NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:395
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengorbanan Terakhir di Altar Cahaya

Kuil bawah air itu terasa seperti jantung yang berdenyut pelan di dasar Laut Banda. Cahaya dari kristal putih asli memenuhi ruangan dengan kilau lembut, tapi di balik kilau itu, kegelapan luar tetap mengintai—bayang hitam cair yang merembes dari retakan batu, bergerak seperti darah yang lambat mengalir. Udara di dalam kuil terasa tebal, lembab, dan berat, seolah setiap napas membawa beban ribuan tahun kutukan.

Banda berdiri di tengah altar, empat kristal sekarang melayang di sekitarnya dalam formasi sempurna: biru di utara (laut), merah di selatan (api), abu-abu di barat (tanah), dan putih di timur (cahaya). Bola cahaya emas yang terbentuk dari penggabungan mereka berputar di pusat, denyutnya semakin cepat, semakin keras—seperti jantung yang tahu waktu hampir habis.

Jatayu berdiri di sisi selatan, dekat kristal merah. Api Phoenix-nya menyala samar di telapak tangan, tapi api itu tidak lagi liar—ia terkendali, hangat, seperti lilin yang menjaga malam tetap terang. Matanya kuning keemasan menatap Banda dengan campuran cinta dan ketakutan.

Bayu berdiri di sisi utara, dekat kristal biru. Ia tidak punya kekuatan seperti mereka, tapi tombak ikan tua di tangannya digenggam erat—senjata sederhana dari nelayan biasa yang kini menjadi saksi akhir dari legenda ini.

“Kita harus mulai,” kata Banda, suaranya tenang tapi bergetar di ujung. “Ritualnya sederhana: kita satukan cahaya dengan darah kita. Api dan air harus menyatu sepenuhnya di dalam kristal cahaya. Tapi… Naga Cahaya bilang harganya nyawa. Salah satu dari kita mungkin tidak akan selamat.”

Jatayu melangkah maju satu langkah. “Kalau itu harga untuk mengakhiri kutukan… aku siap. Aku sudah hidup terlalu lama dengan rasa bersalah atas Garini. Kalau kematianku bisa mematahkan ini… biarlah.”

Banda menggeleng keras. “Tidak. Tidak ada yang mati lagi. Kirana sudah cukup. Kita cari cara lain.”

Bayu menatap mereka berdua. “Kalau bukan salah satu dari kalian… mungkin aku.”

Jatayu dan Banda menoleh bersamaan.

“Bayu—” mulai Jatayu.

Bayu mengangkat tangan. “Dengar dulu. Aku bukan Phoenix. Aku bukan Naga Laut. Aku cuma manusia biasa. Kalau kutukan butuh nyawa… biar nyawa manusia biasa yang membayar. Kalian berdua punya masa depan. Aku… aku sudah cukup hidup bahagia sebagai nelayan yang ikut petualangan gila ini.”

Banda melangkah ke arah Bayu, tangannya memegang bahu sahabatnya. “Kau bukan cuma nelayan. Kau saudara kami. Kau yang selalu ada, yang tidak pernah lari meski tidak punya kekuatan. Kita tidak akan biarkan kau jadi pengorbanan.”

Bayu tersenyum kecil—senyum yang lelah tapi tulus. “Itu pilihan aku. Kalau aku tidak lakukan ini… kutukan akan terus ada. Dan kalian akan terus hidup dalam ketakutan. Aku tidak mau itu.”

Kegelapan luar meraung lagi dari retakan—suara yang seperti ribuan mulut berbisik sekaligus.

“Pilihan yang bijak, manusia kecil. Nyawamu akan cukup. Serahkan dirimu… dan kutukan akan berakhir.”

Jatayu menggeleng. “Tidak. Kita tidak percaya pada kegelapan. Kita percaya pada cahaya.”

Banda menatap kristal cahaya asli. Cahaya putih itu berdenyut lebih cepat, seolah mendengar perdebatan mereka. Ia mengulurkan tangan ke kristal itu, lalu ke Jatayu dan Bayu.

“Pegang tanganku,” katanya. “Kita satukan semuanya. Bukan dengan nyawa satu orang… tapi dengan ikatan kita bertiga.”

Jatayu dan Bayu saling pandang, lalu menggenggam tangan Banda. Tangan mereka bertiga menyentuh kristal cahaya asli secara bersamaan.

Cahaya meledak.

Bukan cahaya yang menyilaukan, tapi cahaya yang menyelimuti—hangat, lembut, seperti pelukan dari Garini dan Kirana sekaligus. Cahaya itu mengalir ke dalam tubuh mereka bertiga: ke dalam api Jatayu, ke dalam air Banda, ke dalam darah manusia Bayu.

Kegelapan luar meraung lebih keras. Tentakel-tentakel hitam muncul lagi, menyambar ke arah mereka. Tapi cahaya itu membentuk perisai tak terlihat—setiap tentakel yang menyentuh cahaya terbakar seperti kertas di api, berubah menjadi abu hitam yang menghilang.

Banda merasakan kutukan berjuang di dalam dirinya—suara Naga Tanah berteriak terakhir kali:

“Kalian tidak bisa menang! Iriku abadi! Kesepianku abadi!”

Tapi suara itu semakin lemah. Cahaya dari kristal semakin terang, menyusup ke retakan-retakan kuil, menyegel kegelapan luar yang mencoba masuk.

Jatayu berteriak pelan saat api Phoenix-nya menyatu dengan cahaya—bukan membakar, tapi menjadi bagian dari cahaya itu sendiri. Bayu merasakan darahnya panas, tapi bukan sakit—seperti darahnya akhirnya menemukan tempatnya dalam cerita yang lebih besar.

Banda menutup mata. Ia merasakan semuanya: duka Kirana, cinta Garini, kesetiaan Bayu, dan cinta Jatayu yang tak pernah goyah. Ia merasakan kutukan berjuang, tapi ia tidak melawannya dengan kekuatan—ia melawannya dengan pengampunan.

“Maafkan aku,” bisiknya pada kegelapan. “Maafkan Naga Tanah yang pernah kesepian. Maafkan kami yang pernah takut. Tapi sekarang… kami memilih cinta. Bukan kekuasaan. Bukan keabadian. Cinta.”

Cahaya meledak terakhir kali—putih murni yang menyelimuti seluruh pulau. Kegelapan luar meraung terakhir, lalu surut ke celah antara dunia, tertutup oleh cahaya yang tak bisa ditembus lagi.

Kristal-kristal itu melebur menjadi satu—bola cahaya emas kecil yang jatuh ke telapak tangan Banda. Kutukan hilang. Suara Naga Tanah lenyap. Hanya keheningan yang tersisa—keheningan yang damai.

Banda membuka mata. Jatayu dan Bayu masih berdiri di sampingnya, napas mereka tersengal, tapi hidup.

“Kita… kita melakukannya,” kata Bayu, suaranya penuh takjub.

Jatayu memeluk Banda erat. Air mata mengalir di wajahnya—air mata emas yang tidak menguap lagi, tapi jatuh seperti hujan kecil.

“Kita mematahkan kutukan,” bisiknya. “Tanpa kehilangan satu pun lagi.”

Banda memeluk balik. “Untuk Kirana. Untuk Garini. Untuk kita.”

Mereka bertiga keluar dari kuil bawah air, naik ke permukaan. Pulau tersembunyi sekarang terasa berbeda—kabut sudah hilang, ombak tenang, dan matahari terbit di ufuk timur seperti janji baru.

Di kejauhan, angin membawa suara samar—seperti bisikan Garini dan Kirana yang tersenyum dari cahaya.

“Terima kasih. Sekarang… hiduplah.”

Banda menatap Jatayu. “Kita pulang?”

Jatayu tersenyum—senyum pertama yang benar-benar bebas sejak mereka bertemu.

“Pulang. Dan kita mulai lagi. Bersama.”

Bayu tertawa kecil. “Akhirnya aku bisa kembali jadi nelayan biasa… tapi dengan cerita yang tidak akan pernah ada yang percaya.”

Mereka naik ke perahu, meninggalkan pulau tersembunyi yang sekarang terasa damai.

Laut Banda tenang untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun.

Dan di dalam dada mereka, cahaya emas kecil itu tetap hidup—cahaya yang lahir dari pengorbanan, cinta, dan harapan.

Akhir dari kutukan.

Awal dari segalanya.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Kashvatama: semangat 💪
total 1 replies
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!