Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA PULUH DUA: LABIRIN GAIRAH
Fajar memang telah menyingsing di ufuk timur, membawa cahaya keemasan yang menembus celah-celah tirai sutra kamar pengantin Valentinus, namun bagi Orion dan Seraphina, waktu seolah telah berhenti berputar. Kamar mewah itu kini menjadi saksi bisu atas sebuah transformasi yang mengerikan sekaligus memukau. Udara di dalamnya terasa pekat, dipenuhi aroma maskulin yang tajam, wangi keringat yang menyatu, dan sisa-sisa aroma gairah yang seolah-olah telah meresap ke dalam dinding marmer. Seraphina tidak lagi merasakan kelelahan fisik yang menghimpitnya; rasa perih yang sebelumnya menghantuinya kini telah bermutasi menjadi sebuah desiran panas yang terus-menerus menuntut pemuasan di pusat sarafnya.
"Aku membutuhkan kehadiranmu lagi, Orion," desah Seraphina dengan suara yang parau namun penuh dengan nada tuntutan yang tidak lagi malu-malu. Bibirnya yang sedikit membengkak karena ciuman-ciuman brutal semalam membentuk lengkungan nakal saat ia menatap suaminya. Ia menggesekkan bagian pribadinya yang masih lembap ke paha kekar Orion, sebuah undangan terang-terangan yang menunjukkan betapa ia telah benar-benar 'terlatih' untuk menjadi pasangan yang sepadan bagi kegilaan pria itu.
Orion memberikan seringai yang sangat lebar, sebuah ekspresi kemenangan dari seorang predator yang berhasil menjinakkan mangsanya hingga menjadi rekan dalam perburuan. "Kau benar-benar telah melampaui ekspektasiku, Seraphina. Kecanduan ini adalah tanda bahwa kau telah sepenuhnya menerima takdirmu sebagai bagian dari diriku." Ia mencengkeram pinggul istrinya dengan sangat kuat, merasakan tekstur kulit Seraphina yang halus namun panas di bawah telapak tangannya.
"Aku tidak ingin ada rahasia lagi, Orion. Tunjukkan padaku segala jenis penaklukan yang bisa kau lakukan," tantang Seraphina dengan mata yang berkilat oleh api hasrat yang baru. Ia membuka lebar kedua pahanya, membiarkan area pribadinya yang sensitif dan bengkak terpapar sepenuhnya, seolah menantang Orion untuk kembali mengisi kehampaan yang ia rasakan.
Orion tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh Seraphina yang ringan dan membaringkannya dalam posisi yang memungkinkannya untuk menguasai setiap jengkal tubuh gadis itu. Orion menekan miliknya yang sudah kembali menegang sempurna ke arah pintu masuk Seraphina, merasakan denyut antisipasi yang luar biasa dari dalam diri istrinya.
Jleb! Sllrrrp!
Orion menghujam masuk dengan satu dorongan yang sangat bertenaga, seolah-olah ingin menyatukan jiwa mereka melalui kontak fisik yang paling ekstrem. Jeritan Seraphina pecah, memenuhi ruangan itu dengan nada yang tidak lagi mengandung kesedihan, melainkan sebuah ekstasi murni yang memabukkan. Ia merasakan miliknya seolah-olah dilahap oleh kehadiran Orion yang besar dan panas, sebuah sensasi penuh yang membuatnya melengkung hebat di atas sprei hitam yang berantakan.
"Hantam aku lebih dalam lagi, Orion! Jangan biarkan aku bernapas tanpa merasakan keberadaanmu!" Seraphina menjerit histeris, jemarinya mencakar punggung Orion, meninggalkan jejak-jejak merah yang menunjukkan betapa liarnya ia merespons setiap genjotan suaminya.
Orion mulai memompa dengan ritme yang semakin liar dan tak terkendali. Plok! Clep! Plok! Clep! Suara benturan tubuh mereka terdengar seperti musik yang sangat provokatif di dalam kamar yang kedap suara itu. Orion menunduk, menghisap puting Seraphina dengan sangat kuat, memberikan rangsangan ganda yang membuat Seraphina hampir kehilangan kesadaran karena saking nikmatnya.
"Kau menyukai bagaimana aku mengoyak ketenanganmu, bukan?" Orion menggeram di tengah-tengah aksinya. "Katakan padaku bahwa kau adalah milikku, seutuhnya dan selamanya!"
"AKU ADALAH MILIKMU! AHHH! SAYA ADALAH WADAH BAGI SEGALA HASRATMU!" Seraphina berseru dengan suara yang nyaris hilang. Ia membalas setiap dorongan Orion dengan hentakan pinggul yang tidak kalah kuatnya, seolah-olah ia adalah seorang pejuang yang sedang menari di tengah api.
Tiba-tiba, Orion mengubah posisi dengan gerakan yang sangat cepat, membuat Seraphina berada di atasnya. "Sekarang, kau yang berkuasa, Seraphina. Tunjukkan padaku seberapa besar rasa laparmu."
Seraphina tidak ragu sedikit pun. Ia menduduki milik Orion dengan penuh percaya diri, melakukan gerakan naik turun yang sangat sensual dan menuntut. Sllrrrp! Plok! Setiap gerakan yang ia lakukan adalah sebuah pernyataan bahwa ia telah benar-benar berubah. Ia menatap Orion dengan tatapan yang sangat mendalam, sembari terus memeras milik suaminya dengan otot-otot di dalam dirinya yang telah terlatih dengan sempurna.
"Kau benar-benar luar biasa, suamiku! Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa rasa penuh ini!" Seraphina melengking, kepalanya terkulai ke belakang saat ia merasakan getaran orgasme mulai merambat kembali di seluruh tulang belakangnya.
Mereka terus bereksplorasi sepanjang pagi itu. Orion membawa Seraphina ke depan meja rias yang megah, mengangkatnya ke atas meja marmer yang dingin, dan menghantamnya dari bawah sementara Seraphina melihat pantulan dirinya sendiri di cermin—seorang Nyonya Valentinus yang sedang kehilangan akal sehat di tangan suaminya. Kemudian, mereka berpindah ke lantai yang dilapisi karpet bulu yang lembut, di mana Orion melakukan penaklukan dari arah belakang dengan sangat brutal, membuat Seraphina hanya bisa merintih dalam kebahagiaan yang menyiksa.
Dialog mereka tidak lagi tertahan oleh norma apa pun. Kata-kata yang mereka ucapkan adalah cermin dari gairah primitif yang telah mengambil alih akal sehat mereka.
"Rojok aku sampai aku tidak bisa lagi mengingat namaku sendiri, Orion!"
"Aku akan memberimu segala yang kau minta hingga kau tidak bisa lagi berjalan tanpa bantuanku!"
Suara-suara rintihan, jeritan ekstasi, dan deru napas yang memburu menjadi orkestra bagi kehidupan baru mereka. Setiap inci dari mansion itu seolah-olah bergetar mengikuti intensitas penyatuan mereka. Mereka tidak lagi peduli pada dunia luar, pada Oskar, atau pada Giselle. Di dalam kamar itu, hanya ada Orion dan Seraphina yang sedang tenggelam dalam labirin gairah yang tidak memiliki jalan keluar.
Saat matahari mulai naik tinggi dan menyinari ruangan yang sudah berantakan itu dengan cahaya yang terang benderang, mereka berdua akhirnya terkapar dalam kelelahan yang sangat nikmat. Tubuh mereka saling bertautan, basah oleh peluh dan sisa-sisa penyatuan yang tak terhitung jumlahnya. Seraphina memeluk pinggang Orion dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang masih naik turun dengan cepat.
"Aku benar-benar telah menjadi bagian dari kegilaanmu, Orion," bisik Seraphina dengan senyum puas di bibirnya yang bengkak.
"Dan kau adalah satu-satunya alasan aku ingin tetap berada dalam kegilaan ini, istriku," balas Orion, mencium kening Seraphina dengan penuh kepemilikan.
Mereka menutup mata sejenak, namun hanya dalam beberapa menit, rasa lapar itu kembali muncul di permukaan. Ketagihan ini bukan lagi sekadar nafsu, melainkan kebutuhan biologis yang telah menyatu dengan jiwa mereka.
"Sekali lagi?" desah Seraphina dengan nada yang menantang.
Orion menyeringai, kembali memposisikan dirinya. "Sampai kau benar-benar tidak bisa lagi melepaskanku."