Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Kejujuran
Angin pegunungan dingin meniup wajah Anisa, bibirnya kaki untuk sekedar berbicara jujur.
Gus Hafiz menatap Anisa lama. Tatapannya tenang, tapi ada kilat jahil di sana.
Gus Hafiz mendekat. Anisa langsung mendongak.
"Ngapunten Gus...Panjenengan mau ngapain?"
Anisa langsung gugup.
“Mau praktekin adegan drama Korea.”
Anisa langsung mendelik.
“Gus! Panjenengan ndak sopan!”
Gus Hafiz malah tertawa renyah. Tawanya jarang, tapi sekali tertawa bikin suasana hangat.
“Ndak sopan gimana?” ia pura-pura polos.
Anisa mendengus. Dalam hati, ia justru senang melihat sisi Gus Hafiz yang begini, lebih ringan, lebih manusiawi.
"Ya ndak sopan pokoknya..."
Anisa tak bingung mau jelasinnya.
"Kita kan udah bisa..."
Ucapan Gus Hafiz menggantung.
Anisa sepontan menggeleng.
“Ndak...boleh, akubmasih bocah di bawah umur, belum 18 tahun,” gerutunya.
Gus Hafiz mengangkat alis. “ Masak masih bocah...Tapi sudah pinter ngelawan Mas.”
Ia melangkah satu langkah mendekat.
Anisa spontan mundur satu langkah.
"Gus...ndak usah macem-macem."
Ancam Anisa.
“Kenapa...? Tapi sudah pernah nonton drama Korea kan?” tanyanya santai.
Pipi Anisa langsung memerah.
“Gus…” ia membuang wajah ke arah jendela, pura-pura melihat kabut gunung. Padahal kepalanya langsung dipenuhi adegan-adegan romantis yang pernah ia tonton diam-diam.
Gus Hafiz menahan tawa.
“Mau coba…?”
Anisa langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Gus panjenengan...?” Satu tangannya bahkan mendorong dada Gus Hafiz, meski dorongannya pelan sekali. Tangannya berasa lumpuh tak berdaya.
Gus Hafiz mendekat sedikit lagi, cukup membuat Anisa bisa merasakan hangat napasnya.
“Mau nyobain… gimana rasanya,” bisiknya pelan, sengaja mempermainkan suasana.
“Ndak mau!” jawab Anisa cepat.
“Kenapa? Katamu suka.”
“Kapan aku bilang suka?” Anisa melotot.
Gus Hafiz pura-pura berpikir. “Hem...udah lupa? cepat banget lupanya.”
Anisa yang gugup langsung membungkam mulut Gus Hafiz dengan tanganya.
Gus Hafiz tertawa lagi. Lalu perlahan ia menarik tangan Anisa yang menutupi mulutnya.
Jarak mereka sangat dekat sekarang.
Anisa bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keras sekali. Sampai ia yakin Gus Hafiz pun bisa mendengarnya.
Perlahan, Anisa memejamkan mata kuat-kuat.
Deg-degan. Separuh takut. Separuh… entah apa namanya.
Namun alih-alih melakukan hal yang membuatnya panik, Gus Hafiz menjitak pelan kening Anisa.
Anisa membuka mata kaget.
"Gus..."
Sebuah potongan cokelat sudah berada di dalam mulutnya, tangan Gus Hafiz berhenti sepersekian detik, saat ibu jarinya tak sengaja menyentuh bibir lembut Anisa.
Tatapan Gus Hafiz jatuh tepat di bibir merah muda yang sedang digigit malu.
Cokelat itu masuk.
Manis. Lumer di lidah. Anisa menjilat sudut bibirnya yang tertempel coklat.
Nafas Gus Hafiz hampir putus, menahan sesuatu yang tiba-tiba, mendorong hebat dari dalam tubuhnya.
Gus Hafiz dengan cepat melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Anisa.
Dan mundur satu langkah.
Menghela napas dalam, berusaha mengontrol laju detak jantungnya.
“Gimana? Enak kan?” Gus Hafiz tersenyum tipis. “Itu cokelat khusus Mas kirim dari Dubai.”
Ujarnya, mencoba merilekskan pikirannya yang mulai kemana-mana.
Anisa langsung mengangguk.
"Enak..."
Jawab Anisa malu.
“Jadi dari tadi panjenengan cuma mau ngasih cokelat?”
Gus Hafiz terkekeh.
“Emang kamu pikir apa...?”
Anisa menggeleng, pipinya bersemu merah seperti bunga sakura.
Anisa membeku beberapa detik. Teringat pikirannya yang sempat kemana-mana.
Astaga… ternyata dari tadi cuma dikerjain.
Batinnya.
“Gus Usil...!” protesnya sambil memukul pelan lengan Gus Hafiz.
Gus Hafiz tertawa. Kali ini benar-benar terhibur.
“Sedikit usil ndak papa to?. Mas cuma pengen lihat kamu senyum lagi.”
Kalimat itu membuat Anisa terdiam.
Ia baru sadar…
Sejak tadi, ia memang sudah tertawa. Sudah salah tingkah. Sudah lupa pada sakit hatinya.
Udara dingin pegunungan tak lagi terasa menusuk. Karena yang menghangatkan bukan hanya cokelat di mulutnya.
Tapi perhatian lelaki di depannya.
Gus Hafiz lalu merapikan ujung kerudung Anisa yang sedikit miring karena tertiup angin.
Gerakannya sederhana, pelan.
Penuh hati-hati.
“Mas ndak akan macem-macem,” ucapnya lebih serius sekarang. “Mas cuma mau kamu nyaman sama Mas.”
Jantung Anisa kembali berdebar.
Saat tangan Gus Hafiz mengelus kepala Anisa.
Langit Gunung Muria benar-benar sudah gelap. Lampu-lampu kecil di lembah mulai menyala seperti kunang-kunang.
Anisa terdiam.
Kalimat Gus Hafiz berputar-putar di kepalanya.
Air matanya tiba-tiba meluncur tanpa diminta.
Gus Hafiz kaget.
"Ada apa...?" Anisa makin sesenggukan seperti anak kecil.
Dan Gus Hafiz tak memaksanya, ia cukup saat ini jadi penenang.
Tangannya terulur menarik tangan anisa dan menjatuhkan pemilik hati yg sedang rapuh itu ke dalam pelukannya.
"Nangis aja, ndak usah ditahan" Bisik Gus Hafiz sambil mengelus punggung Anisa.
Dan andai mereka sadar, setelah enam bulan menikah, itu adalah pelukan pertama mereka.
Setelah tangis Anisa mereda, Gus Hafiz melerai pelukannya, lalu dengan lembut Gus Hafiz memegang kedua bahunya.
"Apa tangismu ini, ada kaitannya dengan Mas?"
Anisa masih belum menjawab.
"Kalau kamu diam gini, Mas ndak tau. Mas bukan cenayang yang bisa baca pikiran kamu..." Bisik Gus Hafiz.
Anisa menatap lama ke arah lantai yang mereka pijak.
Sebelum akhirnya memutuskan untuk jujur.
"Kenapa Gus tetap anggap pernikahan ini sungguhan? padahal Gus sendiri ndak menginginkan ini." Kening Gus Hafiz berkerut berlipat tiga.
"Kenapa kamu terus mikir begitu, sekarang Mas yg tanya. Kenapa Mas berdiri didepanmu sekarang? Untuk siapa Mas langsung ke kudus, kok ndak langsung pulang ke Ponorogo?"
Anisa membeku. Wajahnya terangkat memberanikan diri menatap mata Gus Hafiz.
"Apa benar untukku?"
Gus Hafiz seketika menjitak lembut kening Anisa.
"Selama seminggu Mas ndak bisa tidur gara-gara nomormu ndak aktif. Bahkan sejak kamu ndak ada di Ponorogo, Mas sering lupa makan, Mas kepikiran kamu, sampai napsu makan Mas hilang."
Pernyataan Gus Hafiz itu, membuat Anisa lupa caranya bernapas.
Nggak mungkin, bukankah dia mencintai Ustadzah Afifah, terus kenapa dia seolah menginginkan aku.
Batin anisa masih tak ingin terbang, ia takut jatuh hancur.
Nggak mungkin…
Batinnya terus menentang. Anisa menatap sekali lagi, mencari kebenaran dari sorot mata lelaki di hadapannya.
Bukankah dulu semua orang tahu, hati Gus Hafiz pernah tertambat pada Ustadzah Afifah? lalu ucapannya ini... apa maksudnya.
Batin Anisa seperti berdiri di tepi jurang. Ia ingin percaya… tapi takut jatuh.
“Gus…” suaranya lirih. " jangan bikin aku salah paham.”
Gus Hafiz mengernyit.
“Salah paham yang gimana?”
Gus Hafiz balik bertanya tegas.
“Gus tahu. Pernikahan ini terjadi karena situasi.” napasnya bergetar, “Mas mencintai orang lain.”
Nama itu tak ia sebut.
Tapi mereka sama-sama tahu.
Wajah Gus Hafiz berubah serius. Bukan marah. Tapi seperti seseorang yang akhirnya mengerti sumber luka itu.
“Jadi selama ini kamu menjauh karena itu?”
Anisa tak menjawab. Tapi matanya sudah cukup bicara.
Gus Hafiz menghela napas panjang.
“Duduk sini,” ujarnya pelan.
Mereka duduk di bangku kayu teras. Jaraknya tak lagi sejauh tadi. Tak juga terlalu dekat. Tapi cukup hangat.
“Dengar baik-baik, Anisa.”
Nada suaranya bukan lagi nada bercanda. Bukan juga nada jahil.
Itu nada seorang lelaki yang ingin meluruskan sesuatu yang penting.
“Mas memang pernah punya rasa. Dan Mas ndak pernah munafik soal itu.”
Hati Anisa kembali mencelos.
“Apa Mas ndak boleh punya perasaan itu.”
Anisa menoleh cepat.
“Tapi harus kamu tahu. Mas bukan tipe orang yang menyimpan dua hati sekaligus.” Gus Hafiz menatapnya lurus. “Kalau Mas sudah bilang ‘sah’, maka yang Mas jaga cuma satu nama.”
Angin malam berhembus, membuat kerudung Anisa sedikit bergerak.
“Mas berdiri di depanmu sekarang bukan karena kewajiban saja,” lanjutnya pelan. “Kalau cuma kewajiban, Mas cukup kirim uang, cukup telepon, cukup tanya kabar.”
Ia menggeleng kecil.
“Tapi Mas datang. Mas nyetir sendiri. Mas cari kamu sampai ke Kudus.”
Anisa menatapnya tanpa berkedip.
“Karena Mas khawatir. Karena Mas merasa ada yang hilang waktu kamu ndak ada.”
Jantung Anisa berdebar keras lagi.
“Tapi… aku takut berharap, Gus,” akhirnya ia jujur. “Aku takut ternyata aku cuma…numpang lewat dan menjadi orang ke tiga, dalam hidup Gus Hafiz.”
Gus Hafiz tersenyum tipis. Bukan senyum menggoda. Senyum lembut.
Ia mengangkat tangannya, lalu menepuk pelan dada kirinya sendiri.
“Kalau kamu lewat, kenapa di sini rasanya sepi waktu kamu pergi?”
Anisa tercekat.
“Mas ini bukan lelaki yang pandai merayu,” lanjutnya pelan. “Mas cuma tahu satu hal. Sejak kamu jadi istri Mas… Mas belajar pelan-pelan.”
“Belajar apa?” bisik Anisa.
“Belajar menaruh hati di tempat yang benar.”
Air mata Anisa kembali menggenang. Tapi kali ini bukan karena sakit.
Gus Hafiz mengusap sisa air mata di pipinya dengan ibu jarinya, hati-hati sekali, seolah takut melukai.
“Mas ndak minta kamu langsung percaya,” ujarnya lembut. “Mas cuma minta kamu jangan menutup pintunya.”
Anisa menunduk. Tangannya gemetar sedikit.
“Kalau suatu hari nanti Mas berubah?”
“Kalau Mas berubah,” jawabnya tenang, “kamu boleh marah. Kamu boleh pergi. Tapi jangan hukum Mas atas sesuatu yang belum Mas lakukan.”
Anisa masih menunduk.
“Bukankah Mas mencintai Ustadzah Afifah?”
Akhirnya nama itu keluar juga.
Gus Hafiz terdiam beberapa detik.
Lalu Ia tertawa kecil.
Bukan mengejek. Lebih seperti tak menyangka.
“Siapa yang bilang begitu?”
Anisa mengangkat wajahnya cepat. “Semua orang tahu…”
“Semua orang tahu?” Gus Hafiz mengulang kalimat itu pelan. “Atau semua orang berasumsi?”
Anisa membeku.
Gus Hafiz menghela napas.
“Mas ndak pernah mencintai Ustadzah Afifah.”
Kalimat itu diucapkan tegas. Tanpa ragu.
Anisa mengernyit. “Tapi Gus sering bareng… sering satu forum… dan selalu tersenyum jika di dekat Ustadzah Afifah.”
“Itu kerja, Dek. Dakwah. Diskusi kitab.” Gus Hafiz tersenyum tipis. “Mas hormat sama beliau. Tapi cinta? Ndak pernah.”
Anisa benar-benar terdiam.
Hatinya seperti ditarik perlahan dari jurang yang ia buat sendiri.
“Lalu… kenapa waktu itu Mas menolak lamaran lain, dari gadis-gadis lain. Bahkan ada yang dari kalangan anak kiai?” tanyanya pelan.
Gus Hafiz menatapnya lama.
Tatapan yang berbeda.
Lebih dalam.
“Karena sudah ada yang Mas tunggu, sejak awal.”
Anisa menyipit.
“Menunggu siapa?”
Gus Hafiz menelan ludah. Pertanyaan Anisa seketika membuat telinga Gus Hafiz memerah. Entah karena gugup atau karena malu mengakui.