NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.

Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.

[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Prank Kakek dan Trik Marketing Dukun

|Lapak Barang Antik - Pasar Jatinegara|

Luna tertawa kecil melihat ekspresi pasrah Raka yang diseret-seret ke sana kemari.

"Jujur deh, Raka. Kalian ke sini mau ngapain? Mau cari 'harta karun' ya? Istilah kerennya treasure hunting?" goda Luna sambil mengibaskan kipas tangannya.

"Kalau iya, kenapa?" tantang Raka balik.

Kakek Darmawan yang berdiri di samping mereka tertawa renyah, suara baritonnya terdengar bijak. "Hahaha, dasar anak muda. Semangatnya berapi-api. Bagus, bagus. Dunia kolektor butuh darah muda seperti kalian."

"Tapi hati-hati lho," sambung Luna, wajahnya berubah serius sok tua. "Di sini banyak ranjau darat. Barang palsu bertebaran kayak debu. Kalian kalau nggak ngerti, mending ngekor aku aja. Kalau ada yang kalian taksir, bilang aku. Biar aku yang turun tangan."

Luna menepuk dadanya bangga. "Semenjak Home Schooling, aku belajar banyak dari Kakek. Mata aku udah terlatih bedain mana emas mana kuningan."

Raka hanya mengangguk-angguk. Dia tahu Luna tidak membual. Kakeknya, Pak Darmawan, adalah legenda di dunia kolektor Jakarta. Konon saat pemugaran situs Trowulan atau candi-candi di Jawa Tengah, para arkeolog sering minta pendapat beliau.

Jadi, tawaran Luna untuk jadi pemandu sebenarnya sangat berharga.

"Oke, Non Luna. Tunjukin jalan," kata Raka.

Clarissa di samping Raka tampak antusias. "Seru juga ya, Raka. Kayak lagi syuting acara TV Uang Kaget versi barang antik."

Mereka berjalan menyusuri lapak demi lapak.

Tiba-tiba, langkah Kakek Darmawan terhenti di depan sebuah lapak kecil yang digelar di atas tikar lusuh. Penjualnya adalah seorang pria paruh baya dengan kumis tebal, memakai cincin akik di sepuluh jarinya, dan rompi yang banyak kantongnya.

Mata tua Kakek Darmawan terpaku pada sebuah benda. Sebuah patung perunggu kecil berbentuk harimau.

Kakek Darmawan tidak bicara. Dia hanya tersenyum tipis, matanya menyipit penuh arti, lalu mengangguk pelan dua kali.

Luna yang melihat gestur kakeknya langsung tanggap. Matanya berbinar.

Kode Keras! Kakek ngangguk = Barang Bagus! Jackpot!

"Kakek..." bisik Luna excited. "Itu... beneran?"

Kakek Darmawan hanya menepuk bahu Luna pelan, lalu mundur selangkah, membiarkan cucunya beraksi. "Coba kamu cek sendiri."

Luna langsung jongkok dengan semangat 45 untung pake kain batik yang longgar. Raka dan Clarissa ikut jongkok di sebelahnya.

Luna mengambil patung harimau perunggu itu dengan hati-hati. Dia mengamatinya dengan teliti. Patinanya (karat hijau) terlihat alami, ukirannya halus namun terlihat kuno, dan beratnya pas.

Setelah lima menit mematut-matut, mata Luna membelalak. Dia menahan napas, berusaha menekan rasa girangnya agar si penjual tidak curiga.

Ini asli! batin Luna. Ini pasti peninggalan jaman kerajaan kuno! Mungkin Majapahit atau Singasari!

Luna menoleh ke arah si Abang Penjual. Dia memasang wajah datar (poker face) yang gagal total karena matanya masih berbinar.

"Bang, ginian berapa?" tanya Luna.

Si Abang Penjual, yang sudah makan asam garam dunia tipu-tipu, langsung mencium bau uang dari penampilan Luna yang old money.

"Wah, Neng Cantik emang matanya tajam," puji si Abang dengan logat Betawi yang kental. "Tau aja barang pusaka. Ini barang titipan, Neng. Saya nggak berani buka harga sembarangan. Tapi karena Neng kayanya berjodoh... Dua Ratus Juta aja."

"HAH?!"

Luna, Clarissa, dan Raka serempak kaget.

"Dua ratus juta?!" pekik Luna. "Bang, ini pasar loak, bukan Christie's Auction! Mahal banget!"

"Eits, jangan salah Neng," si Abang mulai mengeluarkan jurus storytelling-nya. Wajahnya berubah misterius.

"Ini bukan sembarang patung. Ini saya dapet dari seorang 'Orang Pinter' di pedalaman Gunung Kawi. Katanya ini dulu penunggu gerbang keraton yang ilang. Kalau bukan karena si Mbah butuh duit buat renovasi padepokan, nggak bakal dilepas ke saya. Ini ada isi-nya, Neng. Pembawa hoki."

Si Abang terus nyerocos dengan bumbu-bumbu mistis yang kental. Mulai dari mimpi wangsit, ritual malam satu suro, sampai khasiat anti santet. Ceritanya lebih seru daripada novel horor best seller.

Luna, yang dasarnya anak rumahan dan sedikit polos soal dunia klenik pasar, mulai termakan omongan itu. Apalagi Kakeknya tadi mengangguk!

"Dua ratus juta..." gumam Luna galau. "Bang, kurangin lah. Seratus?"

"Waduh, belum dapet Neng. Modal saya aja lebih dari itu. Ini barang keramat. Seratus sembilan puluh deh, harga sedulur."

Luna menggigit bibir. Dia membuka aplikasi Mobile Banking-nya diam-diam.

Saldo: Rp 115.000.000,-

"Yah... kurang..." desis Luna kecewa. Uang jajan bulanannya tinggal segitu setelah kemarin borong buku langka.

Dia menoleh ke Raka dengan tatapan memelas.

"Raka..." bisik Luna. "Lo... ada duit nganggur nggak? Pinjem dulu dong 90 juta. Nanti sampe rumah gue ganti 100 juta. Please? Ini barang bagus banget, Kakek tadi ngangguk."

Raka menatap Luna, lalu menatap Kakek Darmawan yang berdiri di belakang dengan senyum misterius yang mencurigakan.

Kakek tua ini... batin Raka. Dia lagi ngerjain cucunya sendiri ya?

Raka tersenyum tipis pada Luna. "Lo yakin mau beli ini?"

"Yakin banget! Liat tuh, karatnya asli. Terus auranya beda!" kata Luna keukeuh.

"Oke," kata Raka. "Biar gue yang tawar."

Luna bingung. "Tawar? Si Abang tadi alot banget loh."

Clarissa di sebelah Raka menahan tawa. Dia sudah melihat kilatan di mata Raka.

Raka mengambil patung harimau itu dari tangan Luna. Dia memutar-mutarnya dengan kasar, seolah itu mainan plastik.

Si Abang Penjual melotot. "Eh Mas! Pelan-pelan! Itu barang pusaka! Jangan dibanting!"

[SKILL AKTIF: MATA KEBENARAN]

Panel data muncul di retina Raka.

[ITEM: PATUNG HARIMAU PERUNGGU]

Asal: Sentra Kerajinan Logam Trowulan.

Tahun Pembuatan: 2023 (Minggu Lalu).

Material: Paduan Tembaga-Nikel rendah + Timbal (Beracun).

Metode Penuaan: Direndam Air Keras + Urin Sapi + Dikubur Tanah 3 Hari.

Nilai Asli: Rp 150.000,-

Status: PALSU (Fake/Replika).

Raka menahan tawa. Direndam urin sapi? Pantesan baunya agak pesing.

"Bang," panggil Raka santai. "Barang ginian mau dijual 200 Juta? Situ sehat?"

"Maksud lo apa?!" Si Abang mulai ngegas. "Jangan ngehina barang keramat ya!"

"Keramat ndasmu," Raka tertawa. "Ini mah keramat pabrik."

Raka mengangkat patung itu tinggi-tinggi.

"Dua ratus ribu. Gue bayar cash sekarang. Temen gue suka bentuknya buat ganjelan pintu."

HENING.

Luna melongo. "Raka?! Lo gila?! 200 Juta ditawar 200 Ribu?!"

Clarissa menutup mulutnya, kaget dengan kebrutalan negosiasi Raka.

Si Abang Penjual mukanya merah padam. "Wah, ngajak ribut lo! Ini barang Majapahit asli!"

"Majapahit?" Raka menunjuk bagian bawah patung itu dengan telunjuknya. "Liat nih, Bang. Di sela-sela kakinya. Ada guratan halus melingkar."

"I-itu urat harimaunya!" elak si Abang.

"Urat harimau apaan. Itu jejak mesin bubut, Bang," jelas Raka tajam. "Jaman Majapahit emang udah ada mesin bubut CNC?"

Raka mengetuk patung itu. Teng teng.

"Dan suaranya cempreng. Ini campuran timbalnya kebanyakan. Ati-ati loh Lun, pegang ginian lama-lama bisa keracunan logam berat. Abis pegang ini lo harus cuci tangan pake sabun antiseptik 3 kali."

"Dan soal karat hijaunya..." Raka mengendus patung itu sedikit, lalu menjauhkannya dengan jijik. "Bau amonia. Ini hasil rendeman air seni kan, Bang? Biar keliatan tua?"

SKAKMAT.

Wajah si Abang Penjual berubah dari merah marah menjadi pucat ketahuan. Dia tidak menyangka anak muda bergaya necis ini ternyata paham teknis pemalsuan barang antik.

Luna dan Clarissa langsung melepaskan tangan mereka dari patung itu dan mundur selangkah dengan wajah jijik.

"Iuh! Bekas air seni?!" pekik Luna horor.

Si Abang Penjual garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Kartunya mati.

"Y-ya... namanya juga usaha, Bos," gumam si Abang pelan, nyalinya ciut. "Tapi modal saya bikinnya lumayan lho..."

"Yaudah, 220 Ribu. Gue kasih untung 20 ribu buat beli rokok. Mau nggak? Kalau nggak mau kita cabut," kata Raka final.

Si Abang menghela napas pasrah. Daripada nggak laku sama sekali, mending balik modal dikit.

"Yaudah lah, angkut. Sial banget gue hari ini ketemu dukun muda," gerutu si Abang sambil membungkus patung itu dengan koran bekas.

Luna menatap Raka dengan tatapan tak percaya. "Raka... Lo... Lo barusan nyelamatin gue dari kerugian 200 Juta..."

"Bukan gue yang hebat," Raka menoleh ke belakang, ke arah Kakek Darmawan yang sedang tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.

"Kek!" seru Luna sadar. "Kakek tadi ngangguk-ngangguk itu maksudnya apa?!"

Kakek Darmawan menyeka air mata tawanya. "Kakek ngangguk itu karena lagunya enak, Lun. Lagu dangdut dari radio sebelah. Kakek nikmatin lagunya."

Luna: "..."

"Jadi bukan karena patungnya?!" teriak Luna histeris.

"Ya bukanlah! Masa Kakek nggak tau bedanya barang Majapahit sama barang Pasar Senen? Kakek cuma mau ngetes kamu. Eh, taunya kamu hampir kejebak. Untung ada Nak Raka."

Kakek Darmawan menepuk bahu Raka dengan bangga.

"Hebat kamu, Nak Raka. Matamu tajam. Jarang anak muda bisa liat jejak bubut mesin di barang sekecil itu. Kamu punya bakat jadi Appraiser."

Raka tersenyum sopan. "Kebetulan aja, Kek. Saya alergi barang palsu."

Luna cemberut, pipinya menggembung kesal karena di-prank kakeknya sendiri. Tapi dalam hati, dia sangat kagum pada Raka. Teman SMP-nya yang dulu biasa saja, sekarang berubah menjadi sosok yang penuh kejutan.

"Awas ya Kakek! Nanti di rumah aku aduin Mama!" ancam Luna manja.

"Hahaha, ampun Tuan Putri."

Sore itu, di tengah debu pasar loak, Raka mendapatkan dua hal: Reputasi di mata Kakek Darmawan, dan kekaguman dari dua wanita cantik di sampingnya.

1
:)
harus banget ya king scuma sungkem
Jujun Adnin
ngopi dulu mas raka
ABIMANYU CHANNEL
kasih yg banyak....
DipsJr: siap kak. paling nanti pindah ke max kalo nda lolos.
total 5 replies
Gege
kereen...ditunggu adegan kulit ketemu kulit dan bulu ketemu bulunya...kan udah gede..🤣🤭
Gege
kereen alurnya.. meski banyak mainkan durasi...lanjuuttt thoor..
DipsJr: wkwk. tau aja kak. 🤭
total 1 replies
Arya Rizki Sukirman
mana ini Thor updatenya
DipsJr: besok lagi kak, sehari 3 bab.
makasih sudah baca.
total 1 replies
DipsJr
besok lagi kak. saya updatenya jam 00.00 😁
ellyna munfasya
lanjut Thor 😤
ellyna munfasya
up lagi Thor nanti siang pokoknya 😤
Monchery
kalau ini menurut ku terlalu berlebihan
DipsJr: apanya yg berlebihan kak?. 🤭
total 1 replies
ellyna munfasya
alur nya seru
ellyna munfasya
gak mau tau nanti pagi harus up Thor 😤😤😤
DipsJr: siap kak, sebntar saya upload. 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!