Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang belum bisa pulih
Suasana ruang tamu yang sederhana itu mendadak terasa sesak. Udara seolah berhenti mengalir saat Hana berdiri mematung, menatap pria paruh baya di hadapannya yang kini tampak begitu ringkih. Luka lama yang selama ini ia kubur dalam-dalam, mendadak menyeruak naik ke permukaan, menciptakan rasa sesak yang menghimpit dada.
"Kenapa... Kenapa harus seperti ini?" suara Hana pecah, bergetar hebat. "Anda tahu betapa aku dan ibuku menderita selama ini? Hinaan dan cacian orang-orang terhadap Ibu... itu sangat melukainya. Setiap tetes air mata Ibuku adalah saksi bisu betapa hancurnya kami."
Hana menarik napas panjang, mencoba mencari kekuatan di tengah isak tangisnya. "Tapi Anda? Anda malah enak-enakan menikahi wanita lain. Ya, aku tahu alasannya demi keselamatan aku dan Ibu, tapi itu semua sungguh tidak adil! Keselamatan macam apa yang dibayar dengan kehancuran mental kami? Sebaiknya Anda pulang saja, tidak usah mencariku lagi!"
Pria itu, Pak Sutoyo, ayah kandung Hana, tertunduk lesu. Suaranya nyaris hilang ditelan penyesalan. "Hana, apakah kau tidak mau memaafkan ayahmu ini, Nak?"
Hana terdiam, memalingkan wajah karena tak sanggup melihat gurat kesedihan di wajah pria yang seharusnya menjadi pelindungnya itu. Di tengah keheningan yang menyakitkan, Tama, kakak tiri Hana akhirnya angkat bicara dengan nada tenang namun tegas.
"Hana, tolong maafkan Ayah," ujar Tama lembut. "Beliau sangat mengharapkan kau kembali. Di sisa hidupnya, beliau hanya ingin membahagiakanmu, menebus semua waktu yang hilang. Tolong pikirkan baik-baik."
Tama melangkah mendekat, meletakkan sebuah kartu nama di atas meja kayu yang kusam. "Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Hana. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, namun manusia tidak berhak untuk menghakimi sesama manusia secara mutlak. Baiklah, kalau begitu aku dan Papah sebaiknya pulang dulu."
Tama merangkul bahu ayahnya yang tampak begitu rapuh, seolah pria itu bisa tumbang kapan saja. "Ini kartu namaku. Jika kau berubah pikiran, segeralah hubungi nomor ini. Aku sangat berharap kau mau memaafkan Papah dan tinggal bersama kami."
Lantai ruang tamu itu terasa mendingin seiring dengan langkah Tama yang menuntun ayahnya keluar. Suara mobil yang perlahan menjauh meninggalkan kesunyian yang menyesakkan. Hana masih berdiri mematung, menatap kartu nama di atas meja seolah benda kecil itu adalah beban ribuan ton yang siap menghimpitnya.
"Kenapa, Bude? Kenapa dia datang di saat Ibuku sudah tidak ada untuk mendengar permintaan maafnya?" suara Hana pecah, nyaris berbisik.
Bude Minah mengusap punggung Hana, berusaha menyalurkan kekuatan yang tersisa di tubuh tuanya. El, si kecil yang sejak tadi terdiam, kini memeluk kaki bundanya dengan erat. Matanya yang polos menatap Hana dengan penuh rasa ingin tahu sekaligus kecemasan.
"Bunda jangan nangis..." celetuk El lirih.
Hana berjongkok, memeluk El seolah-olah putranya itu adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tetap menapak di bumi. Air matanya jatuh mengenai bahu kecil El.
"Bude tahu, Nduk," ujar Bude Minah sambil ikut duduk di samping mereka. "Rasa sakit mu itu warisan dari air mata ibumu. Tapi dengarkan Bude... kebencian itu seperti memegang bara api. Kamu berharap orang lain terbakar, tapi tanganmu sendirilah yang melepuh."
.
.
Malam itu, Hana tidak bisa memejamkan mata. Ia memandangi foto ibunya yang sudah usang di sudut kamar. Bayangan ibunya yang menjahit hingga larut malam di bawah lampu remang-remang, ibunya yang sering menahan lapar agar Hana bisa makan kenyang, dan ibunya yang selalu tersenyum getir setiap kali tetangga berbisik tentang 'anak tanpa ayah'.
"Demi keselamatan kami?" Hana bergumam pada kegelapan. "Atau demi rasa takutnya kehilangan pangkat?"
Menjelang sore hari, Hana duduk di teras depan. Bude Minah datang membawa secangkir teh hangat, lalu meletakkan kartu nama Tama yang tadi sempat tertinggal di meja tamu.
"Tama anak yang baik, Hana. Bude bisa melihat itu di matanya. Dia tidak punya dosa atas masa lalu orang tuanya," ucap Bude Minah lembut.
"Tapi dia anak dari wanita yang mengancam nyawa Ibu, Bude! Bagaimana aku bisa duduk satu meja dengan keluarga yang menghancurkan hidup ibuku?"
"Kamu tidak harus menjadi bagian dari keluarga Mira," sahut Bude Minah tegas namun tenang. "Tapi kamu adalah bagian dari darah Sutoyo. Maafkan bukan berarti melupakan, Hana. Maafkan itu agar kamu bisa bernapas tanpa rasa sesak setiap kali mendengar nama ayahmu."
Hana mengambil kartu nama itu. Jemarinya gemetar menyentuh deretan angka yang tertera di sana. Ia teringat wajah renta Pak Sutoyo yang tersungkur di lantai, seorang pria yang dulunya gagah berani di depan hukum, kini hancur berkeping-keping di depan putrinya sendiri.
Hana menarik napas panjang, mencoba meredam badai di dadanya. Ia mengambil ponselnya, jarinya ragu di atas layar.
"Aku tidak melakukan ini untuknya," bisik Hana pada dirinya sendiri. "Aku melakukan ini agar Ibu bisa tenang di sana, melihat putrinya tidak lagi membawa dendam."
Dengan sisa keberanian yang ada, Hana mulai mengetik sebuah pesan singkat kepada Tama.
"Mas Tama, aku butuh waktu. Tolong jangan paksa aku untuk bertemu Ayah dalam waktu dekat. Tapi... aku akan mencoba untuk tidak menutup pintu sepenuhnya. Beri aku ruang untuk menyembuhkan luka ini sendirian."
Hana meletakkan ponselnya. Meskipun air mata masih mengalir, napasnya terasa sedikit lebih ringan. Ia tahu, perjalanan memaafkan ini akan panjang dan berliku, tapi setidaknya, ia sudah mulai melangkah
Di sebuah ruangan tamu yang sunyi, cahaya dari layar ponsel menyinari wajah Tama. Ia baru saja membaca pesan singkat dari Hana. Sebuah pesan yang singkat, namun sarat akan luka dan permohonan untuk jarak. Tama menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar berat dan penuh pengertian.
Sutoyo, yang duduk di sofa tepat di sampingnya dengan wajah yang masih tampak pucat, melirik ke arah putranya. "Siapa yang mengirim pesan, Tama? Apakah itu... Hana?" tanyanya dengan nada penuh harap sekaligus cemas.
Tama menoleh, memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Iya, Pah. Ini dari Hana."
"Apa katanya? Apa dia mau bertemu lagi?" Sutoyo mencoba memperbaiki posisi duduknya, seolah tenaganya mendadak pulih mendengar nama putrinya disebut.
Tama menggeleng perlahan, lalu menjelaskan isi pesan tersebut dengan hati-hati. "Hana bilang dia membutuhkan ruang dan waktu, Pah. Dia belum bisa menerima semua kenyataan ini dengan cepat. Dan menurutku, apa yang dikatakan Hana itu benar. Tidak semua orang bisa menerima begitu saja sesuatu yang dulu begitu melukainya. Luka yang dialami Hana dan almarhumah ibunya terlalu dalam untuk sembuh hanya dalam semalam."
Mendengar penjelasan Tama, Sutoyo terdiam. Ia menunduk, menatap jemarinya yang mulai keriput. Ada gurat penyesalan yang kembali dalam di wajahnya, namun kali ini ada sedikit ketenangan di sana.
"Papah mengerti," bisik Sutoyo lirih. "Papah yang salah, dan Papah tidak bisa memaksanya untuk langsung memaafkan. Papah akan lebih bersabar lagi menghadapi putri ku itu. Berapa pun waktu yang dia butuhkan, Papah akan menunggu."
Malam semakin larut di Desa Bangorejo. Hujan deras yang mengguyur sejak magrib tadi kini mulai mereda, menyisakan gemericik air yang jatuh dari atap dan hawa dingin yang menusuk tulang. Tiba-tiba....Lampu di seluruh desa padam total, menenggelamkan segalanya dalam kegelapan pekat.
Hana yang terbangun karena hawa dingin memutuskan untuk keluar kamar. Dengan langkah hati-hati dalam keremangan, ia berniat menuju ruang tamu untuk mencari lilin atau senter. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Jantungnya berdegup kencang saat matanya menangkap dua bayangan hitam berdiri di depan pintu masuk rumahnya.
Hana membeku. Ia bersembunyi di balik pilar kayu, tangannya gemetar hebat. Siapa mereka? Apa mereka orang jahat yang ingin mencelakai ku? pikirnya ketakutan.
Dalam kesunyian malam yang hanya diisi suara sisa hujan, ia mendengar bisikan lirih dari arah pintu.
"Hey, kamu yakin ini alamatnya?" tanya salah satu bayangan itu dengan suara berat yang diredam.
"Sangat yakin, ini alamat tempat tinggal Nyonya Hana," jawab bayangan satunya lagi dengan nada yang sangat formal namun tetap pelan.
Mendengar namanya disebut dengan sebutan "Nyonya," Hana semakin bingung sekaligus waspada. Ia mengeratkan pegangannya pada kain gorden, bersiap untuk berteriak atau lari mencari perlindungan jika kedua orang itu mencoba mendobrak masuk.
Bersambung...