NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Kisah Kita Berakhir

Malam itu, kediaman Dion sudah dipenuhi dentum musik dan tawa riuh para anggota tim basket dan teman tongkrongan Arslan. Arslan berdiri di tengah kerumunan, sesekali melirik jam tangannya dengan perasaan jemawa. Ia sudah membayangkan tumpukan uang 30 juta dan sorak-sorai kemenangannya atas si culun.

Namun, suasana tiba-tiba menjadi hening saat sebuah taksi berhenti di depan gerbang.

Abel keluar dari mobil. Ia tidak lagi mengenakan seragam kusam atau kardigan kebesaran. Ia mengenakan A-line dress berwarna sage green yang jatuh dengan cantik di bawah lututnya. Rambut hitam legamnya yang biasanya dikepang kaku kini tergerai indah, bergelombang alami tertiup angin malam. Kacamata bulatnya masih bertengger di sana, namun kali ini tidak lagi membuatnya terlihat aneh; justru memberikan kesan elegan yang cerdas dan misterius.

Arslan terpana. Begitu pun teman-temannya seketika membeku. Gadis yang mereka sebut debu itu kini terlihat seperti permata yang selama ini tertutup lumpur.

"Abel... lo cantik banget," ucap Arslan, mencoba meraih pinggang Abel untuk menunjukkan otoritasnya di depan teman-temannya.

Abel memberikan senyum tipis—senyum yang paling tulus sekaligus paling palsu yang pernah ia berikan. "Terima kasih, Arslan. Kan kamu yang minta aku pakai baju terbaik."

Arslan membawa Abel ke tengah ruangan, tempat Bimo, Raka, dan Dion sudah menunggu dengan gelas-gelas minuman di tangan. Mereka saling melempar kode mata ke arah Arslan, seolah bertanya, “Kapan kita rayakan taruhannya?”

"Guys, kenalin, ini Arabella. Cewek gue," ucap Arslan dengan nada bangga yang dibuat-buat.

"Wah, selamat ya Lan! Berarti misi sukses besar nih?" celetuk Bimo sambil tertawa penuh arti. "Sesuai janji, kan? Tiga bulan nggak sampai, tapi target sudah menyerah total."

Bimo melemparkan sebuah amplop coklat berisi uang 30 juta sesuai perjanjian taruhan mereka. Tawa mereka pecah, begitu pun dengan Arslan. Abel tidak marah atau pun terkejut dengan hal itu, ia tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat orang lain yang melihatnya bergidik ngeri.

Abel hanya menunduk, membiarkan mereka merasa menang. Di tangannya, ia menggenggam sebuah remote kecil yang terhubung dengan sistem rumah pintar Dion yang sudah diretas oleh Reno sejak satu jam yang lalu.

"Arslan, boleh aku bicara sesuatu di depan temen-temen kamu?" tanya Abel lembut, menatap Arslan dengan mata jernihnya.

Arslan, yang merasa sudah di atas angin, mengangguk percaya diri. "Tentu, Sayang. Ngomong aja."

Tiba-tiba, lampu ruangan meredup. Layar proyektor besar di dinding ruang tengah yang tadinya menampilkan video kemenangan basket, mendadak berubah menjadi statis hitam-putih.

"Aku cuma mau bilang terima kasih," suara Abel menggema, kini tanpa getaran ketakutan. "Terima kasih karena Arslan sudah mengajariku bahwa harga sebuah 'cinta' ternyata sangat murah. Tepatnya... 30 juta rupiah."

Mata Arslan membelalak. Wajahnya pucat pasi.

Layar proyektor itu mulai menampilkan tangkapan layar percakapan grup WhatsApp tim basket. Pesan-pesan menjijikkan tentang "si culun", rencana taruhan, hingga foto sketsa wajah Arslan yang diambil tanpa izin dari buku Abel. Dan puncaknya, sebuah rekaman audio dari gudang tua diputar dengan sangat jernih.

"Gue baru aja dapet bonus 'first kiss' dari si culun. Dia bener-bener bertekuk lutut sekarang." (Suara Arslan menggema di seluruh ruangan).

Keheningan yang mematikan menyelimuti pesta. Teman-teman Arslan yang tadi tertawa paling keras terdiam saling memandang. Tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka.

Abel melangkah maju, berdiri tepat di depan Arslan yang kini tampak seperti pecundang kecil. Ia melepas kacamatanya perlahan, memperlihatkan sorot mata yang dingin dan tajam.

"30 juta itu nggak akan cukup untuk mendapatkan hatiku kembali, Arslan. Hubungan ini cukup sampai di sini." bisik Abel, cukup keras untuk didengar semua orang. "Oh, dan satu lagi. Kakakku bukan orang jahat yang seperti kamu ucapkan. Dia adalah orang yang paling tulus di dunia ini, tidak seperti seseorang yang terlihat keren namun nyatanya seorang pecundang."

"Baguslah, jadi gue tidak perlu lagi bersandiwara mencintai gadis cupu seperti lo." Ucap Arslan menutupi rasa malunya.

Abel tersenyum, hatinya sakit, cintanya harus ia kubur untuk orang yang salah.

Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Reno berdiri di sana dengan gaya tenang, memegang kunci motornya. "Pesta sudah selesai, Dek. Ayo pulang."

Abel berbalik tanpa menoleh lagi ke arah Arslan yang menatap kepergian Abel merasakan hatinya perih dan dadanya terasa sesak. Sesekali temannya datang untuk menenangkan, Arslan dengan perasaan kesal dan marah menangkis tangan kawannya. Di bawah cahaya lampu pesta, Abel berjalan keluar dengan kepala tegak. Ia bukan lagi debu yang melayang; ia adalah bintang yang baru saja membakar kegelapan dalam hidupnya.

Waktu terus bergulir, namun suasana di SMA Nusa Cendana tak lagi sama bagi dua orang yang pernah bersinggungan di titik paling rapuh itu.

Setelah malam yang menghancurkan di kediaman Dion, Abel memilih untuk menarik diri sepenuhnya. Ia tidak menuntut permohonan maaf, tidak juga mencari pembalasan lebih jauh. Baginya, terlepas dari jeratan Arslan saja sudah cukup. Reno, meski awalnya ingin menghancurkan Arslan lebih dalam, akhirnya menghormati keputusan adiknya untuk melepaskan dendam.

Abel kembali ke sudut perpustakaan favoritnya. Kepangan rambutnya tetap rapi, kacamata bulatnya kembali bertengger di ujung hidung. Ia menenggelamkan diri dalam deretan angka kalkulus dan hukum fisika yang jauh lebih logis daripada perasaan manusia. Namun, ada yang berbeda. Ia tak lagi menunduk saat berjalan di koridor. Ia berjalan dengan punggung tegak, bukan karena ia merasa lebih hebat, tapi karena ia tak lagi memiliki rahasia yang harus disembunyikan.

Sesekali, saat melewati lapangan basket, matanya secara tidak sengaja menangkap sosok nomor punggung 07. Namun, kali ini tidak ada debar jantung yang menyakitkan. Abel hanya melihat seorang laki-laki yang sedang menggiring bola—seorang asing yang kebetulan pernah ia kenal.

Di sisi lain lapangan, Arslan tidak lagi bersinar seperti dulu, sorot matanya kini menyimpan sebuah dendam dan penyesalan. Meski ia masih sang kapten, sorakan di tribun tidak lagi terasa manis di telinganya. Taruhan itu memang ia menangkan, uang 30 juta itu tak pernah ia sentuh sama sekali, namun ia kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal: rasa hormat pada dirinya sendiri.

Setiap kali ia melihat Abel dari kejauhan—gadis yang kini benar-benar tak tersentuh—ada kekosongan yang menyesakkan di dadanya. Ia menyadari bahwa di antara semua orang yang memujinya secara dangkal, hanya Abel yang pernah menatapnya dengan ketulusan yang murni melalui sketsa-sketsanya. Dan ia sendiri yang membakar ketulusan itu demi sebuah kesombongan.

Suatu sore, saat jam sekolah berakhir, Abel tanpa sengaja berpapasan dengan Arslan di lorong laboratorium yang sepi—tempat yang dulu menjadi saksi bisu buku sketsanya terjatuh.

Arslan menghentikan langkahnya. Bibirnya bergerak, seolah ingin mengucapkan satu kata—mungkin maaf, mungkin sapaan. Namun, Abel hanya menatapnya datar, sejenak memberikan anggukan sopan layaknya kepada orang asing yang berpapasan di jalan, lalu melangkah melewatinya tanpa ragu.

Harum parfum citrus yang dulu sangat dipuja Abel tercium sekilas, namun kali ini tidak membuatnya memerah. Abel terus berjalan menuju gerbang, di mana Reno sudah menunggu dengan motornya dan sebuah senyuman pelindung.

Cinta mereka memang sebuah garis yang sempat bersinggungan karena sebuah kesalahan, namun kini kembali ke kodratnya: dua garis sejajar yang tak akan pernah bertemu lagi. Abel telah sembuh, dan Arslan harus belajar hidup dengan bayang-bayang penyesalannya sendiri.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!