NovelToon NovelToon
Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Herlina

Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Terkubur

Malam itu, kegelapan terasa seolah memiliki tangan yang dingin, merayap di sepanjang tengkuk Sasha. Ia tidak tidur sedetik pun. Setiap kali matanya terpejam, bayangan itu kembali muncul: seorang pria asing duduk tenang di sofa ruang tamu mereka, menghisap rokok dengan santai, seolah-olah ia adalah pemilik sah dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi Sasha.

Pria itu bukan sekadar pencuri. Ia adalah hantu yang tahu kapan Sasha mandi, kapan Gio pulang, dan di mana letak setiap sudut privasi mereka.

Pagi datang tanpa membawa kehangatan. Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden terasa hambar. Di depan cermin besar, Gio sedang merapikan jas hitam mahalnya. Hari ini adalah ulang tahun ke-25 Wijaya Group. Sebuah pesta megah, wajah perusahaan, dan panggung bagi semua mata-mata bisnis.

Biasanya, Gio akan pergi tanpa banyak bicara. Namun hari ini, gerakan tangannya yang sedang merapikan dasi terhenti. Ia menatap pantulan Sasha di cermin—wanita itu duduk diam di tepi ranjang, terlihat rapuh namun berusaha keras untuk tetap tegar.

“Kamu yakin mau ikut?” tanya Gio suara baritonnya merendah, penuh keraguan yang jarang ia tunjukkan.

Sasha mendongak, matanya yang sembap menatap Gio lekat. “Aku tidak mau sendirian di rumah itu lagi, Gio. Aku merasa dinding-dinding itu punya mata.”

Rahang Gio menegang. Ia berbalik, berjalan mendekat, lalu berlutut di depan Sasha agar mata mereka sejajar. “Baik. Kamu ikut denganku. Hari ini, kamu tidak akan lepas dari penglihatanku. Sedetik pun.”

Kalimat itu bukan sekadar perintah. Di telinga Sasha, itu terdengar seperti sebuah janji suci.

Ballroom Grand Hyatt malam itu berkilauan layaknya tumpukan berlian. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya pada gaun-gaun sutra dan obrolan basa-basi para konglomerat.

Sasha melangkah masuk dengan gaun hitam backless sederhana yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Elegan, namun misterius. Tangannya melingkar erat di lengan Gio, mencengkeram kain jas pria itu seolah-olah dunianya akan runtuh jika ia melepaskannya.

Dan untuk pertama kalinya, Gio tidak menepisnya. Ia justru menutup jemari Sasha dengan telapak tangannya yang besar dan hangat.

“Pak Gio, selamat atas pencapaian tahun ini!” seru salah satu kolega.

Gio tersenyum tipis, tipe senyum formal yang biasa ia gunakan, namun perhatiannya tidak pernah benar-benar lepas dari wanita di sampingnya. Setiap kali ada orang yang mendekat, tangan Gio akan berpindah ke punggung bawah Sasha, sebuah gerakan protektif yang membuat jantung Sasha berdebar tidak karuan.

Malam ini terasa berbeda. Sasha bukan lagi sekadar "istri kontrak" atau pajangan di etalase.

“Capek?” bisik Gio tepat di telinga Sasha, membuat bulu kuduk wanita itu meremang karena hembusan napasnya.

Sasha menggeleng pelan, meski kakinya mulai pegal karena high heels.

“Takut?” tanya Gio lagi, kali ini lebih lembut.

Sasha terdiam sejenak, menatap kerumunan orang yang berlalu-lalang sebelum kembali menatap mata gelap milik suaminya. “Sedikit. Aku merasa dia... ada di suatu tempat di sini.”

Gio mempererat rangkulannya. “Aku di sini. Tidak akan ada yang menyentuhmu.”

Keheningan sesaat tercipta di antara mereka di tengah kebisingan pesta. Hingga kemudian, alunan musik berganti menjadi melodi waltz yang lambat dan intim. Seorang direksi tua mendekat sambil terkekeh, “Pak Gio, jangan hanya menjaga istri di sudut ruangan. Ajak dia berdansa. Semua orang ingin melihat pasangan paling serasi tahun ini.”

Sasha menegang, ia hendak menolak, namun Gio sudah lebih dulu mengulurkan tangan kanannya.

“Boleh aku meminjam waktumu untuk satu dansa, Sasha?”

Sasha ragu, namun saat melihat kesungguhan di mata Gio, ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan pria itu. Mereka melangkah ke tengah lantai dansa. Di bawah sorotan lampu spotlight, dunia seolah memudar.

Tangan Gio merengkuh pinggang Sasha, menariknya mendekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Napas mereka saling bersahutan. Wangi parfum kayu cendana milik Gio memenuhi indra penciuman Sasha, memberikan rasa aman yang aneh.

“Jika bukan karena semua kekacauan ini…” bisik Gio pelan saat mereka berputar mengikuti irama.

Sasha mendongak, matanya terkunci pada bibir pria itu. “Apa?”

“Aku mungkin tetap akan menikahimu. Tanpa kontrak, tanpa paksaan,” ucap Gio jujur. Suaranya terdengar serak, menembus pertahanan hati Sasha yang paling dalam.

Sasha membeku. Itu bukan sekadar kata-kata manis untuk menyenangkan tamu. Itu adalah sebuah pengakuan dosa sekaligus pernyataan cinta yang tak terucap. Musik berhenti, namun mereka tetap berdiri di sana, saling menatap, mengabaikan tepuk tangan yang meriah.

Hujan badai mengguyur kota saat mereka kembali ke Penthouse Suite yang telah disiapkan. Lift menuju lantai teratas terasa begitu sunyi dan sesak oleh ketegangan yang belum tuntas. Begitu pintu suite tertutup dan terkunci otomatis, keheningan itu meledak.

Tidak ada ancaman. Tidak ada kamera media. Hanya ada mereka berdua.

“Gio…” panggil Sasha lirih.

Pria itu berbalik. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah maju, menangkup wajah Sasha dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap bibir Sasha dengan sangat hati-hati, seolah wanita itu adalah porselen yang bisa hancur kapan saja.

Lalu, ciuman itu terjadi.

Awalnya lembut, penuh kerinduan yang selama ini dipendam di balik dinding harga diri. Namun lama-kelamaan menjadi dalam dan menuntut. Sasha tidak mundur. Ia justru menarik kerah jas Gio, membawa pria itu semakin dekat, menumpahkan segala ketakutan dan rasa sepinya ke dalam pelukan itu. Malam itu, mereka tidak lagi melarikan diri dari teror. Mereka memilih untuk saling memiliki.

Pagi hari datang terlalu cepat. Sasha terbangun dengan posisi kepala bersandar di dada bidang Gio. Mereka tertidur di sofa luas kamar suite, masih mengenakan pakaian semalam yang sudah kusut. Jas Gio tersampir di tubuh Sasha sebagai selimut.

Sasha menatap wajah tidur Gio yang tampak tenang. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar menjadi seorang istri. Bukan tameng, bukan pelarian.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik.

Ponsel Gio di meja kopi bergetar hebat. Gio tersentak bangun, matanya langsung awas. Ia meraih ponsel tersebut, dan seketika, wajahnya yang hangat berubah menjadi pucat pasi, lalu mengeras seperti batu.

“Ada apa?” tanya Sasha cemas, ikut duduk.

Tanpa suara, Gio memberikan ponsel itu. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Di dalamnya terdapat sebuah foto: foto mereka berdua yang sedang berdansa semalam. Diambil dari sudut atas yang sangat presisi, menunjukkan bahwa sang pengambil foto berada sangat dekat, atau memiliki akses ke kamera pengawas tersembunyi.

Di bawah foto itu, tertulis sebuah pesan singkat yang mematikan:

“Romantis sekali. Kalian terlihat seperti pasangan sungguhan sekarang. Tapi sayangnya, kebahagiaan itu dibangun di atas kebohongan besar, bukan?”

Ponsel itu kemudian berdering. Panggilan masuk dari nomor yang sama. Gio mengangkatnya dengan tangan gemetar karena amarah.

“Dimas,” desis Gio. Suaranya dingin, penuh ancaman.

Suara tawa renyah terdengar dari loudspeaker. “Akhirnya kamu sadar juga, Gio. Bagaimana rasanya mencintai wanita yang hidupnya akan hancur karena rahasiamu?”

“Permainanmu sudah keterlaluan, Dimas! Jangan berani-berani menyentuhnya!” teriak Gio.

“Ini bukan permainan, Gio. Ini adalah penagihan hutang. Kamu boleh menjaga Sasha malam ini, memeluknya seolah kamu pahlawan…” Dimas terdiam sejenak, suaranya berubah menjadi bisikan yang mengerikan. “…tapi ada satu hal yang belum kamu ceritakan padanya tentang malam kecelakaan orang tuanya, kan? Tentang siapa yang sebenarnya berada di balik kemudi malam itu?”

Sasha terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia menatap Gio, mencari bantahan, mencari kebohongan di mata pria itu. Namun, Gio justru memalingkan wajahnya, tidak berani menatap Sasha.

“Gio…” suara Sasha bergetar hebat. “Apa yang dia bicarakan?”

Ponsel itu masih menyala, memuntahkan kalimat terakhir yang menghancurkan segalanya.

“Tanya suamimu, Sasha. Tanya dia, siapa pembunuh yang sebenarnya sedang kamu peluk setiap malam.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!