Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelapan yang Bicara
Malam itu, Jakarta diguyur hujan sisa-sisa badai sore tadi. Di dalam rumah petak yang kini terasa lebih sempit dari biasanya, Andini duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya sendiri. Ia belum beranjak sejak pria asuransi itu pergi meninggalkan sebuah alamat dan sebuah kunci kecil yang dingin. Namun, sebelum ia sempat memikirkan rahasia besar apa lagi yang disimpan suaminya, rumah itu seolah mulai menunjukkan "kemarahannya."
Pet!
Tiba-tiba, kegelapan total menyergap. Lampu neon di ruang tengah yang sudah lama berkedip-kedip itu akhirnya menyerah. Suasana menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara tetesan air hujan yang menghantam atap seng.
"Mas... lampunya mati," bisik Andini secara refleks.
Ia terdiam. Bibirnya bergetar saat menyadari tidak ada suara berat yang menyahut, "Tunggu sebentar, Dek, Mas perbaiki dulu sekringnya." Biasanya, Hilman akan segera bangkit meskipun tubuhnya gemetar karena lelah, mencari senter kecilnya, dan memanjat kursi kayu yang reyot untuk memutar sekring agar lampu kembali menyala.
Andini meraba-raba dinding dalam kegelapan, mencoba mencari lilin atau korek api. Namun, ia tidak tahu di mana Hilman menyimpan barang-barang darurat itu. Selama tujuh tahun, ia tidak pernah mau tahu urusan rumah tangga yang dianggapnya "kotor" dan "merepotkan." Baginya, tugasnya hanya berdandan cantik dan menuntut kemewahan. Ia tidak pernah tahu bahwa untuk membuat lampu itu tetap menyala, Hilman seringkali harus menyambung kabel-kabel tua yang nyaris terbakar dengan tangannya sendiri.
Simfoni Kehancuran
Di tengah kegelapan yang mencekam, suara lain mulai terdengar. Sebuah suara gemericik air yang deras dari arah dapur, diikuti oleh suara brak! yang keras.
Andini tersentak. Ia meraba-raba jalan menuju dapur, menggunakan cahaya kilat dari luar jendela sebagai pemandu sesaat. Sesampainya di dapur, kakinya langsung terasa dingin. Air sudah menggenangi lantai semen.
Keran air di wastafel dapur—keran plastik murah yang sudah sering dikeluhkan Andini—akhirnya patah. Air menyembur liar ke segala arah, membasahi meja makan, membasahi sisa-sisa nasi yang sudah mengering, dan membasahi kaki Andini.
"Mas! Airnya tumpah! Mas, cepat ke sini!" teriak Andini histeris.
Lagi-lagi, sunyi. Hanya suara semburan air yang seolah menertawakan ketidakberdayaannya.
Andini mencoba memutar sisa pangkal keran itu dengan tangannya, namun air justru menyembur semakin kuat ke wajahnya. Ia mencoba menyumbatnya dengan kain lap, namun tekanan air terlalu besar. Ia panik. Ia tidak tahu di mana letak kunci pusat air. Ia tidak tahu bagaimana cara mematikan aliran itu.
Selama ini, jika keran itu bocor sedikit saja, Andini akan memaki-maki Hilman. "Mas! Keran murah begini kok dipasang! Bikin becek tahu nggak! Cepat benerin!" Dan Hilman, dengan jari-jarinya yang kasar dan lecet, akan berjongkok di bawah wastafel selama berjam-jam, memutar pipa yang sudah berkarat, memastikan tidak ada setetes air pun yang mengganggu kenyamanan istrinya.
Kini, air itu terus meluap. Andini jatuh terduduk di tengah genangan air dapur yang gelap. Bajunya basah kuyup. Ia mencoba melawan semburan air itu dengan tangannya, namun ia gagal. Ia mulai menangis. Tangisan yang bermula dari kekesalan, berubah menjadi raungan penyesalan yang mendalam.
Harta yang Tersembunyi di Bawah Wastafel
Dalam keputusasaannya, Andini teringat bahwa Hilman selalu menyimpan kotak perkakas kecil di bawah wastafel. Ia merangkak di dalam genangan air, membuka pintu lemari bawah yang lembap. Di sana, ia menemukan sebuah kotak plastik berisi tang, obeng, dan tumpukan isolasi pipa.
Namun, di samping kotak itu, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah bungkusan plastik bening yang diikat rapi agar tidak terkena air. Andini mengambilnya dan membukanya dengan tangan gemetar.
Di dalamnya terdapat sebuah buku catatan kecil lainnya, namun ini bukan buku tabungan. Ini adalah buku panduan "Darurat Rumah Tangga" yang ditulis tangan oleh Hilman khusus untuknya.
Andini membuka halaman pertama dengan bantuan cahaya kilat yang menyambar di langit.
"Untuk Andini, Istriku."
"Dek, kalau suatu saat Mas tidak ada di rumah dan lampu mati, jangan takut. Sekringnya ada di atas pintu depan. Putar sedikit ke kanan. Mas sudah siapkan sekring cadangan di atas lemari pakaianmu, di dalam kotak bedakmu yang sudah habis. Mas simpan di sana supaya kamu mudah mencarinya."
Andini terisak. Ia teringat pernah membuang kotak bedak kosong itu ke atas lemari dengan kasar sambil mengomel karena Hilman tidak kunjung membelikannya yang baru. Ternyata, di dalam kotak sampah itu, Hilman menyimpan "cahaya" untuknya.
Andini membalik halaman berikutnya, air matanya membasahi kertas itu hingga tintanya luntur.
"Dek, kalau keran dapur patah (karena pipanya memang sudah sangat tua, maaf Mas belum bisa beli yang besi), kamu jangan panik. Jangan coba sumbat pakai tangan, nanti tanganmu sakit. Di bawah bak cuci ada putaran kecil warna biru. Putar ke arah kiri sampai mentok. Itu pusat airnya. Mas sudah siapkan keran cadangan di dalam laci meja riasmu, di balik tumpukan kain hiasanmu. Mas beli itu bulan lalu, tapi belum sempat Mas pasang karena Mas harus lembur..."
Andini meraung. Ia merangkak mencari putaran biru itu. Ia menemukannya. Dengan sisa kekuatannya, ia memutar pusat air itu.
Sreeeeeet... klek.
Semburan air itu berhenti. Dapur mendadak menjadi sunyi kembali, menyisakan suara napas Andini yang tersengal-sengal di tengah kegelapan dan genangan air.
"Mas... kenapa kamu baik sekali sama aku?" tanya Andini pada kegelapan. "Kenapa kamu siapkan semuanya padahal aku selalu jahat sama kamu?"
Pelukan dari Masa Lalu
Andini duduk bersandar di kaki meja makan, memeluk buku catatan itu erat-erat ke dadanya. Ia baru sadar, selama tujuh tahun ini, Hilman bukan hanya bekerja mencari uang. Hilman telah membangun sebuah "jaring pengaman" yang tak terlihat di sekelilingnya. Pria itu tahu bahwa Andini tidak bisa apa-apa tanpa dirinya. Pria itu tahu bahwa Andini adalah wanita yang manja dan egois. Dan alih-alih mendidiknya dengan kekerasan atau meninggalkannya, Hilman justru menyiapkan segala skenario agar Andini tetap bisa bertahan hidup meski tanpa dirinya.
Setiap paku yang menancap di dinding, setiap kabel yang tersambung, setiap tetes minyak di engsel pintu yang berdecit, semuanya adalah bentuk cinta Hilman yang tak pernah terucap. Hilman mencintainya lewat benda-benda mati di rumah ini.
Andini meraba halaman terakhir buku catatan itu. Ada satu pesan terakhir yang ditulis dengan tinta yang berbeda, seolah ditulis baru-baru ini.
"Dek, maaf kalau rumah ini sering rusak. Maaf kalau Mas nggak bisa kasih rumah yang sempurna.