Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kangen
Rumah mungil itu kini sepi, tidak ada lagi perdebatan, tidak ada lagi rengekan meminta makan lebih, Ningsih menghela nafas panjang, dunianya berubah,,pak Adam yang melihat itu, ikut menghela nafas.
“Telfon aja Bu, kangen kan?” tanya pak Adam yang tahu isi hati istrinya.
“Anak itu kurang ajar pak, sudah seminggu belum lagi nelfon emaknya.” sungut emak Ningsih kesal.
“Mungkin masih sibuk, namanya juga kuliah, trus dia hidup sendiri, apa lagi tuh bocah gak pernah masak, dan masih belajar.” ucap pak Adam memberi penjelasan.
“Ya tapi masa lupa sama emaknya, gak ingat apa, kita tiap hari berantem, gak kangen apa dengan masakan emaknya, tega banget tuh bocah,” gerutu emak Ningsih masih dongkol, pak Adam hanya terdiam melihat jam didinding, seharusnya Ana sudah pulang kuliah, ia merogoh HP-nya dan memencet nama anaknya, tidak tega melihat istrinya yang galau, setiap hari bilang tidak suka, tidak sayang sama Ana, berantem terus, tapi ketika anak yang diajak berantem tiap hari tidak ada terlihat sekali merana nya, yang seperti itu, bilang tidak sayang, bahkan anak bontot nya tidak bisa menutupi kekurangan itu.
“Assalamualaikum pak,” jawab Ana yang terlihat wajahnya, pak Adam tersenyum.
“Waalaikumsalam, gimana kabarmu, kok gak ada nelpon, noh ada yang kangen tapi gengsi,” ucap pak Adam mengarahkan kameranya kearah istrinya yang lagi manyun, Ana tergelak melihatnya.
“Mak!” teriak Ana, membuat Ningsih menoleh dan seketika matanya membulat.
“Anak laknat loe ya, udah berapa hari loe gak ngasih kabar sama emak heh.” hardik emak Ningsih dengan emosi, Ana malah hanya cengengesan, ia benar-benar lupa karena ngurusi kuliah dan bayi besarnya, walau terlihat galak ia tahu emaknya beneran menghawatirkan dirinya.
“Maaf Mak, Ana sibuk banget, banyak kegiatan dikampus, emak baik saja kan, pasti baik dong, kan gak ada yang ngerecokin emak dirumah,” goda Ana sembari tersenyum.
“Baik, emak baik, jelas, kan sekarang gak ada yang minta lebih makanan, tapi sepi sih, kapan loe balik,” ucapnya masih dengan nada ngegas.
“Belum bisa balik-balik Mak bentar lagi juga lebaran, nanggung kalau mau pulang, uang nya habis diongkos, kasian emak gak bisa beli daster baru nanti, kan bentar lagi lebaran.” goda Ana lagi, ia kangen berdebat dengan emaknya.
“Bocah edan, masa emak mu lebaran suruh pake daster, ini udah puasa, puasa kagak loe, awas aja kalau kagak,” seru emak Ningsih kesal, Ana tertawa, jadi ingat Dewa yang dibangunkan saur susahnya minta ampun bahkan dengan mata terpejam namun mulutnya ngunyah, bahkan setelah itu tidur lagi. Ingat itu Ana hanya bisa mengurut dada, ia benar-benar sudah seperti emak-emak yang mengurus anak balita.
“Puasa Mak, jangan khawatir,” jawab Ana serius.
“Bagus, jangan lupa minum obat lambungnya kalau sahur, duit loe masih, jangan boros-boros, mata loe itu suka khilaf kalau lihat jajanan buka puasa soalnya,” peringat emak Ningsih, Ana hanya cengengesan, kalau tahu ia tidak keluar uang sama sekali mulai datang ke kota ini, emaknya pasti shock, apa lagi semua makanan, bahkan jajanan sudah tersedia komplit dirumah Dewa, jadi ia tidak pernah keluar uang, apa lagi untuk urusan sabun dan yang lainnya, jadi dompet Ana masih aman, kecuali keperluan foto copy.
“Aman Mak, tapi kalau mau dikirimi lagi Ana juga gak nolak loh,” ucap Ana terkekeh.
“Ngelunjak loe, bapak mu belum gajian,” seru emak Ningsih sewot, Ana hanya terkekeh kembali mereka ngobrol ngalor ngidol, sampai sang emak yang menyudahinya , karena katanya mau masak buat berbuka, Ana hanya mengiyakan, diambang pintu yang terbuka Dewa bersandar disana, mendengarkan Ana yang berbicara santai pada emaknya, hatinya menghangat, ia tidak pernah berbicara seakrab itu dengan orang tuanya, ada rasa iri dalam hatinya, bahkan saat ia sakit dan kritis orang tuanya tidak pernah ada untuk nya, Dewa menghela nafas sejenak dan berdehem, membuat Ana terkejut.
“Lho, mas Dewa, ada apa mas, perlu bantuan kah?” tanya Ana seketika berdiri, karena ia tadi ber telponan sambil lesehan dipojok ruangan, takut orang tuanya tahu.
“Aku laper, pendek, belum buka kah?” rengek Dewa layaknya seorang anak kecil memegangi perutnya, maklum ini puasa pertama, bahkan ia sudah berbaring di sofa yang ada dikamar Ana.
“Tunggu satu jam lagi mas, hanya satu jam kok.” bujuk Ana.
“Ha!, satu jam bisa sekarat aku,” lanjut Dewa.
“Drama mas, biasanya mas Dewa juga jarang makan, gak mati tuh,” ucap Ana santai.
“Itu kan dulu sebelum kamu datang, orang tiap hari kamu paksa makan, kan sudah terbiasa jadinya,” jawab Dewa tidak terima.
"Pokoknya nanti bawakan makanan kesini, aku gak mau turun, gak ada tenaga aku,” ucap Dewa menutup mata nya.
“Iih.. mas Dewa, bangun rebahan dikamar mas Dewa jangan disini, aku mau belajar,” usir Ana menarik lengan Dewa.
“Berisik pendek, belajar ya belajar aja, aku juga gak ganggu, dah belajar aja, aku gak ada tenaga tuk berdiri, ni kan salah loe nyuruh gue puasa.” ucap Dewa acuh malah meringkuk, menekuk lututnya.
“Mas ini, muslim kan, kalau muslim ya wajib puasa, gitu aja lho gak ngerti.” dengus Ana Duduk dibawah disela sofa dan meja membelakangi Dewa yang sedang meringkuk.
“Ya ngerti, tapi ya gitu, gak ada yang ngajari, jadi gak ngerti.” jawab Dewa pelan, dan itu kenyataan, orang tuanya tidak pernah mengajari tentang agama, sholat, apalagi ngaji, ya hanya Islam KTP saja. Ana yang mendengar itu hanya tersenyum miris, sedangkan dia dari TK sudah diajari puasa Fuul, Ana jadi merasa kasihan, ternyata Dewa benar-benar tidak mendapat kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya, pantas kelakuan seenaknya sendiri.
“Ya udah nanti aku ajari, itu pun kalau mas Dewa mau.” lanjut Ana membuka laptopnya, Dewa hanya diam tidak menjawab, ia masih bingung. Rambut Ana yang hanya di kucir kuda, begitu sederhana namun membuat hati Dewa adem saat melihatnya.
“Jangan natap aku kayak gitu mas, bisa berlubang punggung ku nanti,” ucap Ana yang risih karena terus ditatap, bagaimana ia tahu, tentu saja dari layar laptop nya.
“Kepedean loe, siapa yang natap, orang gue merem,” kilah Dewa, membuat Ana mendengus kesal.
“Eleh, ngeles, dah balik badannya, katanya mau istirahat,” ucap Ana karena merasa terganggu, ia ingin belajar dengan tenang, malah Dewa masuk kamarnya dan tidak mau pergi, kan bikin kesel.
“Gak usah mengumpat ku pendek, aku lho gak ngapa-ngapain, gitu aja kok dipermasalahkan, lagian ini kan rumahku, mau aku tidur, duduk di mana aja kan, serah aku, gak usah kesel gitu mukanya,” ucap Dewa lagi, membuat Ana mengerucutkan bibirnya, sudah seperti cenayang aja majikannya, tahu apa yang ia pikirkan.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰