NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Closer

Enjoy gays...

Jika biasanya Luca akan datang ke kampus dengan motor sport biru kesayangannya, maka hari ini ada yang sedikit berbeda. Mobil jenis Jeep berwarna coklat yang baru saja terparkir seketika menarik perhatian Rion dan Alice yang kebetulan juga baru datang dan keluar dari mobil mereka.

Tersenyum lebar saat melihat Luca dan Aurora keluar dari mobil Jeep itu bersama, keduanya langsung melangkah cepat untuk menghampiri mereka.

"Morning Aurora, Luca." Sapa Alice dengan senyum sumringah seraya merangkul lengan Aurora.

"Hai Lice, morning." Balas Aurora juga dengan senyuman walaupun awalannya dia sedikit terkejut karena tak menyadari kehadiran Alice di sekitarnya.

"Wihh.... Tumben nih berangkat bareng. Udah di terima ya mas lamarannya?" Tanya Rion dengan senyum meledek dan merangkul bahu Luca akrab.

"Tau darimana lo?" Sahut Luca sedikit ketus.

"Gue yang ngasih tau. Semalem Aurora cerita sama kita." Balas Alice menjawab.

"Kan gue udah bilang kalo Ara bakalan nerima lo, gak percaya sih lo sama omongan temen sendiri." Ledek Rion tertawa puas.

"Percaya itu sama Tuhan... Bukan sama manusia." Sahut Luca pura-pura cool.

"Ye.... Ngeles aja lo kayak bajai."

Tawa renyah di selingi canda mengiringi langkah mereka memasuki gedung utama kampus.

"Morning gays...." Sapa seseorang yang tiba-tiba datang mengejutkan di tengah-tengah Aurora dan Audrey dan merangkul kedua bahu sahabatnya itu dengan sayang.

"Kebiasaan deh.... Ngagetin tau Audrey Shan." Tegur Alice mengingatkan.

"Hehehe.... Sorry-sorry." Ucap Audrey dengan cengir kuda ciri khasnya.

"Morning Audrey." Ucap Aurora membalas sapaan Audrey tadi.

"Tumben lo pagi-pagi udah ke kampus. Kesambet malaikat apaan?" Tanya Alice menyindir. Karena biasanya diantara mereka hanya Audrey yang sering datang ke kampus ketika siang.

"Resek lo." Kesal Audrey menyenggol Alice dengan lengannya.

"Gue dateng pagi-pagi ke kampus karena ada latihan basket sama anak-anak. Kalo enggak mana mau gue dateng pagi-pagi." Ucap Audrey menjelaskan.

"Kayaknya akhir-akhir ini lo sibuk banget sama tim basket, ada acara apa?" Tanya Aurora.

"Kompetisi tahunan Aurora."

"Emang bentar lagi ya Rey?"

"Ho'oh. 2 minggu lagi."

Hadirnya Audrey di tengah-tengah mereka semakin membuat suasana yang tercipta lebih cair dan menyenangkan.

Mengambil langkah ke arah kiri saat bertemu belokan, mereka berniat untuk lebih dulu mengantar Aurora ke kelasnya.

"Eh, Si Aline sama Lexa mana? Mereka gak ngampus?" Tanya Audrey.

"Aline gak ada kelas hari ini, kalo Lexa dia kelasnya masih nanti habis jam makan siang." Jawab Alice menjelaskan.

"Pantesan lo berangkat bareng sama mas pacar."

"Selesai makul disini dulu aja ya Ra? Tungguin sampe gue dateng. Takutnya Kenzo tiba-tiba dateng dan bawa lo kayak kemarin." Pesan Luca saat mereka sampai di depan kelas Aurora.

"Iya."

"Duh, mentang-mentang yang lamarannya udah di terima perhatian banget sih. Gue juga mau kali di gituin." Celetuk Audrey menggoda.

"Punya pacar dulu Audrey, baru bisa." Sahut Alice memutar bola matanya malas.

"Eh, sorry-sorry to say ya Nona Valencia Buana. Gue punya pacar. Cuman gak disini aja."

"Oh iya, lupa. Kasian banget yang lagi LDR. Jadi gak bisa mesra-mesraan sama ayang." Sindir Alice dengan senyum yang begitu menjengkelkan di mata Audrey. Entah kenapa hari ini sifat menyebalkan Alice masih dalam mode on nya.

"Resek lo." Terlanjur kesal, Audrey spontan memukul kepala Alice meski tak terlalu kencang tapi cukup membuat sang teman mengaduh kesakitan.

"Gue duluan ya gays, bye bye." Pamit Aurora lalu masuk ke dalam kelasnya.

"Nitip cewek gue ya bro. Jangan sampe lecet." Pinta Rion berpesan seraya menepuk bahu Luca sekilas. Maklum, keduanya ada di jurusan yang sama hanya beda angkatan.

"Gak jamin ya, soalnya banyak cowok cakep di jurusan kita." Sahut Luca tersenyum meledek temannya.

"Anjir. Sialan lo."

"Aku duluan ya sayang, bye bye..." Pamit Alice dengan wajah yang begitu menggemaskan seraya menangkup kedua pipi Rion lalu menciumnya. Sama sekali tak terlihat canggung atau malu padahal di depan teman-teman mereka.

"Bye bye... Semangat belajarnya." Balas Rion tak kalah imut dan menggemaskan. Dia juga memberi kecupan di kening Alice sebagai bentuk penyemangat. Sungguh pasangan kekasih yang benar-benar mesra dan iri bagi siapapun yang melihatnya.

Tak cukup sampai di sana, Rion melepas kepergian Alice dan Luca sampai keduanya tak lagi terlihat oleh mata. Hilang di balik tembok ujung lorong.

"Lo ngapain masih disini?" Tanya Rion sedikit terkejut karena Audrey masih yang masih berdiri di sampingnya.

"Gue mau masuk kelas gue lah. Lo sendiri ngapain masih disini? Kelas lo kan ada di gedung sebelah Clarion." Sahut Audrey sedikit ketus dan memutar bola matanya malas.

"Oh iya ya, lupa gue." Kekeh Rion malu seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Dasar lo, masih muda tapi pelupa." Cibir Aurora meledek.

"Namanya juga manusia, wajar kalo lupa." Sahut Rion santai seraya melangkah pergi dari sana.

Sedangkan Audrey yang memang satu kelas dan satu jurusan dengan Aurora segera memasuki kelasnya sebelum dosen pengajar mereka datang.

***

Kelas yang Luca ikuti baru saja selesai. Namun tak seperti beberapa temannya yang lain yang bisa langsung pergi, Luca harus tetap stay di sana karena kelas selanjutnya hanya berjarak 15 menit lagi.

Mengambil handphone yang sejak tadi ada di dalam tas untuk membunuh waktu, Luca hanya ingin sekedar mengecek apakah ada pesan masuk yang perlu dia balas. Dan ya, benar saja ada pesan dari Aurora beberapa menit lalu.

"Ca, selesai kelas gak usah ke kelas gue ya? Gue sama Audrey ada di perpus buat ngerjain tugas."

^^^"Oke. Kira-kira bakalan lama gak? Nanti biar gue susul lo ke sana."^^^

"Gak tau. Nanti kalo lo udah selesai kabarin aja."

^^^"Oke."^^^

Menyimpan kembali benda pipih itu ke dalam tempat semula, Luca memilih membaca buku untuk menunggu dosen berikutnya datang.

Sedangkan di tempat berbeda, Aurora juga melakukan hal yang sama setelah membaca pesan balasan yang Luca kirimkan.

"So sweet banget sih yang mentang-mentang udah di lamar."

"Bukannya kalian juga gitu kalo lagi sama pacar?" Sahut Aurora tak peduli seraya membuka buku yang ada di depannya dan mulai mencatat apa yang perlu dia catat.

"Ya iya sih.... Tapi liat lo kayak gini entah kenapa rasanya beda aja. Seneng tau kita liatnya."

"Beda gimana?"

"Lo sendiri yang bilang kalo lo belum punya perasaan apapun sama Luca. Tapi, entah kenapa liat interaksi kalian dari tadi buat gue gak percaya sama hati lo. Jangan-jangan lo emang udah suka sama dia sebelum dia lamar lo."

"Maksudnya?" Walaupun terlihat sibuk dengan kegiatan belajarnya, tapi bukan berarti Aurora mengabaikan sang teman begitu saja. Dia tetap mendengarkan Audrey meski tangan dan pikirannya fokus dengan buku yang ada di depannya.

"Astaga Aurora... Lo itu emang nihil ilmu ya kalo masalah percintaan." Menepuk jidatnya pasrah, Audrey lupa jika sahabatnya yang satu ini tak pernah berpengalaman soal cinta.

"Ya kan emang gue gak tau apa maksud lo Audrey."

Menarik nafas panjang, Audrey merubah posisi duduknya agar lebih nyaman menghadap Aurora. Dia harus ekstra memperpanjang kesabaran jika sudah membahas soal percintaan dengan sang sahabat. Karena pasti, akan ada banyak pertanyaan yang nanti Aurora lontarkan meski sudah di jelaskan. Ya walaupun, Audrey sendiri tak yakin jika dia bisa melakukannya.

"Gini. Sorry kalo gue ungkit masalah ini lagi. Tapi, lo nyadar gak sih kalo sikap lo ini beda banget pas lo lagi sama Kenzo?" Tanya Audrey memulai pembahasan.

"Bedanya?"

"Masak iya harus di jelasin lebih detail lagi sih Aurora.... Kan lo sendiri yang ngerasain...." See, kesabarannya tak sepanjang dunia yang tak ara batasnya. Karena belum apa-apa Audrey sudah terlihat kesal.

"Bertele-tele lo.... Gak ngerti gue."

"Astaga.....Nyerah gue. Sabar.... Sabar... Lo harus sabar Audrey.... Temen lo ini emang bego kalo masalah percintaan...." Menyandarkan tubuhnya pasrah, Audrey menyerah untuk lebih memberi Aurora penjelasan. Karena sampai kapanpun, sang sahabat tak akan pernah mengerti walau sudah banyak dan panjang lebar di jelaskan.

"Malah ngatain."

"Kenyataannya Aurora."

"Udah lah. Daripada lo tambah banyak ngomong gak jelas, mending gue selesein ini tugas." Merapikan buku-buku yang baru saja di pakainya, Aurora bangkit dari kursinya berniat untuk mengembalikan tumpukan buku itu ke tempatnya.

"Eh, tunggu dulu dong.... Kan gue belum selesai jelasinnya..." Cegah Audrey menahan lengan Aurora agar tidak pergi.

"Kapan-kapan aja. Gue sibuk."

"Kebiasaan. Nyebelin lo."

"Berisik Audrey."

Jika bukan di area perpustakaan, Audrey sudah pasti akan melancarkan aksinya lebih dari ini. Tapi mengingat mereka ada di tempat yang cukup sakral alhasil Audrey pun terpaksa diam dan membiarkan Aurora menyelesaikan tugasnya.

***

Keluar dari kelasnya, Luca melewati beberapa kelas lain yang ada di sebelahnya juga kelas yang ada di lantai bawah tempat dimana kelas Alice berada. Dan entah secara kebetulan atau bagaimana, Alice juga baru saja menyelesaikan jam kuliahnya dan tengah berbincang seru dengan teman-temannya yang lain saat Luca tak sengaja melintasinya begitu saja karena tak melihat sebab terlalu asyik dengan ponsel di tangannya.

"Luca?" Panggil Alice menghentikan langkah Luca dan berbalik ke arahnya.

"Gays, gue duluan ya." Pamit Alice pada teman-temannya lalu berlari kecil menghampiri Luca.

"Mau ke kantin kan? Bareng ya?" Tanya Alice seraya keduanya melangkah bersama.

Sepanjang perjalanan tak ada obrolan yang tercipta di antara mereka karena Luca yang terlihat sibuk dengan handphonenya dan Alice yang tak mau mengganggu.

Sementara beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat dan berpapasan dengan keduanya terlihat memperhatikan Alice dan Luca dengan seksama.

Maklum, kepopuleran Alice dan keempat teman-temannya serta kisah percintaannya dengan Rion memang cukup di ketahui oleh banyak mahasiswa yang ada di sana. Sedangkan Luca sendiri adalah mahasiswa baru yang langsung menarik perhatian banyak orang karena ketampanan dan kelakuannya yang berani melawan Kenzo serta teman-temannya.

"Sibuk banget sama hpnya mas? Bales chat dari siapa sih? Ara ya?" Tanya Alice mencuri-curi pandang sekaligus menyindir.

"Tau sja lo kayak paranormal." Sahut Luca seraya menyimpan benda pipih itu ke dalam saku jaketnya.

"Lo kok bisa sih suka sama Ara? Sejak kapan?"

"Kepo lo...."

"Ye... Tinggal jawab juga, apa susahnya coba."

"Gue nya yang gak mau."

"Pelit lo gak mau berbagi cerita sama kita."

Berdua dengan Alice seperti ini mengingatkan Luca tentang obrolan mereka pagi tadi. Sejujurnya dia ingin mengenai kepribadian Aurora lebih dalam tapi bingung harus memulainya bagaimana. Mungkin, salah satu caranya adalah dengan bertanya pada teman-temannya.

"Btw, Ara emang sering banget ya cerita apapun sama kalian?" Tanya Luca mencoba.

"Kenapa nanya-nanya? Kepo lo?" Kali ini giliran Alice yang pura-pura bersikap ketus dan sedikit nyolot. Membalas sikap Luca barusan padanya.

"Sialan. Resek lo."

"Hahahaha.....satu sama. Siapa suruh mulai duluan buat gak mau cerita."

"Iya deh iya... Cewek emang selalu bener."

"Eh, kok kita kesini? Mau ngapain? Bukannya kantin arahnya ke sana ya?" Tanya Alice seraya menghentikan langkahnya saat menyadari jika arah tujuan mereka ada di tempat yang salah dan menunjuk arah yang seharusnya.

"Jemput Ara dulu. Dia ada di perpustakaan sama Audrey."

"Ohh.... Harus banget sampe di jemput? Segitu bucin nya lo sama Aurora?"

"Bukan bucin.... Tapi daripada nanti kita saling nyariin malah ngabisin banyak waktu. Lagian, gue juga jaga-jaga kalo tiba-tiba Si Kenzo tengil itu gangguin Aurora lagi."

"Panjang umur banget tuh."

"Huh??"

"Tuh orangnya ada di sana." Tunjuk Alice dengan dagunya. Memperlihatkan Kenzo, Aurora dan Audrey yang tengah adu mulut di depan ruang perpustakaan dan Kenzo yang memaksa Aurora untuk ikut pergi bersamanya.

"Heran gue sama tuh cowok, kok bisa ada dimana-mana, kayak lalet aja." Gerutu Luca dengan wajah kesalnya seraya melangkah cepat menghampiri mereka.

"Woi!! Ngapain lo??" Teriak Luca lumayan keras mengambil atensi ketiganya. Melepas tangan Kenzo dengan paksa dari tangan Aurora lalu menjauhkan Aurora dari jangkauan Kenzo.

"Lo lagi lo lagi. Capek gue ketemu lo mulu. Gak ada kerjaan apa selalu gangguin urusan apa?" Kesal Kenzo karena lagi-lagi Luca menghalangi niatnya membawa Aurora.

"Ye.... Harusnya gue yang ngomong gitu sama lo. Lo gak cepek apa gangguin Ara mulu? Gue aja udah gedeg liat muka lo tiap hari." Sahut Luca dengan santainya dan senyum menyebalkan di mata Kenzo.

"Minggir deh, gue gak ada urusan sama lo." Mendorong tubuh Luca begitu saja, Kenzo hendak meraih tangan Aurora untuk di bawa pergi. Tapi sebelum itu terjadi, Luca terlebih dulu menahannya sehingga Kenzo tak berhasil untuk meraih tangan Aurora.

"Eitss, gak segampang itu kawan. Gue tegesin sekali lagi sama lo ya. Urusan Aurora juga jadi urusan gue mulai sekarang. Jadi, apapun yang mau lo omongin sama Aurora ya lo harus berhubungan sama gue juga, ngerti?" Ucap Luca tegas memperingati namun dengan senyum santai dan melepas tangan Kenzo.

"Lo tuh siapa huh?? Berani banget ngatur-ngatur gue." Mulai tersulut emosi dan terima di perlakuan semena-mena, Kenzo dengan keras mendorong tubuh Luca seolah menantang untuk berkelahi.

Alih-alih terprovokasi, Luca Justru semakin tersenyum lebar dan merapikan jaket serta bajunya yang sedikit berantakan karena ulah Kenzo barusan.

"Gue?" Tanya Luca menunjuk dirinya sendiri. Membuat Kenzo semakin memerah karena menahan emosi.

"Dia calon suami gue. Sebulan lagi kita nikah. Jadi, lo stop buat gangguin gue. Karena kita udah gak ada hubungan apapun lagi." Ucap Aurora tiba-tiba mengejutkan mereka semua. Terutama Luca yang sebenarnya ingin menjawab pertanyaan Kenzo tadi.

"Apa lo bilang? Nikah? Gak lucu bercandanya Aurora. Apalagi sama cowok tengil kayak dia. Sampai kapanpun, gue gak akan biarin lo sama siapapun kecuali gue, ngerti?" Terkekeh tak percaya, Kenzo menatap Aurora dan Luca bergantian dengan tatapan tak suka seraya mengacungkan jari telunjuknya. Terutama pada Luca yang selalu menjadi penghalang rencananya.

"Terserah lo mau percaya apa gak. Tapi gue sama Luca bentar lagi sah jadi suami istri. Jadi, lo gak punya hak apapun sama hidup gue."

"Eh benalu tengil. Lo gak budeg kan? Mending sekarang lo pergi deh daripada kesabaran gue habis ngadepin orang kayak lo." Ucap Audrey mengusir Kenzo dengan gaya menyebalksnnya.

"Lo, awas ya!" Peringat Kenzo sekali lagi pada Luca sebelum akhirnya pergi.

Bukannya merasa lega karena Kenzo yang akhirnya mau pergi, Luca Justru langsung menatap Aurora di sebelahnya dengan tatapan tak percaya.

"Ra, apa yang barusan lo omongin, itu beneran?" Tanya Luca yang masih mencerna omongan Aurora barusan.

"Iya. Kenapa? Lo gak mau? Ya udah kalo gak." Singkat, padat dan jelas. Setelah mengatakannya Aurora pergi begitu saja meninggalkan mereka. Menyadarkan Luca jika ucapan Aurora barusan memang benar.

"Eh, mau lah. Masak iya sih diajakin nikah gak mau." Balas Luca tersenyum bahagia seraya berlari mengejar Aurora sebelum lebih jauh pergi.

"Tapi beneran kan? Gak prank doang tadi?" Tanya Luca tiba-tiba berhenti di depan Aurora menghentikan langkahnya karena ingin lebih memastikannya lagi.

"Iya Luca." Jawab Aurora dengan wajah pasrahnya dan berlalu pergi.

"Yes. Akhirnya nikah juga gue sama Aurora." Seperti halnya anak-anak yang baru saja mendapat hadiah yang diinginkan, Luca terlihat kegirangan dan berjalan cepat menyusul Aurora lalu berjalan bersama berdampingan.

"Thanks ya Aurora." Ucap Luca setulus hati berbisik di telinga Aurora.

Kehadiran Kenzo di tengah-tengah hubungan mereka membuat Luca dan Aurora semakin dekat tanpa keduanya sedari.

Sementara itu, Alice dan Audrey yang melihat tingkah konyol kedua sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepala dan ikut tersenyum bahagia.

"Bingung gue sama 2 orang itu. Yang satunya agak petakilan setengah nyebelin, yang satunya cuek sama cool gitu." Ucap Alice masih menatap kepergian dua sahabatnya itu.

"Itu yang namanya jodoh, saling melengkapi." Sahut Audrey tersenyum seraya merangkul bahu Alice dan mengajaknya melangkah untuk menyusul keduanya.

"Bener-bener couple antimainstream."

"Gak ada yang lain kalo bukan temen kita."

"Satu-satunya dan langka."

"Harus dilestarikan biar gak punah."

"Bener banget. Di taro museum kalo bisa."

"Ye.... Lo kata barang pra sejarah."

"Kan lo sendiri yang bilang."

Tertawa bersama, mereka sama-sama merasa aneh karena obrolan random yang tak sengaja tercipta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!