Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.21
...BERGERAK KE ARAH YANG SALAH...
Pagi itu, matahari belum terlalu terik. Angin masih lembut, dedaunan masih bergerak malas, burung-burung masih berkicau tanpa drama. Sayangnya, yang drama adalah hati Ryn Moa. Langkahnya pelan menyusuri trotoar kampus, sepatu kets putihnya menyentuh aspal dengan bunyi nyaris tak terdengar. Ia berjalan sambil menunduk, memeluk tas ransel ke dada seolah itu satu-satunya benda yang bisa menahan jantungnya agar tidak meloncat keluar. Pipinya masih terasa hangat, Bukan karena cuaca tapi karena pesan semalam. Pesan yang terlalu sederhana untuk membuat seseorang kehilangan logika, namun entah bagaimana berhasil membuat Ryn Moa menatap langit-langit kamar selama hampir satu jam tanpa bisa tidur.
Besok jangan datang terlalu pagi. Kamu kelihatan capek. Istirahat.
Hati-hati jalan. Kamu sering tidak memperhatikan sekitar.
Selamat malam, Moa.
Kalimat-kalimat itu terputar di kepalanya seperti lagu latar yang tak bisa dimatikan. Tidak ada emotikon, Tidak ada kata manis berlebihan juga Tidak ada gombalan murahan, dan justru itu masalahnya. Kenapa kalimat sesederhana itu bisa membuat jantungnya jungkir balik?
“Aku kenapa sih…” Ryn Moa menunduk. “Baru juga kenal. Baru juga ngobrol bukan sebagai anggota klub menulis. Baru juga,..”
Ia menghentikan kalimatnya sendiri, seolah takut pikirannya kebablasan. Kata nyaman bahkan belum sempat ia ucapkan dalam hati, tapi sensasinya sudah jelas, hangat, tenang, dan berbahaya.
“Ryn!”
Ryn Moa terlonjak sampai hampir menjatuhkan tas. Refleksnya buruk seperti biasa. Jantungnya langsung memukul tulang rusuk dengan kekuatan penuh. Ia hampir bersumpah keras, kalau saja tidak ingat bahwa ini masih pagi dan masih di area kampus.
Taehyung berdiri tidak jauh dari gerbang. Dengan rambut cokelat yang jatuh lembut, pakaian simpel, dan visual level drama Korea, ia tampak seperti lukisan yang hidup. Ia berdiri di sana dengan posisi santai, satu tangan di saku, satu tangan melambai kecil. Beberapa mahasiswa yang lewat sempat melirik, beberapa terang-terangan, beberapa diam-diam. Pria pertama yang ia kejar, dan menjadi alasan ia masuk kampus ini. Dan anehnya, Ryn Moa tidak sekaget dulu dan juga sepanik dulu. Tidak deg-degan sampai seperti mau mati. Ada deg-degan, tentu ! Tapi kini frekuensi nya lebih kecil, Lebih lembut. Perasaan itu tidak lagi seperti kembang api yang meledak tiba-tiba, melainkan seperti lilin kecil yang menyala stabil. Hangat, tapi tidak membakar. Taehyung mendekat, senyumnya ramah.
“Pagi. Kamu datang tidak terlalu pagi seperti biasanya.”
Ryn Moa tercekat. Otaknya langsung bekerja terlalu cepat. Apa semua sahabat Namjoon dapat laporan kondisi hidupnya?
“A ah… iya. Males bangun.”
Itu bohong setengah mati. Ia bangun berkali-kali semalam. Tapi penjelasan jujur terlalu berbahaya untuk pagi hari.
“Kamu kelihatan segar,” ujar Taehyung sambil memperhatikan wajahnya. “Apa tidur nyenyak?”
Wajah Ryn Moa langsung memanas. Tidur nyenyak? Tentu tidak. Ia sibuk memikirkan pesan seseorang. Seseorang yang bukan Taehyung.
“Oh iya, soal kemarin,” Taehyung menggaruk tengkuknya. “Maaf kalau aku bikin kamu gugup. Aku terlalu frontal ya?”
Ryn Moa membeku sesaat. Taehyung meminta maaf? Ia bahkan ingat kejadian itu? Hatinya bergetar kecil, bukan karena romantis, tapi karena terkejut. Taehyung bukan tipe orang yang sering mengulang kejadian kecil, apalagi meminta maaf untuk hal sepele.
“H hah? Nggak kok… aku cuma… ceroboh.”
Taehyung tertawa ringan.
“Iya, kelihatan banget.”
Ryn Moa ingin protes. Ia tidak ceroboh, hanya… terlalu mudah gugup jika berhadapan dengan manusia berwajah sempurna. Tapi Taehyung menambahkan,
“Tapi lucu.”
Lucu? HILANGKAN SAYA DARI DUNIA. Ryn Moa meremas tali tasnya kuat-kuat, berusaha menahan senyum dan rasa malu yang naik bersamaan. Ia ingin membalas, ingin mengatakan sesuatu yang cerdas dan santai, tapi lidahnya seperti lupa cara bekerja. Sebelum Ryn Moa bisa membalas, terdengar suara lembut dari belakang.
“Moa.”
Nama itu diucapkan pelan tanpa teriak serta tanpa tekanan. Dan justru karena itu, efeknya jauh lebih fatal. Ryn Moa terdiam. Namjoon datang dengan langkah santai, wajah segar, rambut sedikit berantakan, dan, ya Tuhan, senyum kecil dengan lesung pipi yang muncul jelas di pipinya. Ia mengenakan jaket tipis warna netral, tas selempang menggantung di bahu. Penampilannya tidak mencolok, tapi entah bagaimana selalu terlihat menenangkan. Seperti seseorang yang tidak pernah terburu-buru oleh dunia.
Taehyung seperti cahaya terang.
Namjoon seperti matahari pagi yang damai.
Dan entah kenapa…? damai itu justru yang paling menusuk jantung.
“Pagi,” ucap Namjoon.
Suara itu… rendah, halus, dan hangat. Ryn Moa hampir tersedak udara.
“Pa, pagi…”
Namjoon tersenyum tipis lagi. Lesung pipinya terlihat. Ryn Moa langsung memalingkan wajah karena takut pingsan di tempat. Taehyung menatap mereka berdua, lalu membetulkan tasnya.
“Kalian satu kelas lagi?”
Namjoon mengangguk.
“Iya.”
Taehyung tersenyum kecil.
“Kalau begitu, kutinggal dulu ya. Sampai nanti, Ryn.” lalu pergi
Langkah Taehyung menjauh pelan, tidak tergesa. Ryn Moa mengikutinya dengan pandangan sampai sosok itu menyatu dengan keramaian. Dan saat Taehyung melangkah menjauh, Ryn Moa menyadari satu hal, jantungnya tidak seramai biasanya ketika melihat pria itu. Tidak ada lonjakan berlebihan, kepanikan mendadak atau sensasi ingin berteriak dalam hati. Sementara ketika ia melihat Namjoon, Ya..Itu masalah besar.
...⭐⭐⭐...
Ruang kelas mulai terisi. Suara kursi digeser, obrolan ringan, dan tawa kecil memenuhi udara. Ryn Moa memilih duduk di bangku yang sama seperti biasanya, dekat jendela. Menurutnya itu posisi yang aman. Sayangnya, keamanan adalah ilusi. Namjoon memilih duduk di sebelah Ryn Moa. Lagi, tanpa bertanya sebelumnya. Ia menarik kursi dengan tenang, meletakkan tas, lalu membuka buku catatannya seolah ini keputusan paling wajar di dunia. Dan Ryn Moa hanya bisa berdoa agar tidak mati konyol hari ini.
“Kamu sudah sarapan?” tanya Namjoon.
Nada suaranya biasa. Seolah ini pertanyaan netral. Seolah ini tidak membuat jantung Ryn Moa bergetar.
“Hah? Eh, belum…”
Namjoon mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Aku bawa roti. Ambil satu.”
Ryn Moa menatap benda itu seperti sedang ditawari artefak berbahaya.
“H hah?! Nggak perlu,..”
“Tolong ambil.”
Ia mengatakannya sambil menatap dengan mata tenang dan senyum lembut. Itu bukan perintah, Bukan juga desakan. Tapi entah kenapa, Ryn Moa merasa kalau ia menolak sekali lagi, dunia akan miring. Ryn Moa menyerah seketika.
“O oke…”
Tangannya bergerak otomatis mengambil roti itu. Jarinya hampir menyentuh tangan Namjoon, dan ia langsung menariknya cepat-cepat seolah baru saja menyentuh api. Namjoon kembali menulis catatan di bukunya.
“Bagus. Kamu harus makan. Kamu mudah pusing.”
Ryn Moa mematung. Kepalanya menoleh perlahan, seperti mesin tua yang berderit.
“Eh? Kamu tau aku mudah pusing dari mana?”
Namjoon berhenti menulis dan menatapnya sebentar. Senyumnya muncul perlahan.
“Dari cara kamu berdiri kemarin. Kamu terlalu cepat menoleh saat Hobi memanggil kamu.” Namjoon menoleh. “Refleksmu lambat. Mungkin kurang tidur.”
Ryn Moa ingin menghilang. KENAPA DIA MENGAMATI SAMPAI DETAIL BEGITU. Ia menggigit roti keras-keras, seolah itu bisa menahan jeritan batinnya. Pipinya panas. Kepalanya penuh.
“Namjoon… kamu perhatian banget ya?”
Pertanyaan itu keluar sebelum sempat disaring. Begitu saja, polos dan jujur. Namjoon bahkan berhenti menulis mendengarnya lalu menatapnya lagi. Waktu seperti melambat diantara mereka.
“Sama orang tertentu,” kata Namjoon dengan begitu jelas.
Lesung pipinya muncul lagi ketika ia tersenyum. Dan di titik itu, Ryn Moa tahu, masalah ini tidak akan selesai dengan cepat. Ryn Moa langsung menunduk sambil menggigit roti karena kalau tidak, ia pasti menjerit.
...⭐⭐⭐...
Bersambung....