NovelToon NovelToon
Sang Penguasa Dan Pelayan Jelata

Sang Penguasa Dan Pelayan Jelata

Status: tamat
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Obsesi / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:749
Nilai: 5
Nama Author: Alzahraira Nur

Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

aroma jasmine di balik kemiskinan

​Jauh sebelum mahkota emas putih Tian-Zhi-Bao bertengger di kepalanya, dan jauh sebelum ia menjadi obsesi seorang kaisar tiran, Mei Lin hanyalah seorang gadis desa dari pinggiran kota yang berdebu. Di sebuah gubuk kecil yang atapnya bocor saat hujan, Mei Lin menjalani hidup sebagai tulang punggung keluarga. Ayahnya telah lama pergi, menghilang tanpa kabar dan meninggalkan hutang yang menumpuk, menyisakan ibunya yang sakit-sakitan dan dua adik perempuan yang harus diberi makan.

​Mei Lin adalah fajar bagi keluarganya. Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia sudah berada di sungai, mencuci tumpukan pakaian milik orang-orang kaya kota. Namun, di tengah kemiskinan itu, Mei Lin memiliki satu ritual yang tidak pernah ia lewatkan. Ia sangat mencintai bunga jasmine yang tumbuh liar di belakang gubuknya. Setiap malam, ia akan mengumpulkan kelopak-kelopak putih itu dan merendam tubuhnya di dalam bak kayu tua dengan air yang dipenuhi jasmine. Ia akan berendam sangat lama, membiarkan aroma manis dan menenangkan itu meresap jauh ke dalam pori-pori kulit dan setiap helai rambutnya. Itulah satu-satunya saat ia merasa cantik, merasa bukan sekadar pelayan yang berlumuran debu.

​Namun, kecantikan alami Mei Lin dan aroma jasmine yang melekat padanya menjadi duri bagi adik keduanya, Lin Hua. Berbeda dengan Mei Lin yang rajin, Lin Hua memiliki hati yang dipenuhi rasa iri yang pekat. Ia sering menatap kakaknya dengan sinis saat Mei Lin pulang membawa sekantong kecil gandum hasil kerja kerasnya.

​"Kau pikir dengan berendam bunga setiap malam, seorang pangeran akan datang menjemputmu dari lumpur ini, Kak?" ejek Lin Hua suatu sore sambil memperhatikan Mei Lin yang sedang menyisir rambutnya yang harum. "Lihatlah tanganmu yang kasar karena mencuci, kau tidak lebih dari sekadar pelayan, tak peduli seberapa wangi tubuhmu."

​Mei Lin hanya diam, terbiasa dengan lidah tajam adiknya. Ia tahu Lin Hua iri karena meski mereka bersaudara, kecantikan Mei Lin tampak begitu murni dan memikat, sementara Lin Hua selalu merasa terbayangi.

​Berbeda dengan Lin Hua, adik ketiganya yang bungsu, Xiao Mei, adalah cahaya kecil di rumah itu. Xiao Mei sangat menyayangi ibu mereka yang sering terbatuk-batuk di atas ranjang bambu. Ia akan membantu Mei Lin memeras kain atau mencari kayu bakar tanpa mengeluh. "Kakak, suatu saat aku akan bekerja keras agar Kakak tidak perlu mencuci baju orang lagi," bisik Xiao Mei sambil memeluk pinggang Mei Lin.

​Mei Lin membelai kepala adiknya dengan lembut. "Selama kita bersama dan ibu sehat, itu sudah cukup bagi Kakak, Xiao Mei."

​Namun, kemiskinan adalah musuh yang kejam. Hutang ayah mereka akhirnya membawa para penagih hutang ke pintu rumah mereka. Mei Lin tidak punya pilihan. Demi menyelamatkan ibu dan kedua adiknya dari kelaparan dan ancaman para preman, ia memutuskan untuk menjual dirinya sebagai pelayan di istana—tempat yang konon menjadi rumah bagi kemewahan, namun ternyata menjadi awal dari penjara abadi baginya.

​Di sisi lain dunia, di puncak gunung yang gelap, Kaelen tidaklah benar-benar menghilang. Ia adalah pemimpin dari organisasi pembunuh bayaran paling mematikan yang dikenal sebagai "The Shadow Ravens". Luka di bahunya akibat tebasan Jian Feng masih terasa berdenyut, namun amarah di hatinya jauh lebih panas. Ia sedang mengasah pedang hitamnya di bawah cahaya bulan, memperhatikan peta Istana Naga dari kejauhan.

​"Belum saatnya," bisik Kaelen, suaranya seperti desis ular. "Biarkan Jian Feng merasa menang. Biarkan dia memuja harta karunnya. Saat dia berada di puncak kebahagiaan, itulah saat aku akan merobek hatinya dan mengambil kembali apa yang dia curi dariku."

​Kaelen tidak hanya menginginkan Mei Lin karena nafsunya; ia menginginkan Mei Lin karena ia tahu gadis itu adalah satu-satunya kelemahan sang kaisar tiran. Dan bagi seorang pembunuh bayaran, menyerang kelemahan lawan adalah seni yang paling indah.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!