NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy / Tamat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Suasana ruang makan di mansion keluarga Richard pagi itu terasa begitu tenang, hanya denting sendok yang beradu dengan piring porselen yang memecah keheningan. Aroma nasi goreng bumbu Bali dan kopi segar memenuhi ruangan, namun bagi Audrey, udara di sana mendadak terasa sangat tipis.

Alana duduk di hadapannya, menatap putri tunggalnya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara rindu, harapan, dan kasih sayang yang tak terbatas. Sementara Azkara, sang ayah, duduk di kepala meja, sesekali melirik Audrey dari balik koran digitalnya.

"Audrey..." suara Alana memecah kesunyian, lembut namun memiliki resonansi yang dalam. "Mama melihatmu belakangan ini sangat lelah. New York memang keras, Nak. Tapi Mama selalu percaya, ada satu hal yang bisa menjadi rumah paling tenang untukmu."

Audrey menghentikan gerakan sendoknya. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Apa belum tergerak hatimu, Nak?" tanya Alana pelan, matanya menatap leher Audrey yang terbuka. "Kapan kamu akan memakainya lagi?"

Deg.

Pertanyaan itu menghantam dada Audrey. Biasanya, ia akan langsung membantah, merasa tercekik, atau bahkan meninggalkan meja makan dengan amarah. Namun kali ini, gema suara Rafael yang menyebutnya kuno dan munafik, serta tatapan dingin namun menghormati dari Keenan, bersatu dalam pikirannya.

Audrey menunduk. Bayangan kejadian di mobil bersama Rafael kemarin sore kembali muncul. Ia lelah dianggap sebagai wanita yang bisa ditawar. Ia lelah berpura-pura menjadi bebas namun justru merasa terperangkap oleh ekspektasi liar pria-pria di luar sana.

Ia teringat kata-kata Keenan: "Di saat kamu melepas identitas fisikmu, ternyata identitas itu masih tersimpan kuat di dalam lisanmu."

Jika dengan pakaian terbuka saja ia tetap mempertahankan prinsipnya hingga Rafael menyebutnya gila, bukankah lebih baik ia sekalian menutup pintu itu rapat-rapat? Ia tidak ingin lagi dipandang sebagai mangsa. Ia ingin martabat yang selama ini ia perjuangkan dengan kata-kata, kini memiliki pelindung yang nyata.

"Mama..." Audrey mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, namun ada ketegasan yang baru ia temukan. "Audrey lelah bersembunyi di balik kebebasan yang ternyata tidak membebaskanku sama sekali."

Alana dan Azkara terdiam, menahan napas.

"Audrey ingin berhenti berlari," lanjutnya dengan suara bergetar. "Audrey siap. Audrey akan memakainya kembali. Mulai besok, Audrey akan berangkat ke kampus dengan hijab."

"Alhamdulillah..." Bisik Alana lirih. Ia segera bangkit dari kursinya dan menghambur memeluk Audrey. Tangis haru pecah di bahu putrinya.

Azkara meletakkan tabletnya. Pria yang biasanya tampak keras dan tak tergoyahkan itu kini berdiri dengan mata yang berkaca-kaca. Ia melangkah mendekat, lalu merangkul kedua wanita paling berharga dalam hidupnya itu.

"Ayah bangga padamu, Audrey," ucap Azkara dengan suara berat. "Bukan karena kau menuruti kemauan kami, tapi karena kau berani mengambil keputusan besar untuk menjaga dirimu sendiri. New York akan menatapmu berbeda besok, tapi Ayah akan selalu ada di belakangmu untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang berani menghinamu."

Audrey menangis di pelukan ayahnya. Ia merasa sebuah beban besar yang selama bertahun-tahun ia pikul, beban pemberontakan dan rasa bersalah, seketika runtuh. Ia merasa aman. Ia merasa kembali menjadi "Mutiara Keluarga Richard" yang sesungguhnya.

Malam harinya, Audrey berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Di atas tempat tidur, berjajar koleksi hijab pashmina milik ibunya yang telah lama ia simpan di dalam lemari. Ia mengambil sehelai kain sutra berwarna nude yang lembut.

Dengan jemari yang sedikit kaku karena sudah lama tidak melakukannya, ia melilitkan kain itu ke kepalanya. Saat bayangan wajahnya muncul di cermin dengan hijab yang rapi, Audrey tertegun. Ia tampak jauh lebih anggun, lebih berwibawa, dan anehnya... lebih cantik.

Ia mengambil ponselnya, lalu tanpa sadar membuka kembali profil Instagram Keenan. Ia melihat foto Keenan yang sedang menatap senja.

"Besok kau akan melihatku dengan cara yang berbeda, Keenan," gumam Audrey. "Bukan sebagai gadis yang ketakutan di belakang punggungmu, tapi sebagai wanita yang berani menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya."

Audrey tersenyum tipis. Ia tahu Rafael akan semakin berang melihat ini. Rafael pasti akan menganggapnya semakin kuno. Namun bagi Audrey, ini adalah kemerdekaannya. Ini adalah caranya untuk memutuskan rantai manipulasi Rafael selamanya. Dengan hijab ini, ia memberikan pernyataan bahwa tidak ada ruang bagi pria mana pun untuk menyentuh bahkan sehelai rambutnya tanpa ikatan yang sah.

Keesokan paginya, Audrey turun dari tangga dengan langkah yang mantap. Ia mengenakan trench coat panjang berwarna krem dengan hijab senada yang terlilit rapi. Penampilannya sangat modis namun tetap tertutup rapat.

Azkara yang sedang memanaskan mobil di depan, tertegun melihat putrinya keluar dari pintu depan. Ia tersenyum sangat lebar—senyum paling tulus yang pernah Audrey lihat seumur hidupnya.

"Kau siap untuk hari ini, Danisha Audreyna?" tanya Azkara sambil membukakan pintu mobil untuknya, persis seperti cara ia memperlakukan Alana dulu.

"Sangat siap, Ayah," jawab Audrey tegas.

Sepanjang perjalanan menuju NYU, Audrey merasa sangat tenang. Ia tidak lagi takut pada Rafael. Ia tidak lagi peduli pada omongan teman-temannya yang mungkin akan mencibir. Yang ada di pikirannya hanyalah satu, bagaimana reaksi pria dingin bernama Keenan Atharrazka saat melihatnya nanti? Apakah pria itu akan tetap menganggapnya luar biasa, atau justru akan menjauh karena tembok yang ia bangun kini semakin tinggi dan nyata?

Satu hal yang pasti, Danisha Audreyna Richard telah kembali ke akarnya, dan New York harus bersiap untuk melihat sisi lain dari sang putri konglomerat otomotif itu.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Retno Isusiloningtyas
Masya Allah...
Retno Isusiloningtyas
😭
falea sezi
uda end kah
Retno Isusiloningtyas
oh.wow.ternyata Kenan ayahnya Muslim
Retno Isusiloningtyas
semangat,Thor
Retno Isusiloningtyas
semangat Alana....
Retno Isusiloningtyas
wow....
siap2....
Mei Mei
suka sama semuaa ceritamu Thor. semangat buat nulisnya
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!