NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34 Perjamuan Air Hitam

Samudra Hindia yang biasanya biru kini pekat layaknya tinta tumpah. Di kedalaman palung, kristal Bom Memori yang telah diretak oleh Altair mulai melepaskan gelombang hitam yang tidak hanya menyedot air, tetapi juga menyerap suara dan harapan. Cahaya perak dari Arloji Void milik Saka tampak redup, terhimpit oleh tekanan ribuan ton air yang kini terasa "hidup".

"Saka, ini bukan sekadar senjata fisik," suara Anita bergema di dalam kepala Saka melalui Tautan Batin. "Altair menggabungkan energi Oblivion dengan catatan sejarah Atlantis yang hilang. Dia ingin 'menghapus' daratan dengan membanjirinya menggunakan memori laut yang dipenuhi kebencian!"

Saka menahan tangannya hanya beberapa inci dari kristal yang retak. Ia melihat ke arah Putri Nereus. Wajah sang putri yang tadinya penuh amarah kini pucat pasi melihat pusaran hitam yang melahap singgasananya. Nereus menyadari bahwa Altair tidak datang untuk membebaskan Atlantis, melainkan untuk menjadikannya bahan bakar bagi kiamat baru.

"Bantu aku, Nereus!" Saka memproyeksikan pikirannya dengan kuat. "Garis waktu Sundaland yang tenggelam bukan sebuah kutukan, melainkan bagian dari sejarah yang harus kita jaga agar tidak terulang kembali!"

Nereus akhirnya menurunkan trisulanya. Ia mendekat, memegang sisi lain dari kristal tersebut. "Gunakan energimu untuk membungkus inti kristal ini, Orang Darat. Aku akan memanggil seluruh air suci dari Palung Sunda untuk meredam ledakannya."

Saka mulai mengalirkan Tinta Keabadian. Cahaya perak menjalar seperti akar pohon yang mencoba menambal retakan hitam. Namun, Altair tidak tinggal diam. Ia melesat di antara arus, pedang air hitamnya mengarah tepat ke leher Saka.

"Kalian terlalu lambat!" teriak Altair. "Bulan Biru sudah mencapai puncaknya. Gravitasi pasang surut ini tidak bisa kalian hentikan!"

Tiba-tiba, sebuah dentuman besar terasa dari permukaan. Di atas sana, di Bandung, Kapten Rian dan The Steamers baru saja meledakkan Bendungan Uap Kinetik. Tekanan uap yang luar biasa dikirimkan langsung ke dasar laut melalui portal-portal dimensi, menciptakan pilar uap panas yang menabrak pusaran air hitam Altair.

"Ini kiriman dari Bandung, Saka!" suara Rian terdengar samar di Arloji Void.

Saka menggunakan momentum itu. Ia tidak lagi mencoba menambal kristal, melainkan melakukan sinkronisasi dengannya. Ia membiarkan memori-memori menyedihkan dari Atlantis—tentang kepunahan, banjir besar, dan kegelapan—masuk ke dalam dirinya. Saka menjadi penanggung jawab atas duka samudra.

BOOM!

Bukan ledakan fisik yang terjadi, melainkan ledakan cahaya yang menyapu seluruh kedalaman laut. Air hitam itu perlahan berubah menjadi biru jernih kembali. Altair terlempar oleh gelombang kejut memori yang terlalu murni baginya. Ia memudar, melarikan diri ke dalam celah waktu sekali lagi, meninggalkan sebuah peringatan: "Laut mungkin tenang, tapi langit akan segera jatuh!"

Saka terjatuh di lantai aula Atlantis yang kini tenang. Putri Nereus membantunya berdiri. Untuk pertama kalinya, sang putri memberikan hormat dengan menyentuhkan trisulanya ke bahu Saka. "Daratan dan Lautan kini berhutang padamu, Sang Penjaga. Jangkar Gravitasi telah stabil. Dua Bulan tidak akan lagi menelan kita... untuk saat ini."

Saka segera melesat kembali ke permukaan. Begitu kepalanya muncul di atas air, ia melihat pemandangan yang aneh namun melegakan. Air laut yang sempat merayap masuk ke daratan Bandung kini surut dengan cepat, meninggalkan pasir putih di sepanjang jalan Asia Afrika.

Ia kembali ke Gedung Merdeka. Di sana, Anita sedang menunggu dengan wajah lelah namun tersenyum. Namun, senyum itu memudar saat Saka melihat ke arah langit.

"Bulan Biru tidak menghilang, Saka," bisik Anita.

Bulan Biru itu kini tidak lagi mengancam gravitasi, melainkan mulai menyatu dengan Bulan Putih kita, membentuk sebuah satelit baru yang bercahaya dua warna. Fenomena ini menandakan bahwa penyatuan dimensi telah menjadi permanen. Dunia tidak lagi sama.

"Selamat datang di era baru," ucap Direktur Vena yang muncul dengan tablet sensornya. "Kita baru saja mendeteksi kemunculan daratan baru di tengah Samudra Hindia. Benua yang hilang itu telah naik kembali. Dan di sana, sebuah menara bercahaya telah aktif."

Saka menggenggam tangan Anita. Ia tahu, istirahat hanyalah kemewahan yang tidak bisa ia beli.

"Episode 34 berakhir dengan Saka menatap ke arah selatan, ke arah Benua Atlantis yang Terlahir Kembali."

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!