NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:880
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melodi Subuh di Atas Batu Sungai

Sejak Ibu pergi, duniaku seolah bergeser lebih awal. Jauh sebelum ayam jantan di kandang belakang membusungkan dada untuk berkokok, aku sudah terbangun oleh suara gemericik air dari pancuran yang sederhana. Itu adalah Ayah. Pukul tiga pagi, di saat udara desa sedang dingin-dinginnya hingga terasa seperti menusuk tulang, Ayah sudah terjaga. Dengan khusyuk, ia menghadap Sang Pencipta, bersujud panjang dalam doa-doa yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. Ketulusannya dalam beribadah seolah menjadi satu-satunya sumber kekuatan yang membuatnya tetap tegak berdiri meski badai ekonomi sedang menerpa kami.

Namun, ritual yang paling kunantikan adalah saat jarum jam menyentuh angka lima. Di rumah kami yang kecil ini, kami tidak memiliki toilet. Setiap pagi, kami harus berjalan menuju sungai yang letaknya cukup dekat dari rumah kami.

"Ayah... ikut..." gumamku dengan suara serak, sambil mengucek mata yang masih terasa lengket dan berat.

Ayah yang baru saja merapikan sarungnya menoleh, menatapku dengan tatapan iba sekaligus sayang. "Masih mengantuk begitu kok mau ikut, Nak. Di rumah saja, tidur lagi sama Kakak."

"Tidak mau. Mau ikut Ayah ke sungai," balasku sambil merentangkan kedua tangan, sebuah isyarat manja yang tak pernah bisa ia tolak.

Tanpa mengeluh sedikit pun, Ayah berjongkok di depanku, membelakangiku. "Ya sudah, naik ke punggung Ayah. Pegangan yang erat."

Aku segera menghambur ke punggungnya. Saat tanganku melingkar di lehernya, aku bisa merasakan tulang belikat Ayah yang menonjol dan otot bahunya yang mengeras. Aku tahu, kaki Ayah mungkin masih pegal karena mendaki Gunung Prau kemarin. Aku tahu, luka lecet di bahunya pasti terasa perih saat bergesekan dengan kain bajuku. Tapi pagi itu, seolah semua rasa sakit itu menguap, Ayah justru berdiri dengan mantap.

Sambil melangkah menuruni jalan setapak yang licin oleh embun subuh, Ayah mulai bersenandung kecil untuk mengusir sunyi dan rasa dingin.

"Tak gendong... ke mana-mana... tak gendong ke mana-mana... enak toh, mantep toh?"

Suara Ayah yang agak parau namun penuh keceriaan itu memecah kesunyian. Aku tertawa kecil di atas pundaknya, menyandarkan pipiku yang dingin ke lehernya yang hangat. Rasanya sangat nyaman, seolah-olah punggung Ayah adalah tempat paling aman di seluruh dunia, lebih mewah daripada mobil mana pun.

"Ayah tidak capek gendong aku terus? Aku kan sudah besar," tanyaku pelan di sela-sela nyanyiannya.

Ayah terkekeh, langkahnya tetap stabil menuruni jalan setapak. "Capek itu kalau memikul kayu yang tidak ada harganya, Nak. Kalau gendong kamu, rasanya seperti bawa harta karun. Jadi tidak berasa beratnya."

Begitu sampai di tepian sungai, Ayah menurunkanku di atas sebuah batu besar yang permukaannya rata. "Duduk di sini ya, jangan turun ke air, dingin. Ayah ke sebelah sana sebentar."

Aku menurut. Aku duduk diam di atas batu itu, memeluk lututku sendiri karena hawa dingin yang menyergap. Di sekelilingku, semuanya masih gelap gulita. Hanya ada siluet pepohonan besar yang tampak seperti raksasa hitam diam membeku. Namun, di balik kegelapan itu, ada harmoni yang luar biasa. Irama gemercik air sungai yang membentur bebatuan menjadi melodi alami yang menenangkan hatiku.

Aku menatap aliran air yang samar-samar terlihat memantulkan sedikit sisa cahaya bintang. Di tempat ini, di tengah kegelapan subuh, aku merasa sangat kecil namun sangat dijaga. Aku tahu Ayah tidak jauh dariku. Aku tahu meski Ibu berada di kota yang jauh, melodi sungai ini dan kekuatan bahu Ayah adalah alasan mengapa aku masih bisa tersenyum setiap pagi.

"Sudah, yuk pulang. Sebentar lagi matahari bangun," ajak Ayah yang tiba-tiba sudah berada di sampingku, kembali berjongkok membelakangiku agar aku bisa naik ke "kendaraan" favoritku lagi.

Kami pun kembali mendaki jalan setapak, meninggalkan melodi sungai, menuju rumah untuk memulai hari yang berat lainnya dengan hati yang tetap hangat. Ayah kembali bernyanyi seperti tadi namun sekarang suaranya jauh lebih enak di dengar. Ia bernyanyi sambil sesekali melompat kecil dan menepuk-nepuk bokongku pelan.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!