Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Pagi datang terlalu cepat bagi Shelina. Matanya terbuka dengan kepala terasa berat, sedikit berdenyut. Langit-langit kamar terasa asing, Shelina mengerutkan kening.
"Ranjang?" Shelina bangkit setengah duduk, napasnya tertahan ketika menyadari dirinya tidak lagi berada di lantai. Selimut menutup tubuhnya rapi. Bingkai foto orang tuanya ada di samping bantal, masih dalam pelukannya.
Potongan ingatan semalam datang samar.
Jam di ponselnya menyala, Shelina tersentak.
“Ya Tuhan—”
Dia terlambat, tanpa sempat berpikir panjang, Shelina bangkit, meraih handuk, dan bersiap secepat mungkin. Tidak ada air mata pagi ini. Tidak ada waktu untuk itu. Yang ada hanya rutinitas dan tanggung jawab.
Beberapa menit kemudian, langkahnya terdengar menuruni anak tangga, cepat, tegas, terburu-buru.
Di bawah, Kaisar sedang duduk di meja makan.
Semangkuk bubur hangat ada di depannya. Ia tidak memasak tetapi membeli. Mendengar langkah kaki, Kaisar langsung menoleh.
Shelina muncul di ujung tangga, rambut diikat sederhana, wajahnya pucat, matanya dingin seperti biasa dan seolah malam tadi tidak pernah terjadi.
Kaisar berdiri setengah, ragu.
“Miss,” panggilnya.
Shelina tidak berhenti berjalan.
“Ayo sarapan dulu,” lanjut Kaisar cepat. “Aku udah beliin sarapan di luar.”
Shelina berhenti. Di meja makan itu ada dua mangkuk bubur. Shelina menelan ludah. Ada rasa asing di dadanya dan bukan marah, bukan tersinggung tetapi lebih ke sesuatu yang berat dan tak nyaman.
“Aku … sudah terlambat,” katanya akhirnya, suaranya datar tapi lebih pelan dari biasanya.
Kaisar mengangguk. “Iya, tapi tetap makan sedikit.”
Shelina menatapnya sekilas. Lalu menunduk.
“Terima kasih,” ucapnya singkat.
Satu kata sederhana yang entah kenapa membuat Kaisar terdiam di tempat. Shelina meraih tasnya, melangkah keluar rumah tanpa menoleh lagi.
Kampus kembali riuh seperti biasa.
Di lorong fakultas, di antara suara langkah kaki dan tawa mahasiswa, bisik-bisik mulai beredar dengan cepat, liar, dan tidak peduli pada kebenaran.
“Eh, lo tau nggak? Miss Shelina sama Pak Rangga kayaknya deket, deh.”
“Iya, kemarin gue lihat mereka bareng di parkiran.”
“Pantesan sering keliatan ngobrol.”
Gosip itu sampai ke telinga Kaisar. Dia berjalan santai dengan kedua tangan di saku jaket, wajahnya datar.
Hanya mendengus kecil.
“Dosen sama dosen doang,” gumamnya. “Ngapain heboh.”
Beberapa mahasiswa menoleh, heran. Biasanya Kaisar adalah orang pertama yang bakal menyulut keributan, apalagi kalau menyangkut dosen yang ia benci.
Tapi hari ini tidak, dan di depan kantin, geng Kobra menunggu.
“Sar, ke kantin yuk,” ajak salah satu dari mereka. “Laper.”
Kaisar menggeleng. “Nggak. Gue ke kelas.”
Kening mereka langsung berkerut.
“Kelas?”
“Kelas siapa?”
“Lo sakit?”
Kaisar melirik jam tangannya. “Kelas Miss Shelina.”
Beberapa detik berlalu sebelum tawa pecah.
“Hah? Yang dosen killer itu?”
“Bukannya minggu lalu lo paling anti dia?”
“Lo yang ngempesin ban mobilnya, kan?”
“Yang buang jasnya ke tong sampah itu lo juga!”
Kaisar mendecih. “Udah, jangan ribut.”
“Wah, wah,” salah satu temannya menyeringai.
“Kok sekarang jadi jinak, Sar?”
Kaisar memasukkan tangan lebih dalam ke saku jaketnya. “Gue cuma nggak pengin ribet.”
“Alasan,” ledek yang lain. “Jangan-jangan lo takut.”
Kaisar berhenti melangkah. Menoleh sebentar.
“Takut apaan?” katanya datar.
Temannya tertawa, mengangkat bahu. “Entahlah.”
Kaisar melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi. Ejekan itu tidak lagi ia pedulikan.
Kelas Miss Shelina dimulai tepat waktu. Tidak ada suara musik, tidak ada candaan pembuka. Hanya langkah sepatu yang tegas dan tatapan dingin di balik kacamata transparan.
“Selamat pagi,” ucap Shelina singkat.
“Silakan duduk. Kita mulai.” Suasana kelas langsung berubah serius.
Kaisar duduk di bangku tengah, bersandar malas seperti biasa, sampai Shelina membuka map hitam di tangannya.
“Hari ini,” katanya datar, “pengumpulan tugas analisis yang saya berikan tiga hari lalu.”
Kaisar mengerjap.
"Tugas…?" Gumamnya pelan dan sedikit bingung.
Shelina mulai memanggil nama satu per satu. Kertas diserahkan, beberapa mahasiswa terlihat lega. Kaisar menelan ludah, tangannya refleks merogoh tas. Tidak ada tugas apapun di tasnya.
"Anjir…" Baru saat itu potongan malam tadi menghantam kepalanya.
Shelina berdiri di depan kelas, menghitung tumpukan kertas di mejanya.
Alisnya berkerut tipis.
“Kurang satu.” Suasana kelas langsung hening.
Shelina mengangkat pandangan, matanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada satu titik.
“Kaisar Pramudya,” panggilnya dingin.
“Mana tugas kamu?”
Kaisar menghela napas pelan. Ia berdiri, tangan dimasukkan ke saku celana. Otaknya berputar cepat. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Tidak mungkin menyeret Shelina ke masalah yang akan jauh lebih besar dari sekadar tugas kuliah.
“Aku nggak mengerjakan, Miss,” katanya akhirnya.
Shelina menyipitkan mata. “Kenapa?”
Kaisar diam sesaat, lalu menjawab singkat,
“Karena aku nggak bisa.”
Desis pelan terdengar dari bangku-bangku belakang. Wajah Shelina langsung mengeras.
“Bukan sekali ini,” ucapnya tajam. “Bukan dua kali. Kamu selalu punya alasan.”
Ia meletakkan map dengan bunyi keras di meja.
“Kamu pikir kelas saya tempat main-main?”
Kaisar mendecih. “Miss—”
“Cukup,” potong Shelina. Suaranya tidak meninggi, tapi justru itulah yang membuatnya lebih menakutkan.
“Keluar dari kelas.”
Kaisar menegang. “Hah?”
“Bersihkan toilet mahasiswa lantai bawah,” lanjut Shelina tanpa ragu.
“Sampai jam kelas selesai.”
Kaisar tertawa kecil, tidak percaya. “Serius, Miss nyuruh aku bersihin toilet?”
Tatapan Shelina naik perlahan.
“Sekarang,” katanya.
Tawa Kaisar hilang, dia menatap Shelina beberapa detik, seolah ingin melawan namun akhirnya mengalah. Tanpa sepatah kata lagi, Kaisar meraih tasnya dan melangkah keluar kelas.
Pintu tertutup.
Shelina menarik napas pelan, menahan gemetar yang nyaris muncul.
Saat ia sedang menyikat lantai, suara tawa terdengar dari luar.
“Eh, itu Kaisar, kan?”
Beberapa mahasiswa dari fakultas lain berhenti di depan pintu. Di antara mereka, wajah-wajah yang tidak asing.
Geng motor lawan.
“Wah, ketua geng Kobra sekarang jadi OB kampus?” ejek salah satu dari mereka.
Kaisar menoleh pelan, tatapannya dingin.
“Keluar,” katanya singkat.
“Tenang, Sar,” yang lain tertawa. “Gue cuma pengin liat sejarah.”
“Sejarah apa?” Kaisar menyeringai tipis.
“Sejarah pertama kalinya Kaisar Pramudya dihukum dosen,” jawab mereka sambil tertawa.
Dada Kaisar naik turun, biasanya, satu kata saja cukup untuk memicu baku hantam. Biasanya, tangan Kaisar sudah lebih dulu bergerak.
Tapi hari ini, ia menahan diri dan dia kembali menggerakkan pel. Mengabaikan tawa itu. Geng lawan saling pandang, heran.
“Buset,” gumam salah satu dari mereka. “Beneran berubah.”
“Katanya karena dosen killer itu,” sahut yang lain. “Miss Shelina.” Nama itu membuat Kaisar berhenti sejenak.
Sementara itu, gosip menyebar lebih cepat dari air kotor di lantai.
“Kaisar dihukum bersihin toilet.”
“Serius?”
“Gara-gara Miss Shelina.”
“Dosen cewek yang dingin itu?”
“Katanya Kaisar sekarang tunduk.”
“Jangan-jangan mereka punya apa-apa.” Bisik-bisik itu mengalir dari kelas ke kelas.
Sore itu, langit kampus mulai menguning.
Di parkiran, Kaisar duduk di atas motornya. Helm sudah terpasang, rahangnya mengeras. Tatapannya menangkap satu sosok yang baru keluar dari gedung fakultas Miss Shelina.
Tanpa berpikir panjang, Kaisar mengeber motornya keras. Suara knalpot memekik, memantul di antara deretan kendaraan.
Beberapa mahasiswa menoleh, Shelina berhenti melangkah sejenak. Kaisar tidak menoleh lagi. Ia melesat pergi, meninggalkan debu dan kekesalan yang belum selesai.
Bukan ke rumah barunya bukan ke tempat yang sekarang seharusnya ia pulang. Motor itu berhenti di halaman rumah besar keluarga Pramudya.
Begitu pintu terbuka,
“Mommy!”
Suara Kaisar menggema di ruang tengah. Kinara yang baru keluar dari dapur terkejut.
“Kaisar? Kenapa pulang ke sini?”
“Aku nggak mau tinggal sama Miss Shelina!” bentaknya tanpa basa-basi.
“Aku nggak mau menikah! Aku udah bilang dari awal!”
Kinara mendekat, wajahnya cemas.
“Kamu kenapa? Cerita baik-baik—”
“Aku benci dia!” potong Kaisar, napasnya memburu.
“Aku nggak mau pulang ke rumah itu! Aku nggak mau hidup sama dia!”
Kata-kata itu keluar begitu saja, kasar dan mentah.
Kinara terdiam sejenak. Lalu, dia menatap anak lelakinya, marah, keras kepala, dan jelas sedang kalah oleh emosinya sendiri.
“Kaisar…” suaranya melembut. “Apa yang sebenarnya terjadi di kampus?”
Namun, Kaisar tidak menjawab. Ia berbalik, berlari menaiki tangga dua anak tangga sekaligus.
Pintu kamar dibanting keras.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kinara mengambil ponselnya. Mencari satu nama, Aksa Pramudya. Satu-satunya orang yang masih bisa membuat Kaisar berhenti berlari dari tanggung jawabnya.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.