Yuna menggeleng pelan. "Aku juga nggak tahu. Tapi paling aku cari kos-kosan yang murah deh!" ucapnya.
Dengan dibantu Hasya, kedua Gadis remaja itu mencari kos-kosan yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah mereka. Bukan tanpa alasan, selain mencari yang murah, mereka juga memilih lokasi yang dekat sekolah. Agar Yuna tidak perlu keluar biaya untuk transportasi.
Ting!
Jempolnya Yuna berhenti, saat membaca pesan yang di kirim oleh Ibunya.
[Rekening kamu Mama bekukan. Karena kamu memilih pergi dari rumah ini!]
Yuna menggeram. Tangannya terkepal membaca pesan tak berperasaan dari wanita yang sudah melahirkannya.
[Mama tega lakuin ini sama aku? Aku anak Mama loh! Anak yang pacarnya udah Mama rebut!"]
Tidak perlu waktu lama. Mala kembali membalas pesan putrinya.
[Mama tidak merebutnya dari kamu! Mama hanya butuh kepuasan dari Edo! Kamu masih bisa pacaran sama dia]
Mata Yuna memerah. Amarah yang tadinya sudah meredup, kini kembali membara.
"4njing banget Mama kamu Yun!" umpat Hasya marah.
[Di dunia ini, tidak ada satupun wanita yang rela berbagi pria dengan wanita lain, Ma. Mama aja marah dan langsung cerai kan, saat tahu Papa selingkuh sama Tante Rindu? Sekarang dengan entengnya Mama bilang begitu sama aku?]
Yuna membanting ponselnya ke kasur. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya yang sangat egois. Ibunya saja tidak mau berbagi suami dengan wanita lain. Lantas mengapa dia malah di minta untuk menerima hubungan terlarang itu?
Konyol!
[Jangan mengalihkan pembicaraan Yuna. Jika kamu masih mau menikmati uang Mama. Maka maafkan Edo, terima dia kembali dan biarkan dia terus melayani Mama!]
[DASAR GILA!]
Yuna tak kuat lagi. Ia langsung memblokir nomor Ibunya saat itu juga.
"Beneran sinting Mama kamu, Yun!" Hasya juga tidak habis pikir.
"Hah!" Yuna membanting tubuhnya ke ranjang Hasya. "Biarkan saja lah! Terserah mereka mau apa. Intinya aku gak mau balik cowok munafik itu! Najis!"
Yuna bersungut-sungut. Ia memukul-mukul bantal milik Hasya sebagai bentuk luapan kekesalannya. Dari tadi, hingga detik ini... belum ada satupun air mata yang membasahi pipinya.
"Yun dapet nih kosannya 500 ribu sebulan!" kata Hasya, saat mereka kembali mencari kosan untuk Yuna.
" Mana?" Yuna menarik ponsel Hasya untuk melihatnya.
"Boleh juga nih! Dekat sama sekolah kan?" tanya Yuna dan Hasya mengangguk.
Yuna, langsung meminta sahabatnya untuk menghubungi pemilik kosan tersebut. Hari ini juga ia ingin pindah. Dan beruntung, Yuna masih memiliki sedikit uang simpanan.
Saat itu juga, Yuna diantar Hasya dengan motornya untuk melihat dan membayar kosan tersebut.
"Motor kamu baru nih!" tanya Yuna. Menyadari jika motor milik sahabatnya ini berbeda dari biasanya.
"Iya dong. Motor ini dibeliin sama Om Joe!" jawab Hasya dengan bangga.
Om Joe, sugar Daddy Hasya yang sudah ia temani sejak duduk dibangku kelas 11 SMA. Hasya berasal dari keluarga sederhana yang hanya tinggal bersama Ibu dan Kakaknya. Sebenarnya Ibu Hasya masih mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Tapi, gaya hidup Hasya yang cukup hedon. Membuat gadis itu memilih jadi sugar baby, demi memenuhi gaya hidupnya itu.
Yuna memutar bola matanya dengan malas. "Kamu gak takut ketahuan sama istrinya Om Joe?"
Hasya malah tertawa. "Main cantik dong sayang! Kamu ini gimana sih! Lagipula ya... sayang tahu ninggalin Om-om royal seperti Om Joe!"
Yuna menggeleng. Ia tidak pernah melarang sahabatnya, tapi tidak membenarkan prilakunya juga.
"Ya terserah kamu deh! yang penting hati-hati aja!" pesan Yuna.
Setelah mereka berkendara hampir 30 menit. Kini, motor Hasya sudah tiba di parkiran sebuah kos-kosan yang ada di dalam gang. Gang sempit yang jaraknya hanya 100 meter dari SMA Cakrawala.
Mereka berdua langsung turun dan menemui pemilik kos-kosan. Setelah melihat kos-kosan yang lumayan bagus dan cocok untuknya. Yuna langsung membayar untuk satu bulan kedepan.
"Ini kuncinya dan semoga betah ya tinggal di sini?" ucap seorang wanita paruh baya, yang biasa dipanggil Bu Tuti.
"Terima kasih Bu!" kata Yuna disertai senyuman.
Setelah pemilik kosan itu pergi. Yuna menutup pintu dan menghampiri Hasya yang duduk di kasur lantai tipis milik kosan tersebut.
"Setelah ini apa yang mau kamu lakukan?"
Yuna tampak berpikir sejenak. "Paling aku mau cari kerjaan deh!" jawab Yuna.
Ia sudah memikirkan hal ini sejak tadi. Karena uang simpanan yang ia miliki, hanya cukup untuk biaya hidupnya sampai 1 bulan ke depan. Itupun jika ia memakainya dengan irit-irit.
"Nggak mau jadi sugar baby aja? kalau kamu beruntung... bisa dapat om-om tajir, royal yang bukan hanya bisa kasih kamu uang banyak. Tapi juga apartemen dan mobil sekalian!" tawar Hasya, bukan untuk yang pertama kalinya.
"Hahaha! Terima kasih banyak atas tawarannya. Cukup kamu, Mega, dan Lily saja yang menjalani profesi itu!" tolak Yuna.
Ya, tidak pernah sedikitpun terlintas di dalam pikiran gadis itu, untuk menjalani profesi yang sama dengan ketiga sahabatnya. Menurut Yuna, selagi ia masih bisa bekerja keras dengan tenaga dan dengan cara yang halal, ia akan melakukannya dengan sekuat tenaga.
"Ya sudah jika memang itu keputusanmu. Tapi ingat Yun, cari uang di kota besar seperti ini tidak mudah. Cari yang haram aja susah, apalagi yang halal!" Hasya memegang pundak sahabatnya. "Tapi jika kamu berubah pikiran, tiba-tiba menginginkan profesi ini... jangan lupa hubungi aku!" kata Hasya sambil mengedipkan sebelah mata.
Yuna hanya tersenyum tanpa memikirkan lebih jauh perkataan sahabat. "By the way, Mega sama Lily ke mana?
"Biasalah, mereka berdua lagi dinas!"
Kata dinas, sudah menjadi bahasa yang sangat familiar di telinga Yuna.
Karena hari sudah sore, Hasya buru-buru pamit. sebab nanti malam, ia ada janji dengan Om Joe untuk menemani pria itu.
Setelah Hasya pergi. Yuna menatap kos-kosan sempit miliknya dengan hati yang kosong. Tidak pernah sekalipun terpikir dalam otaknya, akan tinggal di tempat yang seperti ini.
"Oke Yuna jangan bersedih. Kamu harus semangat dan mulai belajar mandiri untuk dirimu sendiri!" ucap Yuna, sambil menatap pantulan wajahnya di kaca kecil yang tergantung di dinding.
Yuna mengambil pakaian ganti dari dalam koper. Setelah itu ia menuju ke kamar mandi, mengguyur kepalanya dengan air dingin. Berharap semoga melalui air ini, segala ingatan buruk tentang kejadian hari ini.. bisa menghilang terbawa air yang mengalir.
Selepas mandi, Yuna merasakan kantuk yang luar biasa. Ia membaringkan tubuhnya di kasur tipis yang keras. Namun itu jauh lebih baik, daripada ia harus tinggal di jalanan dan tidur di emperan.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya