NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Keluarga

Tiga hari setelah jamuan makan dengan para Don, aku bangun dengan suara tembakan di kejauhan. Bukan suara biasa. Bukan satu atau dua tembakan. Tapi beruntun, seperti perang.

Damian sudah bangun. Sudah berpakaian lengkap dengan rompi anti peluru. Memeriksa pistol di tangannya.

"Apa yang terjadi?" tanyaku sambil duduk.

"Lorenzo," jawabnya tanpa menoleh. "Dia akhirnya bergerak."

Dia berbalik menatapku. "Bersiaplah. Kita akan perang hari ini."

Lima belas menit kemudian, aku sudah mengenakan pakaian hitam yang sama dengan Damian. Rompi anti peluru di tubuh. Pistol di pinggang. Pisau di paha.

Seperti tentara yang siap bertempur.

Dan aku merasakan sesuatu. Bukan takut. Tapi antisipasi? Seperti tubuhku sudah menanti ini. Sudah siap untuk kekerasan.

Kami turun ke ruang kontrol di bawah tanah. Layar-layar besar menunjukkan berbagai sudut kota. Dan di mana-mana ada kekacauan.

Mobil-mobil hitam dengan bendera Lorenzo menyerang bisnis-bisnis milik Damian. Menembaki pengawal. Membakar bangunan.

"Berapa banyak yang dia bawa?" tanyaku sambil mempelajari layar.

"Intel bilang dua ratus orang," jawab Marco yang berdiri di sudut. Wajahnya tegang. "Dari berbagai keluarga yang tidak setuju dengan kepemimpinan Tuan Damian."

"Pengkhianat," gumam Damian. "Semua dari mereka."

Dia menunjuk pada peta besar di dinding. Ada titik-titik merah menandai lokasi serangan Lorenzo.

"Dia menyerang dari tiga arah," kata Damian. "Utara, timur, dan barat. Mencoba mengepung kita. Memotong jalur pasokan dan komunikasi."

Aku mempelajari peta dengan seksama. Melihat pola. Melihat kelemahan.

"Dia tidak menyerang dari selatan," kataku. "Kenapa?"

Damian menatapku dengan tatapan yang... terkesan.

"Karena selatan adalah area terkuat kita," jawabnya. "Dia tahu dia tidak bisa menang dari sana."

"Atau," kataku sambil menunjuk peta, "dia menyimpan kekuatan terbesarnya di selatan. Menunggu kita fokus ke tiga arah lain. Lalu menyerang dari belakang."

Ruangan senyap. Semua orang menatapku.

"Itu mungkin," kata Marco. "Sangat mungkin."

Damian tersenyum. Senyum yang penuh kebanggaan.

"Kirim seratus orang ke selatan," perintahnya. "Sisanya bagi ke tiga arah lain. Dan siapkan artileri berat. Hari ini kita akhiri Lorenzo sekali untuk selamanya."

***

Satu jam kemudian, kami sudah di jalanan. Konvoi sepuluh mobil lapis baja. Aku duduk di samping Damian di mobil tengah. Di belakang kami ada truk dengan puluhan pengawal bersenjata.

Seperti pasukan perang.

"Kau tidak usah turun," kata Damian sambil memeriksa senjatanya lagi. "Tetap di mobil. Biarkan kami yang tangani."

"Tidak," jawabku. Suaraku tegas. "Aku akan turun. Aku akan bertempur."

Damian menatapku. "Alexa."

"Aku Donna," potongku. "Aku bukan hiasan yang duduk di mobil, sementara suamiku berperang. Aku akan berdiri di sampingmu. Seperti yang kau ajarkan."

Damian terdiam lama, lalu dia mengangguk.

"Baik," katanya. "Tapi tetap dekat denganku. Jangan jauh."

Kami mencapai lokasi pertama. Gudang di area utara yang diserang oleh orang-orang Lorenzo. Asap mengepul dari bangunan yang terbakar. Tembakan terdengar dari dalam.

Mobil berhenti. Semua orang turun dengan cepat. Formasi tempur. Dan aku turun bersama mereka. Pistol di tangan. Jantung berdetak cepat. Tapi bukan karena takut.

Karena antisipasi. Karena adrenalin.

"MAJU!" teriak Damian.

Kami menyerbu masuk. Tembakan langsung menyambut. Peluru bersliweran. Beberapa pengawal kami jatuh.

Tapi kami lebih banyak. Lebih terlatih.

Aku melihat pria dengan bendera Lorenzo di lengannya. Mengangkat senjata ke arah Damian.

Tanpa berpikir, aku menembak. DUAR! Tepat di dada, dan dia jatuh.

Damian melirik sekilas. Mengangguk. Lalu terus maju.

Kami bergerak sebagai satu unit. Aku di samping Damian. Menembak siapa pun yang mengancam. Melindungi sisi kanannya sementara Marco melindungi kiri.

Seperti koreografi mematikan.

Lima belas menit kemudian, gudang sudah bersih. Semua musuh mati atau melarikan diri.

"Lokasi berikutnya," kata Damian sambil mengganti magazine. Bahkan tidak bernapas terengah.

Kami kembali ke mobil. Menuju lokasi timur. Dan begitu seterusnya. Satu lokasi. Dua lokasi. Tiga lokasi.

Setiap kali kami datang, kami menang. Setiap kali musuh mencoba melawan, mereka mati. Dan aku di tengahnya. Menembak. Membunuh. Tanpa ragu. Tanpa henti.

Hitungan berapa banyak yang kubunuh sudah tidak penting lagi. Sepuluh? Dua puluh? Lebih? Yang penting hanya bertahan hidup. Dan melindungi Damian.

***

Sore menjelang malam ketika kami akhirnya mencapai markas Lorenzo. Gedung tua di pusat kota yang dia jadikan basis.

"Dia di dalam," kata Marco melalui earpiece. "Bersama lima puluh orang terakhirnya."

"Baik," kata Damian. "Kita akhiri ini sekarang."

Tapi sebelum kami bisa bergerak, tembakan datang dari belakang. Seperti yang kuprediksi. Lorenzo memang menyimpan kekuatan cadangan di selatan. Seratus orang menyerang dari belakang.

"BERLINDUNG!" teriak Damian.

Kami terpojok. Musuh di depan dan di belakang. Tembakan dari dua arah.

"Kita terjebak," kata Marco.

Tapi aku melihat sesuatu. Bangunan tua di samping kiri. Dengan tangga darurat menuju atap.

"Sana," kataku sambil menunjuk. "Dari atap kita bisa menembak ke bawah. Mendapat keuntungan posisi."

Damian menatap bangunan itu. Lalu tersenyum.

"Cemerlang," katanya. "Marco, bawa setengah orang ke atap. Kami akan bertahan di sini dan menarik perhatian mereka."

Marco mengangguk. Bergerak cepat dengan dua puluh lima orang. Lima menit kemudian, tembakan datang dari atas. Mengejutkan musuh di belakang.

"SEKARANG!" teriak Damian. "MAJU!"

Kami menyerang dari depan, sementara Marco menyerang dari atas. Musuh terkepung, dan satu persatu jatuh.

Dalam waktu sepuluh menit, seratus orang yang menyerang dari selatan sudah mati atau menyerah.

"Masuk gedung," perintah Damian. "Akhiri Lorenzo."

Kami menyerbu masuk. Naik tangga. Melawan pengawal Lorenzo yang tersisa. Sampai akhirnya kami mencapai ruangan teratas.

Dan di sana berdiri Lorenzo. Dengan pistol di tangan. Lima orang terakhir di sampingnya.

"Damian," katanya dengan senyum yang terluka. "Saudara tersayangku."

"Kau bukan saudaraku," jawab Damian dingin. "Kau pengkhianat."

Lorenzo tertawa. "Pengkhianat? Aku hanya mengambil apa yang seharusnya jadi milikku. Tahta yang kau curi dengan membunuh keluarga kita sendiri."

"Aku tidak mencuri apapun," kata Damian. "Aku mengambil dengan kekuatan. Seperti seharusnya."

"Dan sekarang aku akan mengambilnya kembali," kata Lorenzo sambil mengangkat pistolnya.

Tapi aku lebih cepat.

DUAR!

Peluruku menembus bahunya, Lorenzo jatuh. Pistolnya terlempar. Lima pengawalnya langsung mengangkat senjata. Tapi Damian dan pengawal kami lebih cepat.

DUAR! DUAR! DUAR!

Semuanya jatuh. Mati sebelum sempat menembak. Hanya Lorenzo yang tersisa, yang sudah tergeletak di lantai, dengan memegang bahu yang sudah berdarah.

Damian berjalan mendekat, lalu berdiri di atasnya.

"Kau selalu lemah," katanya. "Selalu ingin yang bukan milikmu. Dan sekarang kau akan mati karena keserakahanmu."

Dia mengangkat pistolnya, membidik kepala Lorenzo.

"Tunggu!" kataku.

Damian menoleh. "Kenapa?"

Aku berjalan mendekat, berdiri di samping Damian. Menatap Lorenzo yang menatap balik dengan mata penuh kebencian.

"Biar aku yang melakukannya," kataku.

Damian terdiam, lalu tersenyum. Menyerahkan pistolnya padaku.

"Silakan, Donna Alexa," katanya.

Aku mengambil pistol, dan mulai membidik Lorenzo.

"Ini untuk semua yang kau coba hancurkan," kataku dengan suara datar. "Untuk semua orang yang mati hari ini karena ambisimu."

Lorenzo meludah. "Kau monster, kalian berdua memang seorang monster."

"Ya," jawabku. "Kami memang monster, tapi kami monster yang menang."

DUAR!

Tembakan terakhir tepat di bagian jantung, Lorenzo terhentak, dan tidak bergerak lagi.

Perang selesai, dan kami menang.

Aku menyerahkan pistol kembali pada Damian. Dia menatapku dengan tatapan yang penuh dengan cinta? Kebanggaan? Obsesi?

"Kau sempurna," bisiknya sambil menarikku ke pelukan. "Benar-benar sempurna. Kita menang bersama, seperti yang seharusnya."

Dan aku memeluknya kembali, di tengah ruangan penuh mayat, di tengah kemenangan berdarah. Merasakan sesuatu yang menyerupai kepuasan?

Kami menang bersama. Dan mungkin itu yang penting, bukan benar atau salah, bukan baik atau jahat. Hanya kemenangan untuk bertahan hidup.

Tapi apa yang tidak kami ketahui adalah, pertempuran hari ini terekam oleh puluhan kamera jalanan. Rekaman aku menembak Lorenzo, sudah tersebar di dark web.

Dan FBI yang sudah menerima email dari ayah tentang kejahatan Damian, sekarang punya bukti tambahan. Bukti bahwa aku bukan hanya korban, tapi juga pelaku yang sama bersalahnya. Dan besok pagi, mereka akan datang dengan surat penangkapan, untuk kami berdua.

1
Thahara Maulina
suka kak serem penuh obsesion tapi nagih 🤭😍
Riyanti Bee
Jihid bingit sih Damian. 😄
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Queen of Mafia: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Queen of Mafia: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Queen of Mafia: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Queen of Mafia: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Queen of Mafia: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!