💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Aksa menatap kepergian Ratu, atau lebih tepatnya Cia, dengan tatapan yang masih dipenuhi rasa penasaran. Gadis itu benar-benar membuatnya bingung dan penasaran. Di satu sisi, ia tertarik pada sosok Ratu yang dingin dan misterius, di sisi lain, ia juga tertarik pada Cia yang sama halnya dengan Ratu. Ia tidak tahu mana yang lebih ia sukai, atau mungkin, keduanya adalah orang yang sama?
"Ck! Apaan sih gue ini!" gerutunya dalam hati, merasa kesal dengan kebingungannya sendiri.
"Kenapa gue jadi mikirin dua cewek sekaligus? Ini nggak bener! Gue harus fokus.
Ia menghela napas dan mencoba untuk menenangkan diri. Dengan tekad yang kuat, Aksa melangkah menuju teman-temannya yang sudah menunggunya di dekat motornya. Ia tersenyum pada mereka dan memberikan acungan jempol sebagai kode kemenangan mereka.
"Gila lo! Emang jagoan!" timpal Galang, menepuk bahu Aksa dengan akrab. "Gue nggak nyangka lo bisa ngalahin Reno yang curang itu."
"Tentu saja!" jawab Aksa, dengan nada bangga. "Gue selalu menang. Gue kan Aksa."
Arya ikut tersenyum menyambut kemenangan Bos sekaligus sahabatnya itu. "Besok kita rayain kemenangan ini!"
Karena malam semakin larut akhirnya mereka semua memutuskan untuk kembali ke kediaman masing-masing untuk beristirahat karena besok juga kesekolah.
Di persimpangan jalan Aksa memberi kode tanda perpisahan pada teman-temannya dan segera, melaju dengan kecepatan sedang, menuju ke mansionnya, namun pikirannya pada dua gadis yang baru ia kenal itu tak bisa ia hilangkan begitu saja. Ia merasa semakin penasaran dengan keduanya, dan semakin bingung dengan perasaannya sendiri.
__________'&&'_______
Sementara itu, di mansion mewah Alatas, Cia, Vano, dan Varo sudah berhasil menyimpan motor mereka masing-masing di garasi. Mereka bertiga mengendap-endap masuk ke dalam mansion, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun. Mereka berjalan dengan sangat hati-hati, seperti ninja yang sedang menjalankan misi rahasia.
"Aman kan?" bisik Cia, dengan nada khawatir.
"Tenang aja, Cia. Semua aman!" jawab Varo, dengan nada yakin. "Pak Agus aja masih tidur nyenyak. Gue yakin dia nggak akan bangun sampai besok pagi."
"Semoga aja Mama sama Papa juga udah tidur nyenyak!" timpal Vano, dengan nada ragu. "Kalau mereka bangun, tamat riwayat kita."
Ketiganya terus melangkah dengan hati-hati, menyusuri koridor yang gelap dan sunyi. Mereka berusaha untuk tidak menyentuh apa pun, takut akan membangunkan para penghuni mansion. Namun, di tengah keheningan malam, tiba-tiba Varo menginjak sesuatu dan terjatuh dengan keras.
"ADUH!" teriak Varo, dengan nada kesakitan.
Cia dan Vano langsung membekap mulut Varo, berusaha untuk menghentikan teriakannya.
"Ssst! Jangan berisik!" bisik Cia, dengan nada panik. "Lo mau bangunin seluruh isi mansion?"
Namun, sudah terlambat. Lampu ruangan yang tadinya redup tiba-tiba menyala terang, menampilkan sosok Ratu dan Nathan yang berdiri di dekat saklar lampu. Keduanya menatap ketiganya dengan tatapan yang sulit diartikan, namun jelas menunjukkan kekecewaan.
Cia, Vano, dan Varo langsung terdiam dan menelan ludah dengan gugup. Mereka tahu bahwa mereka telah ketahuan.
"Kalian ... habis dari mana?" tanya Ratu, dengan nada dingin namun tetap tenang. "Mama kira kalian ada di kamar masing-masing, dan tidur."
Ketiganya hanya bisa nyengir dan saling pandang satu sama lain, mencari jawaban yang tepat untuk diberikan kepada kedua orang tua mereka. Namun, kali ini, mereka benar-benar kehabisan alasan.
"Ehehe ... anu, Mam ... tadi kita ... kita habis dari ... rumah temen," jawab Varo, dengan nada gugup. Kali ini, Ratu dan Nathan menatap Varo dengan tatapan yang semakin tajam.
"Rumah teman?" tanya Ratu, dengan alis terangkat. "Jam segini? Kalian kira Mama dan Papa percaya sama alasan kalian?"
"Iya, Mam ... tadi kita ada kerja kelompok," timpal Cia, mencoba untuk membantu Varo. "Kita harus menyelesaikan tugas yang sangat penting."
"Kerja kelompok?" tanya Nathan, dengan nada curiga. "Kenapa nggak bilang Papa sama Mama? Kenapa harus diam-diam keluar malam?"
"Emm ... tadi kita lupa, Pa," jawab Vano, dengan nada pelan. "Kita terlalu fokus sama tugas."
Ratu dan Nathan saling pandang, lalu kembali menatap ketiga anak mereka dengan tatapan yang tegas. Mereka tahu bahwa ketiga anak mereka berbohong, dan mereka tidak akan membiarkan hal itu terjadi begitu saja.
"Kalian tahu kan, kalau keluar malam-malam itu bahaya?" ujar Ratu, dengan nada serius. "Kalian itu anak-anak Mama dan Papa yang paling berharga. Mama dan Papa nggak mau terjadi apa-apa sama kalian. Apalagi kalian keluar tanpa izin dan berbohong sama Mama dan Papa."
"Iya, Mam ... kita tahu," jawab ketiganya, dengan nada menyesal. Mereka merasa bersalah karena telah membuat kedua orang tua mereka khawatir.
"Karena kalian sudah melanggar peraturan, Mama dan Papa akan memberikan hukuman," ujar Nathan, dengan nada tegas. "Hukuman ini akan membuat kalian jera dan tidak mengulangi kesalahan yang sama."
"Hukuman?" tanya Cia, Vano, dan Varo, dengan nada terkejut. Mereka sudah menduga akan dihukum, tapi mereka tetap merasa kaget saat mendengarnya secara langsung.
"Iya, hukuman," jawab Ratu, dengan senyum tipis yang terlihat menakutkan. "Mulai besok, uang jajan kalian akan Mama potong selama satu bulan. Dan semua kegiatan di luar sekolah di batalkan kecuali belajar!"
"WHAT?!" teriak ketiganya, dengan nada tidak percaya. Mereka tidak bisa membayangkan hidup tanpa uang jajan dan kegiatan di luar sekolah. Itu adalah mimpi buruk bagi mereka.
"Itu belum seberapa," timpal Nathan, dengan nada dingin. "Kartu kredit kalian juga akan Papa sita untuk sementara. Dan kalian akan membersihkan seluruh halaman belakang setiap pagi selama satu minggu."
"APA?! Nggak bisa gitu dong, Pa!" protes Cia, Vano, dan Varo, dengan nada putus asa. Mereka merasa hukuman itu terlalu berat.
"Bisa," jawab Ratu, dengan nada tegas. "Keputusan Mama dan Papa sudah bulat. Nggak ada bantahan. Sekarang, kembali ke kamar kalian masing-masing. Mama dan Papa tidak mau melihat kalian mengulangi kesalahan ini lagi. Dan jangan lupa, laksanakan hukuman kalian dengan baik."
Ketiganya mencoba untuk memprotes, namun Ratu dan Nathan tetap tegas dengan keputusan mereka. Mereka tahu bahwa mereka telah melakukan kesalahan dan mereka harus menerima hukuman atas perbuatan mereka. Mereka tidak punya pilihan lain.
"Tapi, Mam ... Pa ... please ... jangan potong uang jajan kita," mohon Cia, dengan wajah memelas. "Nanti Cia gak bisa jajan seblak lagi dong!" lanjutnya dramatis.
"Dan jangan sita kartu kredit kita, Pa ... kita nggak bisa top up games lagi!" timpal Varo, dengan nada di buat sesedih mungkin.
"Kita janji nggak akan keluar malam-malam lagi," sambung Vano, ikut membujuk dengan nada memelas.
Namun, Ratu dan Nathan tetap menggelengkan kepala mereka. Mereka tidak akan mengubah keputusan mereka. Mereka ingin memberikan pelajaran yang berharga kepada ketiga anak mereka.
"Maaf, Tapi keputusan Mama dan Papa sudah bulat," ujar Ratu, kini dengan nada nada lebih lembut.
"Kalian harus belajar untuk bertanggung jawab atas perbuatan kalian. Ini juga untuk kebaikan kalian agar kalian tidak melakukan hal yang berbahaya."
"Iya," timpal Nathan, dengan nada bijak. "Kalian harus belajar untuk menghormati peraturan dan menghargai kepercayaan yang sudah Mama dan Papa berikan."
Bersambung ....
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,