Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan yang menghilang
Malam turun dengan sunyi yang berbeda, seolah dinding kamar ikut menjaga rahasia percakapan tadi siang. Di luar, suara jangkrik bersahutan rendah, namun di dalam kamar, hanya ada suara napas teratur yang mengiringi remang lampu tidur.
Byan berbaring telentang, menatap bayangan benda-benda di langit-langit kamar yang tampak seperti jemari panjang. Rasa lelah setelah drama emosional siang tadi membuatnya rapuh, namun pelukan di teras masih menyisakan kehangatan yang menjalar di punggungnya.
Pintu kamar terbuka sedikit, membiarkan seberkas cahaya kuning dari koridor masuk. Sebria masuk dengan langkah berjinjit, membawa segelas air putih dan sebuah buku cerita. Ia duduk di tepi ranjang, lalu dengan gerakan alami yang lebih akrab, ia menarik selimut hingga ke dada sang anak.
"Belum tidur, Sayang?" bisiknya lembut.
Byan menggeleng kecil. Keraguan yang tadi siang sempat mereda, kini kembali membayang dalam sunyi malam. Ia meraih ujung baju Sebria, menggenggamnya kuat-kuat seolah takut wanita itu akan menghilang begitu lampu dimatikan.
Malam itu bukan lagi tentang ketakutan akan hari esok, melainkan tentang keberanian untuk membiarkan dirinya dicintai kembali. Di bawah cahaya lampu yang temaram, ia melihat Sebria tetap di sana, menjaga mimpinya dari balik doa-doa yang dibisikkan dalam diam.
Setelah memastikan napas Byan mulai teratur dan dalam, Sebria beranjak pelan, menutup pintu kamar dengan kelembutan yang nyaris tak bersuara. Di kamar sebelah, suaminya tengah bersandar di kepala ranjang, meletakkan bukunya saat melihat istrinya masuk dengan gurat lelah namun penuh kasih.
"Dia sudah tidur?" tanya Jehan pelan, sembari menepuk sisi ranjang di sebelahnya.
Sebria menghela napas panjang, lalu duduk bersandar. "Tadi siang di jalan, dia bertanya hal yang mematahkan hatiku. Dia takut kalau aku hanya 'musim' yang suatu saat akan berganti. Dia takut aku akan berhenti menyayanginya."
Jehan meraih tangan Sebria, menggenggamnya erat untuk menguatkan. "Di sekolah anak-anak begitu polos. Mungkin, di antara teman-temannya ada yang membicarakan tentang ibu baru atau ayah baru. Tidak hanya Byan yang memiliki nasib tidak memiliki ibu sejak bayi di antara teman-temannya mungkin ada. Butuh waktu baginya untuk percaya bahwa fondasi yang kita bangun ini tidak akan retak."
Sebria menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan pantulan dirinya. "Aku hanya ingin dia tahu bahwa menjadi ibunya bukan sekadar status bagiku. Ini janji. Tapi melihat matanya yang penuh ragu tadi... rasanya aku ingin memberikan seluruh hidupku hanya agar dia merasa aman."
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, mereka berbisik menyusun rencana—bukan tentang pekerjaan atau masa depan yang megah, melainkan tentang cara-cara kecil untuk terus meyakinkan satu jiwa mungil di kamar sebelah bahwa ia tidak akan pernah lagi ditinggalkan sendirian.
...----------------...
Malam semakin larut, namun kantuk enggan singgah di pelupuk mata Sebria. Ia berbaring miring, menatap kegelapan yang pekat, sementara perutnya terasa perih dan kosong. Makan malam tadi hanya ia aduk-aduk di piring. Seperti malam kemarin makanan itu terasa hambar dan menutup selera nya.
Setiap kali ia memejamkan mata, selain rasa lapar ia kembali melihat binar ketakutan di mata bulat itu. Rasa bersalah yang tak beralasan mulai menghimpit dadanya. Ia merasa gagal karena belum mampu memberikan rasa aman yang utuh, hingga Byan harus memikul beban pikiran seberat itu di usia sedini ini.
Jehan yang menyadari kegelisahan itu, mengusap bahu Sebria dengan lembut. "Masih memikirkan yang tadi? Kamu harus makan lagi, Sayang. Tadi kamu makannya sedikit."
Sebria hanya menggeleng lesu, menarik selimut lebih tinggi. "Aku tidak bisa berhenti berpikir, Je. Bagaimana jika setiap perhatian yang kuberikan justru membuatnya makin takut kehilangan? Aku merasa seperti berjalan di atas kaca tipis."
Suasana kamar yang sunyi itu terasa makin berat oleh napas Sebria yang tertahan. Kegelisahannya bukan lagi soal rasa lapar fisik, melainkan rasa lapar akan keyakinan bahwa ia mampu menjadi pelabuhan terakhir bagi anak laki-laki itu. Di tengah malam yang dingin, ia hanya bisa berharap bahwa ketulusannya cukup kuat untuk menghalau badai keraguan yang menghuni hati putra barunya.
Melihat istrinya yang hanya diam dengan tatapan kosong, Jehan bangkit dari tempat tidur. Ia tahu, kata-kata saja tidak cukup untuk menenangkan perut yang kosong dan hati yang gundah. Tanpa banyak bicara, ia menyambar kunci mobil dan jaketnya.
"Ayo cari makan di luar."
Sebria mengangguk tapi sebelum pergi ia masuk lagi ke kamar Byan guna meyakinkan kalau putra sambungnya itu baik-baik saja. Setelah puas mengecup seluruh wajah anak itu. Sebria menyeret langkah keluar tanpa disadarinya sudut bibir Byan tertarik terbangun merasakan kecupan lembut mendarat di seluruh wajahnya. Dan kali ini anak laki-laki itu menarik selimutnya erat tidur nyenyak tanpa beban lagi.
"Mau makan apa?" Sambil mengemudi Jehan bertanya.
"Tahu tek-tek. Kuah kacangnya sudah terasa di lidah, Je. Pasti enak." Air liur Sebria terasa encer tidak sabar merasakan tahu tek-tek.
Jehan terkekeh. Mencari dimana penjual tahu tek-tek. Malam begitu sunyi hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Dingin semakin menusuk diantara pendar lampu neon tergantung di pinggir jalan. Roda empat itu berhenti di kedai berwarna hijau. Disana ada beberapa pelanggan yang menunggu. Jehan mengajak Sebria turun sambil melangkah hati-hati di antara genangan tipis sisa hujan sore hari. Sebria mengeratkan jaketnya sambil berdiri memesan. Mereka memutuskan untuk makan disana sambil mengobrol ringan.
...----------------...
Pagi menyapa dengan wajah yang jauh lebih cerah dari mendung kemarin. Cahaya matahari masuk dengan berani lewat celah gorden kamar, membasuh wajah Byan yang baru saja menggeliat bangun. Tak ada lagi sisa-sisa kesedihan. Hanya ada aroma parfum yang tertinggal ke dalam kamarnya saat Sebria menyiapkan keperluannya tadi membawa semangat baru.
Di meja makan, anak laki-laki itu tampak jauh lebih hidup. Ia duduk di kursinya sambil sesekali menggoyangkan kaki, menunggu roti bakarnya. Ketika Sebria mendekat dengan piring di tangan, Byan tidak lagi menatap dengan ragu. Alih-alih, ia langsung menyambutnya dengan cerita antusias tentang mimpinya semalam.
Sebria, yang semalam sempat gelisah dan tak nafsu makan, kini merasakan dadanya sesak oleh kelegaan melihat tawa itu kembali. Byan sesekali melirik ke arah ayahnya, lalu kembali menatap Sebria dengan binar mata yang seolah mengatakan bahwa hari ini, ia siap untuk percaya lagi. Suasana pagi itu bukan hanya tentang perut yang kenyang oleh sarapan, tapi tentang hati yang mulai merasa "tetap" di satu tempat.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah yang mulai ramai. Suasana pagi terasa berbeda tidak ada lagi jemari yang meremas ujung baju atau langkah yang tertahan berat. Byan segera membuka pintu, menyandang tasnya dengan bahu tegak, seolah semua keraguan semalam telah menguap bersama embun pagi.
Di ambang pintu mobil, ia berbalik. Sinar matahari pagi jatuh tepat di wajahnya, menyoroti senyumnya yang kini lebih lebar dan jujur. Sebria menurunkan kaca jendela, menatapnya dengan binar yang tak pernah pudar sejak pertama kali mereka bertemu.
"Belajar yang rajin ya, Sayang," ujar nya lembut.
Makasih, Kakak Ririn, sudah menuliskan kisah yg indah ini. Tep semangat berkarya 🥰