NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Keesokan paginya, Delia sudah berdiri di depan rumah Kiara sejak matahari belum sepenuhnya naik. Klakson mobil dibunyikan singkat. Tak lama, Kiara keluar dengan tas selempang di bahu dan wajah yang terlihat lebih tenang dibanding kemarin, meski lelahnya belum benar-benar hilang.

“Siap?” tanya Delia sambil membuka pintu.

Kiara mengangguk. “Ke rumah sakit dulu.”

Perjalanan mereka hening. Bukan canggung, hanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Di rumah sakit, Kiara melangkah pelan menuju ruang perawatan. Begitu melihat papanya duduk bersandar di ranjang dengan selang infus yang tinggal satu, dadanya terasa lebih lega.

“Papa…” panggil Kiara lirih.

Papanya menoleh, tersenyum lemah.

“Kamu datang lagi.”

Kiara menghampiri, menggenggam tangan itu erat. “Gimana rasanya hari ini?”

“Lebih enakan. Dokter bilang tinggal pemulihan,” jawab papanya. “Kamu nggak usah khawatir.”

Kiara mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia menahan diri agar tidak menangis lagi. Setelah berbincang sebentar dan memastikan kondisi papanya benar-benar membaik, Kiara pamit.

“Kiara mau pergi dulu, Pa. Nanti sore aku balik lagi.”

Papanya menatap putrinya dalam-dalam. “Hati-hati, jangan memaksakan diri.”

Di luar ruangan, Mama Kiara sudah menunggu. Begitu tahu Kiara akan pergi ke perusahaan paman Delia, raut wajah wanita itu langsung berubah.

“Kamu mau ke sana?” tanya mamanya.

“Iya, Ma. Aku mau coba melamar kerja,” jawab Kiara jujur.

“Kok nggak di perusahaan Papa saja?” nada mamanya terdengar menahan emosi. “Itu kan lebih jelas. Kamu tinggal masuk, belajar pelan-pelan.”

Kiara menggeleng. “Aku nggak cocok, Ma. Bidangnya bukan aku.”

“Kamu bisa belajar!”

“Aku tahu,” Kiara menarik napas. “Tapi aku pengin cari pengalaman di tempat lain dulu. Aku nggak mau langsung nyaman.”

Mamanya terdiam, lalu berkata pelan tapi tegas, “Kamu ini keras kepala.”

Kiara tersenyum tipis. “Mungkin.” Keduanya langsung pergi meninggalkan ibunya Kiara di depan ruangan rawat papanya.

Di mobil, Delia melirik Kiara sekilas. “Jadi kamu tetap ke perusahaan om aku?”

“Iya.” Kiara menyandarkan kepala ke sandaran kursi.

“Aku mau kerja sesuai mood aja. Nggak mau terikat. Kalau cocok, aku jalanin. Kalau nggak, aku pergi.”

Delia mendengus kecil, setengah geli setengah paham. “Kamu mau lari, ya.”

Kiara tersenyum miring. “Aku mau bernapas.

Tiba di perusahaan, Delia melangkah mantap memasuki lobi utama. Beberapa karyawan yang berpapasan langsung tersenyum ramah.

“Pagi, Mbak Delia.”

“Selamat pagi, Mbak. Ke ruangan Pak Darius, ya?”

Delia mengangguk santai. “Iya.”

Kiara yang berjalan di sampingnya hanya menunduk sopan. Ia bisa merasakan sorot mata penasaran para karyawan bukan pada dirinya, melainkan pada status Delia yang jelas sudah mereka kenal baik.

Begitu tiba di depan ruangan pimpinan, Delia mengetuk singkat lalu membuka pintu.

“Om.”

Seorang pria bangkit dari balik meja kerjanya. Darius, usia tiga puluh lima, postur tegap, wajah matang dengan rahang tegas dan sorot mata tenang. Kemeja kerjanya rapi, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangan. Aura pemimpin yang tidak dibuat-buat.

“Masuk, duduk, Del." Ucapnya sambil menunjuk sofa.

Mereka bertiga duduk berhadapan. Suasana langsung terasa cair. Delia seperti biasa cerewet, sesekali diselingi tawa kecil, sementara Kiara lebih banyak mendengarkan namun tidak kaku.

Setelah beberapa menit berbincang ringan, Darius akhirnya menatap Kiara lebih serius.

“Jadi,” katanya pelan, “kamu yakin mau kerja di sini?”

Kiara mengangguk mantap. “Iya, Pak. Saya mau belajar dari sini dulu … sebelum suatu hari menggantikan Papa.”

Jawaban itu membuat Darius sedikit terkejut. Alisnya terangkat tipis, lalu ia tersenyum samar. “Pemikiran yang bagus. Panggil Mas aja atau Om aja sama kayak Delia," katanya ramah.

Namun, tak lama, dahi Darius kembali berkerut. “Bukannya kamu tinggal di desa?”

Belum sempat Kiara menjawab, Delia sudah lebih dulu menyela, suaranya ringan tapi penuh makna.

“Itu kemarin, Om. Sekarang Kiara mau fokus kerja.”

Darius melirik keponakannya, lalu kembali ke Kiara.

Delia tersenyum lebar, lalu menambahkan, “Satu lagi, Om. Om harus bantu sahabatku ini.”

Kening Darius langsung berkerut lebih dalam. Rasa penasaran jelas terlihat di wajahnya. “Bantu … dalam hal apa?”

Delia tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh ke Kiara, menatap sahabatnya itu dengan senyum penuh arti, seolah memberi isyarat bahwa cerita Kiara di tempat ini baru saja dimulai.

Sementara itu, Alvar sudah berada di dalam bus antarkota yang melaju meninggalkan desa. Ia memilih naik bus, tak mungkin membawa mobil bapaknya, dan meski ibunya sempat memintanya membeli mobil baru agar lebih leluasa, Alvar belum siap. Ada hal lain yang lebih penting untuk ia urus lebih dulu.

Ia duduk di dekat jendela, memandang jalanan yang terus berganti. Wajahnya terlihat jauh lebih cerah dibanding malam sebelumnya. Sesekali senyum kecil lolos begitu saja, tanpa sadar.

Alvar merogoh saku jaketnya, membuka ponsel. Layar menampilkan foto Kiara, foto yang diam-diam ia ambil saat Kiara sedang duduk di ruang tengah rumah, menatap kosong ke depan, rambutnya tergerai sederhana, tanpa riasan berlebihan. Foto itu selalu berhasil membuat dadanya terasa hangat sekaligus nyeri.

“Sebentar lagi … aku bakal jujur semuanya,” gumamnya pelan.

Ia menyandarkan kepala ke kursi, membiarkan bus berguncang pelan mengikuti jalan. Alvar tersenyum lagi, kali ini lebih yakin.

Bus yang ditumpangi Alvar akhirnya tiba di Jakarta menjelang sore. Hiruk-pikuk kota menyambutnya, tapi pikirannya hanya tertuju pada satu nama yaitu Kiara.

Alvar berdiri sejenak di trotoar, menatap ponselnya. Ia sadar satu hal, ia tidak tahu alamat rumah Kiara. Malam itu, ia hanya mengantar Kiara langsung ke rumah sakit, tanpa pernah bertanya lebih jauh. Menghela napas, Alvar akhirnya mengambil keputusan.

'Rumah sakit … pasti aku bisa menemuinya di sana.'

Ia segera memesan ojek online dan menyebutkan nama rumah sakit tempat Papa Kiara dirawat. Sepanjang perjalanan, jantungnya berdetak tak tenang, antara harap dan cemas bercampur jadi satu.

Sore mulai turun ketika Alvar tiba. Langit Jakarta berwarna jingga pucat, sementara lobi rumah sakit ramai oleh keluarga pasien dan pengunjung. Alvar memilih duduk di salah satu kursi panjang dekat pintu masuk utama.

Sesekali Alvar berdiri, melangkah beberapa langkah, lalu duduk kembali. Tangannya mengepal di atas lutut, keringat dingin mulai terasa meski pendingin ruangan cukup dingin.

“Kiara … kamu pasti ke sini,” bisiknya penuh harap.

Jam menunjukkan sore menjelang malam. Alvar tetap menunggu di lobi rumah sakit itu, dengan keyakinan sederhana namun kuat hari ini, ia harus bertemu Kiara. Entah untuk meminta maaf, menjelaskan, atau sekadar memastikan istrinya baik-baik saja.

Tepat pukul enam sore, pintu lobi rumah sakit kembali terbuka.

Kiara melangkah masuk lebih dulu, diikuti seorang pria di sampingnya, Darius. Setelan rapi pria itu tampak kontras dengan ekspresi Kiara yang sedikit lelah, tapi jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya.

Kiara menatap layar ponselnya sekilas, yang gelap.

“Pantesan dari tadi nggak ada pesan masuk,” gumamnya pelan, baterainya mati sejak semalam.

Ia memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu menoleh pada Darius.

“Makasih ya, Mas, udah mau nganterin aku.”

Darius tersenyum tipis. “Sama-sama. Sekalian aku mau lihat kondisi Papa kamu. Bagaimanapun beliau sekarang partner kerjaku juga … secara nggak langsung.”

Kiara mengangguk kecil, wajahnya terlihat menghargai perhatian itu. Mereka berjalan berdampingan, mengobrol ringan tentang pekerjaan dan rencana ke depan. Sesekali Kiara tersenyum tanpa beban.

Di sudut lobi, Alvar yang sejak tadi duduk menunggu mendadak berdiri. Ponsel di tangannya masih menyala, layar menunjukkan panggilan tak terjawab berkali-kali.

Alvar hendak melangkah, tapi tubuhnya seketika membeku. Matanya menangkap sosok Kiara, bersama seorang pria.

Alvar berdiri terpaku, napasnya terasa berat. Tangannya perlahan mengepal, urat-urat di pelipisnya menegang. Tatapannya tak berkedip, mengikuti setiap langkah Kiara yang kini terlihat begitu dekat dengan pria itu, tertawa kecil, berbicara santai, seolah dunia di sekeliling mereka tak ada apa-apanya.

'Siapa dia…?'

Sementara itu, Kiara sama sekali tak menyadari keberadaan Alvar. Ia terus berjalan menuju lift bersama Darius, langkahnya ringan, jauh dari wanita yang semalam pergi dengan mata sembab dan hati remuk.

"Kiara," serunya saat pintu lift sudah tertutup sepenuhnya.

1
Ariany Sudjana
tetap semangat yah dokter Alvar, Dan tunjukkan kamu jadi dokter yang kompeten dan berintegritas. tapi harus selalu waspada yah, banyak dokter senior yang tidak suka sama kamu
suryani duriah
yg senior hrsnya bangga sama yg masih muda tapi kompeten ini malah iri😔
dyah EkaPratiwi
dr Bram tambah iri ini sama alvar
Teh Euis Tea
dr bram sepertinya iri sm alvar nih
Rokhyati Mamih
begitulah profesi kalau kita maju dan bertanggung jawab justru ada aja yang menjegal 💪💪💪💪 buat Alvar
tiara
semangat Alvar tapi tetap waspada ya
Nar Sih
dr bram iri dgn mu alvar ,tetap hti,,dan waspada org yg ngk suka slalu cri jln buat jatuhin lawan nya ,semagatt akvar💪😊
Hendra Yana
lanjut
Oma Gavin
dokter bram sengaja menjebak alvar dan ingin menjatuhkan tapi sayangnya alvar berhasil operasi dgn sukses
Nar Sih
sabarr ya alvar ,org baik pasti bnyk ujian
Esther
pasienmu itu dokter Bram, jangan pura2 lupa ya
Esther
malah saling tuduh, tangani dulu pasiennya itu lho
tiara
bukannya cepat ditangani malah ribut ini para dokter senior, semoga masalahnya dapat segera diatasi ya
Aditya hp/ bunda Lia
ini para senior malah saling tuduh pasien udah kritis pula dasar gak ngotak ntar Alvar yang tangani dia jadi tambah harum namanya kalian lebih sirik lagi ....
Siti Amyati
ujian buat alvar smoga cepat kembali seperti semula ,emang pingin sukses banyak rintangan apalagi penyakit hati bikin daeting
Narti Narti
maa baru mampir kak🤭🤭🤭
Nar Sih
semoga kebahagiaan yg seperti ini terus berjalan di rmh tangga mu ya alvar kiara ,dan gk ada ujian yg berat lgi😊
Gadis misterius
Bermacam2 tipe orang yg ada dialam semesta ini, slah satunya yg iri dengki meliht orang lain bahagia mlah panas ada orang yg melihatt orang lain bahagia ikut bahagia jd hati2 krn manusia seperti yg iri dengki
Esther
pasien terakhir, pasien istimewa ya Alvar
Esther
antrian pasien langsung pindah ke dokter baru Alvar.
pasti dokter lama ada yang iri dengki, hati2 Alvar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!